
setelah aku membaca pesan yang dikirim rasen aku memilih untuk mengabaikannya karena aku pikir dia datang bukan untuk cinta dan sayangnya namun dia hanya ingin menghilang untuk ke dua kalinya. akupun tahu hati rasen sebenarnya untuk siapa dan aku gak mau jatuh untuk ke dua kalinya apalagi ke lubang yang sama.
...----------------...
keesokan paginya aku melakukan kegiatan yang sama namun dengan kesibukan yang berbeda hari ini semakin sibuk mengingat acara tahunan kantor sebentar lagi. aku pulang sekitar pukul 21.00 kebetulan hari ini aku tidak bawa mobil lagi dan lagi malam ini hujan.
"hufthhhh..." terkadang aku mengeluh dengan kondisi seperti ini. aku pun membuka payungku dan menunggu taksi dipinggir jalan namun tidak lama ada sebuah mobil berhenti di depanku
"siapa?" ucap dalam hatiku bingung. ternyata rasen dia menyapa sambil membuka jendela mobil
"hai cha, masuk yuk biar ku antar pulang lagian ini udah malam hujan pula" ajak rasen
awalnya sih aku ragu untuk ikut dengannya, namun setelah ku pikir-pikir lagi malam semakin larut, taxi pun tidak ada yang datang. terpaksa aku masuk.
"oh..iya terima kasih" jawabku
" cha, makan yuk?" ajak rasen
"oh..maaf aku udah kenyang sen" jawabku singkat.
"ohh ok" rasen terlihat sangat kecewa.
aku ingin waktu ini cepat berlalu, situasi di dalam mobil sangat dingin dan kaku hanya terdengar suara hujan yang cukup deras. semoga rasen memiliki topik untuk memecahkan suasana ini.
"cha, kenapa chat ku yang semalam gak di balas?" rasen pun sesekali melihatku.
"gak ada alasan untuk aku balas, lagian minggu ini aku sibuk" aku hanya bisa berbohong menjawab pertanyaan rasen. dia pun tiba-tiba memberhentikan mobilnya. seketika jantungku berdebar dengan kencang dan berbicara dalam hati dia kenapa dan mau apa. rasen pun melihatku dan memegang tanganku aku hanya terdiam tanpa melihatnya
"cha, mungkin ini terlambat tapi rasanya ini waktu yang tepat untuk aku minta maaf" dia memegang tanganku semakin erat
"udahlah sen, lagian aku udah ngelupain hal itu dan aku udah memaafkan kamu" kali ini aku memberanikan diri untuk menatap matanya dan berusaha melepaskan genggaman tangannya.
"cha aku berharap kamu memaafkan aku. ternyata kamu gak banyak berubah yah. tapi yang aku lihat kamu semakin cantik" rasen pun kembali mengemudikan mobilnya, akupun tidak merespon pembicaraan rasen saat itu. satu jam kemudian kami pun sampai di rumah.
"makasih yah rasen, maaf udah ngerepotin aku masuk dulu yah" aku pun pamit untuk masuk kerumah namun sebelum aku keluar dari mobil
"cha, tunggu sebentar" diapun mengambil barang yang ada di jok belakang.
"ini gak seberapa sih, cuman aku berharap kamu suka" diapun menyerahkan sebuah paper bag yang lumayan besar kepadaku. saat aku tahu itu brand yang mahal aku pun langsung menolaknya.
"ah maaf aku rasa ini sangat berlebihan dan aku rasa ini tak cocok untukku. terima kasih" aku langsung keluar dari mobilnya. dan rasen pun mengejar ku sebelum masuk ke gerbang rumah.
"cha..please!! kali ini saja aku mohon terima ini yah" dia pun kembali memegang tanganku. rintik air hujan pun membasahi rambutnya dan bajunya.
"tapi untuk apa? aku mohon cukup sen" aku menghempaskan genggaman tangannya. aku pun pergi tanpa menerima hadiah dari rasen.
...----------------...
keesokan harinya
saat kami semua sedang sarapan. tiba-tiba aku melihat paper bag semalam ada di meja ruang tengah.
"cha, kamu hari ini gak ada acara kan? kami akan pergi ke Bogor untuk mengunjungi bibi, kamu mau ikut?" tanya mamah
"gak ada acara sih tapi gak tau nanti siang, kayanya gak ikut deh mam, salam aja ke bibi yah. oh yah itu bingkisan dari siapa yah mam?" tanyaku bingung
"ohh itu untuk kamu, tadi pagi-pagi udah ada di halaman depan ya udah mamah bawa masuk aja. sedikit basah sih tapi kayanya bisa di keringkan" jawab mamah sambil mengoles selai roti untuk Lavi.
"dari siapa tuh kak, cieee.." ejek Lavi
"apaan sih dek, kamu udah mandi belum bau tau" aku mencoba mengalihkan pembicaraan agar papah tidak mengintrogasi ku. akhirnya mamah dan yang lainnya pergi kerumah bibi.
