
Ayra segera bergegas meninggalkan tempat kerjanya, ia tak ingin bekerja hari ini. Ia akan pergi menemui Tristan dan membicarakan semua masalah yang terjadi diantara mereka. Ayra berusaha lagi menghubungi ponsel Tristan tapi belum juga bisa, Ayra pun semakin cemas.
Setiba di rumah, Ayra mendapati pintu rumah masih terkunci, setelah mengambil kunci dari tempat biasa, ia segera membuka pintu. Tanpa pikir panjang ia langsung masuk ke kamar Tristan, benar seperti dugaannya, saat membuka lemari ternyata sebagian pakaian Tristan tak ada.
"Tris, kenapa kau tinggalkan aku....dimana kamu..." lirih Ayra yang terduduk lesu di tepi ranjang
"Maafkan aku, Tris..." semakin lirih suara Ayra yang mulai menetes air matanya
Ayra merasakan sesak di dadanya, hatinya terasa pedih, ia merasa sangat bersalah karena telah begitu menyakiti hati Tristan. Sambil terisak ia menatap foto pernikahannya dengan Tristan yang berada di atas meja, ia pun segera bangkit dan meraihnya, saat itu juga ia melihat secarik kertas di sebelahnya.
"Ayra, maafkan aku jika ternyata aku tidak bisa menjadi suami seperti yang kau inginkan. Aku tahu mungkin memang banyak kekurangan dari diri ku, hingga sekeras apapun aku mencoba mendapatkan hati mu, tetap saja tak bisa meraih nya. Ayra, aku akan mencoba ikhlas untuk melepas mu....aku hanya ingin melihat mu bahagia, selalu tersenyum dan tak ada lagi air mata.
Ayra, aku sangat mencintai mu....
Aku mencintai mu bahkan saat kita masih saling berseteru, dan semakin mencintai saat kau telah benar-benar menjadi istri ku. Sekali lagi maafkan aku, semoga kamu bahagia.....Tristan." Ayra tak bisa lagi membendung air matanya saat membaca tulisan tangan Tristan di kertas tersebut
Ayra menangis meraung, hingga terdengar begitu pilu sambil memeluk foto pernikahannya dengan Tristan. Kini ia merasa sangat menyesal karena telah begitu dalam menyakiti hati pria yang telah mencintainya begitu tulus. Ia segera mencoba lagi menghubungi ponsel Tristan tapi tetap saja tak bisa, ia memutuskan untuk menghubungi kakak Tristan.
"Hallo, Ayra ..." sahut kakak menjawab telepon Ayra
"Hallo kak, apa Tristan ada di sana?" tanya Ayra sambil masih terisak
"Tidak Ayra, dia tak ada di sini....kenapa?" kakak berusaha ingin tahu meski sudah bisa menerka
"Kak, maafkan Ayra....karena telah menyakiti dan mengecewakan Tristan dan mungkin seluruh keluarga." jawab Ayra pelan dengan suara serak karena masih menangis
"Kakak sudah tahu semuanya, apa Tristan memutuskan untuk melepas mu, Ayra?" tanya kakak pelan
"Kak, boleh aku bicara padamu....aku akan pergi ke rumah kakak sekarang." kata Ayra kemudian
"Tidak perlu, biar kakak saja yang datang ke rumahmu....tunggu dan berhentilah menangis, Ayra." sahut kakak yang segera mematikan ponselnya
Ayra meletakkan ponselnya, ia berusaha menghapus air matanya namun masih saja terus mengalir. Ia merebahkan tubuhnya ke ranjang Tristan, dan kembali menatap foto pernikahannya. Ia mencoba mengenang kembali saat-saat bersama Tristan, sejak awal mereka saling berseteru di kantor hingga akhirnya memutuskan menikah meski hanya terpaksa.
Ayra mengenang kembali hari-hari setelah pernikahannya, meski awalnya begitu sangat membenci Tristan namun pada akhirnya ia luluh juga saat Tristan dengan segala kesabaran dan ketulusan nya telah berhasil membuatnya melakukan kewajibannya sebagai istri, ia telah menyerahkan kesucian nya yang memang menjadi hak Tristan sebagai suaminya.
