My Bossy

My Bossy
37. Hadiah kecil



🥰🥰🥰🥰🥰


Semenjak Jesna menceritakan kehidupan Zavas dimasa lalu seakan potongan-potongan puzzle yang selama ini menjadi misteri perlahan-lahan terjawab.


Varsha yang sedang berbaring di ranjangnya terus saja memikirkan apa yang menjadi cerita dari Jesna.


"Ternyata benar Zavas selama ini menyembunyikan semuanya kepadaku, tapi jika dipikir-pikir Edrea kemana? kenapa dia menghilang begitu saja? apa mungkin??"


Tiba-tiba suara panggilan masuk di handphone Varsha mengagetkannya.


'Triing...triinggg' (Keenan memanggil)


"Oh iya Keenan aku lupa" Varsha langsung mengangkat panggilan dari Keenan.


"Iya Ken?"


"Apa kabar? kamu baik-baik saja kan?" tanya Keenan dengan nada suara yang lembut.


"Aku baik, bagaimana kabarmu? maaf aku belum sempat menghubungimu dan menanyakan kabar kamu setelah kejadian waktu itu"


"Iya tidak apa-apa, aku baik kok. aku dengar Zavas sedang diluar kota. apa kita bisa ketemu sebentar saja?"


"Aku mau aja tapi aku takut nanti Zavas salah paham lagi, kamu tahu sendiri bagaimana penjagaan di rumah Zavas?"


"Aku tahu tapi setidaknya sebentar saja sebelum aku pergi"


"Kamu akan pergi kemana?" tanya Varsha sedikit kaget.


"Aku di perintahkan pergi ke negara S disana ada rumah sakit baru yang butuh tenaga medis khususnya dokter bedah"


"Kamu akan kerja disana? dan menetap disana?"


"Tidak, mungkin hanya beberapa bulan saja disana kekurangan tenaga medis mereka butuh bantuan setelah bencana alam disana"


"Oh iya aku sempat dengar ceritanya, tapi kenapa harus kamu?" tanya Varsha.


"Aku pernah pelatihan disana dan aku mendapat nilai terbaik ya..jadi sebelum di rekomedasi kan aku sudah di rekrut duluan"


"Oh..jadi kapan kamu pergi?"


"Lusa"


"Ok, besok kita ketemu yah!"


"Benarkah?"


"Iya, besok aku hubungi kembali untuk tempat dan jam nya"


Begitulah obrolan Varsha dan Keenan berakhir. Sekitar pukul 03.00 dini hari Zavas telah kembali dan pulang menuju rumahnya.


"Randy kamu istirahat saja, sepertinya aku besok tidak akan ke kantor jadi kamu bisa istirahat"


"Baik tuan!"


Zavas mengeluarkan sebuah kotak kecil dan itu pasti hadiah untuk Varsha, Zavas mandi dan ganti baju.


"Apa dia akan suka?" tanyanya dalam hati. lebih baik aku simpan di meja kamarnya.


Zavas pergi menuju kamar Varsha tanpa mengetuk pintu Zavas langsung masuk.


"Ya ampun ini anak kenapa tidak dikunci sih"


Saat masuk ke kamarnya melihat Varsha sedang tertidur mengenakan baju tidurnya yang sexy dan sedikit menerawang, Zavas sangat kaget melihatnya, pandangannya berubah menjadi sayu dan pipinya menjadi merah merona.


"Dia malam ini sangat menggoda," gumamnya dalam hati. Zavas menyimpan hadiahnya dan menatap Varsha yang sedang tidur pulas "aku tidak tega untuk membangunkannya aku coba tidur saja di sampingnya" Zavas berbaring di ranjang yang sama dengan Varsha.


Varsha pun bergerak dan tidur menyamping berhadapan dengan Zavas dengan tidak sengaja Zavas melihat dua gunung kembar yang begitu bulat tepat dihadapannya, pipinya semakin memerah.


"Ya ampun sayang, kenapa kamu membuat hatiku goyah jangan sampai aku memakan mu malam ini" gumam Zavas tapi ternyata Zavas tidak goyah dia langsung menyelimuti Varsha.


Pagi pun tiba Varsha masih tetap tertidur di dada Zavas yang bidang, Zavas mengira Varsha akan marah ketika dia tepat disampingnya namun Varsha malah memeluk lembut Zavas sambil memejamkan matanya.


"Good morning sayang, kapan kamu pulang kok tiba-tiba ada di sampingku?"


'Chup' (Zavas mencium kening Varsha)


"Good morning, dini hari tadi aku baru sampai. oh iya aku punya sesuatu untukmu" Zavas membalas pelukan Varsha.


"Nanti saja aku masih ingin dipeluk sama kamu mas, aku kangen" ucap Varsha yang dari tadi masih memejamkan matanya.


