My Enemy Is My True Love

My Enemy Is My True Love
Cari kesempatan



Hari itu Tristan benar-benar lembur untuk menyelesaikan tugas dari Arga. Semua karyawan telah pulang , namun Tristan masih tetap terpaku pada laptop nya. Ayra melihat ke arah Tristan yang masih fokus bekerja, hatinya merasa tak tega melihatnya yang harus lembur hingga malam padahal besok pagi-pagi sekali harus berangkat bersamanya.


"Ayra, ayo pulang..." ucap Dini yang mengajaknya pulang


"Kamu duluan saja, aku masih ada sedikit pekerjaan. " jawab Ayra beralasan


"Haduh jadi orang jangan rajin-rajin amat deh,...oke Aku pulang duluan." sahut Dini kemudian bergegas pulang


Kini hanya tinggal Tristan dan Ayra di kantor, sementara Arga juga sudah meninggalkan kantor sejak tadi. Arga masih merasa sebal pada Tristan yang seakan tengah mengejeknya tadi.


Ayra dengan ragu bangkit dan menghampiri Tristan yang tampak begitu serius. Ayra merasakan perasaan aneh saat melihat Tristan, antara kasihan dan juga kagum. Namun ia tak ingin menunjukkannya, egonya jauh lebih tinggi dari perasaannya sendiri.


"Kamu yakin ingin lembur hingga larut?" tanya Ayra saat berdiri di sebelah meja Tristan


" Ehh iya, kamu pulang saja dulu, istirahatlah besok kan harus berangkat pagi." jawab Tristan memberi perhatian


"Jangan sok menasehati, urus saja diri kamu sendiri." sahut Ayra pergi meninggalkan Tristan


"Dasar..." lirih Tristan menatap Ayra yang berjalan keluar kantor sambil tersenyum kecil


Malam itu hampir tengah malam Tristan akhirnya menyelesaikan pekerjaan nya, ia langsung mengirimnya pada Arga. Badan nya terasa pegal semua, dengan pelan ia berjalan keluar dan pulang dengan motornya.


Ayra yang berada di rumahnya tak bisa tidur, ia terus memikirkan Tristan yang lagi lembur. Ingin rasanya ia menghubungi nya dan bertanya apakah sudah selesai, namun lagi-lagi gengsinya terlalu tinggi.


###


Pagi-pagi benar alarm yang dipasang sudah berbunyi, Tristan yang masih merasa sangat ngantuk dan letih mematikannya dan tak sadar tidur lagi. Begitupun dengan bunyi yang kedua lagi-lagi ia hanya mematikannya tanpa membuka matanya.


Terdengar ponselnya berdering berulang kali, namun Tristan masih tetap nyenyak dalam tidurnya. Ayra ternyata yang menghubunginya, ia merasa Tristan pasti belum bangun karena tidak mengangkat panggilannya. Ia merasa tak sabar, akhirnya ia yang sudah bersiap memutuskan untuk menyusul ke rumah Tristan.


"Tris...Tristan...." panggil Ayra sambil berulang kali mengetuk pintu tapi tetap tak ada sahutan


Tristan memang tinggal seorang diri di rumahnya, sedangkan orangtuanya tinggal bersama kakaknya yang telah berkeluarga dan memiliki anak balita. Ia mulai tak sabar karena hari beranjak siang, ia mulai gelisah dan sedikit kesal. Ia mencoba memegang gagang pintu, dan menariknya ternyata tak kunci.


"Dasar ceroboh, bisa-bisanya ia tak mengunci pintu." gumam Ayra kemudian melangkah masuk dan memanggil Tristan


Ayra terus memanggil, tapi tetap tak ada sahutan, ia berjalan masuk kemudian menuju sebuah kamar dan membukanya ternyata kosong. Dengan terus memanggil ia lanjut menuju kamar lainnya, dan saat dibukanya tampak olehnya Tristan masih tertidur pulas. Ia melihatnya antara kasihan dan juga jengkel, karena sudah hampir siang tapi ia belum bangun juga.


