
ββββ
πΆπΆπΆπΆ
Liburan di Bali benar benar sudah berakhir, terus apa yang harus aku lakukan dengan kehamilan ku sesampainya di sana. semua sahabatku disini menguatkan ku dan mereka memberiku saran agar memberi tahu keluargaku tentang kehamilannya karena semakin hari pasti perutku membesar. sesampainya di rumah langkahku terhenti seakan kaku.
" Kak...!! " sambut adikku. dia berlari dan memelukku aku pun kembali memeluk adikku dengan sangat erat air mataku sedikit menetes.
" Kakak kenapa kok nangis? kakak sakit ? " Divya menatap mataku.
" Gak kenapa-kenapa, kakak cuman kangen aja kok " aku pun masuk ke rumah dan mencoba berbaur seperti biasa.
" Kakak udah pulang? gimana liburannya ? " tanya nenek yang sedang duduk di meja makan sembari memetik sayuran.
" Biasa aja sih nek, tidak ada yang spesial " jawabku sembari mengeluarkan senyumku.
" Cha, mandi dulu!! sebentar lagi kita makan " ucap mama. aku langsung menghampiri mama dan berbisik.
" Mam, papah mana? " tanyaku
" Tumben nanyain papah, ada apa? "
" Gak sih, ada yang harus Varsha omongin " jawabku sedikit takut.
" Kalau mau ngomong sama papah nanti aja malam, ada apa sihh kok kayaknya penting, kamu kenapa? " tanya mamah sembari menatapku penasaran.
" Gak apa-apa, ya udah aku mandi dulu " aku pun langsung pergi ke kamarku. nenek yang curiga denganku langsung ngobrol bersama mamah.
" Tam, mamah mau ngobrol sebentar " ucap nenek. mamaku bernama utami yang sekarang berusia 47 tahun.
" iya bu sebentar " mamaku langsung mematikan kompornya dan duduk di samping nenek di meja makan.
" Gini lho ibu gak ada maksud apa-apa, cuman kok ibu lihat Varsha kaya yang lagi hamil, ibu perhatikan sebelum dia pergi ke Bali makan nya kadang banyak kadang juga gk ada nafsu makan dan selalu bilang pusing, mual. coba kamu tanya dulu sebelum papanya tahu " ucap nenek.
" Mungkin kecapean bu, Tapi tadi dia bilang mau ngomong sama papanya. apa jangan-jangan? " raut wajah mama berubah seketika dan nenek mulai gelisah. mama langsung naik ke atas dan menuju kamarku.
*Tok..tok..tok*
*Cklek*
Mama membuka pintuku. aku termenung di jendela dan bingung apa yang harus aku lakukan pikiranku tiba-tiba kosong, aku yang selalu semangat dan ceria seakan gugur kali ini.
" Cha, Varsha.." mama masuk ke kamarku dengan wajah yang penuh tanya.
" Iya mam, ada apa? " sahutku.
" Kamu kenapa, ada masalah? " tanya mama sedikit khawatir dam kemudian dia duduk di tempat tidurku.
" Mam, bukankah selama ini aku sudah membuat mama bangga? "
" Oh tentu mama cukup bangga dari mulai kamu lahir sampai sebesar ini " jawaban mama membuatku sedikit tenang.
" Mam, bagaimana jika kali ini aku membuat kesalahan besar yang mungkin tidak akan pernah di maafkan?"
" Ada apa cha, coba cerita yu ke mama apapun masalah kamu pasti mama bantu. sekali pun mama harus mempertaruhkan diri mama, mama akan selalu ada di sisi kamu " ucapan mama sangat menenangkan, mama memelukku yang sepertinya sudah menyadari kalau aku sedang hamil.
Air mataku kembali tidak terbendung, tangisanku terdengar sangat pilu pelukan mama saat itu seperti pelukan terakhir bagiku.
" Nanti malam Varsha akan cerita, sekarang Varsha hanya ingin istirahat " mama meninggalkanku sendiri di kamar.
Malam itu semua berkumpul di ruangan tengah kecuali Divya adikku. cuaca malam itu hujan deras petir bergemuruh saling sahut. aku perlahan menuruni anak tangga perasaan yang campur aduk, mata yang sembab dan pucat aku pun duduk diantara mama dan nenek. papa ku yang berdiri tegap tanpa melihatku sedikitpun
" Apa yang telah kamu lakukan, jelaskan? " pertanyaan papa membuat hatiku bergetar.
" Maaf Pah, Varsha sudah mengecewakan kalian " jawabku. air mataku kembali mengalir di pipiku aku menggenggam kedua tanganku sangat erat.
" Jadi sebenarnya apa yang terjadi padamu, katakan? " mama mengusap-usap bahuku dan nenek yang sama menangis.
" Aku hamil..!! maafkan Varsha sungguh maafkan Varsha " ayah langsung berbalik terlihat sangat marah.
" Pah!! maafin Varsha " aku meraih kaki ayahku namun tendangan ayahku sangat keras dan membuat tubuhku terhempas ibuku yang menangis segera menghampiriku dan memelukku.
" Pah, Varsha sudah meminta maaf kita selesaikan secara baik-baik " mama mencoba membujuk papa.