Ayra tak bisa memungkiri jika memang merasa sangat nyaman saat berada di pelukan Tristan, mendengar detak jantung suaminya membuat dirinya begitu tenang dan damai. Ia pun mengumpati dirinya yang telah begitu bodoh karena telah mengkhianati suaminya itu, namun ia juga tak bisa memilih saat hatinya tiba-tiba bergetar saat bersama Arga.
"Ayra...." terdengar suara ketukan pintu dan panggilan dari kakak
"Iya, kak..." sahut Ayra lirih sambil bergegas membuka pintu
Begitu pintu terbuka, Ayra langsung menghambur untuk memeluk kakak dan kembali menangis meraung. Ia mencurahkan seluruh kesedihan yang tengah dirasakannya saat ini, dan dengan penuh kasih kakak mengelus punggung adik iparnya itu dengan lembut.
Setelah Ayra agak tenang, keduanya lalu duduk di sofa ruang tengah. Ayra yang masih sesenggukan berusaha menghapus air matanya, kakak menggenggam erat tangan Ayra untuk menenangkan hatinya.
"Kak, Tristan resign dari kantor....dan sekarang aku tak tahu dimana dia berada." ucap lirih Ayra menatap pilu ke arah kakak
"Apa dia tak meninggalkan pesan untukmu?" tanya kakak
"Hanya ini....Kak, aku tak mau kehilangan dia..." jawab Ayra sambil menyerahkan secarik kertas yang berisi tulisan tangan Tristan
"Kakak akan coba menghubunginya, mungkin di angkat...." ucap kakak sambil mengeluarkan ponsel dari tasnya
"Hallo, Tris....kamu dimana?" tanya kakak saat Tristan mengangkat telepon dari kakaknya
"Di suatu tempat kak, aku lagi pengin sendiri..." jawab Tristan pelan
"Iya, tapi dimana...biar kakak susul." ucap kakak kemudian
"Nggak usah kak, aku nggak apa-apa kok....jangan khawatir." sahut Tristan masih dengan suara pelan
"Apa kau tahu jika Ayra sangat mencemaskan mu?" tanya kakak
"Biarkan saja kak, itu hanya untuk sementara... aku yakin besok dia akan baik-baik saja atau mungkin malah merasa tenang karena tak ada lagi yang mengganggu hidupnya." jawab Tristan yang tak tahu jika Ayra juga ikut mendengar ucapannya karena kakak menyalakan speaker ponselnya
"Tris, kamu jahat ...kenapa kamu bisa berfikir seperti itu." ucap Ayra dengan nada tinggi membuat Tristan kaget karena tak menyangka jika kakak sedang bersama Ayra saat ini
"Iya, mungkin aku jahat....lalu bagaimana dengan kamu..." kata Tristan membalasnya
"Cukup....Tris, jangan seperti anak kecil begini, pulanglah dan bicarakan semuanya baik-baik, cari jalan terbaik untuk kalian berdua....jika memang pada akhirnya kalian ingin berpisah, maka lakukan dengan baik-baik." ucap kakak menengahi
"Maaf kak, untuk saat ini aku belum bisa... beri aku waktu untuk sendiri dulu." sahut Tristan cepat
"Sampai kapan....selesai kan semuanya segera, lebih cepat lebih baik. Untuk saat ini kalian berdua sebaiknya merenung dan saling intropeksi diri dulu, tanyakan pada hati kalian tentang apa yang sebenarnya kalian rasakan dan inginkan." ucap kakak menasehati
"Iya kak." singkat Tristan
"Besok pulanglah, aku tunggu di sini....saat ini aku akan menemani Ayra." ucap kakak kemudian
"Jangan besok kak, aku...." Tristan tak dapat meneruskan ucapannya karena segera di potong kakak
"Kakak tak mau mendengar alasan lagi, pulang besok atau jangan pernah lagi menemui kakak untuk seterusnya..." ucap kakak dengan nada tinggi
"Kak, jangan begitu....baiklah aku akan pulang besok." sahut Tristan cepat yang terdengar pasrah