
💞💞💞
Matahari pagi mulai menampakan sinarnya terdengar suara handphoneku berbunyi.
'Triing..tring' (Zavas calling)
"Selamat pagi sayang!"
"Selamat pagi juga"
"Maaf ternyata pagi ini aku tidak bisa pulang mungkin nanti siang aku akan menjemputmu"
"Iya gak apa-apa, selesaikan saja pekerjaan kamu dan hati-hati"
"Ok! kamu segera sarapan nanti aku kabarin lagi, i love you"
"Love you to"
Begitulah percakapan kami di pagi ini, aku bergegas mandi dan siap-siap untuk sarapan. aku berdandan seperti biasanya mungkin menurut orang-orang aku terkenal sexy dan rapih namun begitulah caraku berpakaian.
Waktu menunjukan pukul 08.00 dan aku sarapan sendiri.
"Bosan juga yah kalau dikamar terus, tidak apa-apa mungkin yah kalau aku jalan-jalan sebentar, sambil menunggu Zavas kembali"
Aku memutuskan untuk jalan-jalan sebentar dan memilih accecories khas buatan tangan disana, tidak sedikit aku berintaksi dengan penduduk asli disana.
"Mas tolong air kelapa satu yah,?" pintaku kepada salah satu pelayan cafe dan yang aku tahu air kelapa disini sangat lezat dan segar "aku disebelah sana yah" aku menunjukan tempat duduk dipinggir pantai.
Aku duduk sambil menyelonjorkan kaki ku.
"Hahh.." aku menghela nafas.
"Kapan yah aku terakhir liburan?" gumam ku.
"Permisi nona ini es kelapanya" sahut pelayan.
"Terima kasih ya mas"
"Sama-sama"
Disaat aku sedang menikmati suasana nyaman dan tenang tiba-tiba ada seseorang menghampiriku.
"Dengan nona Varsha?"
"Iya, eh Keenan kirain siapa,?" tanyaku terkejut ketika melihat Keenan ada di daerah yang sama denganku "Sedang apa kamu disini?" tanyaku kembali.
"Aku hanya sedang berjalan-jalan saja eh tanpa sengaja melihatmu disini tadinya aku kira bukan kamu, sedang ngapain kamu disini dan sedang apa?" aku menceritakan semuanya dari awal aku diculik dan di sekap.
"Dasar Rasen itu sudah gila yah padahal dia mau nikah"
"Iya, kalau tidak salah hari ini resepsinya"
"Sekarang?" tanya Keenan.
"Kenapa kok kamu kaget begitu"
"Setahuku dua bulan lagi, kenapa kok kamu tahunya besok yah?"
"Entahlah dia mengundangku dan Zavas hari ini"
"Sudahlah kita lupakan saja, lagian kita tidak peduli kan dengan mereka"
Aku dan Keenan seperti biasa berbincang dengan akrab dan dekat ketawaku kembali pecah, sungguh hanya dia yang membuat aku kembali menemukan diriku dan bukan orang lain.
"Varsha, kali ini kau mau ngomong serius sama kamu" raut wajah Keenan berubah
"Apa, nanti ujung-ujungnya kamu becanda lagi, tahu ah"
"Serius, ok begini.." belum sampai Keenan menyelesaikan pembicaraanya tiba-tiba bodyguard Zavas datang.
"Maaf nyonya kami mengganggu waktunya, tuan sudah menunggu didalam mobil" sahutnya.
"Apa nyonya?" tanya Keenan.
"Nanti aku jelaskan, sekarang aku pergi dulu terima kasih yah Ken. see you"
"Ok see you!" Keenan tertegun ketika mendengar panggilan itu, raut wajahnya yang sedih dan kecewa terlihat jelas.
"Keenan kenapa yah?" tanyaku dalam hati.
Aku masuk kedalam mobil dan disana sudah ada Zavas.
"Bagaimana dengan jalan-jalannya sayang? tanya Zavas sambil tersenyum.
"Begitulah, kok kamu tahu aku ada disana?"
"Masa iya aku tidak bisa menemukanmu ditempat ini, lagian kamu kenapa tidak membawa handphone?"
"Oh iya aku lupa, maaf yah"
"Iya tidak apa-apa cuman jangan diulangi lagi yah," ucap Zavas "jalan Ran" Zavas kali ini membawa Randy karena aku tahu dia sangat lelah keheningan di mobil pun tidak bisa aku hindari terlebih lagi raut wajah Zavas sangat tidak enak untuk dilihat.
"Lho, kenapa kita melewati hotelnya kita mau kemana?"
"Kita langsung pergi saja ini sudah siang lagian aku tidak mau kalau kita kemalaman lagi dijalan"
"Iya tapi barang-barang ku"
"Jangan khawatir barang-barang kamu sudah kau kemas, ini handphone kamu"
"Oh iya terima kasih"
"Kamu kenapa?" tanyaku.
"Tidak apa-apa, kamu jangan khawatir"
"Tidak apa-apa bagaimana kami dari tadi hanya diam"
"Ran, tolong hentikan sebentar mobilnya," Randy menghentikan mobilnya dan menepi "Kamu bisa keluar dulu sebentar Ran?" Randy pun keluar dan nampaknya Zavas ingin membicarakan hal yang serius denganku.