"Apa semalam ia pulang lewat tengah malam." lirih Ayra berucap pada dirinya sendiri dan dengan ragu berjalan mendekat


"Tris...Tristan , bangun...." Ayra menepuk pundak Tristan sambil menatap wajahnya yang membuat hatinya berdesir


"Dengan wajah bantal dan diam begini, ia ternyata cakep juga." ucap lirih Ayra terus menatap wajah di depannya


"Ayra ..." Tristan terpekik pelan saat membuka matanya


"Apa aku sedang bermimpi?" tanyanya lirih sambil mengedip-ngedipkan matanya


"Mimpi aja terus, jangan bangun sekalian..." ujar Ayra sebal


"Lihat ini udah jam berapa, kamu ini benar-benar ya...." lanjut Ayra menatap tajam Tristan


"Hahh....maaf-maaf..." sahut Tristan saat melihat jam dan segera bangun


"Tapi, kenapa kamu bisa ada di sini, jangan bilang kau dobrak pintu ku?" tanya Tristan setelah duduk di ranjang


"Maaf, aku lupa habis semalam capek banget, untung nggak kemalingan." ucap Tristan menggaruk-garuk kepalanya


"Cepat mandi sana, ntar kesiangan udah jam berapa ini...Dasar lambat." sahut Ayra semakin kesal


"Iya maaf, aku mandi dulu...jangan marah-marah gitu, cakep ya hilang lho..." seru Tristan sambil bangkit dan berjalan menuju kamar mandi


"Tristan...." Ayra menatap tajam namun wajahnya memerah


Ayra kemudian menunggu di ruang tengah, ia melihat foto-foto yang banyak terpajang di sana. Ia tersenyum kecil saat melihat foto masa kecil Tristan, terlihat lucu dan menggemaskan.


"Kenapa, senyum-senyum sendiri... naksir ya." ucap Tristan tanpa di sadari sudah berdiri memperhatikan Ayra


"Apaan sih, culun gini..." sahut Ayra dengan sombongnya, menutupi dengan gengsinya


" Masak sih, kalo yang sekarang..." tanya Tristan tersenyum merasa sangat geli melihat ekspresi wajah Ayra


"Tetep aja culun, bodoh, dingin , nyebelin..." ujar Ayra sebal


"Ssst,...jangan bilang seperti itu, nanti jatuh cinta beneran lho." potong Tristan sambil menempelkan jari telunjuknya di bibir Ayra


"Nggak bakalan..." sahut singkat Ayra menepis jari telunjuk Tristan dari bibirnya


Tristan hanya tersenyum kecil melihat ekspresi Ayra, entah kenapa ia sangat senang sekali melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu. Antara marah, sebal tapi juga salah tingkah.


"Ayo berangkat keburu siang." ucap Ayra mengalihkan perhatian Tristan yang terus menatapnya


"Kita naik motor aja ya, biar cepet..." kata Tristan sambil memakai jaket kulitnya


"Emang kamu nggak capek, boncengin aku juga, jauh lho...." ucap Ayra kemudian


"Nggak apa-apa, motor kamu biar ditinggal disini aja. Kita boncengan naik motor ku, sebentar aku ambilkan jaket." jawab Tristan masuk ke dalam kamar dan ke luar membawa jaket jeans yang cukup tebal


"Ini pakailah, agak kebesaran sih..." ucap Tristan sambil menyerahkan jaket pada Ayra


"Nggak usah, sweater ku udah cukup..." Ayra tak menerima jaket tersebut


"Sweater rajut tipis begitu mana cukup, sudah jangan bandel pakai aja, kita ini mau berkendara jauh mungkin empat atau lima jam baru sampai ke rumah orang tua mu, atau mau aku pakaikan sekalian...." ucap Tristan hendak memakaikan jaketnya


"Iya-iya, sini aku pakai sendiri....mau cari kesempatan ya." gerutu Ayra cemberut


Setelah bersiap Tristan mengeluarkan motornya dan memasukkan motor Ayra ke dalam rumah. Tak lupa ia memastikan pintu telah terkunci, dan mereka pun telah naik ke motor dan Tristan mulai menyalakan mesinnya.


"Siap... pegangan yang erat, aku akan berkendara dengan kecepatan cukup tinggi, biar cepat sampai." ucap Tristan saat akan mulai melajukan motornya


"Mau cari kesempatan lagi, jangan modus ya...." sahut Ayra ketus


"Terserah, dasar bawel...." Tristan menarik tuas gasnya membuat Ayra hampir terjatuh


"Tristan...." serunya kaget dan spontan melingkarkan tangannya di perut Tristan


"Nah kan..." Tristan tersenyum penuh kemenangan namun jantungnya malah berdegup kencang merasakan tubuh Ayra yang bersentuhan dengan punggungnya