My Enemy Is My True Love

My Enemy Is My True Love
Membobol gawang



"Ah iya maaf, kalo tak ada lagi yang harus saya kerjakan, saya permisi pak...." sahut Ayra terbata


"Baiklah, kembalilah bekerja..." singkat Arga dengan tersenyum kecil melihat ekspresi wajah Ayra


Ayra keluar dari ruang pimpinan dan kembali ke mejanya, ia masih belum percaya dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut Arga. Benarkah semua ucapan Arga itu, atau hanya trik liciknya untuk mendapat perhatian Ayra.


"Ayra, kamu nggak apa-apa?" tanya Tristan yang kemudian menghampiri Ayra


"Nggak apa-apa..." singkat Ayra cuek


"Tapi kamu lama sekali di dalam ruangan Arga, apa ia berbuat sesuatu padamu, apa ia menyakiti mu atau mengganggu mu lagi. " tanya Tristan yang merasa sangat khawatir sekaligus cemburu


"Aku bilang nggak apa-apa artinya ya nggak apa-apa,...." ketus Ayra menatap tajam ke arah Tristan


"Ayra,....kamu ini kenapa, aku hanya khawatir padamu." ucap Tristan tak terima dengan sikap Ayra


"Kembalilah bekerja, tak ada yang harus di khawatirkan. " sahut Ayra ketus tanpa menatap Tristan


Tristan hanya terdiam tak ingin berdebat lagi, ia menatap sejenak wajah Ayra yang menunduk pura-pura membuka berkas. Tristan merasa sangat aneh dengan sikap Ayra, kemudian ia pun beranjak kembali ke mejanya. Hingga pulang kerja pun Ayra dan Tristan hanya saling diam, tak banyak bicara.


"Kenapa sikap mu jadi aneh saat ke luar dari ruangan Arga tadi?" tanya Tristan saat di meja makan


"Diam dan makanlah, jangan membuat selera makan ku hilang ..." sahut ketus Ayra sambil mulai menyuap makanannya


"Aku bertanya baik-baik, jadi jangan ketus begitu...Apa aku salah jika bertanya seperti itu?" ucap Tristan tenang dan sabar


"Kamu benar-benar ingin membuat selera makan ku hilang ya,..." sahut keras Ayra menatap tajam ke arah Tristan


"Ayra, aku sudah mencoba bersabar dan mengalah, tapi kenapa sikap mu seperti ini....tolong sedikit saja kau hargai aku." kata Tristan menatap balik Ayra


"Kenapa memangnya, kamu tak suka, tak terima, silahkan saja kalo mau pergi..." ucap keras Ayra membuat Tristan meradang


"Apa kau lupa ini rumahku, kenapa kau mengusirku...dasar wanita tak tahu terima kasih, tak punya hati..." sahut Tristan yang mulai tersulut emosinya


"Oke, aku yang pergi dari sini...Aku sudah tak membutuhkan mu lagi...." ucap Ayra keras sambil beranjak dari duduknya


"Tunggu,...Apa kau bilang...kau tak membutuhkan ku lagi, benar-benar wanita tak berperasaan, jadi selama ini kau hanya memanfaatkan aku saja." ucap Tristan menarik tangan Ayra hingga tubuh mereka kini saling berhadapan, dan menatapnya dalam


"Iya, kenapa....lebih baik akhiri saja semua ini..." sahut Ayra jutek


"Tataplah mataku,... katakan kalo aku sama sekali tak berarti sedikitpun untuk mu." ucap Tristan mendekatkan wajahnya


"Iya, aku...benci padamu..." singkat Ayra yang langsung dibungkam Tristan dengan bibirnya


Tristan dengan kasar mulai men ci um dan melu mat bibir Ayra, tak peduli lagi meski Ayra terus meronta dan memukul dadanya. Ia memeluk erat pinggang Ayra hingga ia tak bisa meronta lagi, bahkan kini cium an Tristan semakin liar hingga nafasnya terdengar memburu.


