
Pagi sekali Tristan telah sampai di rumah Ayra, bahkan saat itu Ayra baru saja selesai mandi. Ayra menyuruh Tristan untuk menunggu dulu di ruang tamu, selagi dia bersiap. Tak butuh waktu lama, karena pada dasarnya Ayra memang gadis yang simple, tak suka berdandan heboh makanya kecantikannya benar-benar natural.
"Oke, ayo berangkat sekarang..." ucap Ayra berjalan menghampiri Tristan sambil menggendong tas ransel
"Sudah siap, cepet banget...cuma bawa tas ransel itu aja?" tanya Tristan menatap Ayra dari ujung rambut sampai ujung kaki
"Iya, emang mau bawa apaan...semua kan sudah disiapkan disana, lagipula aku juga punya banyak baju ganti dirumah bapak." jawab Ayra enteng berjalan menuju pintu
Tristan tetap terduduk, ia masih saja menatap kagum pada Ayra. Ia merasa tak percaya bahwa gadis cantik yang sederhana namun mempunyai kecantikan alami yang luar biasa ini, adalah gadis yang akan ia nikahi besok.
"Kok bengong....mau berangkat atau tetap saja melongo di situ." ucap Ayra menatap tajam ke arah Tristan yang tak berkedip memandangnya
"Iya-iya...maaf, habis kamu cantik sekali. " sahut Tristan lirih sambil bangkit dan berjalan mengikuti Ayra keluar rumah
"Apa kau bilang tadi, ...." sahut Ayra ketus
"Nggak apa-apa, ayo berangkat..." jawab singkat Tristan tersenyum kecil sambil menaiki motornya
Mereka berangkat saat hari masih cukup pagi dan jalanan tak terlalu ramai. Tristan sengaja tak terlalu cepat memacu motornya, ia berkendara santai sambil menikmati perjalanan. Hati Tristan saat ini sedang begitu bahagia, karena besok ia akan menikah dengan gadis jutek yang telah membuatnya jatuh hati itu.
"Tris, hati-hati...fokus dong." ucap Ayra spontan saat Tristan mengerem mendadak hendak menabrak mobil di depannya
"Iya, maaf..." sahut Tristan kemudian melajukan motornya kembali
"Jangan melamun lagi, fokus...Aku masih ingin hidup." ucap ketus Ayra menepuk pundak Tristan
"Iya,...Aku juga ingin hidup selamanya bersamamu." sahut Tristan tak terlalu keras
"Ngomong apa kamu?" tanya Ayra tak jelas mendengar ucapan Tristan
"Nggak ngomong apa-apa..." jawab Tristan menarik tuas gasnya sambil tersenyum
"Tristan..." teriak Ayra spontan melingkarkan kedua tangannya erat di perut Tristan
Tak terasa perjalanan sudah hampir sampai ke tujuan, meski beberapa kali berhenti untuk istirahat sejenak namun hari belum terlalu sore saat tiba di rumah orang tua Ayra. Suasana rumah sudah cukup ramai, beberapa orang tampak sibuk mempersiapkan acara pernikahan mereka besok, beberapa sudut rumah juga sudah dihias cantik.
"Akhirnya kalian sampai juga, cepat masuk dan istirahat dulu." ucap bapak yang menghampiri Tristan dan Ayra yang baru tiba
Tristan dan Ayra pun menurut, mereka masuk ke dalam rumah dan beristirahat sejenak. Tampak orang tua, kakak dan keponakan Tristan juga sudah ada di sana. Mereka tampak sudah begitu akrab dengan ibu serta beberapa saudara Ayra.
Malam pun menjelang, baik Ayra maupun Tristan sama-sama merasa gelisah menghadapi acara pernikahan mereka besok. Tristan merasa sedikit tenang karena memang menginginkan pernikahan ini dan juga ia sudah benar-benar jatuh hati pada Ayra.
Lain halnya dengan Ayra, sampai menjelang pernikahan besok ia masih menganggap semua ini hanya pura-pura saja. Ia hanya perlu berakting untuk meyakinkan orang tuanya, dan yang paling membuatnya gelisah adalah jika besok Arga benar-benar datang. Ia tak bisa membayangkan jika Arga membuat onar dan menggagalkan pernikahannya besok.
