My Bossy

My Bossy
23. Perintahku!



Aku dan Edrea menikmati malam ini bersama, berdua di apartemen Edrea.


suasana malam ini sangat indah dan juga romantis sesekali aku mencium kening Edrea.


Ditemani dengan segelas anggur merah kami sangat terbawa suasana malam itu.


kami tidur di atas ranjang yang sama, saling bercumbu dan bermesraan.


Edrea sangat agresif malam itu, dia memburu mencium ku tanpa henti begitupun denganku seakan kami melampiaskan rasa rindu kami malam itu.


"Stoop,,!" teriakku "Pak cerita yang itu tolong skip saja, aku tidak mau mendengarnya" ucapku sambil tersenyum malu.


"Dasar otak mesum, kami tidak melakukan apa-apa hanya bermesraan dan tidak melakukan hal yang lebih"


"Oh ok..bapak bisa terus melanjutkan ceritanya" candaku.


"Besok saja aku lanjutkan, sekarang kamu istirahat" tegasnya.


"Baik jika itu yang bapak perintahkan, aku permisi" aku kembali ke kamarku untuk beristirahat, aku membaringkan badanku setelah mandi dan hanya memakai mini dress tanpa lengan yang sexy.


"Hahhh...akhirnya aku bisa tidur juga" helaku. namun belum saja aku memejamkan mataku tiba-tiba terdengar ketukan pintu.


'Tok..tok..tok'


"Iya..tunggu sebentar," aku kira itu bu Ella yang membawakan ku air putih setiap malam "Terima kasih, bu..eh!" aku kaget dan terdiam ketika melihat Zavas yang menggunakan kaos putih tidak seperti biasanya dan pakaianku yang tidak aku ganti membuatku salah tingkah.


"Pak, eh mas! sebentar aku ganti baju dulu" aku mencoba menutup pintu namun ditahan oleh Zavas. Zavas tiba-tiba masuk.


"Pak, mas ehh apalah itu tolong keluar dulu aku mau ganti baju" Zavas tiba-tiba memelukku.


"Aku mohon, bolehkah kita seperti ini sebentar saja" aku hanya terdiam ketika Zavas memelukku.


"Pelukannya sangat hangat dan nyaman" ucapku dalam hati.


"Iya pak!"


"Panggil aku mas!"


"Iya mas" panggilan itu ketika keluar dari mulutku seakan memiliki magnet besar didalam hatiku.


"Apakah aku menyukainya?" tanyaku dalam hati. jantungku yang berdebar keras dan wajahku yang memerah ketika di peluk Zavas meyakinkan hatiku kalau aku menyukainya "Tidak mungkin dan jangan pernah" ujar ku dalam hati.


"Varsha aku mohon, panggil aku mas setidaknya untuk mengobati rasa rinduku kepada Edrea"


"Benar, aku harus mengubur rasaku kepada Zavas karena dia hanya mencintai Edrea" keluhku dalam hati.


"Baik mas!" Zavas memelukku namun sekarang dia menatapku sangat dalam, Zavas mengusap rambutku perlahan.


"Bagaimana jika kita, melanjutkannya?" pertanyaan Zavas membuatku kaget dan langsung mendorong Zavas.


"Apa yang mas bicarakan, sekarang mas pergi dari kamarku"


"Memangnya apa? aku hanya ingin melanjutkan bercerita itu saja, jadi sebenarnya apa pikiranmu?" sahut Zavas.


"Aaaa..maaf. mungkin kita lanjutkan besok saja" aku langsung mendorong Zavas keluar kamar dan menutup pintu. Zavas hanya tersenyum gemas melihat tingkahku yang aneh dan salah tingkah saat itu.


"Ahh kenapa orang itu selalu membuatku salah tingkah, aku kan malu! aaaa,," seruku "Ah sudahlah aku tidur sekarang"


Keesokan harinya ketika aku sedang sarapan pagi dan siap-siap untuk pergi berkerja, Zavas dan semua asistennya pergi berjalan menuju keluar.


"Bagaimana dengan perusahaan Lesham, apakah mereka sudah menyetujui persyaratan kami?" tanya Zavas kepada asistennya.


"Mereka menjadwalkan hari ini untuk bertemu pak" jawab Randi salah satu asisten Zavas.


"Ok, biarkan mereka datang ke kantorku sekitar jam dua siang ini" Tegas Zavas.


"Baik pak!" jawab Randy.