"Tadi siapa?" tanya Zavas. pertanyaan Zavas sangat membuatku bingung.
"Siapa, yang mana?"
"Cowok yang mengobrol denganmu di pantai, siapa?"
"Oh..itu Keenan dia kakak tiri Natya," jawabku seperti biasa "kenapa?"
"Tidak, hanya saja aku tidak suka kamu dekat pria lain selain aku"
"Dia hanya teman jangan terlalu berlebihan"
"Tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan, jika kamu ingin dia baik-baik saja kamu dengarkan ucapan ku"
"Maksudnya, kamu cemburu?"
"Dengarkan saja aku," Zavas memanggil Randy untuk masuk dan melanjutkan perjalanan kita.
Aku semakin tidak mengerti dengan sisi lain kehidupan Zavas, dia terlalu banyak rahasia dan misteri untukku. sesampainya ditempat ternyata Zavas membawaku kerumah orang tua ku disana aku semakin kaget.
"Kenapa kamu membawaku kesini?"
"Apa kamu tidak rindu dengan orang tuamu?"
"Aku rindu tapi kenapa kamu tahu rumahku dan membawaku kesini?"
"Lebih baik kita keluar dulu"
Zavas mencoba membunyikan bel rumah, hatiku berdebar tapi yang lebih mengaggetkan ternyata Zavas telah akrab dengan keluargaku terlihat ketika Divya menyambutnya dan memeluknya.
"Kak Zavas...." sambut Divya. Divya sangat terkejut melihatku, air mataku berlinang ketika melihat Divya.
"Kakak..kak" Divya menangis di pelukanku.
"Divya apa kabar, kamu tidak nakal kan?"
Tangisan kami terdengar oleh mama dan papah sehingga mereka turun dari atas.
"Ada ap..Varsha," mama memelukku sangat erat "apa kabar sayang, mama sangat rindu terhadapmu, bagaimana keadaanmu?" aku tidak sanggup menjawab pertanyaan mama hanya tangisan rindu yang menjawabnya.
"Pa..pah" tanpa disangka papa memelukku dan menangis hari itu, seorang papah yang mempunyai watak dan sifat yang keras akhirnya bisa menangis.
"Maafkan papah yah nak..! papah sudah mendengar semua cerita kamu, maafkan papah sudah membuat kamu menderita"
Suasana hari itu sangat mengharu biru, kami tumpahkan semua rasa kangen dan rindu kami bersama.
"Ah maaf tante dan keluarga melupakan nak Zavas, lebih baik kita masuk kedalam sambil minum teh"
Kami mengobrol bersama dan bercengkrama biasa, keluargaku sangat dekat dengan Zavas sehingga membuatku banyak pertanyaan.
"Tunggu, sejak kapan Zavas sangat akrab dengan keluarga kita mam, kok aku tidak tahu sama sekali"
"Ternyata Zavas merahasiakan semuanya?" tanya papah.
"Iya om, aku takut kalau Varsha salah menilaiku"
"Maksudnya?" tanyaku. Zavas menceritakan semuanya
"Aku mengetahui alamat rumahku ketika kamu mengalami kecelakaan ketika orang tuamu berkunjung ke rumah sakit, aku mengerahkan semua anak buahku untuk mencari alamat orang tuamu, bahkan aku tahu Keenan, aku melihatnya ketika kamu sedang ngobrol di taman rumah sakit, masa iya kamu lupa" (cek episode 18)
"Iya aku ingat, tapi aku tidak melihatmu saat itu"
"Iya aku hendak menghampirimu namun ada telephone dan ternyata anak buahku menemukan alamat orang tua kamu, pada akhirnya aku langsung menuju kesini dan sering berkunjung juga"
Kami melanjutkan obrolan kami dan makan malam bersama, malam semakin larut aku, Zavas dan semua keluargakku sedang menikmati kudapan yang ibu sediakan.
"Oh iya, mumpung suasana hari ini sangat baik, begini aku ingin meminta izin dan restu kepada om dan tante"
"Apa itu nak?" tanya mamaku dan membuat bertanya-tanya semuanya.
"Apakah boleh kalau aku ingin menjalin hubungan yang serius dengan Varsha?"
"Maksudnya?" tanyaku.
"Aku menunggu jawabnya om tante?" Zavas menghiraukan pertanyaan ku.
"Om dan tante tidak keberatan jika kalian ingin menjalin hubungan ini, tapi apakah kamu bisa menerima Varsha dengan masa lalu yang kelam?"
"Apapun itu aku bisa menerima Varsha apa adanya, aku sudah banyak mengenalnya om"
"Jadi kalau begitu om dan tante merestui hubungan kalian" Zavas tersenyum lebar dan kemudian Zavas berlutut dihadapanku.
"Maukah kau menjadi istriku?" aku sangat kaget dan terharu pada malam itu ternyata masih ada yang menginginkanku, tanpa pikir panjang aku menerimanya.
"Ya aku mau" Zavas bangun dan memelukku.
Aku yakin ini akan menjadi kehidupan baruku. hubungan keluarga dan percintaan ku kembali normal.
"Kisahku akan berakhir bahagia" ucapku dalam hati.
...----------------...