My Enemy Is My True Love

My Enemy Is My True Love
Mengharap lebih



Tristan meletakkan nampan tersebut di meja dan kembali ke sofa untuk melanjutkan tidurnya. Ayra yang melihatnya dari atas ranjang tersenyum penuh kemenangan, dan ia pun terlelap juga karena merasa sangat letih.


"Ayra, bangun sudah sore ..." Tristan mendekati Ayra yang tertidur di ranjang dan menepuk bahunya


"Masih ngantuk..." sahut Ayra hanya menggeliat saja tak sadar tangannya melingkar di leher Tristan


"Ay...Ayra..." Tristan kaget dan jantungnya berdetak sangat kencang saat dilihatnya wajah Ayra telah berada di bawah wajahnya yang menunduk karena tangan Ayra yang menariknya tanpa sadar


Tristan terus menatap wajah polos namun cantik luar biasa itu, nafasnya terdengar memburu saat ia lebih mendekatkan lagi wajahnya. Ayra yang merasakan hembusan hangat dari nafas Tristan kemudian membuka matanya, mata itu membulat sempurna saat melihat wajahnya sudah sangat dekat dengan wajah Tristan, bahkan bibir mereka sudah hampir menempel.


"Tristan..." Ayra spontan mendorong tubuh Tristan hingga terjerembab ke lantai


"Aduhh,...sakit tahu, dasar cewek kasar..." umpat Tristan memegangi pinggangnya saat jatuh terduduk di lantai


"Salah sendiri, cari kesempatan aja....berapa kali harus aku bilang, jangan pernah melewati batasan mu." sungut Ayra ketus


"Hei, siapa yang cari kesempatan...Kamu sendiri yang tiba-tiba mengalungkan tangan mu dan menarik ku saat aku membangunkan mu." ucap Tristan membela diri


"Halahh, nggak usah mengelak...awas saja ya kalo macam-macam lagi." sahut ketus Ayra turun dari atas ranjang


"Dasar jutek..." gumam Tristan bangkit dan duduk di sofa kemudian mengambil minuman yang tadi di bawakan oleh kakaknya


Ayra berlalu keluar kamar sementara Tristan memilih tetap duduk di sofa sambil menikmati beberapa kue yang tadi ikut di bawakan oleh kakaknya bersama minuman dalam satu nampan. Ia terus mengunyah makanannya sambil memainkan ponselnya, sangat tenang karena tak ada suara omelan dari Ayra, namun hanya sebentar saja.


"Tris...kamu ngapain di situ..." Ayra tiba-tiba telah masuk dan berdiri di hadapannya


"Ngemill...pake nanya, apa nggak lihat ini." sahut Tristan cuek sambil terus memainkan ponselnya


"Ayah dan ibu mu menanyakan mu, keluar lah...mereka semua sedang bercengkerama di teras depan." ucap Ayra kemudian


"Malas, kamu saja...Aku takut ntar salah akting, kamu damprat lagi." sahut Tristan tetap fokus dengan layar ponsel


"Tristan..." Ayra mengambil paksa ponsel dari tangan Tristan


"Ayra kamu ini apaan sih, ...emang salah omongan ku,...dasar cewek jutek tak punya perasaan. " ucap Tristan ketus juga


"Kali ini keluarlah, kita berkumpul bersama mereka, aku merasa tak enak pada bapak dan ibu...aku janji nggak akan marah-marah lagi." kata Ayra membujuk Tristan


"Janji, apapun akting ku nanti kamu tak akan protes..." sahut Tristan menatap tajam wajah Ayra


"Iya, tapi jangan macam-macam...harus ingat batas." jawab Ayra pelan


"Emang antara suami istri masih ada batas ya....istriku yang cantik." ucap Tristan tersenyum simpul dan mendekatkan wajahnya pada Ayra


"Tris..." cemberut Ayra kemudian memalingkan wajahnya dan berjalan keluar dengan Tristan mengikuti di belakangnya


"Ini dia pengantin baru kita yang sudah mulai pemanasan...." ucap kakak saat melihat keduanya duduk bergabung dengan seluruh keluarga


"Baru pemanasan atau jangan-jangan udah belah duren..." sahut ayah Tristan tersenyum melihat ke arah anak dan menantunya


