My Enemy Is My True Love

My Enemy Is My True Love
Keras kepala



Hari menjelang senja saat keduanya tiba dirumah Tristan, mereka memang telah sepakat untuk tinggal bersama di rumah Tristan. Secara bertahap barang -barang Ayra akan di pindah kan ke rumah Tristan, sebelum masa kontrak rumah Ayra habis.


"Masukkan barang bawaan mu ke kamar ku dan tidurlah disana biar aku tidur di kamar ayah dan ibu." ucap Tristan setelah masuk ke dalam rumah


"Iya, aku mandi dulu..." sahut Ayra cepat bergegas masuk ke kamar


"Kamar mandinya cuma satu, di dekat dapur...." ucap Tristan keras saat Ayra bergegas


Sementara Ayra mandi Tristan menghempaskan tubuhnya di sofa, badannya terasa pegal dan letih hingga akhirnya ia terlelap masih lengkap dengan sepatu dan jaket nya. Ayra yang selesai mandi tertegun mendapati Tristan yang tertidur di sofa, perlahan ia mendekatinya.


"Tris..." dengan ragu Ayra membangunkannya


Namun tak sedikitpun Tristan bereaksi, ia masih pulas tertidur. Ayra menatap wajah tenang didepannya, wajah dingin tapi cukup ganteng juga. Ia lalu kembali merasa bersalah karena telah membuat Tristan tersinggung dan kini menjadi lebih pendiam. Ia merasa rindu dengan Tristan yang selalu berdebat dengannya, selalu ngeyel menggodanya meski ia bersikap jutek.


"Kenapa?" tanya lirih Tristan yang tiba-tiba telah membuka matanya


Tristan begitu terpesona melihat wajah cantik dan segar Ayra yang habis mandi, ia terus memandangnya tanpa berkedip. Ayra menjadi semakin gugup dan salah tingkah karena ditatap begitu dalam oleh Tristan.


"Tidak apa-apa, sana kalo mau mandi..." jawab Ayra yang gugup tapi berusaha tenang


"Iya." singkat Tristan bangkit dari duduknya


Saat berdiri dihadapan Ayra yang begitu dekat dengannya, hati Tristan berdesir menatap wanita jutek yang kini telah resmi menjadi istrinya itu. Ia pun berusaha mendekatkan lagi tubuhnya hingga wajah mereka begitu dekat berhadapan, Ayra tersentak kaget saat bibir hangat Tristan telah menempel pada bibir nya.


"Tris..." sangat lirih Ayra


Namun kemudian Tristan mulai menye sap dan melu mat lembut bibirnya, tangan Tristan kini telah melingkar di pinggangnya dengan erat hingga kini tak ada jarak lagi di antara tubuh keduanya.


Ayra hanya berdiri mematung dengan tangan kanan yang masih memegang handuk, ia tak menolak namun juga tak membalasnya. Ayra kini memejamkan matanya merasakan detak jantungnya terasa sangat cepat, ia merasakan getaran di hatinya mendapati sentuhan lembut dari bibir hangat Tristan.


Tristan yang merasa tidak mendapat penolakan, kini lebih berani lagi dalam melu mat bibir manis itu. Nafasnya terdengar begitu memburu, ia semakin agresif hingga lidahnya telah berhasil menerobos masuk ke dalam rongga mulut Ayra. Meski belum mendapat balasan namun Tristan masih tetap menjelajahi rongga mulut itu dengan pelan dan lembut.


"Tristan, cukup..." lirih Ayra saat Tristan melepas sejenak tautan bibir mereka untuk mengambil nafas


"Aku mencintai mu , Ayra..." sahut lirih Tristan dengan mata yang tampak sayu


dan langsung melu mat lagi


"Cukup Tris, jangan lagi..." tiba-tiba Ayra mendorong dada Tristan dengan kedua tangannya hingga tautan bibir itu terlepas


"Aku mohon hentikan, ini salah..." lanjut Ayra lirih


"Apa mencintai itu salah,...aku tak peduli jika kamu masih begitu benci padaku." ucap pelan Tristan menatap dalam wajah Ayra


"Tris, sekali lagi aku katakan ...aku tak ingin membuat mu kecewa dan sakit hati, mengertilah." kata Ayra memundurkan tubuhnya


"Apa sedikitpun aku tak pantas untuk mendapatkan cinta dari mu, begitu buruk kah aku bagimu?" tanya Tristan pelan


Tristan menghela nafas panjang dan kemudian melangkah pelan meninggalkan Ayra yang berdiri menunduk. Sekali lagi Tristan merasakan kecewa karena penolakan Ayra padanya, ia kemudian masuk ke kamarnya sejenak kemudian keluar dan melangkah menuju kamar mandi.


