
Sore itu mereka berdua begitu sangat menikmati permainan, meski mengaku belum bisa membuka hati untuk Tristan namun Ayra ternyata juga begitu menikmati aktifitas tersebut. Bahkan ia selalu mengekspresikan kenikmatan yang dirasakan melalui de sah an yang terdengar sangat indah di telinga Tristan hingga membuatnya semakin bersemangat lagi.
Hingga sore berganti senja dan matahari mulai tergantikan bulan, mereka berdua saling memadu kasih bagai dua orang yang sedang di mabuk asmara, tak nampak sedikit pun rasa benci atau pura-pura di antara mereka. Dan akhirnya entah setelah berapa kalinya mereka mencapai puncak bersama, kini keduanya terkapar tak berdaya kehabisan tenaga.
"Ayra, apa kau menikmatinya....apa kau bahagia..." lirih Tristan yang terbaring di sebelah Ayra sambil menatap lembut
"Iya aku bahagia....terima kasih, Tristan." sahut Ayra pelan menoleh ke arah Tristan dan balas menatap lembut
"Ayra, sayang....bisakah kita selalu seperti ini selamanya....bisakah kau berjanji untuk tetap berada di samping ku, aku mohon jangan pernah tinggalkan aku." pinta Tristan sepenuh hati sambil mengusap lembut wajah Ayra
"Tris, sepertinya aku memang mulai jatuh cinta padamu, tetapi..." ucap Ayra namun segera di potong Tristan
"Tidak ada tetapi, yakinlah jika kau memang mencintai ku....kita akan sama-sama belajar untuk saling menerima dan menjaga pernikahan ini untuk selamanya, aku ingin kamu selalu berada di sampingku dan melahirkan anak-anak ku." ucap lembut Tristan mengecup kening Ayra
"Tristan, apa aku bisa menjadi istri yang baik untuk mu....karena selama ini aku hanya bisa menyakiti hati mu, membuatmu marah dan kecewa." kata Ayra menatap dalam mata Tristan
"Kita akan berusaha dan belajar untuk membina rumah tangga ini, dan aku yakin kamu pasti bisa....tetapkan hati mu hanya untuk ku, Ayra." ucap Tristan pelan sambil tersenyum kecil
"Tapi kamu harus sabar dengan semua sikap ku nanti, bimbing aku selalu, Tris...." sahut Ayra tersenyum manis
"Pasti sayang, ...terima kasih telah memberi ku kebahagiaan ini, aku janji akan selalu berada di samping mu selamanya....aku ingin kita selalu bersama hingga maut memisahkan...aku mencintaimu, sangat mencintai mu Ayra. " ucap Tristan tersenyum bahagia kemudian memeluk erat tubuh istrinya
Ayra merasa hatinya begitu tenang saat berada di pelukan suaminya, ia membenamkan wajahnya di dada bidang Tristan hingga jelas mendengar detak jantung suaminya itu. Ia pun mencoba memantapkan hatinya untuk Tristan, dan akan berusaha melupakan perasaannya pada Arga.
