My Enemy Is My True Love

My Enemy Is My True Love
Bicara jujur



Mereka berdua akhirnya tiba di kantor, orang pertama yang langsung menghampiri dan menyerbunya dengan serentetan pertanyaan adalah Dini. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, segera ia menarik paksa tangan Ayra.


"Dini, kamu ini apaan sih?" tanya Ayra menghentikan langkahnya dan duduk di tempatnya


"Ayolah Ayra, ceritakan gimana malam pertama mu, sukses kah....Aku benar-benar penasaran...." ucap Dini ikut duduk di depan Ayra


"Kamu ih, masa aku harus bercerita tentang malam pertama ku...." sahut Ayra jutek


"Aku penasaran aja, kamu sama Tristan selama ini kan bermusuhan, kira-kira bisa romantis atau jangan-jangan malah..." kata Dini tersenyum simpul ke arah Ayra


"Malah apa...." sungut Ayra menatap tajam ke arah Dini


"Iya-iya, jangan melotot begitu...nanti aku tanya langsung aja sama Tristan. " kata Dini kemudian berlalu dari hadapan Ayra sambil terus tersenyum


"Selamat pagi Ayra, kamu kelihatan cantik banget hari ini." sapa Arga tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Ayra


"Pagi pak, terima kasih..." sahut Ayra singkat


"Sayang, sarapan ku mana?" tanya Tristan yang datang dan langsung memeluk tubuh Ayra dari belakang


"Iya, mau sarapan sekarang..." sahut Ayra tersenyum manis meski dalam hatinya mengumpat tingkah Tristan yang berlebihan saat akting di depan Arga


"Mau makanan pembuka dulu..." ucap Tristan langsung menye sap bibir Ayra di depan Arga hingga membuat mata Ayra membulat sempurna


"Ekhemm...jangan lebay, tahu tempat...tak pantas kalian begitu meski sudah suami istri, ini kantor..." Arga tampak memerah wajahnya dan berlalu begitu saja meninggalkan Tristan dan Ayra


"Tris, apa-apaan sih...Aku nggak mau kamu kayak gini lagi." lirih Ayra menatap tajam wajah Tristan dan melepaskan tangannya


"Katanya akting, biar romantis...." sahut Tristan cuek


" Ya nggak gitu juga sih...lebay tahu." sungut Ayra


"Salah terus..." gumam Tristan berbalik dan melangkah menuju meja kerjanya


"Nggak jadi sarapan?" tanya Ayra kemudian


"Nggak laper..." sahut Tristan tanpa menoleh ke arah Ayra


Ayra hanya menatap Tristan sekilas sambil menggelengkan kepala, ia lantas mengambil kotak bekal dari dalam tasnya dan membawanya ke meja Tristan. Tanpa bicara apapun ia langsung duduk di depan Tristan dan segera membuka kotak bekal tersebut.


"Buka mulutnya..." ucap Ayra sambil menyuap makanan ke mulut Tristan


"Enggak, aku nggak laper..." sahut Tristan cuek sambil pura-pura membuka berkas di depannya


"Tristan sayang,... ayo buka mulutnya, jangan dilihat tapi Arga sedang memperhatikan kita." kata Ayra sambil menaik turunkan alisnya memberi kode pada Tristan


"Aku kira kamu beneran perhatian, ternyata lagi-lagi akting..." ucap Tristan dengan malas mulai menerima suapan Ayra


"Cie...Cie...pengantin baru, main suap-suapan aja nih di kantor, mau dong..." sahut Dini menghampiri keduanya


"Kamu disuruh selesaikan berkas ini dan segera antar ke pak Arga, ingat segera...itu berarti nggak pake lama." sewot balik Dini sambil melengos pergi


"Dasar boss sok diktator..." umpat Ayra meletakkan sendok dan bangkit dari duduknya


"Lho kok, ...Nggak di terusin ini..." sahut Tristan tersenyum simpul menatap Ayra yang berlalu dari mejanya


"Makan aja sendiri..." sahut Ayra jutek


Ayra segera kembali ke tempatnya untuk menyelesaikan pekerjaan yang diberikan, ia berusaha untuk bersikap tenang dan profesional. Setelah selesai ia langsung beranjak dari kursinya dan berjalan menuju ruang pimpinan.