Ayra kini melangkah juga masuk ke kamarnya, ia menghempaskan tubuhnya keras ke ranjang. Matanya memandangi langit-langit kamar dan air mata kini meleleh di kedua pipinya. Sekali lagi ia membuat Tristan kecewa, dan mungkin setelah ini Ia tak akan lagi melihat Tristan seperti yang dulu.


###


Hari ini pertama masuk kerja setelah seminggu cuti, Ayra telah bangun sangat pagi dan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Selagi Ayra sibuk di dapur, Tristan bergegas mandi dan bersiap-siap.


"Kamu sarapan saja duluan, aku mau ganti baju dan bersiap." ucap Ayra saat melihat Tristan melangkah menuju meja makan


Tak ada jawaban dari mulut Tristan, ia hanya diam dan mulai duduk dan melihat makanan yang telah terhidang di depannya, sepiring nasi goreng dan teh hangat. Namun ia tak segera menyantapnya, ia malah mengambil ponselnya dan mulai memeriksa beberapa pesan yang masuk.


"Kok belum di makan, nggak suka ya..." ucap Ayra yang telah selesai bersiap dan menyusul kembali ke meja makan


"Nggak..." singkat Tristan tanpa menoleh tetap menatap layar ponselnya


"Dasar tak tahu terima kasih, aku udah bangun pagi dan repot-repot menyiapkan semua ini, tapi sama sekali tak disentuh..." gumam Ayra yang duduk dengan kesal kemudian mulai menyuap makanannya


"Kalo tak ikhlas lain kali tak usah bikin sarapan buatku, memangnya aku ini siapa harus merepotkan mu." sahut Tristan pelan


"Tris, pagi-pagi jangan ngajak ribut ya...bikin nggak selera makan tahu." balas Ayra menghentikan makannya


"Siapa yang ngajak ribut, aku hanya pelan mengatakan yang sebenarnya. " kata Tristan hendak bangkit dari duduknya


"Tris, baiklah aku yang mengalah...tolong ingatlah bahwa kita tak boleh membuat Arga semakin yakin dengan kecurigaan nya, hari ini kita mulai masuk kerja dan hari ini akting kita saat di kantor dimulai." ucap Ayra hati-hati tak ingin membuat Tristan tersinggung lagi


"Kenapa aku begitu bodoh karena harus melakukan semua ini,..." sahut Tristan pelan


"Tris, apa kau menyesal telah membantu ku sejauh ini?" tanya Ayra meraih tangan Tristan


"Aku menyesal karena tak dapat mengendalikan perasaan ku, kenapa aku harus baper padahal semua ini hanya sandiwara, benar-benar tak profesional. " jawab Tristan datar


"Aku mohon hilangkan perasaan bapermu, aku tak ingin saling menyakiti..." ucap Ayra pelan


"Dasar wanita keras kepala, tak punya perasaan..." sahut Tristan melepaskan tangannya dari tangan Ayra


"Cepatlah, mau berangkat bareng atau jalan sendiri...." kata Tristan beranjak dari duduknya tanpa sarapan


"Sarapanlah dulu meski sedikit saja..." seru Ayra melihat ke arah Tristan yang sudah berdiri meraih tasnya


"Aku bilang cepat...." singkat Tristan langsung beranjak pergi meninggalkan meja makan


"Sebentar biar aku bawakan sarapan mu, kau bisa memakannya nanti di kantor. " ucap Ayra segera memasukkan makanan ke dalam tempat bekal dan memasukkan ke dalam tasnya


"Ayra..." panggil Tristan keras dari luar rumah dan sudah siap di atas motornya