
"Sejujurnya aku tak tahu, kenapa kau begitu benci padaku." ucap Tristan pelan
"Jangan banyak bicara, lakukan saja. Tapi ingat semua ini hanya pura-pura saja, jangan melewati batas dan berharap lebih." sahut Ayra judes
"Memangnya bisa Arga dibohongi, dia lebih berpengalaman ..." Tristan merasa ragu
"Kamu harus pandai berakting lah, saat dikantor dan di depan Arga kita akan tampak seperti dua orang yang saling mencintai, bahkan aku pun tak akan cerita tentang semua ini pada Dini. Hanya kita berdua yang tahu, dan ingatlah hanya akting jangan sampai baper." ucap Ayra menatap tajam ke arah Tristan
"Terserah apapun kata mu,..." sahut pelan Tristan yang nampak sedikit kecewa
"Ya sudah, kamu siap- siap saja jangan sampai salah bicara, ayah ku sangat protektif beliau pasti akan banyak bertanya padamu." ucap Ayra menjelaskan
"Iya..." singkat Tristan pasrah sambil mencuri pandang wanita cantik di depannya
"Ya sudah sekarang pulanglah, besok saat ku kabari kamu bisa kesini lagi menjemputku." ucap ketus Ayra sedikit mengusir
Tristan tak menjawab lagi, ia bangkit dan hendak melangkah keluar rumah. Sesaat ia menoleh ke arah Ayra, menatapnya sejenak dan merasakan getaran aneh saat saling bertatapan, ia tak mengerti dengan perasaannya saat ini.
"Tristan..." panggil Ayra saat Tristan sampai di pintu, dan ia menghampiri
"Ya..." Tristan menghentikan langkahnya
"Jangan lupa, mulai besok di kantor akting di mulai, tapi jangan terlalu ekstrim jika di depan teman kantor, hanya saat didepan Arga saja." jelas Ayra seakan mendikte Tristan
Meski tampak tak terlalu senang karena Ayra terkesan mendikte nya, ia hanya mengangguk pelan. Entah mengapa ia hanya menurut saja, ia tak kuasa membantah semua ucapan Ayra meski merasa tak senang.
Keesokan harinya masih seperti biasa Ayra dan Tristan berangkat sendiri-sendiri ke kantor. Tristan yang telah sampai di parkiran terlebih dulu tengah sibuk berbicara di ponselnya, rupanya orang tuanya yang menghubungi setelah ia mengirim pesan bahwa akan melamar seorang gadis.
"Iya bu, tak usah khawatir biar aku sendiri saja, nanti pas hari H baru ayah dan ibu datang. Maaf bu sudah dulu ya, Tristan mau masuk." ucap Tristan mengakhiri hubungan telepon saat melihat Ayra datang
"Siapa?" tanya Ayra yang melihat Tristan habis bicara di ponselnya
"Ibu ku, beliau tanya apa perlu ikut melamar mu besok." jawab Tristan datar
"Apa, buat apa kamu cerita ke orang tua mu...ini kan hanya pernikahan pura-pura saja. " sahut Ayra ketus
"Biarpun begitu aku juga kan harus melamar ke orang tua mu, apa mending tak perlu melamar juga kan cuma pura-pura. " ucap Tristan ketus juga
" Iya nggak bisa lah, aku kan cewek....ayahku yang harus jadi wali nikahnya." Ayra membela diri
"Kan cuma pura-pura, apa sebaiknya penghulu dan acara ijab kabulnya juga pura-pura." sahut Tristan menatap tajam Ayra
"Tristan..." seru Ayra cemberut sambil membalas tatapan tajam Tristan
"Ekhemm....kayaknya ada yang lagi bersitegang nih." ucap Arga yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan mereka
"Pak Arga..." sahut keduanya terkejut melihat kehadiran Arga
"Semoga ada kabar baik untuk ku, kalo kalian putus cepat kabari aku." ucap Arga sambil tersenyum licik
"Jangan terlalu banyak berharap, rasa sakitnya akan terlalu jika kecewa." ujar Tristan menarik tangan Ayra dan menggandengnya masuk ke kantor
Arga yang masih terpaku ditempatnya merasa jengah melihat keduanya masuk ke kantor dengan bergandengan tangan. Dalam hatinya ia berjanji tak akan semudah itu menyerah, ia lebih tertantang lagi untuk bisa mendapatkan Ayra.
