My Enemy Is My True Love

My Enemy Is My True Love
Khawatir



Hingga hari menjelang malam Tristan belum juga pulang ke rumah, Ayra sudah berusaha menghubungi ponselnya namun tidak aktif. Ia kini merasa sangat khawatir karena kondisi Tristan sedang tidak sehat, ia takut terjadi sesuatu yang tak inginkan pada Tristan.


"Halo Ayra..." ucap Arga saat panggilan teleponnya diangkat Ayra


"Ya, Arga..." sahut Ayra lirih


"Suaramu terdengar sangat tak bersemangat, ada apa?" tanya Arga kemudian


"Ah, tidak apa-apa ..." sahut Ayra pelan


"Ayolah Ayra, katakan padaku...mungkin aku bisa membantumu." kata Arga berusaha menawarkan bantuan


"Aku hanya sedang khawatir dengan Tristan, sejak sore tadi ia pergi hingga kini belum pulang, ponselnya nggak aktif lagi." ucap Ayra menjelaskan


"Halah, begitu aja kok khawatir....libur begini paling dia nongkrong bareng temannya. " jawab Arga tenang


"Dia sedang sakit, Ga....lagipula tadi ia pergi dengan suasana hati yang tidak baik." jelas Ayra lagi


"Emang dia nggak ngomong mau kemana." sahut Arga jadi penasaran


"Ya nggak lah, kalo ngomong aku nggak akan se cemas ini..." ucap Ayra semakin cemas


"Baiklah, aku akan ke rumah mu....kita cari dia bersama, tunggu aku..." ucap Arga langsung mematikan ponselnya


Ayra tak sempat mengucapkan sepatah katapun saat Arga langsung mematikan ponselnya, sebenarnya ia tak ingin merepotkan Arga. Lagipula ia takut Tristan akan jadi lebih sakit hati lagi saat melihatnya jalan bareng Arga. Namun disisi lain, hati nya merasa senang dengan perhatian yang diberikan Arga padanya.


"Sudah siap , kita langsung berangkat..." ucap Arga saat tiba dirumah Ayra


"Iya, ayo...." sahut Ayra mengikuti langkah Arga masuk ke dalam mobil


"Kita cari kemana dulu..." tanya Arga saat mulai menyalakan mobilnya


"Kita coba ke kafe langganannya dulu..." jawab Ayra diikuti anggukan kepala Arga


Mereka berdua lantas berkendara menuju kafe yang dimaksud Ayra, namun setelah tiba di sana dan mencoba bertanya pada karyawan kafe, ternyata Tristan sama sekali tak ke sana. Kini Ayra meminta Arga menuju rumah teman baik sekaligus teman sekolah Tristan, namun lagi-lagi ia tak pernah ke sana.


"Tris, kamu dimana?" lirih Ayra mulai berkaca-kaca


"Jangan terlalu cemas begitu, coba hubungi lagi ponselnya..." ucap Arga menggenggam erat tangan Ayra


Ayra tersentak kaget dan hanya menganggukkan kepalanya saat Arga menggenggam tangannya, hatinya berdesir dan jantungnya berdebar. Namun ia buru-buru mengalihkan perhatian dengan mencoba menghubungi ponsel Tristan.


"Masih saja tak aktif....." lirih Ayra menoleh ke arah Arga


Sekali lagi jantung Ayra berdebar hebat saat mendapati mata Arga tengah menatapnya dalam, ia berusaha untuk bersikap biasa saja dan menutupi rasa gugupnya. Namun begitu sebagai pria dewasa yang telah banyak pengalaman, Arga sangat tahu akan kegugupan Ayra, ia pun tersenyum kecil saat melihat ekspresi wajah Ayra yang tampak salah tingkah.


"Bagaimana, kita cari kemana lagi...atau kita pulang saja ini sudah terlalu larut." ucap lembut Arga tanpa melepaskan tatapan matanya


"Kita pulang saja..." kata Ayra sambil menundukkan wajahnya menghindari tatapan mata Arga


"Ayo turun, sudah sampai....Ayra..." ucap Arga mengagetkan Ayra yang sedang melamun


"Iya..." sahut Ayra terbata


Ayra turun dari mobil dan berjalan berdampingan dengan Arga, Arga merengkuh pundak Ayra untuk berusaha menenangkan hatinya yang masih merasa cemas. Namun tanpa mereka sadari, Tristan telah berada di dalam rumah dan melihat sikap mereka berdua.


