
Benar saja siang itu saat makan siang, Dini langsung mencecar Ayra dengan berbagai pertanyaan. Ayra hanya bercerita seperlunya saja, ia tak ingin Dini tahu jika pernikahannya ini hanya terpaksa dilakukan.
"Tuh bener kan, kamu kena karma karna begitu membencinya jadi sekarang bisa-bisa kamu bucin padanya." ucap Dini tersenyum simpul ke arah Ayra
"Apaan sih, nggak bucin juga kali." bantah Ayra sambil menyeruput jus buahnya
"Ehh, Tristan sini gabung..." seru Dini saat melihat Tristan
Tristan melangkah menuju meja Dini dan Ayra, ia dengan ragu duduk disebelah Ayra. Sebenarnya Ayra merasa tak nyaman namun ia tak bisa menolaknya karena tak ingin Dini curiga. Tristan melirik ke arah Ayra, ia sangat tahu jika sebenarnya Ayra tak menginginkan kehadirannya disana.
"Kalian ini mau menikah tapi sikapnya kok aneh, masih kayak musuhan gitu..." seru Dini melihat wajah Ayra dan Tristan bergantian
"Biasa aja kali, emang kalo mau menikah harus gimana, pelukan, ciuman gitu, ahh lebay..." sahut Ayra ketus
"Jangan ketus gitu dong, Dini kan cuma bercanda, ya kan Din?" ucap Tristan tenang sambil melihat wajah Ayra dan menatapnya lembut seakan mencoba mengingatkannya untuk berakting
"Iya nih sensi banget jadi cewek..." sewot Dini menatap wajah temannya itu
"Maaf, lagi pms...." singkat Ayra berbohong demi akting
Dini akhirnya tak banyak tanya lagi, karena selama mereka bertiga makan Tristan dan Ayra tampak lumayan mesra meski tampak aneh. Ayra berusaha setenang mungkin agar tak membuat temannya itu curiga dan terus menginterogasi dirinya.
Begitulah setiap hari saat di kantor Tristan dan Ayra akan tampak baik baik saja dan cenderung mesra, mereka tak ingin semua teman kantor yang sudah mengetahui jika ia akan menikah dengan Tristan menjadi curiga.
Namun jika sudah dirumah atau dimana pun saat hanya berdua mereka akan kembali dingin, saling berseteru dan ketus apalagi Ayra. Ia selalu saja bersikap judes dan ketus pada Tristan, apapun yang dilakukan Tristan selalu saja salah buatnya. Tristan hanya bisa menghela nafas panjang dan bersabar, bagaimana pun juga ia kini telah benar-benar punya rasa pada gadis cantik itu.
"Kamu sudah bilang orang tua mu, mereka bareng kita atau pergi sendiri ke rumah ku?" tanya Ayra pada Tristan saat ia datang ke rumah Ayra
"Iya, itu yang mau aku bahas denganmu. Jika kamu tidak keberatan aku akan mengajak mu menemui orang tua ku besok." jawab Tristan
"Memang perlu ya, ..." ketus Ayra menatap Tristan
"Ayra,...Jangan egois begitu, meski sedikit tolong hargai aku." ucap Tristan tegas menatap balik wajah Ayra
"Maaf, kalo begitu terserah kamu." sahut pelan Ayra menunduk
"Maaf, aku tak bermaksud membentak mu. Aku hanya ingin orang tua ku mengenal mu sebelum pernikahan nanti, lagipula rumah kakak ku tak begitu jauh, paling cuma sejam naik motor." ucap Tristan menjelaskan
"Jadi orang tua mu tinggal bersama kakak mu, ..." tanya Ayra ingin tahu
"Iya, mereka menemani kakakku yang anaknya masih kecil, sedangkan suaminya pelayaran jadi jarang dirumah. Makanya aku tinggal dirumah milik orang tua ku sendirian. " jelas Tristan kemudian
"Iya, besok kamu jemput aja ke sini." sahut Ayra datar
"Ayra,..." Tristan meraih tangan Ayra dan bergeser mendekati Ayra
Ayra tersentak kaget saat tangannya digenggam Tristan, dan kini ia sangat jelas bisa menatap mata Tristan yang berada cukup dekat di hadapannya. Jantungnya terasa berdetak kencang, namun lagi-lagi egonya mengalahkan segalanya.
