My Bossy

My Bossy
21. Gosip



☘️☘️☘️☘️☘️


Tepat pukul 23.00 panggilan dari Rasen membangunkan ku dari mimpi yang aneh namun sepertinya mengandung arti. Rasen benar-benar sangat gigih untuk memintaku kembali kedalam hidupnya walaupun sebenarnya itu sangat bahaya bagiku.


'Memulai percakapan seperti biasa'


"Hallo?"


"Hallo cha, akhirnya kamu mengangkat telephoneku"


"Iya ada apa?"


"Aku hanya ingin minta maaf"


"Aku sudah memaafkan mu"


"Cha, aku minta maaf mengenai tragedi kecelakaan kamu"


"Sudah, lagian aku baik-baik saja"


"Tapi itu semua kesalahan Natya, Natya merencanakan itu semua"


"Aku tahu dan aku tidak ingin membahasnya"


"Maaf, Tapi aku hanya ingin kita seperti dulu" malam ini suara Rasen terdengar lirih dan sedih.


"Maaf aku tidak bisa, kamu juga tahu sendiri bagaimana resikonya jika kita kembali bersama nyawaku yang menjadi taruhannya"


"Aku akan berusaha melindungi mu apapun resikonya" Rasen terus berusaha meyakinkan ku.


"Tidak cukup hanya janji, buktinya sudah jelas. kamu kemana disaat aku berjuang sendiri, disaat orang tuaku mengusirku, kamu kemana disaat aku dicemooh orang banyak, dan kemarin kamu kemana disaat aku kehilangan semuanya, kamu kemana hah??" aku kembali mengeluarkan semua beban yang ada dalam hatiku. tanpa disadari teriakan ku terdengar oleh Zavas yang sedang melintas di depan kamarku dan kebetulan pintu kamarku sedikit terbuka.


"Semua karena Natya cha.. aku tidak bisa menghubungimu dan menjagamu"


"Jika alasan semuanya karena Natya berarti Natya lebih penting dariku"


"Tidak cha maksudku bukan seperti itu, kamu salah paham, please cha percaya padaku. aku mohon!!" Zavas tiba-tiba merebut handphone ku dan mematikannya. aku tiba-tiba terkejut dengan kedatangan Zavas.


"Pak, apa yang bapak lakukan?" tanyaku.


"Panggil aku mas!!" tegas Zavas. wajah Zavas memerah dan badannya sangat bau alkohol.


"Sepertinya dia mabuk" gumam ku dalam hati.


"Tapi kenapa, apa alasannya tidak mungkin aku memanggil atasanku dengan sebutan seperti itu"


"Aku bukan atasanmu, tapi aku suamimu" tiba-tiba badan Zavas tidak bisa menjaga keseimbangannya dan terjatuh di lantai. aku segera memapah Zavas dan membawanya ke ranjang ku.


"Ya ampun dia sangat berat..!!" gerutu ku.


'Bugh'


"Hahh...akhirnya, ok sekarang aku panggil dulu asistennya" aku pun pergi namun tangan Zavas mencegahku.


"Diam saja, biarkan aku tidur disini malam ini" ucap Zavas dan sedikit lemas.


"Tapi..!!"


"Ssttstt" Zavas menyuruhku diam.


Pukul sudah menunjukan pukul 01.30 aku pun selesai mengerjakan semua tugasku,


"Melihatnya seperti ini, kasihan juga" aku pun mulai melepaskan sepatunya, kaos kakinya, mengelap badannya dengan air hangat, dan mengganti bajunya.


"Selesai, aku tidur di sofa saja lah" aku tidur di sofa dan membaca sebuah novel yang akhir-akhir ini menjadi favoritku.


Alarm ku berbunyi tepat pukul 06.00 dan Zavas terbangun tampaknya dia tidak kaget sedikitpun ketika berada di kamarku. melihatku yang tertidur di sofa dan juga sebuah novel yang berada di perutku sepertinya entah kapan aku mulai tertidur, Zavas tersenyum melihatku yang tengah tertidur namun senyumnya tiba-tiba berubah kembali ketika dikagetkan olehku yang hendak terbangun.


"Oh, selamat pagi pak" Aku kaget ketika melihat Zavas tiba-tiba berada didepan ku.


"Selamat pagi, cepat mandi! hari ini ada meeting dengan client, siapkan dokumen project London" Zavas pergi dan aku pun segera bersiap.


"Sepertinya Zavas melupakan kejadian tadi malam, tapi ya sudahlah. semangat kerja kerja kerja!!!" ucapku ketika sedang menggosok gigi.