"Sayang...." lirih Tristan
"Iya, ..." sahut Ayra lembut
"Kakak tadi ke sini, ia sudah tahu semuanya....aku menceritakan semuanya pada kakak." ucap Tristan kemudian
"Apa kamu tak khawatir jika orang tua kita akan menjadi kecewa jika tahu semua ini...." kata Ayra mendongakkan wajahnya menatap Tristan
"Aku sudah meminta kakak untuk tak menceritakan semuanya pada orang tua kita, aku minta waktu pada kakak untuk memperjuangkan cinta kita. Aku ingin kita bisa bersama selamanya jadi tak perlu khawatir lagi, namun jika memang takdir tak membiarkan kita bersama maka aku sendiri yang akan menjelaskan pada orang tua kita." jelas Tristan menatap wajah Ayra yang juga menatapnya lembut
"Tris, maafkan sikap ku selama ini....semua terserah padamu, aku akan menurut pada mu, ingatkan aku jika mulai tak patuh pada mu." ucap Ayra mencoba menjadi istri yang baik untuk Tristan
"Iya sayang, lupakan semua yang telah berlalu....mari kita membuka lembaran baru, dan aku akan menghukum mu jika kau mulai tak patuh pada ku..." kata Tristan tersenyum menggoda istrinya
"Jangan di hukum, peringatkan saja ya...." sahut manja Ayra
"Tidak bisa, pokoknya langsung di hukum..." kata Tristan tegas
"Hukumannya apa?" tanya Ayra pelan
"Hukumannya di cium dan tak dilepaskan meski hanya sesaat untuk semalaman." jawab Tristan ketus tapi sambil tersenyum kecil
"Yah, itu sih enak di kamu..." sahut Ayra cepat sambil mencubit pinggang Tristan
"Heiii, geli tahu....jangan mulai memancing ku lagi, ...emangnya kamu nggak merasa enak juga. " ucap Tristan sambil mengusap lembut wajah Ayra
"Mau nambah lagi nggak?" tanya Tristan tersenyum nakal
"Nggak,....aku mau mandi." jawab Ayra cepat dan ketus
"Mandi bareng dong..." sahut Tristan manja sambil menahan tubuh Ayra yang hendak bangun
"Apaan sih, dasar manja...." ketus Ayra
"Manja apa maniak?" tanya Tristan menggoda
"Dasar manja juga maniak, komplit...." jawab Ayra cuek langsung bangun dan turun dari ranjang
"Sayang...." Tristan terus merajuk manja
Ayra hanya mencibirkan bibirnya saat Tristan terus merajuk padanya, ia lalu bergegas pergi ke kamar mandi meninggalkan Tristan yang masih terbaring polos di ranjang nya. Tristan tersenyum bahagia, karena kini ia merasa yakin jika Ayra telah membuka hati dan mulai jatuh cinta padanya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, untuk selalu menjaga Ayra dan tak membiarkan siapapun memisahkan mereka berdua termasuk Arga.
"Tris...." panggil Ayra dari dalam kamar mandi
"Iya, apa...." sahut Tristan sambil bangkit dan turun dari ranjang
"Tolong ambilkan handuk, aku lupa...." ucap Ayra dari dalam kamar mandi
"Nggak usah pake handuk, kan cuma ada aku....ke luar saja dan ambil sendiri." goda Tristan yang berdiri di luar kamar mandi sambil melilitkan handuk di pinggangnya
"Tristan,..." umpat Ayra mengintip dari pintu kamar mandi dan Tristan hanya tertawa kecil melihat ekspresi wajah Ayra yang marah
"Sini keluar, ini handuknya aku pakai.... ambil saja." ucap Tristan terus menggoda istrinya
"Ayolah, Tris....jangan bercanda, keburu malem aku mau masak buat makan kita." pinta Ayra pelan dan memohon
"Nggak usah masak, aku nggak laper..." sahut Tristan cuek sambil terus tersenyum
"Tapi aku laper banget, ayolah..." ucap Ayra menatap tajam ke arah Tristan yang masih berdiri ditempatnya
"Ayo, kamu ngajak lagi sayang...bilang dong kalo minta nambah...." sahut Tristan melepas handuk dari pinggangnya dan berjalan masuk ke kamar mandi masih dengan senyum jahilnya
"Apaan sih, ...." Ayra segera merebut handuk dari tangan Tristan segera menutup pintu kamar mandi
"Ayra, sayang....buka dong aku juga mau mandi." ucap Tristan pelan sambil mengetuk pintu
Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka dan Ayra ke luar dengan hanya berbalut handuk hingga masih memperlihatkan tubuh mulusnya. Tristan dengan cepat menyambar tubuh Ayra dan mendekapnya erat, menatap wajahnya dan mulai men cium i wajah Ayra.
"Tristan, lepas....mandi sana. " Ayra mencoba berontak
"Kamu terus saja menggodaku, dasar istri nakal ....ayo kamu harus tanggung jawab." ucap Tristan dengan suara bergetar dan langsung membawa tubuh Ayra masuk ke kamar mandi
"Tristan...." teriak Ayra yang segera di bungkam dengan bibir Tristan