
Suasana hangat dan penuh kebahagiaan sungguh sangat terasa, saat Ayra sedang pamit ke kamar mandi ia sempat tertegun sejenak melihat tawa riang semua keluarga yang tengah bercanda dan saling menggoda tersebut.
"Keluarga yang begitu baik dan harmonis....apa aku sanggup memberikan rasa kecewa pada mereka kelak." ucap Ayra berkaca-kaca dari kejauhan
"Ayra, kamu kenapa?" tanpa disadari karena tengah melamun, Tristan sudah menghampirinya
"Aku hanya merasa tak pantas berada diantara mereka..." jawab lirih Ayra
"Jangan berfikir terlalu jauh, saat ini kamu menantu terbaik untuk orang tua ku, ipar yang manis bagi kakak ku, mereka sangat menyayangi mu." ucap Tristan memeluk pundak Ayra
"Tris, jika mereka tahu tentang apa yang terjadi pada kita, apa mereka akan membenci ku kelak...." kata Ayra sambil menunduk
"Aku mohon jangan bahas masalah itu disini, saat berkumpul begini kita harus bahagia, lupakan sejenak tentang masalah di antara kita....aku sadar jika cinta memang tak bisa dipaksakan, aku janji akan berusaha menjelaskan pada mereka secara perlahan jika memang pada akhirnya nanti kau akan meninggalkan aku." ucap Tristan dengan raut penuh kesedihan, senyum yang semula selalu menghiasi wajahnya berubah dihiasi mata yang basah
Tristan menjadi sedih dan berlalu ke teras depan, tak ingin bergabung kembali dengan keluarganya di halaman belakang, ia tak ingin mereka melihat kesedihannya dan banyak bertanya. Ayra yang melihatnya lantas menyusul, ia merasa sangat bersalah karena telah membuat Tristan menjadi sedih.
"Maaf jika aku telah merusak suasana hati mu." ucap Ayra pelan terduduk di sebelah Tristan
"Tris..." Ayra meraih tangan Tristan yang hanya terdiam tak menjawab ucapannya
"Kenapa aku begitu bodoh karena terlalu berharap dan terlalu yakin jika kau akan bisa menerima ku, dengan perjanjian tiga bulan kita...." Tristan terdiam sejenak
"Itu akan semakin menyakiti hati mereka, jika pada akhirnya semua akan berakhir di saat mereka juga terlalu berharap banyak pada kita." lanjut Tristan dengan suara bergetar
"Maafkan aku..." sahut Ayra cepat
"Apa mungkin sebaiknya kita memang harus mulai jaga jarak dan mulai perlahan memberi pengertian pada mereka, jika semua yang terjadi hanya pura-pura saja, kau tak pernah bisa mencintai ku....kau masih selalu benci padaku...." ucap lirih Tristan membuat hati Ayra teriris mendengarnya
"Tris, sejujurnya aku belum yakin dengan apa yang aku rasakan...." sahut Ayra segera dipotong Tristan
"Tapi kau sangat yakin pada rasa benci mu padaku....meski semua yang telah terjadi pada kita, itu tak pernah bisa membuka hati mu untuk ku....aku yang kini begitu sangat mencintaimu, tak membuat ku pantas untuk kau cintai juga." ucap Tristan hendak bangkit
"Tris, aku mohon jangan begitu....kau masih tetap memberi ku waktu tiga bulan kan?" Ayra menarik tangan Tristan dan menahan agar tak beranjak
"Untuk lebih dalam melukai perasaan ku?" tanya Tristan terdengar begitu pilu
"Aku berjanji akan mempertimbangkan lagi perasaan ku, apa aku...." lagi-lagi ucapan Ayra dipotong Tristan
"Apa kau sedang meyakinkan hatimu, jika kau mulai jatuh hati pada Arga...." potong Tristan dengan ketus
"Tris, aku ...." Ayra terhenyak dengan perkataan Tristan