"Ayra, bisa kah sedikit saja kau bersikap manis padaku, jangan selalu ketus begini meski kau tak menyukai aku." ucap pelan Tristan sambil menatap dalam mata Ayra
"Sepertinya aku benar-benar suka pada mu." lirih Tristan penuh perasaan
"Cukup, jangan membual dan lepaskan tangan ku." ucap keras Ayra menarik paksa tangannya dan memalingkan wajahnya
"Ayra..." lirih Tristan
"Aku bilang cukup Tris, semuanya tak akan ada yang berubah, jika kamu keberatan kita bisa batalkan saja." ucap Ayra lagi yang kini tampak emosi
"Maaf, jika aku membuat mu marah...Aku hanya ingin mengatakan apa yang saat ini ku rasakan." kata Tristan mencoba tenang dan bersabar
"Pulanglah, sudah malam tak ada lagi yang harus dibicarakan. " ketus Ayra setengah mengusir
Tristan bangkit dari duduknya dan melangkah menuju pintu, hatinya merasa kecewa karena sikap Ayra yang sedikit pun tak mau berubah. Gadis itu masih sangat membencinya, meski ia pun tak tahu apa sebenarnya yang salah dari dirinya.
Setelah Tristan pulang, Ayra masuk ke kamar dan duduk bersandar di ranjang nya. Ucapan Tristan terngiang kembali di telinga nya, tatapan mata penuh ketulusan itu membayang di wajahnya. Jantungnya yang berdebar dan hati nya yang berdesir sebenarnya ia rasakan, namun ego dan rasa benci itu telah mengalahkan perasaannya.
"Tidak, sampai kapan pun tak mungkin terjadi, semua ini karena terpaksa dan hanya pura-pura saja. " lirih Ayra pada dirinya sendiri dan kemudian terlelap dalam tidurnya
###
"Ayo masuk, duduk dulu biar ibu buatkan minum." sambut ibu Tristan saat Ayra dan Tristan tiba dirumah kakaknya tempat orang tua Tristan tinggal
"Tidak usah repot bu, biar Ayra bantu ya." ucap sopan Ayra yang kemudian mengikuti ibu ke belakang
Tristan tersenyum melihat sikap Ayra, ia tak menyangka Ayra bisa bersikap manis dan santun terhadap ibunya. Ia merasa senang dan terus tersenyum hingga tak menyadari bahwa ayah dan kakak perempuan yang sedang menggendong anaknya telah berada disebelah nya.
"Duh, yang lagi bucin..." ucap kakaknya tersenyum geli
"Kakak ini apaan sih..." Tristan kaget dan wajahnya bersemu merah
"Ayah nggak nyangka, kamu akan segera menikah dan lagi calon istrimu itu cantik sekali, pintar juga kamu ya..." ucap ayah yang kemudian duduk di kursi sampingnya
"Adik siapa dulu, ya kan Tris..." sahut kakaknya sambil menepuk punggung anaknya yang tertidur di gendongan nya
"Cerita dong sama ayah, kok bisa gadis secantik Ayra mau menikah sama kamu." goda ayahnya tersenyum simpul
"Ayah sama kakak,...sama usilnya." sewot Tristan manja
"Duh, udah mau jadi suami masih saja manja...Kakak ke kamar dulu, bobokin ini bocil." kata kakak yang kemudian berjalan menuju kamarnya
"Kamu sudah yakin dan siap untuk menikah minggu ini, kok mendadak banget?" tanya ayah yang heran karena anak lelakinya tiba-tiba ingin menikah
"Iya ayah,...Tristan sudah sangat yakin, bukannya mendadak tapi lebih cepat lebih baik, takut di sambar orang." jawab Tristan tersenyum kecil
"Ah kamu bisa aja,... tapi bener juga mumpung Ayra sedang khilaf buru-buru kamu nikahi dia." ucap ayah tertawa menggodanya