"Ayah sama kakak ini kompak ya....pada ngomong apaan sih." sahut Tristan menatap tajam ke arah ayah dan kakaknya


"Lihatlah, wajah Ayra merona begitu...jangan-jangan beneran udah gol tadi." sahut bapak


"Waduh siang-siang begini udah cetak gol..." tambah ibu diikuti tawa dari semua keluarga


"Sayang...jangan begitu..." sahut Tristan meraih tangan Ayra mencegahnya pergi


"Cie...Cie...udah sayang sayangan ni..." goda kakak lagi


"Ayra kok ngambek begitu..." ucap ibu lembut pada anaknya


"Ayra gimana tadi gol nya, pelan sedang apa kencang melesatnya..." tanya kakak terus menggoda adik ipar nya


"Kakak,...Ayra lagi datang bulan jadi nggak ada gol gol an segala..." jawab Ayra sewot dan yang jelas berbohong


"Iya kak, jadi main bolanya ditunda dulu...gol nya juga otomatis tertunda." ucap Tristan melirik ke arah Ayra


"Ooo...begitu, nggak apa-apa kok...sesuatu yang tertunda itu pasti indah pada waktunya. " ucap bapak ikut komentar


Begitulah mereka semua terus saja tertawa dan tersenyum bahagia hingga hari menjelang senja. Satu persatu mereka kembali ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan bersiap untuk makan malam.


"Ayra dan Tristan makan di kamar aja...ntar di bully lagi sama kalian. " ucap Ayra saat akan beranjak masuk


"Iya-iya dasar pengantin baru...meski baru dilarang masuk tetep aja pengen nya berduaan. Ntar tersiksa lho Tris ...." ucap kakak yang terus menggoda adiknya


Ayra segera menarik tangan Tristan dan pergi masuk ke kamar, ia tak ingin mendengar lagi godaan dari kakak dan juga orang tua mereka. Telinga Ayra terasa panas mendengar ucapan mereka semua, jadi lebih baik menyendiri berdua di kamar.


"Mending di sini, aman dari ocehan mereka semua." gerutu Ayra duduk bersandar di sofa


"Tapi benar kata kakak, kalo berduaan di sini aku yang tersiksa...." celoteh Tristan sambil membuka baju hendak mandi


"Hei, mau ngapain kamu...." mata Ayra membulat sempurna melihat Tristan membuka baju tepat di hadapannya


"Mandi, kenapa mau ikut..." singkat Tristan sambil melemparkan bajunya ke arah Ayra


"Hah... nggak sudi." umpat cepat Ayra sambil melempar balik baju Tristan


"Ssst,...meski nggak boleh main bola, boleh dong main hujan-hujan an di bawah shower..." ucap Tristan pelan menatap wajah Ayra dan tersenyum menggoda


"Dasar bodoh, culun, genit....awas kamu, sana mandi..." umpat Ayra sebal sambil mendorong tubuh Tristan


"Oooops, modus ya..." Tristan menangkap tangan Ayra yang berada di dadanya untuk mendorong tubuhnya


"Lepas..." Ayra meronta ingin melepaskan tangannya


"Bilang saja kamu ingin menyentuh ku, bagaimana lumayan bagus kan tubuh ku?" Tristan menatap wajah Ayra yang memerah


"Tristan lepas...aku mohon, jangan seperti ini..." ucap Ayra dengan mata berkaca-kaca


"Iya maaf, aku cuma bercanda kok...jangan cengeng dong, juteknya mana?" sahut Tristan kemudian melepas tangan Ayra dan tersenyum kecil


"Aku nggak mau kamu ulangi begini lagi..." lirih Ayra


"Kenapa,...apa aku salah jika mengharap lebih, atau kamu juga mulai baper padaku?" tanya Tristan pelan sambil terus menatap wajah Ayra


"Tris...kita sudah sepakat, jadi tolong jangan berusaha melewati batas, aku tak mau membuat mu kecewa dan terluka, terima kasih telah membantu ku sejauh ini." ucap Ayra pelan terduduk di sofa


"Maaf, ..." lirih Tristan yang sejujurnya merasa kecewa mendengar ucapan Ayra dan berlalu ke kamar mandi