My Bossy

My Bossy
15.Baby boy



🌼🌼🌼🌼


Di suatu pagi yang sangat tenang dan damai, matahari terbit dengan indah, dan burung berkicau dengan merdu. suasana yang sejuk namun hangat membius diriku yang sedang jalan-jalan kecil dihalaman depan rumah Zavas yang sangat luas dan hijau.


Aku berjalan sambil mengusap-usap perutku dan mengajak bayi yang ada dalam kandunganku untuk mengobrol.


"Sayangnya bunda, selamat pagi" namun tidak disangka Zavas melihatku dari atas dia tersenyum lebar melihatku sambil memegang cangkir tehnya.


Hari ini hari libur aku berencana untuk pergi ke dokter dengan Jesna dan akan meminta izin kepada Zavas. aku kembali ke kamarku untuk mandi dan bersiap diri memakai pakaian yang nyaman disaat usia kehamilanku memasuki 6 bulan.


'Tok..tok..tok'


Aku mengetuk pintu kamar Zavas.


"Masuk" jawab Zavas dari balik pintu. aku pun masuk dan menutup pintu dengan pelan, hatiku ragu namun aku memberanikan diri demi kebaikan bayiku.


"Pak, hari ini aku meminta izin untuk keluar sebentar. apakah boleh?" tanyaku ragu. Zavas yang sedang bersiap untuk bermain golf dibelakang rumahnya.


"Ada keperluan apa?" dia kembali bertanya namun sama sekali tidak melihatku.


"Aku akan pergi ke dokter untuk memeriksakan kandunganku, kebetulan hari ini hari libur dan tepat dimana kandunganku menginjak 6 bulan" jawabku sambil menunduk.


"Aku tidak mengijinkan, masih banyak yang harus kamu kerjakan" tegas Zavas.


"Tapi pak ini hari libur, bagaimana aku bekerja di hari libur seperti ini" jawabku yang sedikit kesal dan sedih.


"Aku perlu kamu menyiapkan kembali dokumen yang dihilangkan oleh sekretarisku kemarin" Zavas mengeluarkan tumpukan data tepat di mataku.


"Hah?" mataku terbelalak melihat semua data yang akan diserahkan kepadaku.


"Tapi maaf pak itu bukan tugas saya" ucapku sedikit tegas.


"Mulai sekarang ini tugasmu dan mulai sekarang kamu akan menjadi sekretarisku" Zavas menatapku dengan mata yang dingin.


"Tapi pak, bagaimana aku bisa menjadi sekretaris bapak sedangkan aku pergi ke kantor saja tidak boleh dan bagaimana mungkin aku bisa mengerjakan semua tugasku disaat yang bersamaan padahal bapak tahu sendiri aku sedang menjalankan project London" alasanku aku rasa cukup kuat untuk menolak untuk menjadi sekretarisnya.


"Kamu akan menjadi sekretarisku ketika aku di rumah bukan di kantor dan selama aku tidak di rumah kamu bisa menyelesaikan project London yang aku berikan" jawabnya.


"Tapi apa saja yang harus saya kerjakan pak?" jawabku sedikit heran.


"Ketika kamu bertanya seperti itu aku anggap kamu setuju, akan aku kirimkan semua tugasmu melalui e-mail dan tenang saja aku akan menggajimu dua kali lipat. silahkan kembali ke tempatmu" Zavas berlalu begitu saja dan pergi ke halaman belakang untuk bermain golf.


Aku pun pergi dan keluar dari kamar Zavas. aku menuruni anak tangga langkah demi langkah sangat hati-hati.


"Ada-ada saja, bagaimana bisa aku menjadi sekretarisnya dasar CEO menyebalkan, jahat, tidak punya hati" gerutu ku dalam hati.


Belum sampai aku turun ke bawah tiba-tiba ada seorang dokter yang menyapaku.


"Hallo nyonya, perkenalkan aku Lisye, aku dokter yang akan memeriksa kesehatanmu dan juga kehamilan mu" dokter yang terlihat seperti sebaya dengan ibuku namun terlihat sangat cantik. aku dan dokter Lisye berjabat tangan sebagaimana layaknya melakukan sebuah perkenalan.


"Oh..iya hallo, tapi maaf dok saya tidak pernah memanggil dokter untuk datang dan memeriksaku?" tanyaku heran.


"Oh iya saya lupa, pasti nyonya sangat kebingungan. aku diperintahkan tuan Zavas untuk mengecek nyonya setiap 1bulan sekali" jawab dokter Lisye tersenyum sambil menunjukan keramahannya.


"Apa, kok dia?" aku sangat terkejut dengan apa pernyataan dokter. kenapa dia melakukan hal itu padahal aku hanya bawaha nya. memperlakukanku sangat beda dari karyawan yang lain.