" Diam kamu!!! sekarang bereskan barang mu dan tinggalkan rumah ini, siapa pun ayah dari bayi itu aku tidak akan pernah maafkan mu dan sampai saat ini aku tidak akan pernah menganggapmu anak sekarang pergi!!! " aku tahu papa akan melakukan ini.
" Hadi, kasian anakmu. bagaimana kehidupannya jika dia pergi dari sini " tangisan nenek sangat histeris.
" Aku gak peduli mulai saat ini dia bukan bagian dari keluarga ini, dia sudah mencoreng nama baik keluarga kita, sekarang cepat kamu bereskan barang mu dan pergi dari sini " papa pergi tanpa melihatku.
" Mam, nek Varsha bereskan barang dulu yah " aku pun naik ke kamarku dan nenek mengikuti ku sedangkan mama mengejar papa agar sedikit memberi pengertian kepadaku.
Aku segera naik dan membereskan barang-barang ku.
" Nek, maafin Varsha yah! nenek jaga kesehatan. nenek jangan khawatir Varsha bisa jaga diri kok " nenek tidak menjawab hanya melihatku dan mengusap-usap rambutku.
" Kakak, ada apa? " Divya langsung memelukku ternyata dia mendengar semuanya. tangisan Divya yang lirih membuat hatiku sangat sakit kami bertiga berpelukan.
" Please!! kakak jangan pergi dari rumah ini, Divya nanti dengan siapa? kak please "
Sementara itu mama dan papa sedang berdebat tentang diriku.
" Pah, apa gak ada cara lain selain mengusir anak kita. jangan mengambil keputusan disaat sedang marah pah "
" Tidak ada!! aku sudah bilang dia bukan lagi anak kita " teriak papa. bujukan mama ternyata tidak bisa menggoyahkan keputusan papa yang terkenal tegas.
Aku turun dari kamarku pelukan Divya yang dari tidak lepas membuatku semakin berat hati untuk pergi dari rumah ini.
" Pah, please beri kesempatan kepada Varsha. Varsha mohon Varsha gak mau meninggalkan Divya. pah please!! " bujuk ku sambil terduduk di lantai tangisanku kali ini pecah. papa tidak mendengarkan ku malah menyeret ku keluar.
" Cepat kamu keluar, dan pergi!! aku gak Sudi melihatmu dan bayimu ada disini " kata papa.
" Kakak!!! "
" Chaa, Varsha anakku " teriakan orang-orang yang aku sayangi terdengar jelas dan menyakitkan.
" Maafin Varsha pah!! " namun papa tetap menyeret ku keluar dan melempar koperku.
" Divya hanya jadi alasanmu saja dan satu hal lagi Divya bisa tumbuh dengan baik dia tidak akan menjadi seperti mu " papa langsung menutup dan membanting pintu tepat di wajahku. malam itu sepertinya adalah terakhir kalinya aku melihat mereka, aku menangis di halaman rumahku dan berpikir aku harus kemana.
" Mam, pah, nek, Divya. Varsha sungguh minta maaf dan satu hal lagi Varsha sangat sayang kalian " teriak ku.
guyuran hujan malam ini layaknya seperti air mataku, gemuruh petir malam ini layaknya seperti amarahku. aku pun pergi membawa koper dengan mobilku menuju rumah Jesna dia sudah menungguku dan ternyata ada Arya juga.
" Ya ampun Varsha apa yang sebenarnya terjadi?" Jesna yang melihatku basah kuyup langsung memberiku handuk.
" Kamu udah makan?" tanya Arya. aku hanya terdiam Jesna memberiku teh hangat setelah sedikit tenang aku menceritakan semua.
" Bagaimana karirku? kalau aku tidak bekerja bagaimana aku bisa bertahan dengan bayi ini? "
" Bagaimana kalau kamu cerita saja ke Rasen, Cha? " saran Jesna.
" Mungkin hidupku terancam lagian aku tidak ingin melihat Rasen lagi "
" Setahuku Pak Yudha pamannya Rasen, aku akan mencoba cerita ke Pak Yudha dan aku yakin Pak Yudha tidak akan memecat mu" ucap Arya.
" Aku harap Pak Yudha mengerti dan aku meminta agar kita dipindahkan ke kantor pusat dalam program pertukaran karyawan disitu kita bisa menutupi kehamilan mu " saran Arya terdengar masuk akal.
" Aku yakin di kantor pusat tidak akan ada yang mengenali latar belakang kita " sahut Jesna. aku setuju atas saran mereka.
" Terima kasih guys!! aku gak tahu bagaimana aku tanpa kalian, tapi nanti kalian pasti ikut pindah ke kantor pusat?"
" Kami gak apa-apa, nanti di sana kita rawat bayi ini sama-sama " jawab Jesna. Arya pun terlihat setuju kami pun berpelukan untuk saling menguatkan. dalam hatiku berkata
" Tuhan, aku sangat beruntung mempunyai sahabat seperti mereka dan jagalah keluarga ku di sana. mama, nenek, Divya, dan papa aku sayang kalian dan maafkan aku "
π₯π₯π₯π₯π₯
...----------------...