
Rasen kembali dan tiba-tiba duduk dengan wajah muram. aku tidak tahu apa yang terjadi sehingga merubah moodnya seratus delapan puluh derajat dia terus memandangi handphone nya. aku pun menghampirinya dan duduk disampingnya namun bingung harus melakukan apa.
Rasen menatapku dan memelukku.
"aku minta maaf yah" sambil mengusap rambutku.
"iya, tapi kamu kenapa?" aku bertanya dan melepaskan pelukan rasen
"enggak, aku anter pulang yah, lagian ini udah malam" rasen pergi ke kamarnya dan mengambil sebuah jaket dan memakaikannya kepadaku.
"pakai ini biar gak dingin. yuk pulang" rasen mengantarkan ku pulang. dia tersenyum tapi aku tahu dia dihadapkan sebuah masalah. aku dan rasen berjalan keluar dan masuk ke dalam mobil ditengah perjalanan rasen tampak bingung dan marah. aku pun mencoba membuat rasen merasa nyaman.
"sen, kalo ada masalah boleh cerita agar hati kamu bisa tenang" aku memegang pundaknya. rasen pun mengusap-usap tanganku.
"aku gak kenapa-napa kok, kamu gak perlu khawatir yah sayang" dia kembali memanggilku sayang setelah sekian lama. sungguh aku sangat mencintainya rasa ini ternyata belum hilang.
...----------------...
sesampainya di rumah setelah berpamitan rasen pun langsung pulang. aku melakukan kegiatan malam ku sebelum tidur. namun aku lupa belum membuka hadiah dari rasen dan saat aku membukanya ternyata sebuah dress berwarna putih yang sangat cantik didalamnya terdapat foto-foto kita di masa lalu dan sebuah catatan yang isinya.
"aku harap kita bisa seperti ini lagi, dan aku janji tidak akan mengecewakanmu lagi" hatiku sangat senang dan aku harap semua akan baik-baik saja.
...----------------...
keesokan harinya di kediaman orang tua rasen tepat pukul 09.30 rasen datang dengan wajah yang muram dan penuh kesal.
"tuan muda" seorang asisten rumah tangga menyambutnya.
"dimana papah bi??" rasen pun tiba-tiba masuk dan melihat papahnya sedang membaca koran. rasen langsung menghampiri ayahnya tanpa basa basi rasen langsung menanyakan perihal masalah kemarin ditelepon.
"pak, rasen minta penjelasan dari papah kenapa tanpa persetujuan rasen tiba-tiba papah dan mamah menjodohkan rasen dengan wanita yang sama sekali rasen tidak mengenalnya?" mamanya langsung menenangkan rasen.
"tenang dulu nak" mamanya sambil mengusap-usap punggung rasen.
papanya tersenyum "namanya Natya Lesham, kamu sudah cukup mengenalnya jadi papa kira semua akan berjalan dengan baik"
"Wow keluarga Lesham, kenapa keluarga Lesham mau berhubungan dekat dengan keluarga kita?" tanya Rasen
" kamu tau sendiri keluarga Lesham seperti apa, kekayaannya pun tidak akan ada habisnya papa rasa ini akan baik untuk perusahaan kita sen" jawab papa sambil membaca koran.
"Pah..ini pernikahan. tidak baik kalau dipermainkan seperti ini" mama Rasen khawatir atas keputusan papah.
"Tenang mam, Rasen tau apa yang diinginkan papah dan kami menikah pun tanpa cinta hanya pernikahan bisnis yang saling menguntungkan jadi mamah gak usah khawatir atas keputusan Rasen" Rasen tersenyum dan memeluk mamanya.
"Ok. papah tinggal atur acara kapan Rasen harus ketemu keluarga Lesham?" Rasen terlihat semangat mengenai perjodohan ini tanpa memikirkan apa yang akan dia lakukan terhadap Varsha.
"Nanti malam keluarga Lesham akan mengadakan acara makan malam dan kita diundang. jadi persiapkan dirimu!" jadwal pertemuan Rasen dan Natya akan segera dimulai.
"Ok. Rasen akan datang tepat waktu" Rasen pun langsung pergi setelah mendiskusikan perihal perjodohan. seakan mendapat peluang yang besar Rasen langsung menyetujui perihal perjodohan ini mengingat Rasen sangat membenci keluarga Lesham dan disini Rasen berniat membalaskan dendamnya.
...----------------...
Sekitar pukul 13.00
Aku, Arya, dan Jesna sedang istirahat seperti biasa. tiba-tiba Arya memberi informasi bahwa akan ada job besar di perusahaan kita.
"Hey..tahu gak kalau perusahaan kita akan mendapatkan job besar dari salah satu perusahaan besar di London?" bisik Arya
"Katanya kesepakatan itu baru 75%. kalau emang iya mungkin sekitar 10 orang yang akan diperbantukan di London dan keputusannya besok" jawabku lesu karena kemungkinan kita akan pergi ke London dan aku rasa itu sangat merepotkan tapi bagaimana lagi.
