My Bossy

My Bossy
05. Pria di kedai kopi



Seorang wanita yang cantik tepat di hadapanku. aku tidak tahu dia siapa, darimana, tujuannya apa yang aku tahu Rasen telah menghancurkan kesempatan terakhirnya. asisten pribadi Rasen mengejar Natya berusaha mencegahnya agar tidak masuk ke kamar Rasen namun amarah Natya membuat asisten Rasen kewalahan menghadapinya dan dia memaksa untuk masuk apalagi amarahnya terlihat semakin memuncak ketika dia melihatku.


Malam itu tepat jam 21.00 Rasen dengan keluarga Natya akan mengadakan pertemuan keluarga tepat pukul 20.30 Rasen berjanji akan menjemput Natya di apartment nya. Namun entah apa yang dipikirkan Rasen dia juga membuat janji denganku sedangkan aku tidak mengetahui tentang perjodohan Rasen dengan Natya aku dibuat bingung dengan keadaan ini.


" Ohh...jadi gara-gara wanita ini kamu telat menjemput ku, siapa dia?" Natya menghampiriku dan memandangku sinis. Rasen menyuruh asisten pribadinya pergi, dan mereka pun pergi.


" Natya, kan aku sudah bilang tunggu aku pukul 20.30, sedangkan ini baru pukul 20.00" Jawab Rasen kesal


" Tapi aku kangen, Rasen " Natya memeluk Rasen dengan sedikit menggodanya.


" permisi, aku pulang!! " tanpa pikir panjang aku pergi dan mengambil tas ku. aku tahu saat itu kaki ku terluka oleh pecahan gelas namun aku tidak menghiraukannya aku pun berjalan melewati Rasen.


" Cha, tunggu cha aku jelasin dulu " Rasen mencoba melepaskan pelukan Natya dan mencoba mengejar ku. Rasen menarik tanganku tepat depan pintu.


" apa lagi yang harus kamu jelaskan, ini kesempatan terakhir kamu dan aku tidak butuh lagi penjelasan dari kamu" jawabku marah namun air mataku tidak bisa aku tahan.


" Tapi Varsha, kamu salah paham " Rasen berusaha menutupi kesalahannya dana mencoba memegang tanganku.


" Cukup, aku bilang Cukup!!!" aku menolak pegangan tangannya lalu pergi.


Namun di balik pintu kamar ternyata Natya mendengarkan percakapan kita dan menelepon seseorang.


" Tolong, kamu cari tahu wanita yang bernama Varsha" perintah Natya cukup tegas.


Rasen kembali ke kamar nya dan tidak mengejar ku karena aku tahu itu tidak mungkin.


" Maaf sayang, kalau malam ini aku mengganggu waktumu" Natya memeluk Rasen dan bersikap manja kepada Rasen.


" Gak apa-apa sayang, tadi itu cuman ada meeting kecil kok dengan rekan bisnis. aku siap-siap dulu yah, kita pergi sekarang" Rasen pun berusaha bersikap manis agar rencana balas dendamnya tidak gagal.


Pertemuan Rasen dan keluarga Natya berjalan dengan baik dan mereka akan bertunangan dalam waktu dekat ini.


...---------------...


Aku pulang dan berhenti disebuah kedai kopi dan memesan secangkir kopi hangat dan kudapan kecil, aku duduk di bangku dekat jendela dan malam ini lagi - lagi hujan. aku menghela nafas dan berkata kepada diriku sendiri " ternyata aku bodoh " aku pun tersenyum seakan penghianatan ini sudah biasa aku alami dan tidak menggores hatiku entah sejak kapan hatiku menjadi kuat.


" Aww.." aku baru sadar ternyata luka di kaki ku belum diobati aku mengelap darahnya dengan tisue.


" ah..sudahlah nanti di rumah saja aku obati" tiba - tiba handphoneku berbunyi ternyata pak Yudha. dia menyuruhku besok untuk datang ke kantor pagi sekali karena ada hal yang harus di bicarakan mengenai dekorasi untuk acara kantor aku menutup telephon nya dan menikmati kopi ku. namun ternyata ada seseorang yang dari tadi memperhatikan ku dan menghampiriku.


" Hai..boleh kah aku duduk disini " seorang pria yang cukup tampan dan dia tersenyum kepadaku.