"paper bag rasen!!!" aku berlari ke ruangan tengah dan mengambilnya. aku pun kembali ke kamarku dan menelepon rasen.
"tuut..tuut.." suara telepon memanggil
"halo.." suara rasen yang hangat kembali terdengar di balik telephon.
"halo..rasen mengenai bingkisan semalam, kok..." belum selesai aku bicara rasen sudah memotong pembicaraanku.
"gak apa-apa..aku harap kamu suka. ohh ya hari ini ada acara gak?" tanya rasen.
"hmmhh.." aku bingung harus jawab apa.
"ok aku jemput. aku otw sekarang tunggu yah bye." ajak rasen dan kemudian mematikan telephon nya. tak butuh waktu lama sekitar setengah jam rasen sudah ada didepan rumah.
...----------------...
tepat pukul 16.00
aku dan rasen kembali jalan berdua setelah sekian lama, tak pernah terpikirkan sebelumnya kami akan bertemu kembali dan rasen memegang tanganku kembali. hati yang dulu telah hancur sepertinya hari ini sedikit demi sedikit membaik namun aku bingung dengan perasaanku. saat kami duduk bersama di sebuah rumah yang bernuansa natural membuat suasana lebih tenang. aku pun berjalan di rumah itu sambil melihat desainnya yang apik dan rapih aku pun melihat keatas terkesan rumah ini terlihat luas.
"hey, duduk sini" rasen memanggilku dan menyuruhku duduk di sampingnya. sebuah sofa yang sangat nyaman dia pun menatapku dan bertanya.
"mau minum apa?"
"apa aja, eh mungkin kopi susu" bulan ini ternyata memasuki musim hujan dan rasanya akan enak jika minum kopi dikala hujan.
"oh ternyata masih suka kopi, ok sebentar aku buatkan dulu yah" diapun pergi untuk menyiapkan sebuah kopi dan tak lama dia pun kembali membawa dua buah cangkir yang sama dan isi yang sama. rasen pun kembali duduk dan menyimpan cangkir kopi di atas meja.
"by the way, ini rumah siapa yah sen?" tanyaku
"ini rumahku, yang sengaja aku bangun untuk masa tuaku. rumah ini lumayan jauh dari area perkotaan sehingga membuatku tenang dan damai" jawabnya sembari melihat ke jendela yang tertutup karena hari ini hujan cukup deras
"ohh..kamu setiap hari pulang kesini?" tanyaku kembali.
"gak lah, aku pulang ke rumah yang dekat kantor aja nah rumah itu yang akan jadi projects kamu nantinya" jawab rasen sambil melihatku
"oh ok.." sambil meminum kopi yang dibuatkan tadi
"cha.." rasen memanggilku dengan tatapan yang begitu dalam.
"mmh ya" jawabku sambil menatap mata rasen. kami berdua saling memandang seakan masih ada cinta di mata kami berdua. tatapan kami seakan memberhentikan waktu dan hanya terdengar suara air dari water wall. dan tak di sangka rasen memelukku.
"cha, aku masih cinta dan sayang kamu. cha aku mohon kembali kepadaku. please.." aku pun melepaskan pelukan rasen dan aku pun berdiri. rasen pun terlihat kecewa melihat respon ku, rasen pun berdiri dan memegang kedua tanganku.
"aku tau kamu masih kecewa dan membenciku, tapi aku akan berusaha agar kamu mencintaiku lagi. aku mohon cha" dia menatapku dengan mata bergetar seakan akan dia memohon penuh harap.
"sen..sebenarnya rasa ini masih tetap sama untuk kamu sen, namun aku takut untuk kembali mencintaimu hati ini seakan tidak berpihak kepadamu lagi" tatapan ku kali ini begitu tajam. kedua tangan lembut rasen memegang leherku seolah-olah meyakinkanku bahwa dia tidak akan menghilang dan meninggalkanku lagi.
"cha. aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi" dia terus meyakinkanku.
"ok.untuk kali ini saja dan ini kesempatan terakhir kamu" walaupun ragu dengan jawabanku dan berlawanan dengan hatiku aku mencoba memberinya kesempatan kedua. rasen memelukku dengan erat seakan ini hal terindah yang dia dapatkan.
"terima kasih yah cha..terima kasih kerena kamu telah memberi kesempatan kedua untukku" rasen pun menatapku dengan penuh cinta akupun membalas tatapan rasen, rasen tidak melepaskan pelukannya.
malam dingin semakin terasa wajah kami saling mendekat, nafas dan detak jantung kamipun sudah tidak beraturan rasen hendak mencium bibirku.
"rasen..ash" aku mencoba melepaskan pelukan rasen tapi pelukan rasen semakin erat namun kami dikejutkan oleh suara handphone rasen yang berbunyi ada sebuah panggilan masuk dari seseorang rasen pun melepaskan pelukannya dan aku bisa bernafas dengan lega, rasen menjawab telephon sedikit menjauh dariku namun aku tidak terlalu menghiraukan nya.
...-----------------...