
Sesudah semua makan siang berlangsung suara telephon Zavas berbunyi dan dia pergi meninggalkan meja makan.
"Ahhhh Jesna, kapan kamu datang??" tanyaku.
"Kami diundang untuk datang, tadi pagi-pagi sekali asisten pribadi Zavas datang dan kami diantar kesini" ucap Jesna.
"Tapi yah kok gue aneh kenapa orang-orang disini manggil loe nyonya?" sahut Arya.
" Entahlah..!!! gue udah bilang buat manggil gue biasa saja tapi tetap saja tidak berubah, dan yang anehnya baru saja bu Ella bilang kalau gue sebenarnya kembali ke rumah ini. padahal gue kan baru saja tinggal disini. aneh kan?" ucapku sambil berbisik ke Arya dan Jesna.
"Kok gue merinding yahh..!!" sahut Jesna.
"Sepertinya ada rahasia antara mereka dan Zavas, loe harus bisa pecahin masalah ini Cha" ujar Arya.
"Kita ikuti saja alurnya karena selama ini gue baik-baik saja, bahkan dia sangat perhatian" kataku. perbincangan kami berhenti karena Zavas sudah kembali dan berbaur dengan kami semua.
Waktu berlalu dengan cepat dan jam pun sudah menunjukan pukul 21.00 kami semua menyelesaikan perjamuan ini dengan baik.
"Terima kasih atas jamuan nya pak" Arya dan Jesna berpamitan.
"Sama-sama" nada datar Zavas membuat Arya bergidik aneh.
"Gue pulang dulu yah cha, loe jaga diri baik-baik yah kalau ada apa-apa bilang gue" kami bertiga berpelukan dan mereka pergi diantar asisten Zavas.
"Hati-hati yah sayang!!" aku menutup pintu dan tiba-tiba Zavas menarik tanganku dan membawaku ke sebuah ruangan yang sebelumnya aku tidak tahu ruangan itu tepat di lantai 3 dan hanya orang khusus yang datang dan membersihkan ruangan itu.
Ruangan yang sangat manis namun elegan terdapat tempat tidur yang sangat rapih, cat tembok dan furniture didalamnya tampak serasi, dan walk in closet yang tampak rapih dan tertata. mata ku terpana melihat semuanya dan Zavas berhenti menarik ku.
"Aw" rintih ku pergelangan tanganku tampak merah bekas pegangan tangan Zavas namun dia tidak menghiraukannya dia berjalan ke sebuah balkon dam terdiam, aku yang bingung dengan ekspresinya langsung menghampirinya.
"Ada apa pak? aku rasa tempat ini sangat spesial namun kenapa bapak mengajakku kesini?" tanyaku.
"Hmmmh" Zavas menghela nafas seakan-akan enggan menceritakan semuanya.
"Kalau berat untuk bapak lebih baik tidak usah untuk aku mengetahui semuanya" aku mendekati Zavas dan sekarang tepat di sebelahnya.
"Namun apabila bapak mempercayaiku, bapak boleh menceritakan semuanya kepadaku" kataku sambil menatap Zavas.
"Sungguh dia sangat tampan" gumam ku dalam hati. tiba-tiba Zavas membalas tatapanku namun jantungku rasanya tidak kuat menahannya jantungku berdebar tidak karuan, berdebar sangat kuat dan kencang.
"Semoga Zavas tidak mendengarnya" seruku dalam hati.
"Kenapa tadi Arya memeluk mu sebelum dia pergi?" pertanyaannya sangat aneh ku dengar.
"Aa..paa?? kami bertiga biasa melakukan itu ketika kami berpisah.
"Aa..pa?"
"Lahh terus apa masalahnya?" ujar ku.
"Apa???"
"Bapak ini kenapa? dari tadi hanya bilang apa, apa, apa, sebenarnya apa yang ingin bapak bicarakan??"
"Apa??"
"Ahhh sudah..aku pergi dulu" aku pergi meninggalkan Zavas namun dia mengejar ku dan menutup pintunya.
'Treek..' (suara pintu dikunci)
"Kenapa bapak mengunci pintunya??"
"Sekarang aku yang bertanya, kenapa kamu dipeluk Arya?" Zavas terus menghampiriku aku pun terus berjalan mundur.
"Apa..??"
"Apa hubungan kamu dengan Arya, sehingga kamu di peluk?"