"Kamu udah tau cha, dari siapa?" tanya Jesna bingung
"Kemarin pak Yudha mengirim e-mail, menyuruhku mencari desain yang menarik untuk projects London dan menceritakan hasil pembahasan meeting dadakan semalam " jawabku sedikit malas karena aku yakin kalau aku dan team ku akan diperbantukan di London, bagiku itu sangat merepotkan.
" kenapa pak Yudha laporan hasil meeting ke loe cha??" tanya Arya
" Kenapa loe juga yang cari sampel projects London?" tanya jesna semakin penasaran
"iyaa lahh. orang team kita yang diperbantukan ke London" jawabku kesal
Arya dan jesna sangat senang mendengar wacana itu mereka sangat bersemangat semoga hal itu benar katanya sih biar bisa jalan-jalan ke London gratis. seusai istirahat kami kembali ke ruangan dan entah ada apa tiba-tiba di kantor sangat heboh terutama para wanita.
"siapa dia ganteng banget"
"wahhh...keren banget" bisik para wanita. dan ternyata Rasen datang dan berjalan di koridor. aku pun sontak kaget kenapa dia disini sedangkan tanda tangan kontrak untuk projects nya udah selesai tinggal pengerjaan. Rasen tepat berada di hadapan ku dia menatapku dengan sinis dan berkata
" Kemana saja kamu, sampai chat ku dan telephon ku gak di respon sama sekali?" tanya Rasen sedikit kesal.
" Nanti pulangnya kita bahas" jawabku dan berlalu meninggalkan Rasen. aku malu sangat malu apalagi semua orang kantor memperhatikanku. Rasen mengejar ku dan menarik tangan ku, aku kaget karena tarikan tangan Rasen sangat kasar.
"apaan sih, sakit tau???" aku menghempaskan tangannya.
" Wow..temui aku jam 19.00 di rumah, gak boleh telat dan pakai dress yang aku belikan untuk mu" dia mengajak ku dan kemudian pergi. ajak kan rasen membuat Arya dan jesna kaget apa yang sebenarnya terjadi antara kita berdua akhirnya aku menjelaskan kepada mereka.
" Gila loe yah..." sahut jesna mungkin dia sedikit marah dan belum terima atas perlakuan Rasen padaku dulu
" Coba dong loe pikir cha gimana kalau lo kembali terluka. loe yakin kuat gak?" jesna terus menggerutu
" udah Jes, cha kalo loe terluka kembali datang aja ke kami. gue sama Jesna pasti bakal ada kok untuk loe" ucapan Arya sangat menenangkan hati. Jesna pun memelukku dan kembali bekerja.acara kantor tinggal 2 hari lagi dan besok kita akan disibukan mendekorasi lokasi.
...----------------...
jam menunjukan pukul 18.00 dan aku bersiap pergi ke rumah Resan memakai midi dress putih yang Rasen hadiahkan. sesampainya di rumah Rasen dan yang menyambut ku asisten pribadinya.
" selamat datang Nona Varsha?" dia ternyata masih mengenalku
" silahkan masuk, tuan lagi bersiap di ruangannya" aku pun masuk dan duduk di sofa ruangan depan. tiba-tiba asisten yang lain membawakan makanan dan minuman favoritku dan menyimpannya di meja. 10 menit berlalu Rasen belum muncul juga.
" Nona Varsha, silahkan naik ke atas tuan Rasen sudah menunggu di kamarnya" asisten itu selalu ramah dalam keadaan apapun.
" Oh iya terima kasih" aku membalas senyumnya walaupun agak bingung kenapa Rasen menunggu di kamarnya. aku berjalan pelan dan menaiki sebuah tangga satu persatu, aku masuk menuju kamarnya yang di tunjukan asisten pribadinya.
" silahkan masuk" akupun masuk dengan penuh ragu. asisten pribadinya pun menutup pintu dan pergi meninggalka ku.
"Rasen??" aku memanggil rasen sambil berjalan, aku mengamati semua isi dan sisi dari ruangan tersebut. tidak ada jawaban sama sekali dari rasen akhirnya aku menunggu di sebuah balkon. semilir angin semakin menambah suasana dingin malam itu, aku menghela nafas panjang dan tiba-tiba.
"hai..sayang" rasen memelukku dari belakang dan mencium pipiku. betapa kagetnya aku, aku lupa kalau ini di kamarnya rasen. aku membalikan badan jantungku seakan berpacu dengan cepat terlebih lagi rasen hanya menggunakan jubah mandinya. kami saling memandang namun pecahan gelas memecah suasana itu saat itu.
" PRAANGGGG...!!!!! " seorang wanita yang aku tidak aku kenal melempar sebuah gelas tepat disebelah ku seakan rasa kaget terus berkelanjutan.
" Natya " Rasen panik saat itu dan segera menghampiri Natya. aku di buat bingung dan tertegun tanpa kata saat itu sungguh.
...----------------...