My Enemy Is My True Love

My Enemy Is My True Love
Salah paham



Tristan menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke ranjang, hatinya hancur saat ini karena Ayra. Tanpa terasa air matanya telah menetes perlahan, ia terus meratapi nasib cintanya pada Ayra yang mungkin akan segera kandas.


"Mungkin inilah takdir cintaku, mencintai tanpa bisa memiliki...apa aku sanggup jika nanti harus berpisah dengannya. " lirih Tristan dengan suara serak


Tanpa disadari oleh Tristan, Ayra saat itu berdiri di depan pintu kamarnya yang tak tertutup rapat, ia menatap Tristan yang tengah terisak lirih namun terlihat begitu pilu. Ayra tak bisa menahan air matanya juga, ia merasa sangat bersalah karena telah membuat Tristan begitu merasa hancur.


###


Setelah kejadian malam itu, kini sikap Tristan menjadi dingin dan mulai menjaga jarak dengan Ayra. Sikapnya kini seperti saat dulu waktu mereka berdua masih berseteru di kantor, dingin dan angkuh.


"Tris, sarapan sudah siap..." ucap Ayra berusaha mencairkan suasana dingin di antara mereka


Namun Tristan sama sekali tak mendengarkan ucapannya, ia hanya terdiam dan berlalu begitu saja. Tristan berangkat ke kantor lebih dulu meninggalkan Ayra yang masih bersiap. Ayra hanya bisa mengelus dada dan sabar, mulai saat ini dia dan Tristan berjalan sendiri-sendiri.


"Kok sendirian, Ayra mana..." sapa Arga saat bertemu Tristan di depan kantor


Tristan hanya diam saja tak menjawab, ia terus bergegas masuk menuju mejanya. Arga menjadi heran dengan sikap Tristan, namun kemudian ia teringat pada kejadian semalam saat mengantar Ayra pulang.


"Tris, apa kalian sedang bertengkar?" tanya Arga ingin tahu hingga menghampiri Tristan di mejanya


"Tolong jangan terlalu ikut campur dengan urusan pribadi saya, cukup masalah pekerjaan saja." jawab Tristan ketus


Arga menahan diri untuk tidak terpancing emosi, ia hanya diam dan kemudian bergegas masuk ke ruangannya. Kini ia sangat yakin jika keduanya memang sedang bertengkar, mungkin dia lah yang menjadi sumber pertengkaran mereka.


"Dini, nanti kalo Ayra datang suruh menghadap ke ruangan ku segera." ucap Arga saat bertemu Dini sebelum masuk ke dalam ruangan nya


"Baik, pak." singkat Dini kemudian berjalan ke mejanya


Ayra tiba di kantor sedikit terlambat, karena motornya yang cukup lama tak dipakai mogok. Jadi ia harus menuntunnya ke bengkel terdekat, karena maklum dia sama sekali tak mengerti tentang mesin motor.


"Ayra, kamu baru datang?" tanya Dini menghampiri ke mejanya


"Iya, habis motor ku mogok jadi harus ke bengkel dulu." jawab Ayra sedikit keras hingga terdengar oleh Tristan


"Mogok?, lagian itu motor kan lama nggak kamu pakai ya nggak heran kalo mogok, tapi kok kamu nggak bareng Tristan pagi ini?" Dini mulai kepo


"Iya, Tristan ada urusan dulu tadi jadi dia berangkat duluan..." ucap Ayra beralasan dan Dini tampak percaya


"Oh ya, Ayra...pak Arga menyuruhmu ke ruangannya tadi, kamu sih baru datang...siap-siap aja kena omel." ucap Dini kemudian


"Baiklah, aku akan segera ke sana..." sahut Ayra pelan dan sebentar kemudian ia telah berjalan menuju ruangan Arga


Tristan yang mendengar Ayra terlambat karena motornya mogok jadi merasa bersalah, namun kemudian ia segera melupakannya. Apalagi kini ia melihat Ayra berjalan menuju ruangan Arga, spontan saja hatinya menjadi panas dan terlihat uring-uringan.