Setelah dirasa Arga tak memperhatikan lagi, Ayra menarik paksa tangannya hingga terlepas dari genggaman Tristan. Menatap tajam ke arah Tristan penuh amarah, namun sebaliknya Tristan malah menatapnya lembut.
"Lepaskan, jangan ambil kesempatan..." lirih Ayra
Keduanya kemudian berjalan menuju meja masing-masing, dan mulai mengerjakan pekerjaan yang sudah menumpuk di meja. Namun sesekali Tristan mencuri pandang ke arah Ayra sambil tersenyum kecil, ia menyadari bahwa ada getaran cinta dalam hatinya meski tahu bahwa Ayra begitu membencinya.
"Tristan, pak Arga memanggil mu." ucap seorang karyawan lain yang menghampiri Tristan
"Baik, terima kasih saya akan segera ke sana." balas Tristan
Kemudian ia pun segera bangkit dan berjalan menuju ruang pimpinan. Ayra melihat ke arah Tristan, ia penasaran kira-kira apa yang akan dibicarakan oleh Arga. Perasaannya jadi tak enak, ia tak fokus lagi bekerja dan merasa gelisah.
"Duduk." ucap Arga saat Tristan sudah berdiri di depannya
"Aku ingin kau selesaikan berkas ini segera, kalo perlu besok kamu masuk lembur." kata Arga sambil menyerahkan berkas kepada Tristan
"Tapi besok saya ada urusan keluarga, jadi tidak bisa lembur biar hari ini saya selesaikan, meski sampai malam." ucap Tristan setelah sekilas membaca berkas tersebut
"Terserah kamu, yang penting besok harus sudah kamu kirim ke email ku." sahut Arga dengan angkuh
"Baik pak." singkat Tristan hendak bangkit
"Memangnya ada urusan penting apa?" tanya Arga merasa penasaran
"Urusan pribadi pak, jadi saya tak wajib menjawab pertanyaan anda." jawab Tristan bergegas keluar dari ruangan tersebut
"Berarti besok aku bisa mengajak Ayra jalan-jalan. " ucap Arga setengah berteriak
Tristan yang sudah berjalan sampai pintu, kemudian menghentikan langkahnya mendengar ucapan Arga. Ia berbalik dan menatap ke arah pimpinannya, tatapannya penuh amarah dan ia tahu Arga sedang memancingnya.
"Maaf, tapi urusan pribadi saya tadi harus saya selesaikan bersama Ayra. Saya akan melamarnya besok..." ucap Tristan dengan penuh percaya diri sambil tersenyum simpul
"Apa....dasar sial." gerutu Arga sambil mengepalkan tangannya dan melihat Tristan yang tampak tersenyum penuh kemenangan berjalan keluar dari ruangan tersebut
"Tristan..." Ayra menghampiri ke meja Tristan yang baru saja duduk ditempatnya
"Ayra, kenapa?" sahut Tristan tergagap tak menyangka Ayra telah berdiri di sampingnya
"Pak Arga bilang apa,...." tanya Ayra yang ingin tahu sejak dari awal Tristan masuk ruang pimpinan
"Oh, nggak apa-apa kok, cuma ngasih tugas buat menyelesaikan berkas yang harus segera selesai besok." jawab Tristan tenang
"Tapi, besok kan kita mau pulang ke kotaku, jangan bilang kamu tak jadi bertemu dengan orang tua ku." ucap Ayra merasa kecewa
"Tentu saja jadi, malam ini aku akan menyelesaikannya. Mungkin nanti aku pulang lewat tengah malam, dan begitu selesai berkasnya akan segera aku kirim ke email Arga." kata Tristan menenangkan hati Ayra
"Besok kita berangkat pagi-pagi, apa kamu tidak lelah." ucap Ayra tanpa disadari telah memberi perhatian pada Tristan
"Tidak apa, aku akan baik-baik saja. " sahut Tristan tersenyum merasa sangat senang dengan perhatian Ayra