My Enemy Is My True Love

My Enemy Is My True Love
Cinta sendiri



"Ini hanya obat sakit kepala..." sahut Ayra terbata


"Ayra, bisa kita bicara sebentar?" tanya Arga pelan sambil menggandeng tangan Ayra


Ayra hanya terdiam tak menjawab, ia hanya mengikuti langkah Arga yang menggandengnya menuju sebuah kafe di seberang apotik tersebut. Ia benar-benar bingung harus menjawab bagaimana jika Arga tahu apa yang baru saja di belinya.


"Duduklah, mau pesan apa?" tanya Arga setelah keduanya duduk


"Terserah kamu saja..." jawab Ayra lirih


"Dua coklat panas." kata Arga pada pelayan yang menghampirinya


Tanpa bicara apapun, Arga tiba-tiba meraih bungkusan yang diletakkan Ayra di atas meja. Ayra tak sempat mencegahnya, ia mulai menatap cemas dan khawatir menunggu reaksi Arga setelah melihat apa yang di belinya di apotik tadi.


"Kau bilang hanya obat sakit kepala?" tanya Arga pelan sambil menatap tajam ke arah Ayra


"Itu..." Ayra tak mampu berucap


"Silahkan, ini pesanan anda." pelayan kafe datang meletakkan dua coklat panas pesanan mereka


"Terima kasih." balas Arga singkat


"Kenapa berbohong, dan sekarang bisakah kau jelaskan padaku?" tanya Arga berusaha tenang


"Arga....aku, aku mungkin sedang hamil..." jawab Ayra lirih dan terbata


"Apa...kenapa tidak ke dokter saja?" tanya Arga kemudian


"Aku ingin memastikannya dulu, aku..." jawab Ayra pelan


"Aku akan mengantar mu..." sahut Arga cepat


"Tidak perlu, Ga....aku minta maaf karena telah berbohong pada mu, sebenarnya aku tak ingin..." ucapan Ayra segera dipotong Arga


"Harusnya kau tak perlu berbohong, katakan saja yang sebenarnya...." potong Arga cepat


"Maaf,.....Arga, kebetulan kita bertemu disini, sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan denganmu." ucap Ayra ragu


"Katakan, Ay...." sahut Arga sambil menggenggam erat tangan Ayra dan menatapnya lembut dengan tersenyum kecil


"Arga, maafkan aku....sepertinya kita tak bisa melanjutkan hubungan ini." kata Ayra pelan


"Apa maksudmu?, apa karena kamu sedang hamil?" tanya Arga pelan sambil menatap tajam ke arah Ayra yang menganggukkan kepalanya


"Aku sama sekali tak keberatan dengan apapun kondisi mu, bahkan jika kau bersedia aku ingin menjadi ayah dari anakmu. " ucapan Arga membuat Ayra tersentak kaget


"Arga,....anak ku punya ayah, jadi kau tak perlu khawatir....aku memutuskan untuk memilih mempertahankan rumah tangga ku, apalagi aku sedang hamil jadi aku ingin hidup bersama keluarga kecil ku." kata Ayra tegas


"Arga, aku mengerti jika keputusan ini akan sangat mengecewakan dan melukai hati mu, tapi aku ingin memperbaiki semua kesalahan ku pada Tristan. Aku sadar telah begitu dalam menyakiti hatinya dengan pengkhianatan ini, aku juga sadar jika hubungan kita ini memang sudah salah dari awal." ucap Ayra berusaha menjelaskan


"Apakah mencintai itu salah, Ay....jika boleh meminta dan memilih, aku juga tak ingin punya perasaan seperti ini. Ayra, aku sangat mencintai mu dan sampai kapanpun rasa ini akan tetap ada di hati ku, aku sudah tak punya ruang lagi untuk cinta yang lain...." kata Arga yang masih menatapnya lembut


"Mencintai memang bukan suatu kesalahan, hanya waktu dan situasi yang tidak tepat...." ucap Ayra berusaha menjelaskan


