My Enemy Is My True Love

My Enemy Is My True Love
Cemburu



Tristan yang telah selesai mandi kemudian langsung bersiap, ia berangkat ke kantor lebih dulu tanpa menunggu Ayra. Entah kenapa hatinya terasa sangat sakit mendengar ucapan Ayra tadi, rasa cintanya pada Ayra tak sedikitpun dihargai. Apalagi saat tahu jika Ayra sudah mulai membuka hati pada Arga, kini rasa marah dan cemburu sedang membakar hatinya.


"Masuk." sahut Arga dari dalam ruangan saat Tristan mengetuk pintu


"Bisa kita bicara ." singkat Tristan saat telah masuk


"Duduklah, silahkan..." sahut Arga kemudian menutup berkas yang sedang di bacanya


"Apa ada hal penting yang akan kau bicarakan se pagi ini?" tanya Arga pelan sambil menatap Tristan


"Saya harap anda tak lagi mendekati Ayra, istri saya. " ucap Tristan sedikit keras


"Apa maksudmu, Ayra itu karyawan di sini juga dan wajar kalo aku dekat dengannya,....apa kau merasa tidak percaya diri?" tanya Arga mengerti kecemburuan Tristan


"Saya tahu, jadi perlakukan dia seperti karyawan lainnya... jangan berharap untuk bisa mengambil hatinya." ucap Tristan kemudian


"Bilang saja kamu cemburu padaku,...bukankah kau sendiri yang bilang kalo urusan hati itu hak pribadi masing-masing, bahkan untuk Ayra meski ia memang benar istri mu, tapi ia berhak untuk dekat dan membuka hatinya pada seseorang yang bisa membuatnya nyaman. " kata Arga tenang


"Hentikan omong kosong anda, saya tahu orang macam apa anda ini...jangan coba-coba memperdayai istri saya. " ucap Tristan mulai emosi


"Memang orang macam apa aku....dan kapan aku memperdaya istrimu." sahut Arga mencoba tetap tenang


"Dasar playboy tua, ...jangan pura-pura tidak tahu, kemarin apa yang kau katakan padanya. " Tristan berusaha keras untuk tetap tenang


"Cukup, jaga ucapan mu.... ingat di sini aku pimpinan mu , jadi sopan lah sedikit padaku. Dan untuk apa yang aku katakan padanya kemarin, tanyakan sendiri padanya bukankah kau suaminya..." sahut Arga sambil tersenyum kecut


Sementara di dalam ruangan pimpinan, Arga dan Tristan masih saling berdebat, Ayra yang telah tiba di kantor langsung di hampiri oleh Dini. Dia memberi tahu jika Tristan menemui Arga diruangan nya dengan raut wajah marah.


"Benarkah Din?" tanya Ayra meyakinkan


"Iya, aku khawatir mereka sedang ribut di dalam, karena saat tahu pak Arga telah berada diruangan nya, Tristan buru-buru masuk dengan raut wajah penuh kemarahan. " jelas Dini kemudian


Ayra pun bergegas menuju ruangan Arga, ia menjadi khawatir setelah mendengar penjelasan Dini. Apalagi tadi pagi memang Tristan berangkat dalam keadaan marah, hingga ia di tinggalkan begitu saja.


"Tristan, cukup..." sahut Ayra saat masuk dan melihat keduanya tengah bersitegang


"Nah, ini ada orangnya....tanyakan langsung padanya." ucap Arga kembali tenang saat melihat kehadiran Ayra


"Ada apa Tris?" tanya Ayra menatap wajah Tristan yang tampak tegang


"Ayra, dia menuduhku telah memperdaya mu....apa kau tidak cerita padanya tentang perbincangan kita kemarin." kata Arga bersikap tenang sambil tersenyum kecil ke arah Ayra


"Tris, jangan menuduh sembarangan...kita bicarakan nanti, aku bawakan sarapan untuk mu, sarapanlah dulu..." ucap Ayra menatap lembut wajah suaminya yang duduk terdiam


"Maaf pak, mungkin Tristan sudah salah menilai sikap anda, jadi tolong maafkan dia." ucap Ayra beralih menatap Arga


"Tak apa Ayra, mungkin dia sedang tak enak hati dan mungkin karena belum sarapan, keluarlah dan tenangkan suamimu itu." ucap Arga sambil tersenyum manis menatap lembut wajah Ayra


"Tris..." Ayra spontan menarik tangan Tristan dan melangkah ke luar ruangan


Arga melihat keduanya ke luar dengan tersenyum kecil, ia merasakan ada sesuatu yang aneh dengan Ayra dan Tristan. Namun ia tak ingin memikirkannya lagi dan mulai melanjutkan lagi pekerjaannya.