"Tristan...." pekik Ayra kaget saat Tristan membukakan pintu untuknya


"Benar kan apa yang aku bilang..." lirih Tristan spontan saat membuka pintu


"Tris, kamu dari mana saja?" tanya Ayra kemudian


"Aku kemanapun tak ada artinya buat mu,...yang penting kamu merasa happy kan saat ini. " ucap Tristan dengan senyum kecut menatap keduanya


"Tris, apa maksudmu....kami pergi mencari mu...." sahut Ayra sambil menurunkan tangan Arga dari pundaknya dan menyadari bahwa Tristan merasa kecewa padanya


Tristan sama sekali tak mendengarkan penjelasan Ayra, ia pun berlalu masuk ke dalam kamarnya sendiri, meninggalkan Ayra dan Arga yang masih berdiri di depan pintu. Hatinya terasa begitu sakit saat melihat Ayra dan Arga terlihat sangat dekat, ia lantas menghempaskan tubuhnya ke ranjang dan menatap kosong ke atap kamar.


"Arga sebaiknya kamu pulang saja, terima kasih telah menemaniku...." ucap Ayra pelan


"Baiklah, jika kamu butuh sesuatu katakan saja....aku akan selalu ada untukmu, Ayra." kata Arga tenang sambil tersenyum kecil dan melangkah ke mobilnya


Setelah Arga berlalu pergi, Ayra segera menutup pintu dan menghampiri Tristan di kamarnya. Ayra tak jadi mengetuk pintu kamar, karena ternyata pintu itu tak tertutup rapat. Ia dengan ragu mulai membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar Tristan.


"Tris, kamu salah paham....aku dan Arga tadi mencari mu..." ucap Ayra pelan sambil duduk di tepi ranjang


"Aku merasa khawatir karena kamu tak kunjung pulang, kebetulan saat itu Arga menelpon dan menawarkan diri untuk membantu mencari mu. " jelas Ayra kemudian karena Tristan hanya terdiam


"Aku tak butuh penjelasan, terserah kamu dan Arga mau kemana itu bukan urusan ku....kini aku semakin yakin jika kamu memang menyukainya, dan sedikitpun aku tak berarti untuk mu. " ucap Tristan pelan tanpa menatap wajah Ayra yang sedang menatapnya


"Tris, aku sungguh sangat khawatir padamu tadi...tapi kenapa kamu malah bicara seperti ini. " sahut Ayra berkaca-kaca


"Kau pikir aku percaya, jangan coba menangis di depanku..." ucap Tristan ketus sambil bangkit dan hendak berlalu


"Tris, ...." Ayra menarik tangan Tristan yang hendak beranjak


"Kamu masih sakit dan juga pergi dengan suasana hati yang tidak baik, aku mencoba menghubungi ponsel mu berulang kali namun tidak aktif, aku benar-benar mengkhawatirkan mu tadi..." jelas Ayra sambil tetap memegang kuat tangan Tristan


"Terus aku harus merasa tersanjung karenanya....aku tak perlu lagi kau khawatirkan, mulai kini jangan pikirkan aku, buatlah dirimu nyaman dan bahagia sendiri." ucap Tristan yang kini ikut terduduk di tepi ranjang karena ditarik Ayra


"Bukankah kau menyukai Arga, ..." lanjut Tristan dengan suara bergetar


"Tris, aku...." ucapan Ayra langsung dipotong Tristan


"Tak usah dijawab, aku sudah tahu dari sikap dan tatapan mata kalian, biarlah aku pendam perasaan cintaku ini demi kebahagiaan mu..." kata Tristan cepat memotong ucapan Ayra dan segera beranjak pergi


"Tris, dengarkan aku..." ucap Ayra namun sama sekali tak di dengar Tristan yang telah berlalu