"Sudah..sudah jangan bengong kita langsung saja melakukan pemeriksaan" dengan seketika bodyguard Zavas melakukan pengawalan terhadapku dan menemaniku ketika dokter Lisye membawaku ke rumah sakit. aku hanya tersenyum pasi ketika dokter Lisye mengajak berbincang denganku didalam mobil.


"Bagaimana nyonya??" tanya dokter Lisye.


aku yang dari tadi tertegun dengan apa yang terjadi seketika tersadarkan oleh suara dokter Lisye.


"Iya..bagaimana dok??" jawabku.


"Nyonya kenapa, sepertinya dari tadi nyonya bengong?" tanya dokter Lisye yang sedikit mengkhawatirkan ku.


"Hahaha...tenang saja nyonya tidak akan kenapa-napa. mau hasilnya laki-laki ataupun perempuan sama saja yang penting ibu dan bayinya sehat" ucapan dokter Lisye sangat tentram terdengar.


Sesampainya di rumah sakit kami langsung menuju ruangan pemeriksaan. dokter Lisye melakukan persiapan untuk melakukan USG terhadapku.


"Ok..tarik nafas dan tenang yahh" dokter Lisye menjelaskan semua dan akhirnya kami selesai. kami pun duduk di meja dokter.


"Bagaimana perasaanya nyonya ketika mengetahui kalau anak anda adalah seorang laki-laki?" tanya dokter Lisye sambil menatapku dengan penuh cinta.


"Dok, aku senang banget rasanya dan tidak sabar ingin segera melihat anakku" jawabku sambil menangis haru.


"Sabar yahh nyonya, sebentar lagi jaga kesehatan, jangan capek-capek, dan lengkapi semua nutrisinya yah!!" seru dokter Lisye.


"Iya dok, terima kasih!!" aku dan dokter keluar dari ruangan pemeriksaan. namun tidak disangka Zavas sedang menungguku di luar. Zavas dan dokter Lisye saling menyapa.


"Terima kasih dok!" Zavas dan dokter Lisye berjabat tangan dan kami pun berpamitan untuk pulang.


Aku dan Zavas masuk mobil yang sama dan bodyguard selalu mengikutinya kemana-mana. aku pun duduk dibelakang dan Zavas mengambil alih kemudi mobil.


"Saya perintahkan kamu duduk di depan saja" tukas Zavas sebelum menjalankan mobilnya.


"Tapi kenapa?" jawabku heran.


"Tidak apa-apa. hanya saja aku seperti supir pribadimu" tatapan Zavas terpaku ke depan jalan.


"Ah, iya iya maaf!" aku pun bergegas pindah ke depan dan Zavas mulai menjalankan mobilnya.


Sepanjang perjalanan pulang suasana hening menyelimuti kami berdua, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut kami. hari ini tidak seperti biasanya tiba-tiba hujan turun.


"Ah, aku hanya ingin cepat sampai saja. sangat sulit bagiku ketika suasana seperti ini" gerutu ku dalam hati.


"Apa yang harus aku katakan untuk memecahkan rasa canggung ini" Gumam Zavas dalam hati.


Seakan Zavas mengerti dengan suasana ini dia mulai menyalakan musik.


'Denganmu tenang, tak terpikir dunia ini..karnamu tenang semua khayal, seakan kenyataan..'


by. fourtwnty


"Ohh..lagunya!! kenapa harus ini seakan-akan hatiku terasa sakit ketika mendengarnya" dalam hatiku berkecamuk. tanpa disadari air mataku menetes.


"Kamu kenapa?sakit?" sahut Zavas ketika melihatku.


"Ya..ohh tidak" jawabku sambil mengusap air mataku.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Zavas heran, aku tidak menjawab pertanyaannya.


"hmmh..." helaan nafasku sangat dalam berusaha untuk tetap tegar dan tidak menangis walaupun sesungguhnya dadaku sangat sesak.


"Jika kau ingin menangis maka menangis lah" ucap Zavas. dia memberhentikan mobilnya ditengah derasnya hujan dan memerintahkan bodyguardnya untuk kembali ke kantor terlebih dahulu.


Air mataku akhirnya tumpah, rasa sesak di dada semakin menghimpit hatiku, rasa sakit yang selama ini aku pendam akhirnya tumpah malam ini. Zavas hanya terdiam tanpa satu patah katapun.


"Bagaimana ini, rasanya sakit sekali.." sesekali aku mengusap dadaku.


"Varsha, aku sungguh mengerti perasaanmu tapi sekarang aku harus bagaimana?" ucap Zavas dalam hatinya.


namun betapa terkejutnya aku ketika Zavas menarik tanganku dan memelukku sambil mengusap-usap punggungku seakan dia berusaha menenangkan ku.


"Jika memang sulit, menangis lah" bisik Zavas. pelukan Zavas sangat hangat dan nyaman dan membuatku tenang.


...----------------...