My Bossy

My Bossy
17. Kehilangan



🌧️🌧️🌧️🌧️🌧️


Beberapa orang terdekatku datang mengunjungi ku di rumah sakit, aku yang terbaring lemah di ruangan ICU dan sudah dinyatakan tidak sadarkan diri selama 1 hari membuat semua keluargaku datang kecuali nenek. mamah, papah, dan adikku berlari menuju receptionis untuk menanyakan di ruangan mana aku di rawat.


"Sus, saya mau tanya dimana ruangan anak saya?" tanya mamah kepada salah satu suster.


"Maaf bu, nama lengkap anak ibu siapa yah biar saya cek terlebih dahulu" jawab suster


"Geya Varsha..iya Geya Varsha" mamah terlihat sangat panik. suster pun memberi tahu dimana aku dirawat dan kemudian ibu berlari secepat mungkin dan langkahnya terhenti di depan pintu ruangan ICU.


" Maaf bu, ibu tidak boleh masuk. apakah saya boleh minta data ibu terlebih dahulu?" tanya seorang suster yang menghadang langkah mamah untuk masuk.


"Oh iya tentu sus, baiklah" air mata mamah pun terus mengalir. namun tiba-tiba datang seorang dokter.


"Apakah ini keluarga dari nyonya Geya Varsha?" tanya seorang dokter.


"Iya, saya ibunya dok" jawab ibuku singkat.


"Bisa saya bicara sebentar" ucap dokter dengan menunjukan raut wajah serius.


"Bisa dok" Jawab mamahku. mamah dan papah mengikuti dokter menuju ruangannya dan Divya hanya menunggu di depan pintu ruangan ICU dan melihat ke pintu kaca yang terlihat jelas aku sedang terbaring dan penuh dengan alat bantu.


"Kak, tahu gak Divya kangen banget sama kaka, Divya pengen maen sama kaka. kak..tahu gak Divya kemarin juara pertama di perlombaan melukis, pialanya sangat cantik dan lukisan Divya juga bagus, kakak pasti ingin lihat. kak..kakak bangun yah biar Divya ada teman lagi, biar Divya gak kesepian. kak.. kita baru saja kehilangan nenek dan Divya gak mau sampai kehilangan kakak juga. jadi kakak bangun yahh..Divya mohon kak. please!!" gumam Divya sambil menangis air mata Divya yang sedari tadi ditahan akhirnya tumpah. Zavas yang melihat dan mendengar semua ucapan Divya sontak membuat mata Zavas berkaca-kaca dan menghampiri Divya sambil duduk di sampingnya.


"Kakak kamu orang baik, dia sekarang sedang berjuang jadi Divya jangan nangis agar kakak tidak lemah ketika berjuang. Divya harus tegar dan kuat agak kakak juga bisa kuat ketika berjuang" ucap Zavas.


"Om siapa?" tanya Divya.


"Om temannya, nama om Zavas" jawabnya.


"Kok om tahu nama aku dan setahuku teman kak Geya cuman kak Jesna dan kak Arya. apa jangan-jangan om ayah dari dede bayi kak Geya?" pertanyaan Divya yang sangat polos membuat Zavas tersenyum tanpa menjawabnya.


"Divya, mau nunggu disini?" Zavas berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Iya, aku mau nemenin kaka aja" sambil memegang sebuah buku diary.


"Ok, om ikut duduk disini. itu buku apa de?" tanya Zavas penasaran.


"Ini buku diary kak Geya, buku ini selalu aku baca kalau rindu kakak, soalnya di rumah sudah tidak pernah menyebut nama kakak. kalaupun menyebut nama kakak itupun harus sedang tidak ada papah. seakan kakak bukan lagi anggota keluarga kami. walaupun kakak sangat nyebelin dan keras kepala tapi dia sangat perhatian. sebelum nenek meninggal, nenek sempat bilang untuk mencari kakak dan membawa kembali ke rumah dari mulai kakak pergi nenek jatuh sakit sampai pada akhirnya nenek meninggal" air mata Divya kembali mengalir.


"Divya jangan nangis lagi, pasti kakak sembuh" Zavas mencoba menenangkan Divya.


"Iya terima kasih ya Om sudah mau mendengarkan Divya" dan tidak lama kemudian dokter dan orang tua Geya kembali ke ruangan ICU.


