
"Jadi kalian akan kembali ke kota dulu?" tanya bapak keesokan harinya pada Ayra dan Tristan
"Iya pak, kami masih harus kerja dulu, minggu depan kami akan kembali lagi kesini, semua persiapan pernikahan tolong bapak dan ibu yang urus." jawab Ayra pada bapaknya
"Apa tidak sebaiknya kamu ambil cuti dari sekarang nak?" tanya Ibu pada ana gadisnya
"Sepertinya tidak bisa bu, Ayra tak mungkin diberi cuti selama ini, paling nanti dua atau tiga hari setelah pernikahan. " jawab Ayra pada ibunya
"Mungkin bisa dicoba, ajukan cuti mulai besok..." ucap Tristan pada Ayra, diikuti anggukan kepala dari kedua orang tuanya
"Mana mungkin boleh, tahu sendiri Arga bagaimana?" sahut Ayra menatap Tristan
"Biar aku coba hubungi pak Arga." ucap Tristan kemudian mengeluarkan ponselnya
"Tris...jangan, aku nggak mau berurusan apapun dengan Arga." sahut Ayra spontan memegang tangan Tristan yang hendak menelepon Arga
"Sudah-sudah, jika memang harus kembali kerja ya tidak apa-apa. Bapak hanya berpesan hati-hati dan jaga kesehatan kalian." kata bapak kemudian
"Kalo begitu kalian berkemas dan jangan terlalu sore pulangnya, biar berkendara nya santai saja tidak usah ngebut." tambah ibu memberi nasehat
"Iya, baik bu..." sahut Tristan sopan
Hari masih agak siang saat Tristan dan Ayra kembali berkendara pulang ke kota. Bapak dan ibu terus mengingatkan mereka berdua agar selalu hati-hati, dan tak perlu ngebut. Tristan mematuhi nasehat calon mertua nya itu, selama perjalanan kembali ke kota ia berkendara cukup santai, dan sesekali berhenti untuk istirahat sejenak.
"Kita langsung ke rumahmu saja, agar kamu bisa cepat istirahat." ucap Tristan saat sudah memasuki kota
"Tapi motor ku kan masih dirumah mu." sahut Ayra cepat
"Nggak apa-apa, besok pagi aku jemput, kira berangkat ke kantor bareng." kata Tristan mengurangi laju motornya
"Malah ribet nanti, belum kalo kamu besok kesiangan lagi." Ayra merasa tak percaya pada Tristan kalo ia bisa bangun lebih pagi besok
"Percaya dan tenang saja, yang penting kamu bisa cepat istirahat jangan sampai kecapekan. " ucap Tristan yang mulai memasuki yang tempat tinggal Ayra
"Ingat ya besok pagi jangan sampai telat, awas aja..." ucap ketus Ayra saat turun dari motor setelah tiba di depan rumahnya
"Apa kau mengijinkan aku untuk menginap di sini, ..." goda Tristan menaik turunkan alisnya
"Gila,...jangan harap ya...udah pulang sana." sahut cepat Ayra yang bergegas masuk ke dalam rumah
Kemudian Tristan memacu lagi motornya pulang ke rumah. Ia terus tersenyum bahagia selama perjalanan menuju ke rumahnya, ia masih tak menyangka bahwa minggu depan akan menikah dengan Ayra. Gadis cantik yang galak, judes, ketus dan begitu amat membencinya.
Setibanya dirumah, Tristan langsung memasukkan motor dan bergegas untuk membersihkan diri. Badannya terasa pegal semua, hingga selesai mandi ia pun langsung terlelap dalam tidurnya. Tristan terbangun di pagi hari saat alarm yang disetelnya berbunyi.
"Ahh, sudah pagi aja...harus cepet ini kalo nggak mau kena damprat si judes." gumam Tristan yang langsung bergegas mandi
Begitu selesai mandi dan bersiap ia langsung berangkat untuk menjemput Ayra tanpa sarapan dulu, padahal semalam ia juga belum sempat makan karena langsung tertidur. Selama perjalanan ke rumah Ayra, cacing- cacing di perutnya terus meronta-ronta minta makan.
