
🥀🥀🥀🥀🥀
Malam ini akupun pergi ke acara ulang tahun Jesna dan sedikit memberi hadiah kecil untuknya.
"Pak aku ambil yang ini satu yah"
"Baik bu" sahut pelayan toko. aku segera ke kasir untuk membayar.
"Totalnya tujuh juta tiga ratus bu"
"Iya, ini" akupun segera melakukan pembayaran.
"Terima kasih bu, datang kembali"
Aku segera meninggalkan toko itu dan cepat melaju mobilku. telephoneku terus saja berdering aku tahu itu dari Zavas dan aku menghiraukannya.
Pukul menunjukan 23.00 sesampainya disana Jesna menyambut ku.
''Hello beph, happy birthday semoga apa yang loe inginkan tercapai. oh iya ini buat lo?" aku memeluk Jesna dan memberikan hadiah yang aku siapkan.
"Iya thank you yah beph, wahh...ini hadiah special sih serius loe ngasih ini?"
"Iya dong gue serius"
"Ahh makasih, inikan yang gue inginkan belum lama ini" Jesna memelukku kembali.
Tak lama Arya datang dan memeluk Jesna.
"Happy birthday my best friend"
"Thank, ya, eh loe gak ngasih apa gitu buat gue?" tanya Jesna kesal.
"Nanti, sekarang kita party dulu"
"loe itu yah" kami hanya tersenyum melihat tingkah Arya.
Satu jam sudah kami hanya melewatkannya untuk makan malam dan mengobrol santai dengan teman yang lainnya, rangkaian acara sudah kami lakukan dan sekarang waktunya puncak acara.
"Eh loe tahu gak dia siapa?" tanya Jesna kepadaku.
"Enggak, siapa dia?" tanyaku sambil menyantap makanan.
"Dia mantannya Zavas"
"Serius loe?" tanyaku kaget sambil meletakan sendok yang aku pegang.
"Bentar, bukankah Zavas hanya pernah berpacaran sekali dan itupun langsung menikah dengan Edrea"
"Loe pacarnya, loe calon istrinya tapi loe gak tahu Zavas itu orangnya seperti apa. Varsha loe itu gimana sih, nanti gue ceritain"
"Terus loe ngapain ngundang dia kesini?"
"Loe gila, ngundang dia kesini buat apa coba lagian dia itu orang terpandang, masa iya dia mau diundang sama gue"
"Lah terus kenapa, dia datang kesini?"
"Katanya sih keluarganya mengadakan acara di lantai VVIP"
"Oh, sudahlah lupakan saja jangan rusak pesta loe dengan hal ini" sahutku.
Pukul tepat menunjukan waktu tengah malam. dengan tiba-tiba Arya membuat semua orang terdiam dengan tingkahnya ketika dia memecahkan satu buah gelas.
'Prang...' (suara lemparan gelas)
"Kenapa tuh anak?" tanya Jesna, kami berduapun langsung menghampiri Arya dan dengan sigap pihak hotel membersihkan pecahan gelasnya.
"Loe kenapa Arya?" tanya Jesna.
"Tidak apa-apa, mohon perhatiannya sebentar, kami ucapkan terima kasih karena telah hadir di acara Jesna party mungkin ini waktu yang tepat untukku. Jesna bukankah kita sudah lama saling mengenal?"
"Iya, kenapa?" tanya Jesna polos.
"Jesna aku sungguh tidak bisa membuat kata-kata romantis, namun kali ini izinkan aku untuk mengungkapkan isi hatiku. Jesna maukah kamu menjadi istriku?"
"Apa, kenapa tiba-tiba?"
"Maaf kalau ini membuat kamu kaget tapi aku sungguh tidak bisa menahan rasa ini.sungguh aku cinta kamu, Jes"
"Tapi kamu belum pernah menyatakan cinta sebelumnya, kenapa tiba-tiba ingin menikahi ku?"
"Aku rasa kamu adalah orang yang tepat untukku dan untuk keluarga kita nanti, jadi apa jawabanmu?"
"Terima..terima..terima" seru orang-orang yang hadir disana, Jesna menatap ke arahku dan aku hanya menganggukan kepalaku dan tersenyum.
"Iya, aku mau!" mereka berpelukan dan berciuman untuk pertama kalinya, jawaban Jesna membuat acara ini semakin sempurna. terlebih lagi dengan menyatunya perasaan mereka yang dari dulu hanya saling menutupi perasaannya masing-masing.
Acara berjalan sebagaimana mestinya semua tamu undangan satu demi satu meninggalkan acara dan yang tersisa hanya aku, Jena, dan Arya. seseorang yang diceritakan Jesna tadi hendak turun kebawah. pakaian yang dia kenakan sangat mewah cara berjalannya sangat anggun dan penuh wibawa cukup sangat membuktikan kalau dia bukan wanita biasa-biasa.
