
🍒🍒🍒🍒🍒
Seharusnya kamu tidak pernah bertemu denganku agar kamu bisa bahagia namun jika takdir seharusnya memang harus mempertemukan kita kenapa jalanya harus seperti ini.
Rasendriya seorang anak konglomerat yang kini hatinya hancur melihat kekasih yang sangat dicintainya terluka, dan Rasendriya seorang pria tampan dan gagah kini hanya terkulai lemah tidak berdaya.
"Natya, gue minta sekarang loe ngomong ke keluarga besar kita kalau hubungan kita memang tidak bisa dilanjutkan ke jenjang pernikahan" suasana tegang di sebuah ruangan kerja yang terlihat bersih dan elegan.
"Jadi kamu datang jauh-jauh kesini hanya untuk membicarakan ini sayang, kenapa apa itu karena cewek sialan itu. hah?" ucap Natya. matanya menyorot tajam dan mata yang bergetar membuat Rasen semakin ingin memantapkan dirinya untuk meninggalkan Natya.
"Jaga mulutmu yah, Varsha itu lebih baik dari loe" sahut Rasen dengan menunjuk tepat di wajah Natya.
"Ops..maaf!! jika memang Varsha lebih baik daripada gue, mungkin tidak akan ada foto semacam ini" Natya memperlihatkan kebersamaan Varsha dan Keenan.
"Apa-apaan ini??" tanya Rasen. Natya menghampiri dan mendekati Rasen dan sedikit menggoda Rasen sambil memainkan dasinya.
"Sudah jelas bukan, sekarang loe sudah tidak berharga dalam kehidupan Varsha, jadi sekarang loe seutuhnya milik loe"
"Dia mengandung anak gue jadi tidak mungkin kalau dia ngelupain gue" sahut Rasen sambil tertawa namun Natya tertawa semakin kencang melebihi Rasen.
"Hahahaaaa...!!! anak loe gak tahu kalau dia sudah keguguran"
"Apa, maksud loe?" raut wajah Rasen tiba-tiba berubah dia mendorong tubuh Natya dan dihimpit di atas meja oleh tanga nya.
"Jangan bilang gara-gara kecelakaan itu dia kehilangan bayinya? jangan bilang loe melakukan itu untuk membunuh Varsha dan juga bayinya?" teriak Rasen dia terus mencekik Natya. Natya tidak menjawab namun ketika terdengar kegaduhan tiba-tiba bodyguard Natya masuk dan melerai mereka berdua.
"Lepasin gue...lepasin gue sia**an!" Rasen meronta dan mencoba melepaskan diri dari genggaman bodyguard.
"Sudah lepaskan, sekarang loe pergi sebelum loe dihancurkan diruangan ini. pergi!!!" perintah Natya.
"Awas loe yah..!!" Rasen pergi meninggalkan Natya begitupun bodyguardnya.
"Cowok gila" umpat Natya sambil mengusap-usap lehernya.
Sementara itu disebuah mobil sedan mewah berwarna hitam Zavas dan aku sedang duduk berdua di jok mobil bagian depan mereka terdiam tanpa satu patah katapun. namun tiba-tiba,
'Ckittt....' Zavas menginjak rem dengan sangat kuat.
"Sialan, siapa yang sengaja menghalangi jalanku" seru Zavas, dan dengan cepat bodyguard Zavas menghampiri mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya.
"Mana bos kalian??" dan ternyata itu adalah Rasen. Zavas pun keluar matanya yang tajam menusuk, dan alis yang mengkerut memperlihatkan kalau dia sangat marah.
"Ada apa?" sahut Zavas.
"Mana Varsha, gue perlu ngomong sama dia?" Rasen melangkah menuju mobil Zavas namun dihadang oleh Zavas sendiri.
"Lebih baik loe gak usah temuin dia lagi" sambil mencengkram kerah baju Rasen.
"Apa alasan loe, hah?" Rasen pun mendorong Zavas namun Zavas terlihat santai dengan semuanya.
"Ambilkan aku data yang kemarin!!" suruh Zavas kepada salah satu asisten pribadinya, tidak lama kemudian asisten pribadinya Zavas membawa sebuah amplop coklat. Zavas pun memperlihatkan sebuah foto dan tiba-tiba Rasen terdiam.