"Tris, apa yang kamu lakukan..." lirih Ayra saat Tristan mengungkung nya di ranjang dan mulai tak bisa mengendalikan hasratnya


"Aku mencintai mu Ayra..." pelan Tristan dengan suara serak dan mulai melu mat lagi dan kini tangannya mulai bergerak pelan namun pasti melucuti pakaian Ayra


"Tris,..." de sah Ayra yang tak kuasa menahan gejolak di hatinya saat menerima sentuhan-sentuhan lembut Tristan


Malam itu Tristan benar-benar telah hilang kendali, namun demikian juga dengan Ayra yang entah kenapa tak berusaha menolak keras seperti sebelumnya. Dan malam itu juga Tristan telah berhasil membobol gawang pertahanan Ayra yang sangat dijaganya selama ini, keduanya sama-sama menikmati aktifitas panas itu meski pada awalnya Ayra merasa sangat kesakitan.


Keduanya kini terlelap karena merasa kelelahan, masih polos dan bermandi keringat keduanya tidur saling berpelukan. Namun saat menjelang pagi dan Ayra membuka matanya, air matanya mengalir deras karena telah melakukan hal bodoh seperti ini.


"Ayra..." lirih Tristan yang membuka matanya saat mendengar isak tangis di sebelahnya


"Kamu jahat Tris, ..." lirih Ayra sesenggukan sambil duduk bersandar di ranjang nya mendekap selimut yang menutupi tubuh polosnya


"Maaf Ayra, aku khilaf dan tak bisa mengendalikan diri lagi. Tapi aku sangat mencintai mu Ayra...." ucap pelan Tristan sambil menatap wajah Ayra dan berusaha menghapus air mata di pipi nya


"Aku benci padamu Tristan, ...disaat aku ingin mengakhiri semua ini.... " ucapan Ayra terhenti


"Tidak Ayra, jangan pernah pergi dari ku....Aku benar-benar mencintaimu, aku ingin selamanya bersamamu..." sahut Tristan meraih tangan Ayra


"Aku tak percaya, kamu hanya ingin balas menyakiti ku....karena telah acuh dan kasar padamu selama ini, tapi cara mu ini benar-benar jahat, Tris." kata Ayra pelan menundukkan wajahnya


"Kau telah merampas harta paling berharga ku yang selama ini sangat aku jaga..." lirih Ayra


"Tapi aku suami mu Ayra, dan kita sudah halal jadi semua ini tak jadi masalah..." ucap Tristan


"Itu untukmu tidak bagiku, kita hanya terpaksa menikah dan semua ini hanya pura-pura, dan aku baru menyadari jika sebenarnya hal ini tak perlu kita lakukan." ucap Ayra pelan


"Apa maksudmu?" tanya Tristan tak mengerti dengan ucapan Ayra


"Sebenarnya kita tak perlu melakukan semua ini, tak perlu menikah pura-pura...karena Arga tak seperti yang kita pikirkan." ucap Ayra mengagetkan Tristan


"Ooo, jadi ini yang membuatmu bersikap aneh, rupanya Arga telah berhasil memperdaya mu." sahut Tristan melepas tangannya dari tangan Ayra


"Tidak, ia tak memperdayaku...Ia telah mengatakan semua kebenarannya, dan aku merasa ia jujur ." ucap Ayra menatap wajah Tristan yang berubah muram


"Dasar bodoh..." umpat Tristan kesal setelah mendengar ucapan Ayra dan segera turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi


"Tris,..." panggilan Ayra tak dipedulikan lagi


Ayra masih termenung di tempatnya, ia menghapus air mata di pipinya, ia sadar jika semua terjadi murni bukan hanya kesalahan Tristan. Entah kenapa semalam ia tak berusaha menolak keras seperti sebelumnya, kenapa ia seakan ikut larut dalam sensasi kenikmatan yang diberikan oleh Tristan sekaligus menjadi pengalaman pertamanya.


"Kenapa aku begitu bodoh, padahal aku ingin mengakhiri semua ini..." lirih Ayra pada dirinya sendiri