"Apa..?"
"Bagaimana perasaanmu ketika tadi Randy bilang kalau kamu cantik?"
"Apa..??" aku terhimpit di tembok namun Zavas terus mendekatiku dan menghimpit ku.
"Jawab" teriak Zavas. aku kaget ketika Zavas meneriaki ku tepat di depan wajahku.
"Aku tidak akan melepaskan mu sampai kapanpun dan aku tidak akan membiarkan siapapun memeluk mu" perkataan Zavas membuatku bingung, apa dia menginginkanku atau dia ingin mengurungku kembali di rumah ini.
"Maksud bapak apa?? teriakku sambil melepaskan himpitan Zavas dan aku berhasil mendorong Zavas ke tempat tidur.
"Ohh jadi kamu ingin aku bermain kasar?" kata-katanya membuatku takut.
"Tidak maksudku bukan begitu pak, tolong hentikan. ahhhhhh...." Zavas mendorongku ke tempat tidur dan Zavas menghimpit ku dari atas. namun tiba-tiba kami terdiam wajah kami memerah, nafas kami menderu sangat tidak beraturan. setelah sadar Zavas terbangun, kami berdua terlihat aneh dan canggung.
"Maaf" Zavas kembali ke balkon.
"Tidak apa-apa, aku keluar yah!"
"Ok..silahkan"
Aku keluar dengan wajah memerah dan malu begitupun dengan Zavas.
"Apa sebenarnya ini..??" gumam ku sepanjang langkah menuju kamar.
Zavas berada di balkon sendiri dan masih menahan rasa malunya.
"Ok..tahan Vas!! ingat dia bukan Edrea, tapi kenapa aku begitu bahagia ketika dekat Varsha, apa aku menyukainya?"
gumam Zavas dan sesekali dia tersenyum ketika mengingat kejadian tadi.
"Edrea..apa aku boleh menyukai seseorang untuk menemani hidupku, apa boleh aku mencintainya" ucap Zavas sambil melihat ke atas langit, dia mengambil sebuah foto dan melihatnya sambil meneteskan air mata.
"Edrea...Lilly..!!!!"
Aku pun turun kebawah untuk mengambil buah yang ada di dapur.
"Bu Ella, kemarin bu Ella belum selesai menceritakan semuanya mengenai wanita yang bernama Lilly?" selidik ku.
"Ah mungkin..nyonya salah dengar" jawab bu Ella.
"Apa mungkin bu Ella merahasiakan sesuatu kepadaku?" tanyaku kembali.
"Tidak ada yang harus diceritakan disini, bu Ella boleh kembali ke tempat" sahut Zavas.
"Baik, saya permisi nyonya!" bu Ella pergi meninggalkan kami berdua.
"Sebenarnya ada apa pak?" tanyaku.
"Tidak ada apa-apa!" jawabnya sangat singkat, namun aku tahu Zavas sedang menyembunyikan sesuatu.
"Akan aku cari tahu apa yang kalian sembunyikan"
"Silahkan!! oh yah mulai hari ini kamu jangan panggil aku bapak tapi panggil aku mas itupun jika di dalam rumah" bisik Zavas.
"Apa??" teriakku kaget.
"Terserah, kalau tidak aku potong gaji mu"
Zavas pergi keluar lagi malam ini.
"Tapi...tapi..!!!"
Cukup sangat membingungkan bagiku hari ini aku kembali ke kamarku dan berbaring di tempat tidur.
"Akhirnya aku bisa istirahat...! mas kok suruh aku panggil mas, kok geli gue dengernya. gak apa-apa lah lagian cuman di rumah saja tidak di kantor. oh iya besok gue harus bekerja sebagai apa yah??"
Malam ini aku mencoba membereskan semuanya pekerjaan yang sempat tertunda, dan akupun tertidur di meja kerjaku.
"Geya Varsha, tolong jaga Zavas!!" ada seorang wanita yang berbicara kepadaku di depan cermin namun dia adalah diriku sendiri.
"Siapa kamu?? kenapa kamu menyuruhku menjaga Zavas? heyyy...heyy.." Aku terbangun dari mimpi aneh itu dan tiba-tiba suara Handphone ku berdering.
'Triingg...tring..' Rasen calling.
"Bagaimana ini? apa aku harus menjawabnya?" aku memegang Hp ku gemetar.
...----------------...