"Loe gak mau kan kalau Varsha semakin membenci loe gara-gara ini" bisik Zavas. Rasen terdiam, Zavas dan semua pengawalnya kembali kedalam mobil.
"Varsha, please cha! aku perlu ngomong satu kali saja, beri aku satu alasan kenapa kamu benci sama aku..." Rasen mengetuk kaca mobil, aku menghiraukan Rasen begitupun dengan Zavas, dia memacu mobil dengan sangat cepat.
Sesampainya di rumah Zavas akupun disambut oleh semua asisten rumah tangga Zavas.
"Selamat datang nyonya!" ucap semua asisten di rumah itu. Zavas berlalu begitu saja. bu Ella menghampiriku dan memelukku.
"Bu..panggil aku Varsha yah!" Bisik ku.
Bu Ella melepaskan pelukannya dan memapah ku menuju kamar. Sesampainya di kamar bu Ella segera mempersiapkan air hangat untuk mandi, dan baju untuk aku pakai.
"Nyonya aku sudah mempersiapkan semuanya, setelah itu lanjut makan siang kami tunggu di bawah. apa nyonya perlu bantuan ku untuk turun kebawah?" tanya bu Ella.
"Tidak usah bu! bu jangan panggil aku nyonya aku juga sama bekerja disini" perintahku untuk kesekian kalinya.
"Tidak nyonya! itu sudah perintah dari dulu, sebenarnya kami sangat terkejut ketika melihat nyonya kembali beberapa bulan yang lalu walaupun nyonya tidak kembali dengan nona Lilly" perkataan bu Ella membuatku bingung.
"Maksudnya? coba ibu jelaskan kepadaku secara rinci, siapa Lilly? datang kembali? maksudnya apa bu?" tanyaku bingung.
"Ah mungkin nyonya harus banyak istirahat untuk mengingatnya, tidak apa-apa nyonya sedikit-sedikit saja" ucap bu Ella yang mengkhawatirkan ku.
"Tidak,,aku tidak apa-apa tap..."
'Tok..tok..tok..' tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dan Zavas pun masuk.
"Saya permisi.." bu Ella pergi meninggalkan kami berdua.
"Apa kamu bisa melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan orang lain?" tanya Zavas.
"Bisa pak!" aku pun perlahan menuju kamar mandi, beberapa menit kemudian aku keluar dari kamar mandi dan terkejut ketika melihat Zavas ada di kamarku.
"Aaahhh..kenapa bapak tidak keluar?" teriakku.
"Apa masalahmu, ganti baju sana?"
"Aku akan ganti baju, tapi kamu keluar dulu"
"Kamu harus bisa membiasakan diri!!" perintah Zavas membuat aku bingung.
"Maksud bapak apa, aku semakin tidak mengerti. pokonya bapak cepat keluar.." aku menarik Zavas dari kamar.
"Ok ok...wait wait!! aku perlu bicara malam ini. aku tunggu kamu diruangan ku" aku tidak menjawabnya dan segera menutup pintu.
"Dasar laki-laki mesum" gumam ku.
Setelah selesai aku turun kebawah dengan menggunakan mini dress warna merah muda, rambut yang aku gerai, dan make up tipis yang memberikan kesan natural membuat semua orang dibawah terpana termasuk Zavas, dan betapa terkejutnya aku ketika melihat Jesna dan Arya juga hadir hari ini.
"Nyonya sangat cantik" seru salah satu asisten laki-laki Zavas yang bernama Randi, aku membalasnya dengan senyuman tipis. mata Zavas tiba-tiba menatap Randi dengan sorot mata yang penuh dengan cemburu dan Randi pun tiba-tiba tertunduk.
Zavas bangun menarik kursi dan menyuruhku untuk duduk di sampingnya.
"Tidak usah pak!" bisik ku.
"Sudah kamu diam saja" jawabnya yang sama berbisik. baru kali ini semua asisten berkumpul dan makan bersama satu meja, meja makan di rumah Zavas sangat besar sehingga tidak nyaman rasanya kalau hanya makan berdua.
"Selamat makan" ucap Zavas menandakan semua orang dipersilahkan untuk menyantap semua makanan.
"Selamat makan!!!" Sahut semua orang yang ada di sana.
"Hari ini seperti ada yang berbeda baik suasana dan tingkahnya. setelah dipikir-pikir dia baik,perhatian, dan juga manis. namun apakah ini???" gumam ku dalam hati.
...----------------...