My Bossy

My Bossy
36. Cerita lengkap bag 2



☘️☘️☘️☘️☘️


"Hey, sudah waktunya masuk nih nanti di lanjut lagi ceritanya. oh iya kalian siap untuk persentasi?" tanya Arya.


"Oh iya iya, kami siap kok" jawab Jesna.


Varsha yang dari tadi masih terdiam seakan berpikir mengenai cerita dari Jesna.


"Ternyata Zavas tidak berbohong hanya saja dia menyembunyikan sebagian ceritanya, tapi apa tujuannya?" gumamnya dalam hati.


Varsha, Jesna dan Arya kembali keruangan kerjanya.


'Ting..' (Pesan masuk dari Zavas)


"Hari ini persentasi kan, semangat sayang. malam ini sepertinya aku tidak pulang jadi kamu pulang dengan supir yah tidak usah pergi kemana-mana lagi"


"Hah" Varsha menghela nafas sangat panjang.


"Kenapa?" tanya Jesna sembari menyiapkan berkas untuk persentasi.


"Lihat ini!" Varsha memperlihatkan isi pesan dari Zavas.


"Hmhh, pasti sulit buatmu tapi aku yakin ini demi kebaikanmu, sudah sudah sebaiknya kita semangat untuk persentasinya, yuk"


"Ok yuk"


Semua team Varsha bergegas ke ruangan meeting kali ini team Varsha akan mendesign ulang kantor sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kecantikan mereka akan bergabung atau bekerja sama dengan salah satu perusahaan besar di bidang Fashion jadi kantor tersebut harus redesain agar bisa mencampur dari dua unsur yang berbeda.


Setelah pembukaan meeting Varsha mulai menjelaskan apa yang dia akan rubah untuk design kantor klien.


"Selamat siang, perkenalkan nama saya Geya Varsha ketua dari bagian design interior disini saya akan menjelaskan tentang design yang akan kami berikan untuk kantor bapak, sehubungan kantor yang akan kami redisain adalah perusahaan yang bergerak di bidang kecantikan yang akan dipadupadankan dengan perusahaan fashion jadi kami akan memberikan warna putih, pink muda, dan gold kami memberikan warna tersebut bukan tanpa alasan karena seperti yang kami ketahui kecantikan dan fashion yang bapak produksi hampir 89% memproduksi untuk wanita dengan demikian kami akan merubah...."


Begitulah persentasi Varsha hari ini klien setuju dan sepakat untuk membuat kontrak kerja dengan perusahaan Zavas.


"Hah..." Varsha menghela nafas panjang.


"Keren loe Cha" Jesna menepuk pundak Varsha.


"Berkat bantuan kalian juga, gue gak akan bisa kaya gini kalau gak ada loe semua, terima kasih yah"


"Kita bakalan dapat bonus lagi dong" sahut Arya.


"Semoga yah say, buat modal nikah" ucap Jesna sambil tersenyum.


Begitulah keseharian Varsha di tempat kerja. pukul tepat menunjukan pukul 18.00 waktunya pulang.


"Kalian mau langsung pada balik?" tanya Varsha.


"Iya, emangnya kenapa loe mau jalan dulu?"


"Mau sih mumpung Zavas lagi diluar kota"


"Tapi supir loe gimana?" tanya Arya "Ngeri gue badannya gede gitu" Jesna menganggukan kepala sepertinya setuju dengan pertanyaan Arya.


"Nanti coba gue bujuk dulu, sekalian loe ceritain yang belum beres tadi"


"Ok, semoga supir Zavas bisa di ajak kerja sama"


Mereka bertiga menuju ke tempat parkir dan Varsha langsung menghampiri supir yang siap-siap membuka pintu untuk Varsha.


"Eh eh..pak begini Aku dan rekan kerja harus pergi ke suatu tempat ada masalah kerjaan yang belum selesai jadi kami berencana untuk meeting di sebuah cafe dekat sini, bapak boleh pulang dulu nanti aku pulang bisa diantar langsung oleh mereka"


"Maaf nyonya tapi saya harus menghubungi tuan terlebih dahulu" jawabnya tegas.


"Kalau tidak laporan bisa gak pak?"


"Maaf nyonya tidak bisa"


"Ok ok, coba hubungi"


Supir Zavas dengan segera menghubungi Zavas yang sekarang lagi diluar kota dan menceritakan laporannya.


"Baik tuan!"


"Bagaimana pak?"


"Tunggu tuan akan segera menghubungi nyonya"


Dan benar saja tiba-tiba handphone Varsha berbunyi


'Triing...tring..' (Zavas calling)


"Mau kemana sayang?"


"Aku mu ngafe sebentar saja bareng Arya dan Jesna, boleh gak?"