"Seandainya dulu kau tidak salah paham padaku, hingga harus terpaksa menikah dengannya....aku telah jatuh cinta padamu saat pertama kita bertemu, tetapi kenapa malah dia yang mendapatkan mu, aku tak ingin jauh dari mu, aku tak ingin melepas mu Ay, sampai kapan pun...." kata Arga sangat serius


"Arga, aku mohon mengertilah....mencintai tak harus memiliki, mungkin kau tak ditakdirkan untuk menjadi pendamping hidupku di dunia ini." ucap Ayra lirih sambil membalas tatapan mata Arga


"Ayra, katakan...apa kau mencintaiku?" tanya Arga pelan


"Arga, aku ....aku tak perlu menjawabnya, kau pasti sudah tahu bagaimana perasaan ku padamu, tapi aku juga tak ingin..." belum selesai ucapan Ayra


"Aku mengerti, Ay....mungkin aku memang pria yang tidak beruntung, yang selalu ditinggalkan oleh cinta. Jika memang ini keputusan mu dan membuat mu bahagia, aku akan mencoba menerimanya....tapi jangan pernah melarang ku untuk tetap mencintai mu, karena sampai kapanpun rasa ini akan tetap ada di hati ku. Biarlah aku hanya bisa menatap mu dari jauh tanpa bisa meraih mu, jadi jangan coba menghilang dari pandangan ku...." ucap Arga dengan suara bergetar menahan air matanya


"Arga, biarkan aku pergi....jika masih berada di dekatmu, itu akan membuat mu semakin sakit, aku akan resign dari kantor...." kata Ayra yang merasa begitu tersentuh oleh ucapan Arga


"Tidak Ayra, tetaplah bekerja di kantor....hanya dengan menatap wajah mu setiap hari, itu sudah cukup untuk ku. Please Ayra....aku janji tak akan pernah mengganggu mu, cintaku tak perlu balasan, biarlah aku mencintai sendiri...." ucap Arga yang telah menetes air matanya


"Arga, ...." Ayra tak mampu berkata-kata


"Berjanjilah padaku, untuk tetap dalam pandangan mata ku...." pinta Arga yang terdengar begitu pilu


"Aku tak ingin semakin menyakiti mu...." sahut Ayra lirih


"Tidak Ayra, cinta ini tak akan membunuh ku.... percayalah, aku pasti sanggup menanggungnya. " ucapan Arga semakin pilu


Ayra mengusap lembut pipi Arga untuk menghapus air mata yang telah meleleh. Hatinya terasa sangat pedih melihat air mata Arga, namun ia juga tak bisa jika harus berpisah dari Tristan. Apalagi kini jika ia memang benar-benar hamil, maka ia ingin mempertahankan keluarga kecilnya dan tentu saja membuat bahagia kedua orang tuanya, meski ia harus mengorbankan perasaannya pada Arga. Kini ia telah memilih dan hidup harus terus berjalan, ia akan berusaha menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarga kecilnya.


"Terima kasih untuk cinta mu, dan maafkan aku yang telah membuat mu kecewa dan sakit hati. Sekali lagi maafkan aku, Ga..." ucap lembut Ayra


"Berjanjilah kau tidak akan resign..." pinta Arga lagi


"Aku akan membicarakannya dengan Tristan..." sahut Ayra lirih


"Jika perlu, aku akan memohon padanya untuk tetap mengijinkan mu bekerja, aku akan bicara padanya...." ucap Arga dengan suara masih bergetar


"Tidak perlu, Ga...biarkan aku yang bicara padanya, aku berjanji akan berusaha meyakinkan nya." kata Ayra pelan


"Kau tidak membenci ku karena ini kan, Ga?" tanya Ayra kemudian


"Tidak akan pernah, hanya ada cinta untuk mu....bahkan jika kau membunuh ku sekali pun, aku tetap mencintaimu...jangan peduli kan aku, bahagia lah bersama pilihan hatimu, dan semoga pilihan mu benar. Jika dia menyakiti atau pun mengecewakan mu, maka aku bersumpah akan membunuhnya dengan tangan ku sendiri. " ucap Arga dengan serius sambil menggenggam erat tangan Ayra