"Kalau kangen coba tatap mataku"


Varsha membuka matanya dan mereka saling menatap satu sama lain dan morning kiss pun terjadi ciu**an mereka begitu bergairah rasa rindu yang menggebu terlihat jelas diantara mereka.


"Aku belum mandi lho mas"


"Mas aku siap-siap dulu yah mau mandi dan berangkat kerja"


"Kamu hari ini di izinkan libur dan akan menghabiskan waktu bersamaku"


"Gak bisa gitu mas, nanti gak enak sama karyawan yang lain"


"Ya udah ok tapi langsung pulang yah"


"Ok" Zavas keluar dari kamar Varsha.


Varsha bersiap-siap kerja tapi dia melupakan sesuatu.


"Ya ampun Keenan! aku lupa


bagaimana aku minta izinnya yah, Zavas pasti sangat marah. tapi aku coba dulu aja deh" Varsha turun dan sarapan bersama.


"Mas hari ini istirahat saja yah tidak usah ke kantor, tidak ada yang penting kan?"


"Iya hari ini aku mau main golf aja"


"Baguslah, oh iya mas aku mau minta izin boleh?" tanya Varsha ragu-ragu.


"Kemana?" Varsha meminta izin untuk pergi dengan Keenan dan menceritakan alasan kenapa dia harus bertemu dengannya tiba-tiba Zavas menghentikan makannya dan pergi ke atas.


"Yah..aku yakin dia marah lagi"


Namun tidak lama kemudian Zavas kembali turun dan memasangkan liontin di lehernya Varsha sambil berkata.


"Kamu lupa dengan hadiah yang aku berikan. apa kamu suka?"


"Ya ampun mas aku kaget, wahhh..cantik banget aku suka. terima kasih ya mas" mata Varsha berkaca-kaca dan memeluk Zavas.


"Kamu boleh pergi dengan Keenan tapi jangan pulang lebih dari jam 22.00 ajak supir juga yah"


"Benarkah, terima kasih sayang pokoknya aku akan menepati janjiku. aku pergi dulu yah" Varsha pun pergi dengan supir pribadinya menuju tempat kerja.


"Kalian cepat ikuti kemana nyonya pergi hari ini dan laporkan kepadaku" perintah Zavas.


"Baik tuan!!"


Sesampainya di kantor Varsha dikejutkan oleh kedatangan seseorang.


"Itu Natya yah? bukankah dia itu anak tiri yang beruntung?" (ramai-ramai)


"Iya cantik tapi katanya dia sedikit licik" (gumam semua orang yang berada di lobby)


"Hai Varsha, rasanya sudah lama tidak bertemu" sapa Natya.


"Hai" Varsha kaget melihat Natya dan Rasen yang tepat berada dihadapannya.


"Kenapa gugup begitu, kaget melihat kedatangan kami?" Varsha tiba-tiba berpikir untuk tidak takut kepada Natya.a


"Selamat datang di kantor kami, apa ada yang bisa kami bantu" ucap Varsha dengan kepercayaan diri penuh. Natya heran melihat sikap Varsha yang begitu berbeda.


"Kami hanya ingin perusahaan ini mendisgin rumah baru kami, rumah yang akan kami tempati setelah kita menikah" jawab Natya sedikit sombong Natya mengira Varsha akan terpropokasi dengan ucapannya karena Natya tahu kalau Varsha pernah menjadi bagian hidup dari Rasen.


"Dengan senang hati kami akan membantu untuk itu, tapi akan lebih baik ibu atau bapak bisa membicarakan mengenai hal ini dengan manager interior langsung jika kalian ingin menemuiku kalian salah dan tapi mungkin maksud anda lain. terima kasih permisi" Varsha berlalu saja melewati Natya.


Perkataan Varsha membuat Natya terpukul diam tanpa kata.


"Cha..Varsha" teriak Rasen memanggil Varsha.


"Diam disana atau akan aku laporkan semuanya kepada ayahku" bisik Natya sedikit kesal.


Varsha langsung menuju toilet untuk meredam emosinya.


"Arghhh..hanya membuat hariku buruk saja!" gumamnya sambil mencuci tangannya. Varsha berniat keluar dari toilet dan ingin kembali ke ruang kerjanya tapi Varsha mendengar ada yang membicarakannya.


"Hey, tahu gak kalau yang tadi bersama Natya itu calon suaminya"


"Tahulah kenapa memangnya?"


"Dia itu mantan dari kepala design interior dan katanya kemarin dia hamil mengandung anaknya laki-laki yang bersama Natya itu"


"Wah, benarkah? sungguh memalukan"


Varsha terdiam, kakinya tiba-tiba lemas, wajahnya pun pucat pasi.


"Darimana mereka mengetahui hal ini?"


...----------------...