"Kayaknya loe masih belum tahu banyak soal Zavas" ucap Jesna yang melepas sepatu hak tingginya.
"Spertinya begitu" jawabku dengan raut muka bingung.
"Besok gue ceritain tentang Zavas dan kehidupannya. disaat loe bilang ada yang aneh dengan Zavas gue dan Arya mencari tahu tentang kehidupan Zavas yang penuh rahasia. ditambah lagi loe dilarang masuk area kantor gue semakin curiga, sedikit informasi kami dapat namun informasi itu sangat jelas. orang-orang di kantor tahu Zavas seperti apa jadi gue rasa loe dilarang masuk area kantor karena alasan itu, gue juga tahu rahasia siapa wanita bernama Edrea yang mirip sama loe" ucap Jesna.
"Kenapa loe gak bilang sama gue?" tanyaku.
"Kami tahu itu bakalan sulit buat loe, terlebih lagi dengan masalah-masalah yang loe hadapi kami semakin berat untuk bercerita dan tiba-tiba loe bilang akan menikah dengan Zavas kami semakin mengurungkan niat kami untuk bercerita" jawab Arya.
"Dan kami pikir kamu sudah tahu semua rahasia Zavas" seru Jesna.
"Sedikit-sedikit saja gue yakin loe bakal mengerti" ucap Arya sambil melepas jasnya.
"Iya gue harap begitu. eh, by the way gue gak apa-apa tidur sama kalian?" tanyaku.
"Lah emang kenapa, kan kita biasa tidur bertiga kaya gini?" tanya Jesna bingung.
"Gak apa-apa kok Cha, santai aja" sahut Arya.
"Iya lagian gue masih takut sama Arya, loe jangan macem-macem yah sebelum kita nikah" ucap Jesna.
"Iya sayang" jawab Arya sambil memeluk Jesna.
"Iya kan gue pasti salah ada disini malam ini" ucapku. Arya dan Jesna tertawa mendengar ucapan ku.
Tak lama kemudian ada telephone dari pelayan hotel.
'Kring..kring..kring' Jesna mengangkatnya,
"Hallo"
Pegawai hotel itu menelephone bahwa ada seseorang yang mencari wanita bernama Varsha dan dia sedang menunggu di loby hotel.
"Loe yakin mau nemuin Zavas, biar gue aja sama Arya yang nemuin Zavas"
"Gak apa-apa, lagian gue bakal balik kok kalian have fun yah"
"Serius loe?"
"Iya, gue pulang dulu yah see you"
"See you, loe hati-hati yah jaga diri baik-baik, kalau ada apa-apa bisa langsung telephone gue atau Arya"
"Ok" kami saling berpelukan
Aku langsung turun dan langsung menemui Zavas. terlihat Zavas sedang menungguku dengan raut wajah penuh amarah.
"Seharusnya kamu tidak usah menjemputku, aku bisa pulang sendiri" Zavas tidak menjawabku hanya menatapku dari bawah sampai atas yang kebetulan aku belum sempat berganti baju.
"Ikut aku" Zavas menarikku dan membawaku pergi menuju rumah.
Sesampainya dirunah Zavas terus menyeretku menuju kamarnya.
"Mas, lepasin sakit tahu gak" Zavas melepaskan tanganku dan mendorongku hingga terjatuh di lantai.
"Kamu dari awal pesta memakai pakaian seperti ini?" tanya Zavas.
"Iya kenapa?" tanyaku kembali.
"Ini terlalu sexy!!" teriak Zavas.
"Yang lain tidak masalah dengan cara berpakaian ku"
"Kamu semakin sulit untuk diatur Varsha, kenapa kamu pergi begitu saja tanpa sepengetahuanku. kenapa?" teriak Zavas.
"Semakin kamu melarangku aku akan semakin menentangmu"
"Apa?"
"Iya kalau kamu sudah tidak suka dengan sikap pembangkangku lebih kamu lepaskan aku. dan aku akan pergi akan melupakan semuanya termasuk rencana pernikahan kita" aku meninggalkan Zavas dan keluar dari kamarnya.
"Benarkah, apakah semudah itu untukmu?" tanya Zavas yang disangkanya aku tidak bisa jauh darinya, aku meninggalkan Zavas dan segera mengemas barangku.
"Varsha, kenapa?" tanya Zavas seraya mengejarku dan menggenggam tanganku menahan ku mengemas barang.
"Kamu ingin tahu alasanya?" aku menatap mata Zavas sangat dalam.
"Hanya satu alasan kamu pembohong"
Aku pergi meninggalkan Zavas dengan penuh emosi dan rasa kecewa aku kira kisah kita akan bahagia namun ternyata sama saja.
...----------------...