
Setelah mendengar ucapan Ayra, Tristan merasa sangat kecewa dan bergegas ke kamar mandi. Begitu selesai pun ia sama sekali tak memandang atau pun bicara pada Ayra yang masih duduk di sofa. Ia berjalan ke ranjang dan menghempaskan tubuhnya, ia kemudian memejamkan matanya namun tak tidur.
"Tris, jangan tidur dulu...kau belum makan malam, lagipula kau tidurnya kan di sofa." ucap Ayra melihat ke arah Tristan yang terbaring di ranjang
"Tris...." karena tak ada jawaban, Ayra mendekati Tristan
Tristan membuka matanya saat Ayra mendekat, tanpa berkata sepatah pun ia lalu bangkit turun dari ranjang dan menuju sofa. Masih terdiam ia lalu berbaring di sofa dan memejamkan matanya lagi. Ia memang tak ingin berdebat lagi dengan Ayra, sejujurnya ia masih sangat kecewa dengan penolakan Ayra padanya.
"Tris, kenapa....kau marah padaku? Aku minta maaf jika ucapan ku menyakiti hatimu. " ucap pelan Ayra mendekati Tristan
"Tris..." Ayra berusaha bicara tapi Tristan malah memalingkan tubuhnya hingga hanya punggung Tristan yang di lihat Ayra
Ayra hanya menatap sikap Tristan, tanpa bicara lagi ia bergegas untuk membersihkan diri. Di bawah guyuran shower Ayra menitikkan air mata, ia menyadari telah menyinggung perasaan Tristan. Namun saat ini Ia memang belum merasa memiliki perasaan lebih pada Tristan, bahkan rasa benci nya yang masih melekat kuat di hatinya, meski kini sedikit berkurang.
Selesai mandi Ayra menatap Tristan sekilas yang sedang tertidur, lalu ia mengambil selimut dan menutupkan ke tubuh Tristan. Tanpa makan malam keduanya kini terlelap tidur, meski di tempat terpisah. Ayra tidur lelap di ranjang nya sedangkan Tristan tertidur pulas meski hanya di sofa.
Pagi menjelang saat Tristan membuka matanya, ia menatap selimut yang berada di tubuhnya kemudian tersenyum kecil. Ia lalu melihat ke arah Ayra yang masih terlelap, sebenarnya semalam ia mendengar semua ucapan Ayra yang menyesali ucapannya.
Tristan sengaja tak membangunkan Ayra, setelah selesai mandi ia lantas keluar kamar. Di teras depan rumah bapak Ayra dan ayahnya sedang berbincang sambil menikmati kopi, Tristan pun bergabung di sana.
"Istri mu belum bangun nak?" tanya ayahnya saat Tristan ikut duduk
"Belum ayah, biarkan saja mungkin masih letih." jawab Tristan
"Ayra itu memang kebiasaan, dasar anak manja....lain kali bangun kan saja jika ia kesiangan." ucap bapak menggelengkan kepala
"Iya pak, ..." singkat Tristan
"Ini kopi mu Tris,... istrimu mana, masih tidur ya?" kata kakak membawakan kopi untuk Tristan
"Iya, masih kecapekan mungkin." sahut Tristan singkat
"Emang semalam kamu buat dia tidak bisa tidur ya... " ucap kakaknya mulai menggoda
"Maksud kakak apa?" tanya Tristan setelah menyeruput kopi nya
"Halahhh pura-pura bego....karena lagi palang merah, pasti kamu suruh dia buat service plus- plus ya..." jawaban kakaknya membuat Tristan tersedak
"Tuh kan, bener kan...." sahut kakaknya sambil tertawa ringan
"Kakak ini apaan sih....kalo ngomong ngaco deh, dasar sok tahu..." umpat Tristan jengkel dengan kakaknya
"Sudah jangan kamu goda terus adik mu, ..." ucap ayah menengahi sementara bapak Ayra hanya tersenyum kecil melihat ekspresi wajah Tristan
"Oh ya, kalian mau bulan madu kemana?" tanya kakak kemudian
"Bulan madu apaan, kan kakak tahu lagi palang merah. Paling lusa kami ikut kembali ke kota, meski pun masih cuti." ucap Tristan
"Apa tidak lebih baik disini dulu,...disini kan suasananya adem dan tenang jauh dari keramaian, cocok untuk pengantin baru." kata ayahnya menyarankan
"Iya pak, coba nanti saya bahas lagi dengan Ayra." sahut Tristan mengangguk
"Iya, mending disini dulu....suasana mendukung ." ucap kakaknya tersenyum geli
###
Setelah di bicarakan dengan Ayra, akhirnya mereka berdua sepakat bahwa selama masa cuti mereka akan tetap di rumah orang tua Ayra. Setelah masa cuti habis mereka baru kembali ke kota dan mulai bekerja lagi.