###
"Ayra, bersiaplah nak...." ucap ibu menghampiri anak gadisnya
"Iya bu..." sahut Ayra yang kemudian berjalan ke kamarnya untuk dirias
Sementara itu di lain ruangan, Tristan juga sedang bersiap dibantu oleh seorang asisten pria dari perias. Tak seperti Ayra yang butuh waktu cukup lama, Tristan hanya butuh waktu tak terlalu lama. Ia nampak sangat gagah dan ganteng dengan setelan tuxedo warna silver.
Dan Ayra yang juga sudah selesai bersiap tampak sangat menawan dengan gaun warna silver senada dengan tuxedo yang dikenakan Tristan. Keduanya bersanding sangat serasi di pelaminan, dan acara pernikahan pun berjalan dengan sangat lancar.
Tristan tersenyum lega dan begitu bahagia, kini ia telah resmi menjadi suami Ayra. Senyum selalu menghias di bibir Tristan selama acara berlangsung, tak seperti Ayra yang tampak begitu tegang dan tertekan.
"Kamu kenapa?" tanya Tristan pelan menatap wajah Ayra yang sedikit pucat
"Tidak apa apa, aku hanya capek." jawab Ayra mencoba menutupi perasaannya
Saat acara menjelang berakhir, tampak sebuah mobil yang cukup mewah berhenti di depan rumah. Seorang pria dewasa dengan penampilan yang sangat rapi dan elegan turun, dan kemudian berjalan menghampiri kedua mempelai yang masih berdiri di pelaminan.
"Ayra, tetap tenang...Jangan terlihat panik." ucap Tristan pada Ayra saat melihat Arga berjalan ke arah mereka
"Tris...Aku takut, bagaimana jika ia..." kata Ayra terlihat sedikit gemetar
Tristan dengan cepat menggenggam erat tangan istrinya itu membuat Ayra menghentikan ucapannya, hatinya merasa sedikit tenang apalagi saat Tristan menatapnya lembut dan tersenyum kecil seakan berkata padanya untuk tenang.
"Selamat sore, maaf saya hampir saja terlambat ya ....Selamat buat kalian berdua." ucap Arga saat tiba di depan keduanya dan mengulurkan tangannya
"Ini siapa nak?" tanya bapak penasaran dan dari tadi terus menatap wajah Arga
"Saya Arga, bapak...saya pimpinan di perusahaan tempat Tristan dan Ayra bekerja." kata Arga menyalami kedua orang tua Ayra dan Tristan
"Oh, maaf kami tidak tahu...mari silakan duduk dulu, kebetulan acara juga sudah selesai." ucap bapak mempersilahkan Arga duduk
Tampak orang tua mereka menemani Arga duduk karena acara memang telah selesai, sementara kedua pengantin masih berdiri mematung melihatnya dengan ekspresi sangat tidak suka. Baik Ayra maupun Tristan merasa sangat tidak suka melihat sikap Arga yang sok dekat dengan orang tua mereka.
"Tristan, Ayra kemari lah...kenapa kalian berdiri saja disitu, acara kan sudah selesai." ajak ibu melambai ke arah mereka berdua
Tristan memandang ke arah Ayra dan menganggukkan kepalanya, ia lantas meraih tangan Ayra dan menggandengnya saat berjalan menuju tempat Arga dan orang tua mereka duduk. Dengan ragu mereka pun akhirnya duduk di antara mereka semua, Ayra nampak sangat tegang.
"Ayra, kamu kenapa....tampak tegang begitu?" ucap Arga tiba-tiba saat melihat wajah Ayra
"Saya..." Ayra tergagap kaget
"Tidak apa-apa pak, istri saya hanya merasa lelah saja..." jawab Tristan sambil menatap Ayra dan menggenggam erat tangannya
"Kenapa kamu yang menjawab, aku bertanya pada Ayra..." ucap Arga yang merasa tak senang dengan jawaban Tristan