Sesampainya di kantor kami akhirnya melakukan meeting mengenai project London.


"Selamat pagi semuanya" sapa pak Yudha.


"Selamat pagi" jawab semua orang yang hadir di ruangan meeting


"Sehubungan dengan project yang kita ambil yaitu project London, setelah satu minggu lamanya dan melewati beberapa proses dan pada akhirnya team dari perusahaan kami terpilih untuk melakukan project besar di London"


Semua orang memberikan tepuk tangan dan bergembira.


"Selebihnya kami berterima kasih kepada Geya Varsha dan team dan kami ucapkan selamat" semua orang memberikan selamat dan berterima kasih.


"Ah terima kasih" aku pun memberikan ucapan terima kasih kepada ke semua orang yang telah membantu dan memberikan penjelasan yang lebih detail mengenai project yang aku tangani.


Setelah selesai kami dan semua orang kembali ketempat masing-masing.


"Akhirnya..aku bisa kembali ke meja ini lagi" ucapku sambil mengusap-usap meja kerjaku.


"Iya akhirnya kita bisa kumpul bareng lagi" sahut Jesna.


"Oh..iya setelah semua selesai apa kita akan terus tinggal seperti ini, maksudnya di tempat yang pak Zavas sediakan?" tanya Arya.


"Nanti gue coba ngomong deh!" seruku.


"Eh..by the way soal kemarin yang loe ceritakan bagaimana?" tanya jesna.


"Belum ada perkembangan, tapi sepertinya benar ada rahasia"


"Tapi gue denger-denger dulu pak Zavas sempat menikah" ucap Arya.


"Apa??" tanyaku dan Jesna. aku sangat kaget dengan perkataan Arya.


"Serius loe?" tanyaku kembali untuk meyakinkan.


"Serius gue juga dengar dari pak Yudha, masa iya dia bohong"


"Pantesan!!" seruku.


"Kenapa?" tanya Jesna.


"Tidak, nanti kalau petunjuku sudah lengkap aku kasih tahu" jawabku sedikit bingung.


Waktu berjalan seperti biasa dan kami bekerja seperti biasa.


"Gue ke toilet dulu gah bentar" sesampainya di toilet ternyata ada tiga orang karyawan yang sedang mengobrol dan tanpa sengaja aku mendengarnya.


"Han, loe tahu gak karyawan pindahan hang namanya Varsha?"


"Tahu dong, kenapa emang?"


"Kemarin dia hamil kan dan ternyata dia hamil di luar nikah"


"Jadi dia hamil sama siapa?"


"Entahlah, setahu gue sih sama anak konglomerat tapi ditinggalin gitu" ejeknya.


"Tapi kemarin dia tinggal sama pak Zavas yah?"


"Halah..biasalah paling cuman ingin enaknya aja, walaupun bunting dia tetap cantik kok sexy pula, pak Zavas mana nolak" sindirnya.


Aku coba memberanikan diri untuk masuk.


"Permisi" dan semua orang yang berada didalam terkaget dan langsung terdiam.


"Iya silahkan..!! yuk ah cabut" mereka pergi tanpa muka bersalah pun.


"Ya ampun, kalau saja bukan di kantor gue ulek loe dibikin sambal terasi, sabar...sabar.." gerutu ku.


Gosip begitu cepat tersebar ada yang bilang.


'Simpanan Zavas'


'Cewek panggilan'


'Cewek bokingan'


'Cewek gatel'


Semua hinaan itu berkumpul menjadi satu dan langsung menghantam ku dengan keras.


"Boommm!!!"


Waktunya pulang dan aku berkumpul di temapat Arya dan Jesna.


"Arrgggghhhhhh...." teriakku.


"Sabar..!!" ucap Arya sambil mengusap-usap punggungku.


"Kesal banget gue, semua gosip miring mengenai gue dan Zavas tersebar. apa yang harus gue lakukan guys?" tanyaku.


"Gosip akan hilang dengan sendirinya" ucap Arya.


"Bagaimana akan hilang kalau gue masih tinggal di rumah Zavas?" tanyaku kembali.


"Kita pikirkan solusinya" sahut Arya.


"Sebentar..bagaimana kalau kita jadikan hal ini sebagai alasan untuk keluar dari rumah Zavas?" tukas Jesna.


Semua terdiam dan berpikir.


"Ok..good ideas" aku, Arya, dan Jesna kembali berpelukan.


Tiba-tiba handphone ku berbunyi.


'Tring..tring..'


( CEO killer calling)


"Hallo!"


"Dimana kamu cepat pulang!" tegas Zavas.


...----------------...