"Selamat pagi cantik." sapa Tristan saat Ayra membuka kan pintu untuknya
"Hah, pagi begini udah kesambet apaan kamu..." sahut Ayra ketus tak sedikitpun menatap Tristan
" Mau dong,...." sahut cepat Tristan
"Mau apa?" tanya Ayra berhenti dan membalikkan badannya
"Mau itu,....eh maksudnya mau sarapan, aku lapar banget nih semalam tak sempat makan karena langsung tidur." jawab Tristan menatap lembut wajah Ayra kemudian langsung berpaling saat Ayra menatapnya tajam
"Kasihan.... ikut sini, tapi cuma nasi goreng sama telur ceplok." ucap Ayra melangkah ke ruang makan diikuti Tristan
"Sebentar aku bikin telur ceplok satu lagi, makanlah itu yang sudah siap. " Ayra sibuk dengan wajah dan kompor nya
"Maaf, aku jadi merepotkan mu..." kata Tristan langsung menyantap sepiring nasi goreng dan telur ceplok yang sudah tersedia di meja makan
"Hah,...kamu benar-benar kelaparan ya." ucap Ayra saat duduk dan melihat Tristan makan dengan sangat lahap hingga sudah hampir habis sepiring
Tristan hanya tersenyum menjawab karena mulutnya penuh makanan, Ayra menatapnya sambil tersenyum kecil. Ia merasa sangat senang melihat Tristan menyantap makanan buatannya dengan lahap.
"Enak,....rupanya kamu pintar masak juga ya." ucap Tristan setelah selesai makan dan minum segelas air
"Bilang aja lapar, gratis lagi..." sahut Ayra cuek sambil membereskan meja makan
"Iya sih, tapi beneran enak kok...." kata Tristan tersenyum senang
"Udah, ayo cepet berangkat...keburu siang." ucap Ayra bergegas keluar rumah dan tak lupa mengunci pintu
Sampai di kantor, setiap karyawan yang melihatnya datang berboncengan dengan Tristan tampak heran. Mereka saling berbisik membicarakan mereka berdua, tak terkecuali Dini teman dekat Ayra.
"Kalian berdua berangkat bareng, luar biasa ini namanya keajaiban." ucap Dini sangat tak percaya melihat mereka berdua
"Halah lebay kamu ini, ayo masuk...." sahut Ayra menarik tangan Dini dan mengajaknya masuk ke kantor meninggalkan Tristan sendiri di parkiran
Pagi itu sebagian karyawan ikut meeting dengan Arga, termasuk juga Ayra dan Tristan. Tanpa di duga Arga memberitahukan rencana pernikahan Ayra dan Tristan saat meeting selesai, mereka memang telah mengajukan permohonan cuti pagi ini.
"Sebelum meeting selesai dan kalian kembali bekerja, saya akan menyampaikan sebuah kabar. Minggu ini Ayra dan Tristan akan menikah, dan saya harap saat mereka cuti nanti kalian bantu selesaikan pekerjaan selama mereka belum masuk." ucap Arga sebelum membubarkan meeting hingga membuat semua yang ada diruangan tersebut heran dan tak percaya dengan apa yang mereka dengar
"Ayra, kamu ini keterlaluan....apa kamu tak pernah menganggap ku sebagai sahabat mu lagi." ucap Dini menghampiri meja Ayra
"Kamu ini ngomong apaan sih, Din?" tanya Ayra yang sebenarnya mengerti maksud Dini
"Kamu dan Tristan akan menikah minggu ini...dan aku dengar nya dari pak Arga, bukan dari sahabatku sendiri." kata Dini dengan wajah marah
"Iya maaf, tapi semua ini memang serba mendadak, jadi aku belum sempat cerita padamu." ucap Ayra menenangkan sahabatnya itu
"Mendadak, apa jangan-jangan kau sudah...." sahut Dini heran sambil menunjuk perut Ayra
"Hush, sembarangan....ya nggak mungkin lah." pekik Ayra menatap tajam ke arah Dini, hingga Tristan mendengar suara Ayra
"Pokoknya nanti pas makan siang, kamu harus ceritakan semua padaku, secara detail..." ucap Dini kemudian kembali ke mejanya