"Boleh, asalkan kamu pergi dengan supir dan tidak boleh pulang diatas jam 22.00"


"Wah serius? ok terima kasih"


"Iya, hati-hati"


Varsha menutup telephon nya dan segera menghampiri Arya dan Jesna.


"Gak apa-apa yang penting kita bisa jalan bareng lagi" seru Jesna.


Mereka bertiga pergi ke mall untuk berbelanja pilih-pilih baju, tas, sepatu dan makeup.


"Eh biar nanti Zavas tidak marah lebih baik gue beliin dasi ini deh, kalau jas atau sepatu mahal uang gue cukup sih tapi nanti tabungan gue habis" ucap Varsha


"Hahhaaha..bisa aja loe" sahut Jesna.


"Mas saya ambil ini yah" ucap Varsha ke salah satu pelayan di toko tersebut.


Dan tujuan terakhir mereka adalah makan. supir Zavas segera berkala memberikan informasi untuk Zavas semua pergerakan Varsha diikuti dan dilaporkan.


"Pak, sudah makan dulu jangan laporan terus, saya sudah pesankan makan dulu yah"


"Terima kasih nyonya"


Setelah itu Varsha kembali duduk di meja yang berbeda dengan supirnya.


"Cha kasian juga yah kerja begitu? padahal kan sudah waktunya istirahat" Seru Arya.


"Zavas memang begitu gue udah berkali-kali ngomong jangan ganggu istirahat mereka tapi tetap saja"


"Kenapa sayang, kamu mau kerja menjadi asistennya Zavas? badan kamu gak cocok"


"Tapi kan aku strong"


"Strong dari mananya, angkat galon air aja keberatan"


"Hahaha...."


Kami makan dan tertawa bersama rasanya sudah lama kami tidak tertawa lepas seperti ini.


"Jes, loe mau lanjutin ceritanya gak?"


"Oh iya, tadi gue cerita sampai mana sih?"


"Surat perceraian Zavas tidak ditandatangani"


"Iya iya.."


Jesna melanjutkan ceritanya.


Edrea dan Zavas hidup bahagia selama hampir 2 tahun dan memiliki seorang anak perempuan bernama Lilly, selama 2 tahun Rossana tidak pernah dikabarkan lagi dia juga tidak pernah mondar-mandir di acara televisi orang-orang kira Rossana pensiun dari dunia keartisannya dan hidup bahagia dengan Zavas namun ternyata dia mendalami ilmu bisnis dan berniat menjatuhkan Zavas dia mempunyai hubungan baik dengan investor-investor dan perusahaan besar termasuk perusahaan Lesham dan rumah sakit yang memperkerjakan Edrea.


(Masuk ke dalam cerita)


Mungkin rencana pertama Rossana waktu itu adalah menyingkirkan Edrea dari kehidupan Zavas.


"Hallo apakah benar saya berbicara dengan kepala rumah sakit Health center?"


"Iya saya sekretarisnya, maaf saya berbicara dengan siapa?"


"Saya Rossana Luane"


Akhirnya Rossana merencanakan pertemuan dengan kepala rumah sakit yang dimana Edrea bekerja di rumah sakit tersebut.


"Cha ternyata kepergian Edrea pergi ke negara L telah direncanakan oleh Rossana yang terakhir gue dengar dia disana sempat diculik, disiksa dan dikurung oleh orang suruhan Rossana"


"Terus apakah Zavas tahu?"


"Dia mengetahuinya tiga bulan setelah pengumuman kematian tenaga medis di kota L"


"Terus apa yang Zavas lakukan setelah ada kabar tersebut?"


"Dia melakukan kerja sama dengan Rossana dengan syarat Zavas harus memberikan beberapa persen saham kepada Rossana dan Rossana berjanji akan mengembalikan Edrea dan dengan mudah Zavas setuju"


"Apa Edrea kembali?"


"Tidak! Zavas hanya menerima surat yang ditulis Edrea langsung dan Edrea mengira dia diculik, disekap oleh sekutu. Zavas marah besar kepada Rossana dan mengancam Rossana"


"Benarkah terus Edrea sebenarnya kemana???" tanya Varsha semakin penasaran.


Belum sempat Jesna melanjutkan ceritanya supir Zavas langsung memerintahkan Varsha untuk pulang.


"Maaf nyonya sudah pukul 22.00 waktunya pulang"


Varsha menurut saja agar kedepannya kalau dia ijin tidak dipersulit oleh Zavas.


"Baik! Jes terima kasih yah gue cabut duluan"


"Ok, see you"


"See you Jes" Jesna dan Varsha berpelukan.


"Gue duluan yah Ar"


"Ok, hati-hati"


Varsha pulang dan langsung masuk mobil mewahnya Zavas.


...----------------...