Langkahku berhenti ketika mendengar kata Lesham. Zavas melihat gelagat ku seakan dia tahu kalau aku mempunyai masa lalu yang kelam dengan keluarga Lesham.


Sesampainya di kantor ketika sedang fokus bekerja tiba-tiba terlintas di pikiranku mengenai perkataan Zavas tadi pagi yang membahas tentang keluarga Lesham.


"Sebenarnya ada kerja sama apa dengan perusahaan Lesham, semoga saja aku tidak terlibat" gumam ku.


"Ada apa, kok cemberut sih non?" goda Jesna.


"Setahu gue sih gak ada untuk satu minggu ke depan, yang gue ingat project London dipercepat prosesnya" jawab Jesna sambil melihat jadwal.


"Memangnya kita bakalan pergi ke London untuk pengerjaannya,?" sahut Arya "bukankah kita hanya mempersiapkan designnya saja?"


"Kalau arsiteknya bisa mengerjakan Design yang kita buat kemungkinan besar kita tetap disini tanpa harus cek lokasi, tapi jika arsiteknya belum bisa ya..mungkin kita akan pergi ke London" papar Jesna.


"Tapi yang gue pengen sih kita stay disini saja, biar project yang kita tangani disini selesai" ujar ku.


"Memang loe gak mau gitu jalan-jalan ke London?" tanya Arya kembali.


"Mau sih, tapi untuk traveling bukan untuk kerja, bagaimana jika nanti kita malah sibuk kerja tidak ada waktu buat traveling"


"Iya juga sih! kita tunggu saja bagaimana keputusannya"


Disaat kita sedang mengobrol ternyata diluar terjadi kegaduhan semua karyawan sangat heboh membicarakan tamu yang akan datang.


"Ada apa nih kok rame banget" Seru Jesna. aku, Arya, dan Jesna keluar untuk melihat situasi.


Ternyata Natya dan semua asistennya datang melewati lobi kantor untuk bertemu dengan Zavas.


Semua orang saling sahut membicarakan Natya.


"Oh itu yang namanya Natya"


"Dia mempunyai kehidupan yang sempurna"


"Anak tiri yang beruntung"


"Dia sangat cantik"


"Tapi dia bukan seleraku"


"Terlihat begitu kejam"


Begitulah yang dibicarakan orang-orang mengenai Natya.


"Semoga Zavas tidak melibatkan aku untuk berhadapan dengan Natya" ucapku dalam hati.


"Untuk semua karyawan tolong kembali ke ruangan masing-masing dan kembali berkerja" Tegas salah satu security. kami semua kembali berkerja.


Akhirnya waktu pulang sudah tiba, aku, Arya dan Jesna berjalan menuju keluar.


"Kita ngopi dulu yuk?" Ajak Arya.


"Yuk..yuk..yuk" Jawab Jesna sangat antusias.


Namun tiba-tiba asisten Zavas datang menemui ku.


"Maaf mengganggu waktunya nyonya anda sudah ditunggu di dalam mobil oleh tuan Zavas"


"Maaf, tapi saya ada acara dengan teman-teman saya, jadi kemungkinan saya tidak bisa ikut pulang sekarang. terima kasih pak Randy" ucapku sambil memberikan wajah yang sangat manis dan sopan.


"Tapi nyonya?"


"Sudah kembali saja pak, nanti saya pulang sendiri" Zavas yang tidak tahu kapan ada dibelakangku tiba-tiba menarik tanganku.


"Tidak bisa!! kamu harus pulang sekarang" tegas Zavas.


"Tapi pak!!" Zavas terus menyeret ku untuk masuk kedalam mobil, Jesna dan Arya pun tidak bisa berbuat banyak dan hanya melihatku di seret oleh Zavas.


Kami duduk di bangku mobil paling belakang.


"Aku hanya ingin kamu ada di sisiku malam ini, itu perintahku," tatapannya lurus ke depan tanpa menatapku "aku ingin menceritakan semua kepadamu"


"Ok! tapi untuk kali ini bapak jangan buang-buang waktu ceritakan semua dan beri aku alasan yang tepat dan tegas kenapa bapak memperlakukan ku seperti ini" ujar ku.


"Ok! cepat bawa kami ke tempat yang aku perintahkan"


Tanpa berlam-lama sopir Zavas menancap gas dengan kecepatan tinggi namun kali ini bukan kerumah Zavas. melainkan ke suatu tempat yang sangat asing bagiku, banyak bunga warna-warni dan lampu-lampu yang sangat indah


...----------------...