
🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️
Keesokan paginya aku bangun pagi-pagi sekali dan bersiap untuk pergi ke kantor, aku tidak membangunkan Zavas karena mengingat kejadian semalam pun rasanya aku tidak mau meliahat wajahnya.
"Bu Ella, aku pergi dulu yah?"
"Nyonya, kenapa pergi sangat pagi sekali, sarapan dulu lagian semalam kan belum sempat makan malam?"
"Nanti aja di kantor aku lagi banyak kerjaan, terima kasih ya bu. aku pergi dulu"
"Iya tapi jangan lupa makan yah"
Pukul menunjukan pukul 06.00 sedangkan kantor mulai beraktifitas pukul 09.00.
"Pak hari ini aku tidak usah diantar biar aku sendiri saja ke kantor masih banyak yang harus aku kerjakan takutnya malah nanti bapak lama menungguku"
"Tapi apakah nyonya sudah minta izin kepada tuan?"
"Sudah, terima kasih ya pak aku pergi dulu"
"Hati-hati nyonya"
Tujuanku pergi sendiri hanya ingin sendiri dan merenungi apa yang telah aku putuskan, aku menepi di pinggir jalan.
"Apakah aku sudah tepat mengambil keputusan,?" tanyaku "Kenapa Zavas begitu ingin menikah denganku, mungkin pertanyaan itu cocok untuk Zavas bukan untukku tapi kenapa aku tiddak sanggup untuk bertanya mengenai hal itu?"
Aku kembali memacu mobilku dan menuju ke kantor, sesampainya di kantor suasana begitu sepi karena itu beluum saatnya untuk memulai aktifitas..
"Hahh..apa yang harus aku lakukan hari ini,?" gumam ku "Sebisa mungkin aku harus menyibukkan diri agar lupa masalah kemarin malam, yuk bisa yuk!"
Tepat pukul 09.00 Arya dan Jesna mulai datang.
"Wiih gila yang sudah liburan, semangat banget kerjanya non?" goda Jesna.
"Eh, bagaimana liburan sama bos, asik?" tanya Arya.
"Julid lo yah" seruku.
"Hahaahaah" ketawa Arya dan Jesna puas.
"Kapan nih, udah sampai mana persiapan pernikahannya beph?" tanya Jesna.
"Entahlah aku ragu, nanti gue cerita deh sekarang gue lagi gak mood buat bahas itu" keluhku.
"Ok! tapi lo baik-baik saja kan?"
"Yah, aku baik kok"
"Syukurlah" kami kembali bekerja seperti biasa, mungkin hari ini Zavas tidak akan datang bekerja karena kondisinya yang belum pulih.
Sedangkan dirumah, Zavas bangun dari tidurnya dan terlihat membaik. Zavas pun mengetuk pintu kamar Varsha.
'Tokk..tok'
"Sayang, sudah bangun kah,?" Zavas terus mengetuk pintu namun tidak jawaban, dia pun membuka pintu "Kemana dia, apakah sudah pergi bekerja?" Zavas pun turun kebawah dan terlihat Bu Ella sedang membereskan meja makan.
"Bu, nyonya kemana yah?" tanya Zavas.
"Nyonya sudah pergi dari tadi pagi tuan sekitar pukul 06.00"
"Kenapa dia tidak istirahat saja yah, dasar bandel" gumam Zavas.
"Oh iya tuan bagimana sudah baikan?"
"Iya Bu sudah, kenapa?"
"Sekarang aku khawatir kalau nyonya sakit dia dari malam belum makan bahkan tadi pagi juga belum sempat sarapan, semalam dia juga tidak tidur, dia ingin menjaga tuan takutnya tuan kenapa-kenapa"
"Baiklah, nanti aku ajak dia makan"
"Terima kasih tuan"
Zavas pun keluar dan mengecek semua asisten nya. dia pun bingung karena supir pribadi Varsha masih dirumah dan dia tidak pergi bersama Varsha.
"Pak kenapa anda tidak pergi ke kantor dengan nyonya?" tanya Zavas heran.
"Nyonya meminta untuk pergi sendiri, dan nyonya bilang sudah dapat izin dari tuan"
"Apa?? aku tidak mungkin mengizinkan dia pergi sendiri" Zavas marah pada siang itu.
"Randy siapkan mobil kita akan pergi ke kantor sekarang juga"
"Baik tuan"
Zavas masuk ke dalam untuk bersiap-siap seperti biasa dia memakai jas dan yang lainnya. sesampainya di kantor dan terlihat Varsha sedang menikmati waktu istirahatnya, secangkir teh dan cemilan kecil yang menemaninya terlihat Jesna dam Arya yang sedang bersenda gurau menghibur Varsha, tiba-tiba sekretaris pribadinya menghampiri Varsha.
"Permisi bu, pak Zavas menunggu ibu di ruangannya"
"Oh pak Zavas masuk hari ini, bukankah dia sedang sakit?"
"Mengenai itu bisa ditanyakan langsung kepada pak Zavas bu"
"Ok, sebentar lagi saya kesana"
"Iya bu, mohon cepat yah bu"
Aku pun mendatangi ruangan Zavas,
'Tokk...tok' (mengetuk pintu)
"Masuk!"