"Aku melihat bagaimana sikap dan tatapan mata mu kini pada Arga, mungkin dia memang jauh lebih baik dari ku yang hanya terus kau anggap sebagai seteru mu..." ucap Tristan lantas berlalu meninggalkan Ayra
"Ayah, ibu...Tristan pamit ya..." ucap Tristan pelan
"Kok buru-buru banget..." sahut kakaknya
"Iya kak, aku merasa pusing lagi...badan ku sepertinya belum sehat benar..." ucap Tristan beralasan
"Kalo begitu istirahat dan menginaplah disini...besok kan hari minggu." kata ibu bangkit dan menghampiri Tristan
"Tidak bu, Tristan pulang saja dan istirahat di rumah..." tolak Tristan perlahan
"Ayra, tolong jaga suamimu...ia memang sedikit manja dan minta diperhatikan lebih jika sedang sakit." ucap ibu pada Ayra yang datang menyusul ke halaman belakang
"Ibu, Tristan sekarang sudah berubah....tak lagi butuh dimanja seperti dulu...." sahut Tristan lirih melirik ke arah Ayra
Tanpa mereka sadari kakaknya memperhatikan sikap keduanya, kakak mulai merasa ada yang aneh dengan mereka. Namun ia hanya diam dan tak berusaha mencari tahu, ia tak ingin membuat orang tua nya jadi kepikiran.
"Apa salahnya bermanja pada istri sendiri... justru itu akan membuat mu cepat sembuh, perhatian dan kasih sayang istri adalah obat paling ampuh dari semua jenis obat." ucap kakak melirik aneh ke arah Ayra dan Tristan membuat keduanya tersentak kaget dan mulai menyadari jika kakak mulai curiga
"Ya sudah kalo memang maunya begitu, biar Tristan istirahat di rumahnya, mau manja atau tidak itu urusan mereka, yang penting kamu cepat sembuh. " ucap ayah menengahi
"Tris, kalo pengin cepat sembuh bergerak lah agar banyak berkeringat maka tubuh mu akan menjadi segar, semakin panas akan lebih baik..." ucap suami kakak sambil tersenyum simpul dan menaik turunkan alisnya menggoda
"Kamu ini apaan sih, pah.... " sahut kakak mencubit lengan suaminya saat melihat ekspresi wajah Ayra dan Tristan yang tampak tegang dan aneh
Kakak semakin yakin jika ada sesuatu yang terjadi diantara Tristan dan Ayra, tapi ia menahan diri dan akan mencari waktu yang tepat untuk bertanya pada adiknya itu. Akhirnya Ayra dan Tristan pun bergegas meninggalkan rumah kakaknya dan pulang ke rumahnya sendiri.
Selama perjalanan pulang keduanya hanya terdiam, Tristan merasa sangat tak ingin mengatakan apapun pada Ayra. Ia kini merasakan kecewa yang dalam dan entah mengapa ia begitu yakin jika Ayra mulai menyukai Arga, rasa cemburu, marah dan kecewa bercampur menjadi satu.
"Kamu mau kemana, katanya masih sakit...istirahatlah. " tanya Ayra turun dari boncengan saat tiba dirumah, tapi Tristan tak mematikan motornya dan hendak berlalu
"Akan semakin sakit jika berada di dekatmu...." jawab Tristan ketus
"Tunggu Tris,.... bukankah sebelumnya kita sudah sepakat, dan kau baik-baik saja. " ucap Ayra sambil tangannya menahan tangan Tristan
"Itu sebelum aku menyadarinya...." sahut Tristan cuek sambil berusaha melepas tangan Ayra
"Menyadari apa....aku kan sudah bilang padamu, jika aku sendiri belum yakin dengan apa yang aku rasakan. " ucap Ayra pelan
"Aku hanya tak ingin terlalu banyak berharap, seperti pernah kau bilang jika nanti rasa sakitnya akan terasa begitu berat..." kata Tristan cuek sambil berlalu meninggalkan Ayra yang masih berdiri ditempatnya
"Tristan, maafkan aku jika masih saja membuat mu kecewa dan sakit hati...." lirih Ayra menatap kepergian Tristan