
☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan paginya Rasen ternyata benar membawaku pergi ke orang tuanya. Aku berjalan dengan tenang namun hatiku sangat gelisah orang tua Rasen yang terkenal dingin apa aku bisa menghadapinya. aku dan Rasen duduk di ruang tengah dengan sofa yang sangat mewah dari dulu aku selalu sadar diri siapa diriku dan siapa Rasen, ibunya Rasen menghampiriku dan menyambut ku dengan hangat dan kami pun saling memeluk satu sama lain. Rasen sering menceritakan diriku kepada ibunya sehingga dia sebenarnya tidak setuju dengan rencana perjodohan dengan Natya.
" Oh..ternyata ini yang namanya Varsha ternyata sangat cantik, mau minum apa sayang?" ibu rasen yang begitu baik, anggun dan cantik sepertinya tidak mungkin memiliki suami yang jahat, namun perkiraan ku salah, saat aku mengulurkan tanganku namun tidak di hiraukannya ayah Rasen bahkan tidak menatapku.
Rasen mulai menjelaskan apa yang ingin dia lakukan.
" Pah, mah!! Rasen berencana membatalkan perjodohan dengan Natya dan aku rasa akan memilih Varsha untuk calon istri Rasen " Rasen menjelaskan semua itu dengan menggenggam tangan ku.
" Rasen, kamu gila!! kamu akan mempermalukan keluarga besar kita dan satu hal lagi apa yang kamu lihat dari wanita ini apa yang dia punya? wanita yang tidak tahu asal usulnya, yang tidak jelas masa depannya seperti apa? sekarang aku tanya, apa pekerjaanmu? " tanya ayahnya Rasen.
" Aku hanya karyawan di salah satu perusahaan, bagian..." belum selesai aku menjelaskan semuanya langsung terpotong begitu saja.
" Dengar, apa bagusnya itu. kamu hanya akan mencoreng nama keluarga kita!! papah tidak akan pernah merestui hubungan kamu dan akan tetap melanjutkan perjodohan kamu. mengerti?" ayahnya Rasen pergi begitu saja tanpa melihatku lagi. sekali lagi keputusan Rasen membuatku terpukul dan semakin hancur.
Aku dan Rasen meninggalkan rumahnya, dan pergi ke sebuah pantai, aku dan Rasen duduk bersama di tepi pantai.
" Rasen, Aku rasa takdir tidak bisa menyatukan kita dan aku rasa semuanya akan sia-sia. aku mohon sama kamu tinggalin aku dan lupakan aku " aku menatap dalam mata Rasen dengan air mata yang dari tadi terbendung akhirnya mengalir.
" Tidak, Varsha! aku yakin pasti ada jalan buat kita kembali, kamu harus yakin. yah?"
Rasen selalu meyakinkanku, namun kali ini aku cukup lelah.
" Tidak! aku rasa cukup dan satu hal lagi please jangan temui aku lagi, semoga kamu dan Natya bahagia yah " kali ini aku yakin untuk pergi jauh dari kehidupan Rasen, aku pergi meninggalkan Rasen.
" Varsha, please!! Varsha. aku mohon beri aku kesempatan, Varsha aku tahu aku bodoh, Varsha sungguh aku tidak mencintai Natya " Rasen mengejar ku dan kali ini aku sungguh tidak menghiraukannya, aku cukup lelah.
Aku masuk ke mobil Keenan yang dari tadi menungguku.
" Varsha, please!! aku mohon cha. Varshaaaa.... " Rasen mengetuk kaca mobil aku tahu dia menangis. tanpa banyak bertanya Keenan langsung menancap gas dengan sangat cepat. berhentilah kami di sebuah kafe untuk beristirahat akhirnya akupun menceritakan semua apa yang terjadi.
" Tadinya aku kaget, kenapa kamu memintaku ketemu di pantai. tapi setelah aku lihat semuanya tadi aku sedikit bisa menyimpulkan apa yang terjadi. aku tahu kamu pasti lelah " Keenan mengusap bahuku.
" Maaf, tiba-tiba tadi aku memintamu untuk menjemput ku dan maaf dari awal aku tidak menceritakan semuanya tentang hubungan aku, Rasen, dan juga adikmu "
" Tidak apa-apa! lagian aku tidak pernah menganggap Natya itu adikku, entahlah semua itu terlalu sulit untukku terlebih dia adik tiriku " pernyataan Keenan membuatku mengerti bagaimana hubungan dengan keluarganya. aku menghabiskan waktu dengan Keenan seperti biasa, dia begitu nyaman diajak bicara sifatnya yang dewasa mengajarkanku banyak hal, hari berlalu begitu cepat sang Surya pun memperlihatkan jingganya.
🍁🍁🍁🍁🍁
Tiga bulan sudah aku lewati. seperti biasa aku menghabiskan hariku untuk bekerja dan lain sebagainya, semua gosip yang menerpaku ketika Natya memperlakukanku sudah terkubur seiring berjalannya waktu. Rasen selalu datang dan mengabari ku namun kali ini aku benar-benar menghindar jauh darinya. Lusa nanti Rasen akan bertunangan akupun mendengarnya dari Keenan dan pak Yudha, aku semakin menyibukkan diriku namun pak Yudha yang memahami ku memberikan hadiah tiket liburan perusahaan dan jadwalnya pun bertepatan dengan hari tunangan Rasen.