Aku masuk tanpa menatap mata Zavas hanya memalingkan wajah agar tidak terlihat raut wajahku yang penuh kekecewaan, Zavas langsung membentakku tanpa ada jeda.
"Varsha kenapa kamu tidak istirahat saja dirumah hah,?" pertanyaan Zavas yang pertama "Kenapa kamu pergi tanpa pamit kepadaku,?" pertanyaan Zavas yang ke dua "Kenapa kamu pergi sendiri?" pertanyaan demi pertanyaan dia layangkan namun aku enggan untuk menjawabnya "kenapa kamu tidak menjawabnya?"
"Aku hanya butuh waktu sendiri jadi aku mohon untuk sekarang tidak usah menemuiku dulu, kalau semuanya sudah selesai aku akan keluar. permisi" aku keluar tanpa melihatnya.
Zavas hanya terdiam melihatku tanpa ada sepatah katapun keluar dari mulutnya, Pukul menunjukan 18.00 waktunya untuk pulang ternyata Zavas menungguku diluar.
"Cha, Pak Zavas lagi nungguin lo tuh, gue duluan yah" sahut Jesna.
"Iya gak apa-apa, lo duluan saja nanti lo kerumah lo deh, nanti kita bareng ke tempat acara"
"Iya, gue tunggu yah. lo hati-hati yah"
"Ok, bye kalian hati-hati yah"
Setelah Jesna dan Arya pergi asisten Zavas menghampiriku.
"Nyonnya ditunggu oleh tuan Zavas, tolong untuk segera masuk kedalam mobil"
"Baiklah"
Akupun masuk kedalam mobil.
"Hai sayang!" sambut Zavas. Zavas memelukku namun aku tidak membalas pelukannya. sepajang perjalanan pulang aku hanya terdiam
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Zavas sambil mengenggam tanganku.
"Tidak apa-apa!" jawabkuu sambil tersenyum tipis.
Sesampainya dirumah aku segera naik ke atas begitupun dengan Zavas. sementara itu Bu Ella dan yang lainya sedang menyiapkan hidangan makan malam.
"Bu, sepertinya nyonya dan tuan hubungnnya lagi tidak baik deh" sahut Randy yang tiba-tiba datang entah dari mana.
"Kamu ini baru datang sudah menyebarkan rumor" ucap Bu Ella.
"Iya Ran, seharusnya jangan begitu" sahut Rani pelayan bagian dapur.
"Eh serius Ran, soalnya tadi aku dengar ketika di mobil"
"Sudah-sudah bawa ini ke meja makan" ucap Bu Ella.
Bu Ella menyiapkan semuanya di meja
makan, aku turun dengan pakaian seperti biasa sexy yang mempesona. Bu Ella heran melihat caraku berpakaian.
"Bu, aku akan pergi. jangan menungguku dan jangan khawatir, sahabatku mengadakan pesta ulang tahun mungkin malam ini aku tidak akan pulang" kataku kepada Bu Ella.
"Tapi nyonya, bagaimana dengan tuan?" tanya bu Ella.
"Aku sedang tidak ingin membahasnya, aku pergi dulu yah bu"
"Iya nyonya hati-hati yah"
Malam ini Jesna mengadakan pesta kecil-kecilan untuk acara ulang tahunnya, akupun mampir ke toko tas terkenal membelikan hadiah untuk Jesna. namun ternyata malam ini pergerakan ku sedang diawasi.
"Ini laporan malam ini tuan, sepertinya dia akan hadir ke acara ulang tahun nona Jesna" ucap seseorang yang sedang mengawasi ku.
"Good job, sekarang tinggal satu lagi tugasmu, cepat laksanakan"
"Baik tuan"
Sementara itu di rumah, Zavas siap-siap untuk makan malam dan dia turun kebawah dan duduk di kursi yang biasa dia tempati. 15 menit sudah berlalu dan Zavas belum sedikitpun memakannya.
"Bu, tolong suruh nyonya untuk segera makan malam" perintah Zavas.
"Bu, bagaimana ini pasti tuan sangat marah" bisik Rani.
"Ibu tahu, tapi bagaimana nyonya sudah pergi dan kita tidak bisa mencegahnya" sahut bu Ella.
"Bu Ella, apa anda tidak mendengar perintahku?" teriak Zavas,.
"Ii..ya tuan," Bu Ella segera menghampiri Zavas dengan perasaan waswas "Begini tuan sebenarnya nyonya tidak ada di kamarnya"
"Kemana dia pergi?" tanya Zavas. matanya tiba-tiba menyipit, alis matanya berkerut menunjukan amarahnya yang meluap.
"Kata nyonya sahabatnya ulang tahun dan nyonya datang untuk mengahadiri pesta tersebut" jawab Bu Ella sambil sambil menunduk takut.
Zavas mengeluarkan amarahnya dan membanting gelas yang dipegangnya.
'Prang...' (suara gelas yang di banting) suara itu sontak membuat kaget seisi rumah semua bodyguard dan asisten menghampiri asal suara itu dan berkumpul.
"Sebenarnya kemana dia pergi?," tanya Zavas dalam hati "apa dia tidak mendengarkan perintahku, atau tidak mengerti. akan aku buat dia mengerti?"
...----------------...