Dokter dan suster membawa Geya menuju ruangan operasi.


"Maaf, pak bu apa yang terjadi dengan Geya kenapa harus dibawa ke ruangan operasi??" tanya Zavas bingung.


"Maaf anda siapa?" tanya papah.


"Perkenalkan saya CEO dari perusahaan Geya Varsha bekerja" jawab Zavas sambil mengulurkan tangannya dan mereka semua berjabat tangan.


"Terus keputusan seperti apa yang bapak sama ibu ambil?"


"Kami hanya ingin anak kami selamat bukan bayi yang ada dalam kandungannya. bahkan kami tidak tahu itu anak siapa" Jawab papah yang masih menyimpan amarah.


"Pah..Sudah!!" mamah mencoba menenangkan papah. Zavas tertegun ketika melihat sifat papah yang keras.


Setelah menunggu beberapa jam dan akhirnya operasinya berjalan dengan lancar. sudah hampir 3 hari aku terbaring di rumah sakit dan akhirnya aku sadar. aku mencoba menggerakkan jari tanganku dan pergerakan itu dilihat oleh mamah.


"Cha..Varsha kamu sudah sadar nak?" mamah pun memanggil dokter dan seperti pada umumnya dokter melakukan pemeriksaan kepadaku.


"Bagus..semua hasilnya menunjukan baik tapi masih belum boleh pulang yah" ucap dokter.


"Baik dok. terima kasih!" jawab mamah. dokter dan suster pun pergi.


"Kaka...." teriak Divya, dia langsung memelukku.


"Ade..gimana kabarnya? sekolahnya lancar kan?" tanyaku.


"Iya kak, kakak kapan pulang Divya kangen pengen kumpul lagi?" tanya Divya sambil menatap mataku. aku melihat sekeliling semuanya lengkap kecuali nenek. semua terlihat senang melihatku kecuali papah.


"Tidak dek, kakak masih harus. soalnya kakak punya dede.." saat aku memegang perutku dan perutku sudah tidak hamil lagi sontak membuat aku kaget.


"Dimana bayiku, mah pah dimana bayi Varsha. mahh...pah..jawab" air mataku mulai mengalir.


"Mah..pah...jawab dulu dimana bayi Varsha, sudah lahir kan?? apa dia sakit?? jawab mah pah" aku yang histeris dan penuh emosi seakan kenyataan itu tidak aku terima"


"Cukup Varsha!! teriak papah ku.


"Anakmu sudah meninggal dan anak itu tidak layak untuk hidup"


"Kalau memang tidak layak untuk hidup, untuk apa Varsha bertahan selama hampir 7 bulan. untuk apa??" teriakkan ku membuat semua orang tertegun. Zavas yang melihatku meluapkan amarah yang tadinya mau masuk tiba-tiba terhenti.


"Kamu sudah membawa aib dalam keluarga papah sampai-sampai kita kehilangan nenek, terlebih lagi dari keluarga besar kita. kami semua dibuat malu dengan perbuatan kamu!!" ujar papah.


"Sudah cukup pah, sudah.." mamah kembali melerai kami berdua. air mata mamah yang mengalir membuat diriku merasa bersalah.


"Terus kenapa, papah membuat keputusan untuk membunuh bayi Varsha. kenapa tidak Varsha aja yang papah hilangkan. bukankah itu akan menghapus semua aib yang melekat di keluarga papah" tangisanku semakin kencang.


"Cukup, sekarang kamu sudah baik-baik saja. kami akan pergi dan jangan harap kembali. ayo mahh.." papah membawa mamah dan Divya keluar dari ruangan.


"Mam...mah..!!!" aku kembali ditinggalkan oleh keluargaku. orang tuaku dan adeku kembali pulang kerumah.


Tangisanku semakin menjadi rasa sakit dam sesak di hatiku semakin menikam di dada. Zavas terdiam dan hanya melihatku dari luar ruangan.


Di usiaku yang menginjak 25 tahun telah banyak pelajaran yang aku ambil. aku telah banyak kehilangan sosok yang sangat berarti dalam hidupku. banyak pelajaran yang aku ambil dan masih banyak yang harus aku pelajari lagi.


...----------------...