
🌥️🌥️🌥️🌥️🌥️
Pagi itu Arya, Jesna, dan aku melakukan permintaan kepada pak Yudha agar bisa memindahkan team kami ke kantor pusat.
" Mungkin mudah saja bagiku untuk memindahkan kalian ke kantor pusat, tapi saya juga harus tahu dulu kenapa kalian ingin pindah ke kantor pusat? " ucap pak Yudha sambil menatap mata kami.
" Kalian bisa kembali ke ruangan, biar saya yang bicara ke pak Yudha " sahutku. Arya dan Jesna pergi dan meninggalkan ku dan pak Yudha berdua.
" Begini pak, mungkin aku akan menganggap bapak kali ini sebagai paman Rasen bukan atasan saya "
" Ok! tapi ada apa Cha? "
" Jadi begini..aku hamil dan yang ada dalam kandunganku anaknya Rasen " kataku sambil menunduk. tiba-tiba pak Yudha berdiri dan kaget mendengar penjelasan ku.
" Apa? kenapa jadi begini, sepulangnya Rasen dari London aku menyuruhnya untuk memilih antara kamu dan Natya aku rasa Rasen memilihmu "
" Aku dan Rasen sudah berusaha menemui kedua orang tuanya namun yang ada hanya penghinaan yang aku dapatkan dari ayahnya " jawabku. suaraku bergetar bersamaan dengan jatuhnya air mataku.
" Kamu sudah mencoba berbicara dengan Rasen? " tanya pak Yudha bingung.
" Aku tidak akan pernah menceritakan kehamilanku kepada Rasen aku tahu akibatnya mungkin Natya tidak akan tinggal diam dan itu akan membahayakan aku dan juga anakku "
" Terus kenapa kamu meminta pindah ke kantor pusat? "
" Aku di usir dari rumahku pak dan aku tidak mau aib ku menyebar di sini, setidaknya di sana aku tidak mengenal banyak orang mereka tidak akan pernah tahu latar belakangku dan satu hal lagi tolong rahasiakan kehamilanku dari yang lain termasuk Rasen pak. aku mohon ? "
" Ok, demi kebaikanmu aku akan mengurus kepindahan mu, Arya dan Jesna tapi aku tidak bisa memindahkan Fika dan pak Roni karena mereka juga dibutuhkan disini "
" Iya pak, nanti aku mencoba meminta pengertian dari Fika dan pak Roni memang berat tapi aku tidak bisa apa-apa "
Siang harinya pak Yudha memberi kami kabar bahwa dia berhasil mengurus kepindahan kami. aku pun mengucapkan salam perpisahan.
" Fika dan pak Roni, saya mengucapkan beribu terima kasih atas kerja samanya selama ini saya tahu kalian sangat bisa diandalkan dan beribu maaf saya ucapkan kepada kalian karena kesalahanku kalian jadi terpecah. sekali lagi maafkan aku " aku menundukkan kepalaku dan menangis atas penyesalanku semua menghampiriku dan memelukku.
" Oh! Tidak!! kami bangga kepadamu sungguh. sehat-sehat di sana yah kabari kami jika bayimu lahir " jawab Fika sembari menenangkan ku.
Hari ini hari terakhir kami berada di PT. High Design 2 dan hari esok kita harus sudah berada di PT. High Design 1 yang berada jauh dari kota B membutuhkan waktu tiga jam perjalanan untuk menuju kota S atau PT. High Design 1.
Team ku mengadakan acara perpisahan di cafe biasa, kami tertawa dan menangis bersama tidak lupa istri pak Roni dan juga anaknya hadir. malam ini sungguh tidak akan pernah aku lupakan dalam hidupku.
" Hai..Cha. kamu disini? " ternyata Keenan juga kebetulan ada di cafe tersebut dan aku mengenalkan ke semuanya sekalian aku berpamitan namun tanpa disangka
PT. High Design 1 dekat dengan rumahnya.
" Kebetulan dekat dengan rumahku, jika tidak keberatan kamu dan yang lainnya bisa tinggal di rumahku. tenang itu bukan milik ayahku rumah itu punya ibuku dan sekarang ibuku tinggal di Singapore daripada kosong lebih baik kamu tempati "
" Ah tidak enak bagaimana jika nanti ibumu pulang dan rumahnya sedang ditempati kami? " tanyaku.
" Tidak apa-apa, pasti ibu senang jadi banyak teman " kami menyetujuinya dan Keenan belum mengetahui kalau aku sedang hamil. hingga tiba saatnya malam itu kami semua pulang hanya tinggal aku, Arya, Jesna dan Keenan tiba-tiba perutku sakit hebat aku merintih dan hampir terjatuh.
" Argghh!!! aduhhh " aku memegang perutku. dengan refleks Keenan menahan ku.
" Kamu kenapa? " tanya Keenan.
" Cha..?? ". teriakan Jesna.
Dengan sigap Keenan dan Arya menggendongku dan membawaku kedalam mobilnya dan melaju sangat cepat menuju Rumah sakit. setibanya di ruangan IGD Keenan langung memanggil dokter tidak lain dia masih temanya.