" Oh..hai boleh " jawabku dia pun duduk di kursi tepat di depanku.


" Namaku Keenan " dia menjulurkan tangannya dan memperkenalkan nama nya.


" Maaf, aku perhatikan kaki kamu terluka dan aku rasa lukanya cukup dalam, kalau dibiarkan takutnya infeksi " ternyata dari tadi melihatku


" Oh gak apa-apa aku bisa obati nanti sesampainya di rumah " jawabku


" Kalau boleh aku bisa obati, setidaknya untuk menutupi luka agar tidak terkena bakteri dan debu " dia membuka tas nya dan isinya semua alat-alat pertolongan pertama. tanpa mendengar persetujuanku dia langsung memegang kaki ku, membersihkan lukaku dan membalutnya. aku sedikit canggung saat itu kenapa dia bisa begitu baik bahkan kami baru saja kenal.


" sudah selesai, lukanya terkena pecahan kaca yah..soalnya tadi ada serpihan kaca namun aku udah bersihin kok " dia membereskan alat- alat nya.


" Oh terima kasih Keenan, maaf merepotkan bahkan kami baru saja kenal, kalau boleh tau kenapa anda membawa alat-alat medis?" tanyaku


" Oh..kebetulan aku seorang dokter di klinik sebrang jalan sana. aku hampir setiap malam datang ke kedai kopi ini " tanpa terasa kami melalui malam ini dengan mengobrol bersama menceritakan tentang profesi kami masing-masing, saling bertukar no handphone.


" Saya rasa ini sudah malam, mungkin sampai disini aja cerita kita, kita bisa lanjut kapan-kapan lagi yah Keen aku takut taxi gak ada kalo kemalaman, Maaf" aku tersenyum dan menyesal karena harus pulang.


" Oh..tentu gak apa-apa, Rasanya nyaman ngobrol sama kamu, harus sering nihh kita ketemu sekalian aja aku anter pulang yahh, gak keberatan kan?"


" Gak usah, aku bisa pulang sendiri kok "


jawabku


" Tapi aku takut ada apa-apa, lagian ini udah malam dan kamu cewe " akhirnya kami pulang bersama malam ini, kami pun pulang dan berjalan bersama menuju parkiran. kami masuk ke dalam mobil dan menuju rumahku sampai pada akhirnya.


" Seharusnya malam ini saya ada acara sih, tapi saya rasa lebih baik nongkrong di kedai " wajahnya terlihat murung


" Lho kenapa, emangnya ada acara apa?" aku bertanya


" Keluargaku mengadakan pertemuan dengan keluarga calon suami adikku, dia akan bertunangan dalam waktu dekat ini" jawabnya pandangan matanya terlihat sedih


" Adik mu akan tunangan, tapi kenapa kok kamu kelihatan sedih " tanya ku bingung


" Adikku tepatnya adik tiri ku , aku rasa dia belum cukup siap untuk membina rumah tangga, dia sangat keras kepala, egois, licik dan jahat sifatnya menurun dari ayahku walaupun dia bukan anak kandungnya namun di besarkan oleh ayahku dan aku tidak cukup suka dengan calon suaminya, aku tahu mereka hanya mengejar harta kekayaan keluarga kami saja dan aku tidak peduli dengan itu, semenjak aku kuliah dan mengambil jurusan kedokteran seakan ada dinding antara aku dan ayah " dia menceritakan semuanya tanpa ada privasi sedikit pun mulai dari kehidupan kecilnya, masalah ibunya, dan keluarganya.


" kalau boleh tahu siapa nama adikmu dan calon suaminya?" aku menanyakan seseorang yang sebenarnya dari tadi aku ingin tanyakan.


" Natya Lesham dan calon suaminya Rasendriya aku lupa nama lengkapnya " betapa terkejutnya aku ternyata dia adalah Keenan Lesham aku terdiam tanpa sepatah katapun.


" Kenapa, kamu mengenalnya? " tanya Keenan.


" Oh..gak cuman sering dengar saja " aku berusaha berbohong karena aku takut Keenan semakin membenci Rasen yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya.


pertemuan tadi membuat aku lupa akan rasa kecewa yang Rasen berikan. Aku akan berusaha melupakan Rasen tapi aku lupa kami masih terikat kontrak kerja dan itu akan cukup lama.


...----------------...