"Masuk." sahut Arga dari dalam saat Ayra mengetuk pintu


"Kamu baru datang Ayra,...duduklah." ucap Arga menatap wajah Ayra yang sedikit menunduk


"Maaf pak, saya sedikit terlambat soalnya motor saya tadi mogok jadi harus ke bengkel dulu." jelas Ayra sambil minta maaf


"Tristan ada urusan dulu tadi, jadi saya..." belum selesai Ayra menjawab


"Bohong....kalian sedang bertengkar kan?" sahut Arga menatap tajam ke arah Ayra


"Tidak, saya hanya..." lagi-lagi ucapan Ayra dipotong Arga


"Jangan coba membohongi ku, aku yakin kalian sedang bertengkar saat melihat sikap Tristan tadi." sahut Arga lagi


"Memang bagaimana sikap Tristan?" tanya balik Ayra penasaran


"Ia terlihat muram, saat aku bertanya tentang mu ia hanya cuek dan berlalu, bahkan saat aku menghampirinya ia malah berkata ketus padaku. " jawab Arga menjelaskan


"Maafkan , sikap Tristan..." sahut Ayra pelan


"Apa ini karena kejadian semalam?" tanya Arga kemudian


"Dia hanya salah paham saja, nanti jika aku jelaskan pasti semuanya akan baik-baik saja. " jawab Ayra pelan dan ragu


"Apa dia sedang cemburu padaku, apa dia menyangka kalo kita berkencan semalam?" tanya Arga penasaran


"Sudahlah, pak...tolong jangan di bahas lagi, saya hanya ingin fokus bekerja saja." ucap Ayra berusaha mengalihkan pembicaraan


"Ayra, apa kau menyukai ku?" tanya Arga tiba-tiba membuat Ayra tersentak


Ayra hanya terdiam dan menatap wajah Arga, namun saat Arga balas menatapnya dalam, ia segera menundukkan wajahnya. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang, dan ia tak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya ia memang masih bingung dengan perasaannya kini, apa ia mulai menyukai Arga atau mulai jatuh cinta pada Tristan.


"Ayra, mata mu sudah menjawab pertanyaan ku, aku tahu perasaan mu padaku. " ucap Arga sok tahu


"Ayra, saat pertama melihat mu hingga kini perasaan ku padamu masih sama, aku mencintai mu, Ayra. " ucap Arga lembut dan kini telah menggenggam erat kedua tangan Ayra


"Saya...." lirih Ayra tak mampu berkata lagi saat mendapati kedua tangannya telah digenggam begitu erat oleh Arga


"Tak usah berkata apapun, sudah aku bilang tadi....mata mu telah menggambarkan bagaimana perasaan mu padaku. " ucap lembut Arga tanpa melepas tatapannya


"Tapi pak, saya..." sahut Ayra


"Hanya Arga, sebut nama ku saja jika kita sedang berdua. Ayra, beri aku kesempatan untuk membuktikan ketulusan cinta ku..." kata Arga penuh perasaan


Kini keduanya saling bertatapan, entah mengapa Ayra merasakan getaran aneh saat menatap mata Arga yang penuh ketulusan. Cukup lama saling menatap, hingga saat terdengar telepon berdering membuat keduanya kaget.


"Saya harus menyelesaikan pekerjaan, pak." sahut Ayra kemudian langsung beranjak dan bergegas keluar tanpa menunggu persetujuan Arga


Arga hanya menatap Ayra dan mengangguk pelan , kemudian mengangkat telepon dan mulai berbicara. Sementara Ayra yang telah duduk di mejanya masih terpaku, ia tak percaya jika Arga baru saja mengutarakan perasaan cintanya.


Namun sekali lagi Ayra tersentak, saat tak sengaja menoleh ke arah Tristan dan tepat saat itu Tristan juga menatapnya. Hatinya berdesir, lalu muncul keraguan lagi tentang perasaannya saat ini. Ia berusaha mengalihkan pikirannya yang bingung dengan mengerjakan tugas kantornya.


"Mulai hari ini kita akan tinggal terpisah..." ucap Tristan pelan saat tiba-tiba telah menghampiri Ayra dan bergegas keluar kantor