" Dok, dok " dokter dan suster langsung memeriksaku dengan sigap, setelah selesai memeriksa dokter menjelaskan kepada Keenan kalau kehamilanku lemah dan menyuruhku untuk istirahat, jangan stres, dan jangan terlalu capek. Keenan kaget saat itu karena dia tahu kalau aku belum menikah.
Setelah semuanya selesai aku menjelaskan semuanya kepada Keenan dia sangat marah atas tingkah Rasen namun aku meredamnya kalau dalam hal ini dia juga salah.
" Jadi ini alasanmu kenapa pindah kerja? " tanya Keenan.
Keesokan harinya Jesna, Arya, dan aku siap-siap untuk pergi. Kami pergi menggunakan mobil masing-masing karena aku yakin pasti mobil sangat dibutuhkan terlebih lagi aku sedang hamil namun dalam perjalanan kami menghentikan mobilku dan beristirahat sejenak disebuah pantai, aku pun keluar dari mobil dan melihat pemandangan.
" Indah..semoga kehidupaku juga akan indah seperti pemandangan ini " lirihku dalam hati.
" Cha, loe yakin kalau kita akan pergi meninggalkan kota ini? " tanya Arya.
" Yakin, terus gue harus bertahan dikota ini sedangkan keluarga gue pun udah gak mau nerima gue " jawabku sangat sedih.
" Loe udah dapat kabar darri Rasen? " tanya Arya.
" Sebenarnya dia selalu ngehubungi gue tapi gue rasa sia-sia, sudahlah kita lanjutkan lagi perjalanan kita masih jauh juga kan? " kami pun kembali melanjutkan perjalan kita dan waktu yang harus ditempuh sekitar dua jam lagi.
Sesampainya di kota S kami disambut oleh asisten rumah tangga ibunya Keenan.
" Selamat datang! " sambutnya. Keenan sudah bercerita bahwa kami akan datang dan tinggal di tempatnya.
" Hai, kami temannya Keenan " kami mengenalkan diri kami masing-masing. asisten rumah tangga itu bernama Sari dia sudah bekerja cukup lama di kediaman ibu Keenan dan dia sangat baik.
kami pun beristirahat untuk memulai bekerja di tempat kami yang baru besok.
Keesokan harinya
" Perkenalkan nama aku Geya Varsha dan ini team ku Jesna dan Arya kami karyawan dari perusahaan cabang dalam program perpindahan karyawan kami dari bagian Design Interior " kami melakukan perkenalan di hadapan semua karyawan yang lainya.
" Hai, selamat datang. semoga kalian bisa bekerja nyaman disini " semua sangat ramah tak seburuk yang kami bayangkan.
" Kami mohon bantuannya dan kerja samanya, terlebih lagi kami baru disini " ucap Jesna penuh dengan rasa hormat. kami melakukan perkenalan lingkungan kantor dan perkenalan karyawan pada akhirnya kami menuju ruangan kami.
Pak yudha menelepon
* Tring..tring *
" Cha kamu harus segera pergi ke ruangan CEO, kamu harus banyak mengenal dia karena nanti kamu pasti sering berhubungan dengan dia " ucap pak Yudha.
" Ok!! saya akan langsung menemui CEO untuk laporan kedatangan kami " aku langsung menutup telepon dan bergegas ke ruangan ' My Bossy ' .
" Cha loe mau ke ruangan CEO? " tanya Jesna.
" Iya emang kenapa? "
" Hati-hati yah katanya sih dia sangat kejam dan dingin terhadap karyawannya dan lagi dia sangat angkuh" ucap Jesna yang sedikit mengkhawatirkanku.
" Ok! tenang aja sekalian gue pengen tahu dia seperti apa " jawabku sembari membawa berkas yang harus diberikan titipan dari pak Yudha.
Tanpa ada rasa cemas aku langsung menuju ruangan sang CEO dengan sangat percaya diri.
* Tok..tok *
" Iya masuk " aku pun langsung masuk ketika dia menyuruhku.
" Selamat pagi pak, aku Geya Varsha dari bagian Design Interior dan ini laporan yang aku siapkan dari perusahaan cabang " alih-alih menyambutku dan melihat laporan ku dia malah langsung memberiku pertanyaan mengejutkan.
" Apakah seorang ibu hamil bisa bekerja dengan baik tanpa banyak mengambil cuti dan mengeluh, apakah seorang ibu hamil bisa bekerja dibawah tekanan. jika kamu tidak yakin bisa bekerja disini lebih baik kamu kembali ke kantor cabang atau resign saja " dia langsung menatap mataku yang dari tadi fokus terhadap laptopnya. pandangannya sangat tajam dan menusuk.
" Tidak, aku akan bekerja keras pak!! " jawabku sedikit gugup.
Aku kira ini akan menjadi akhir dari kehidupan menyedihkan ku namun ternyata ini awal dari cerita kehidupanku.
...----------------...