Pagi itu orang tua, kakak dan keponakan Tristan akan kembali ke kota. Seluruh keluarga tak terkecuali Ayra dan Tristan ikut mengantar di halaman depan.
"Kami pulang dulu Tris, nikmatilah masa pengantin baru mu..." ucap kakak sebelum masuk mobil
"Iya pasti,..." singkat Tristan tak mau bertambah panjang ucapan kakaknya
"Ayra, ibu titip Tristan ya...kalo dia nakal jewer saja telinganya. " kata Ibu sambil tersenyum menatap anak dan menantunya
"Jadilah suami yang baik, jangan manja...kini kamu seorang pemimpin keluarga. " ucap Ayah menepuk pundak Tristan
Setelah saling berbincang hangat dan memberi nasehat pada pengantin baru, seluruh keluarga Tristan akhirnya berangkat menuju ke kota, pulang kembali ke rumah mereka. Sedangkan Ayra, Tristan dan orang tua Ayra kembali masuk ke dalam rumah.
"Tristan, jangan sungkan...rumah ini sekarang adalah rumah mu juga, buatlah dirimu nyaman di sini." ucap bapak sambil berlalu meninggalkan Tristan yang duduk di teras depan
"Iya pak, saya pasti betah di sini..." jawab Tristan singkat
"Ayra, buatkan minum untuk suami mu....belajarlah melayani suami dengan baik, ingat kamu sekarang sudah menjadi seorang istri, jadi lakukan semua kewajiban mu." kata ibu menasehati Ayra
"Iya bu..." singkat Ayra
"Emang kamu mau minum?" tanya ketus Ayra saat orang tuanya sudah masuk ke dalam rumah
"Nggak usah, tanya nya saja ketus sudah pasti tak ikhlas membuat minum nya." jawab Tristan cepat dengan wajah datar
"Kenapa, masih ngambek soal tadi malam?" tanya Ayra yang duduk di sebelahnya
"Sudahlah jangan dibahas lagi, mulai sekarang aku akan lebih banyak diam, aku tak mau berdebat terus dengan mu, terserahlah aku capek..." ucap Tristan dengan wajah dingin dan cuek
"Baru dua hari sudah capek berdebat dengan ku, bagaimana hari-hari selanjutnya...." sahut Ayra ketus tanpa menatap Tristan
"Terserah kamu, ...apa pun yang aku perbuat selalu saja salah di matamu, aku berharap semoga kamu bisa berubah meski mungkin itu hanya mimpi. Rasa benci mu padaku yang tak beralasan membuatmu menjadi tak punya perasaan." ucap Tristan meluapkan isi hatinya
"Perasaan tak bisa diatur, rasa benci ku padamu ini..." ucapan Ayra segera di potong Tristan
"Cukup, teruslah hidup dengan rasa benci mu itu." sahut Tristan cepat dan segera berlalu meninggalkan Ayra duduk sendiri di teras
"Tris..." panggil Ayra namun sama sekali tak di dengar Tristan yang berlalu masuk ke kamar
"Tris, andai aku bisa mengatur hati ini aku juga ingin menghapus rasa benci ku. Aku juga tak mengerti kenapa aku bersikap begitu padamu, padahal kadang kala hati ku juga berdesir saat menatap atau pun berada di dekatmu. Mungkin ego ku masih terlalu tinggi, maafkan aku..." Ayra berbisik pada dirinya sendiri