"Masuk..." ucap Arga saat Ayra mengetuk pintu


"Ini berkas yang anda minta, pak." kata Ayra sambil menyodorkan beberapa lembar kertas ke meja Arga


"Duduklah, Ayra..." singkat Arga kemudian


"Kalo tidak ada lagi yang harus saya kerjakan, saya permisi..." ucap Ayra pura-pura tak mendengar ucapan Arga


"Aku bilang duduklah, apa kau tak mendengarnya..." sahut Arga menatap wajah Ayra


Ayra pun mau tak mau duduk di depan Arga, ia menundukkan kepala karena Arga terus menatapnya. Jantungnya terasa berdetak kencang, ia takut jika Arga menjadi nekat atau bahkan kasar padanya.


"Ayra,... bolehkah aku bicara jujur padamu?" tanya Arga pelan namun penuh kesungguhan hingga membuat Ayra tertegun


"Maksud anda?" tanya balik Ayra mengangkat wajahnya


"Ayra, mungkin di matamu aku ini seorang buaya darat yang senang mempermainkan perasaan wanita, mungkin kamu banyak mendengar dari beberapa orang tentang aku, namun sebenarnya kamu tak tahu siapa aku dan bagaimana aku." ucap tenang Arga


"Ayra, asal kamu tahu semenjak istriku meninggal bersama anak kami yang masih di dalam kandungan..." ucapan Arga segera dipotong Ayra


"Istri anda meninggal dan..." sahut Ayra merasa kaget dan segera di potong Arga


"Iya, dan setelah itu aku tak pernah mencintai wanita lain apalagi sampai mempermainkan perasaan mereka. Memang ada beberapa wanita yang berusaha mendekat namun aku hanya menganggapnya sebagai teman, tak ada perasaan istimewa untuk mereka, bisa di bilang aku tidak pernah bisa move on dari mendiang istri ku." jelas Arga tetap dengan tenang


"Maaf, jika saya sudah salah menilai anda ..." sahut Ayra menunduk kembali merasa tak enak


"Aku mengerti kenapa kamu menilai ku begitu, maaf jika mungkin sikap ku saat awal pertemuan kita begitu buruk menurutmu, dan asal kamu tahu saat itu untuk pertama kalinya aku merasakan getaran aneh lagi di hatiku,...." ucapan Arga menjadi lembut


"Saat pertama aku melihat mu getaran itu hadir kembali, aku telah jatuh cinta lagi...dan itu hanya padamu, Ayra. Tapi ternyata aku sudah salah karena jatuh cinta pada kekasih orang, aku begitu kecewa dan marah pada saat itu hingga tak dapat mengendalikan diri. Ayra, maafkan aku jika telah membuatmu tak nyaman, namun ijin kan aku untuk tetap memiliki rasa cinta ini, meski tak berbalas namun aku kini telah ikhlas menerima kenyataan bahwa kau sudah menjadi istri Tristan, aku ikut senang jika melihat mu bahagia." jelas Arga mencurahkan isi hati nya


"Maaf, saya tidak tahu tentang semua ini..." sahut Ayra pelan dan kini menatap wajah pria di depannya itu dan melihat sebuah ketulusan di mata Arga, tak seperti sebelumnya


"Aku yang mungkin bersikap keterlaluan dan tak bisa mengendalikan diri,.... namun Ayra aku mohon biarlah cinta ini tetap ada, aku janji tak akan mengganggu mu lagi, aku merasa cukup dengan melihat senyum bahagia di wajahmu...dan sekali lagi selamat atas pernikahan kalian, semoga Tristan adalah pilihan terbaik untuk mu." ucap Arga mencoba tersenyum


Ayra hanya menatap Arga penuh rasa tak percaya, jujur ia begitu tersentuh dengan semua ucapannya. Sikap Arga saat ini jauh berbeda dari sebelumnya, apa ia memang telah salah menilai Arga selama ini, lantas untuk apa sandiwara pernikahan ini Ia lakukan. Sejenak ia tertegun dan merasakan perang batin yang luar biasa dahsyat, hingga tak menyadari saat Arga berbicara padanya.


"Ayra, Ay...." Arga menepuk pelan tangan Ayra yang masih termenung