"Tris, kamu ini apaan sih...Jangan sembarangan menuduh orang, aku kan tadi udah bilang kalo Arga sama sekali tak mengganggu ku atau pun memperdaya ku, kita hanya salah menilainya selama ini...dia tak seperti yang kita pikirkan. " ucap Ayra saat sampai di meja kerja Tristan


"Apa yang ia katakan, hingga kini kau bersikap manis padanya....sedang padaku, meski aku telah berusaha keras untuk selalu mengalah dan bersabar namun kau masih saja membenci ku." kata Tristan menatap dalam wajah Ayra


"Aku..." Ayra terhenyak dengan perkataan Tristan


"Kenapa, kau menyesal telah menikah dengan ku dan mulai punya hati pada buaya darat itu..." ketus Tristan tetap menatap Ayra


"Iya, aku merasa kita dulu terlalu buru-buru dalam mengambil keputusan, dan masalah hati itu adalah urusan pribadi ku, terserah pada siapa aku membuka hati ku..." ucap Ayra pelan namun sangat mengagetkan Tristan


"Terus apa mau mu sekarang, ..." sahut Tristan memalingkan wajahnya


"Kita bicarakan nanti di rumah, ini sarapan mu..." ucap Ayra tenang sambil menyodorkan kotak bekal yang telah ia siapkan


"Tidak, aku tak selera makan...." sahut Tristan cuek sambil duduk dan mulai memeriksa beberapa berkas di mejanya


Ayra tak berdebat lagi saat Tristan menolak sarapannya, ia membawa lagi kotak bekal itu dan kembali ke mejanya. Ia melihat sekilas ke arah Tristan, dan mulai mengerjakan pekerjaannya. Seharian ini di kantor mereka tampak tak saling bicara, keduanya menyibukkan diri dengan tugas-tugasnya.


"Ayra, aku duluan ya..." ucap Dini yang pergi meninggalkan Ayra dan duluan pulang


"Iya, hati-hati. " sahut Ayra tersenyum kecil


Ayra berjalan keluar dari kantor menuju jalan untuk menunggu ojek online yang ia pesan, sementara Tristan telah sampai di parkiran motor dan hendak menyalakan mesin motornya saat melihat ke arah Ayra yang akan menyeberang jalan.


Tiba-tiba ada sebuah motor yang melaju cukup kencang ke arah Ayra, dengan refleks cepat Tristan langsung berlari dan mendorong tubuh Ayra hingga dirinya lah yang jatuh terserempet motor tersebut.


"Tristan, kamu tidak apa-apa?" tanya Ayra panik yang menghampiri Tristan


"Nggak apa-apa, ..." singkat Tristan berusaha bangkit dan berjalan kembali ke parkiran motor dengan cuek


"Tris,...tangan mu." sahut Ayra saat melihat siku tangan kanan Tristan yang terluka


Namun Tristan sama sekali tak mempedulikan ucapan Ayra, ia tetap saja berjalan ke motornya. Ayra menghentikan motor Tristan saat melintas di depannya, ia sangat tahu jika saat ini Tristan masih marah padanya.


"Tris, apa kau tak mau mengajak ku pulang bareng?" tanya Ayra pelan saat Tristan berhenti tepat di depannya


"Apa kamu masih sudi berboncengan dengan ku, mungkin abang ojek lebih bisa membuat mu nyaman." sahut ketus Tristan


"Aku pulang bareng kamu, lihat tangan mu berdarah..." ucap Ayra pelan mencoba mengalah dengan tidak menanggapi ucapan ketus Tristan