Hari liburan tiba. Aku, Arya, Jesna, Fika, dan pak Roni langsung terbang ke Bali dan menikmati liburan yang selama ini kita bayangkan, sesaat aku bisa melupakan Rasen.
tiba-tiba saat aku sedang berdiri di pinggir kolam renang merasakan pusing yang teramat sangat, pandangan mataku yang semakin memudar membuat tubuhku semakin tidak bisa menahannya dan kemudian teriakan Jesna yang terakhir ku dengar, aku pingsan.
" Cha, Varsha " Jesna menghampiriku, disusul Arya dan lainnya. entah siapa yang menggendongku saat aku sadar aku sudah berada di kamar ku, aku tersadar dan melihat semua orang yang sedang khawatir.
" Cha, loe bisa lihat gue kan? " tanya Jesna. Badanku yang terasa lelah tak sanggup menjawab pertanyaan Jesna istri pak Roni pun memberiku minum teh manis hangat.
" Biarkan, Varsha istirahat dulu mungkin dia kelelahan, Biar aku gantikan baju nya " Ucap istri pak Roni.
Yang lain pun keluar dari kamarku dan memberiku waktu untuk istirahat. beberapa jam kemudian aku terbangun dan Jesna langsung menghampiriku.
" Cha, kamu udah bangun? kamu gak apa-apa kan,gue khawatir? " tanya Jesna.
" gue gak apa-apa kok cuma kecapean aja" jawabku.
" Iya gak apa-apa, kalian jangan khawatir. maaf liburan kalian jd terganggu gara-gara gue " jawabku lemah.
" Gak kok, kalau perlu kita balik aja malam ini " sepertinya semua team setuju kalau hari ini kita sudahi liburannya.
" Gak usah, kan liburan ini yang kalian tunggu-tunggu besok juga gue sembuh " aku membaringkan tubuhku karena sungguh sangat lemas dan pusing. namun tidak berselang lama aku langsung bangun merasakan tidak nyaman di bagian atas perutku dan ingin muntah, bergegas ke kamar mandi.
" Ooek..ooek " aku bingung sebenarnya aku kenapa. Jesna dan Fika mengikutiku ke kamar mandi dan memapah ku kembali ke tempat tidur.
" Asam lambung loe kambuh yah Cha? " tanya Jesna. aku pun mengira mungkin memang ini asam lambung namun istri pak Roni langsung menghampiriku.
" Varsha, boleh kita bicara berdua saja? " tanya istri pak Roni yang bernama Mira.
" Boleh bu, Jesna ikut gue aja temenin gue disini " ucapku. sementara yang lain keluar dari kamarku.
" Sebenarnya, ibu belum begitu yakin tapi maaf ibu mau tanya. kapan terakhir Varsha datang bulan? " pertanyaan ibu Mira sontak membuat Jesna dan aku sendiri kaget setengah mati.
" Maksud ibu, aku?? " belum selesai aku bertanya bu Mira langsung menenangkan ku.
" Tenang dulu, Ibu belum begitu yakin namun pertanda nya sudah cukup jelas mungkin untuk meyakinkan kamu bisa beli alat tes kehamilan "
Tanpa menunggu lama Jesna dan Arya langsung mencari apotek dan besoknya aku langsung testpack. Jesna, Arya dan yang lainnya menunggu di luar kamar mandi aku pun menguatkan hatiku untuk melakukan tes kehamilan. aku percaya kepada semua orang yang ada disini sehingga aku terus menguatkan hatiku, dan mencoba tegar dan betapa terkejutnya aku ketika aku melihat dua garis merah sejajar dengan begitu jelas.
" Tidakk...!! " teriakkan ku dan tangisan ku memecahkan keheningan diluar sontak Jesna dan lainnya berusaha untuk masuk ke dalam kamar mandi.
" Cha, buka cha...please!! " teriakan Jesna dan yang lainnya.
" Kamu gak apa-apa kan, please cha buka pintu nya " ucap Fika.
" Kita dobrak aja pintunya, pak " ucap Arya.
" Ok!! minggir dulu yang lainnya. 1..2..3.." pak Roni menghitung untuk mendobrak pintunya.
" Braakk!!! " pintu pun terbuka.
Aku yang terkulai lemah membuat semua kaget dan langsung membawa ku ke rumah sakit.
Seakan langit terasa gelap, dunia seakan runtuh, dan penyesalan yang tiada akhir seribu pertanyaan kini ada di benakku.
" Ba**gaimana menghadapi keluargaku, jika mereka tahu kalau aku hamil di luar nikah "
" Bagaimana karirku kedepannya "
" Bagaimana status sosial ku Dimata masyarakat "
" Belum lagi cemoohan yang belum siap aku dengar "
" Bagaimana aku membesarkan anak ini, tidak mungkin jika aku menggugurkan kandungan ku "
" Dan Rasen?? "
" Apakah dia akan bertanggung jawab, padahal dia sendiri sudah bertunangan "
...----------------...