
❤️❤️❤️❤️
Malam ini aku dan Zavas bermalam di sebuah villa yang hangat. tiba-tiba malam itu hujan seakan mengerti dengan keadaan kami malam ini, muka Zavas memerah dia yang memelukku enggan untuk melepaskan.
"Mas, bisakah melepaskan ku!" sahutku yang mencoba melepaskan pelukan Zavas.
"Tidak! sebelum kau menjawab pertanyaan ku" Zavas semakin erat memelukku.
"Mas, aku mohon cukup!!" aku yang sedikit kesal mencoba melepaskan pelukannya dengan kasar. Zavas pun kaget melihatku bertindak seperti itu.
"Ok! tidurlah" ucap Zavas terlihat sedikit kesal dari wajahnya. Zavas membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Tapi! mas tega membiarkan aku tidur di sofa dengan pakaian seperti ini" Zavas tidak menghiraukan ku dan menyuruhku keluar dari kamarnya.
"Baiklah!" akupun keluar dari kamarnya dan menuju ruangan tengah dan duduk di sofa.
"Dasar bos aneh! dia merayuku kemudian mencampakkan ku" gerutu ku "Kenapa tidak membiarkan aku pulang saja, kenapa?" aku mulai menyalakan televisi dan mencari film untuk di tonton dan pada akhirnya aku mencoba menonton film horor semakin malam filmnya semakin menunjukan seramnya dan tiba-tiba.
"Aaaaaaaa" teriakku, Zavas yang mendengar teriakan ku tiba-tiba keluar dari kamarnya.
"Hey! ada apa?" teriak Zavas.
"Tidak, tolong matikan tv nya," perintahku yang dari tadi menutup mataku dengan telapak tangan "Please, matikan tv nya" Zavas pun mematikan tv nya kemudian duduk di kursi dan memelukku.
"Sudah! kamu tidak apa-apa"
"Maaf!" pelukan Zavas sangat hangat, dadanya yang bidang membuatku nyaman.
"Maaf mas, membuatmu terbangun"
"Tidak apa-apa,!" Zavas pun melepaskan pelukannya. "kamu tidur saja di kamar biar aku di sofa" sahutnya.
"Baik, tapi temani aku tidur" ucapku.
"Mangkanya kalau tidak bisa nonton film horor jangan mencoba nonton" ejeknya.
"Mas, please!!"
"Ok!" kami berdua tidur di kamar yang sama dan ranjang yang sama.
"Begini, ini batasnya!" aku membuat pembatas dari guling "jangan melewati batas ini, jika tidak..." belum saja aku menyelesaikan perkataan ku Zavas langsung menyegrap ku. membuatku terbaring terlentang dibawah Zavas.
"Kamu sudah cukup berbicara, karena kamu membangunkan ku ini hukuman untukmu" ucapnya. Zavas tiba-tiba mengecup keningku dan perlahan terus menuju kebawah. wajah Zavas mulai memerah, nafasnya yang memburu, dan tingkahnya malam ini membuatku tidak bisa menolak.
Namun pada akhirnya semuanya terhenti ketika terucap dari mulutku.
"Ah Rasen!" lirihku yang tak sadar telah mengeluarkan nama itu dari mulutku. Zavas menghentikan tindakannya, dahinya tiba-tiba berkerut, matanya yang tajam menyipit dengan cepat turun dari ranjang dan keluar.
Zavas menuju ke dapur dan menuangkan secangkir beer terlihat mukanya yang marah membuatku enggan untuk bertanya.
"Mas, ada apa,?" tanyaku. tetapi Zavas tidak menjawabnya.
"Mas, apa ada yang salah denganku?" tanyaku kembali dan mencoba memberanikan diri mendekati Zavas.
"Kamu tidur saja!" teriaknya, sontak membuatku kaget.
"Kenapa mas berteriak?"
"Aku bilang tidurlah!" Zavas membentak ku dan melempar sebuah gelas tepat di depanku.
"Mas, ada apa? jangan seperti itu dong coba bilang kenapa?"
"Sekarang aku bertanya, apa kamu masih berhubungan dengan Rasen? hah?"
"Jika masih kenapa?"
"Ohh. apa dia masih menghubungimu?"
"Iya, kenapa?"
"Dan kamu masih bilang kenapa? bahkan saat kita sedang melakukannya pun kamu masih menyebut namanya" paparnya.
"Apa,?" kali ini aku tahu kenapa Zavas marah "maaf tapi aku tidak bermaksud.." aku mencoba meraih tangan Zavas, namun Zavas langsung menghempasnya.
"Kamu itu istriku" ucapnya.
"Apa? istri? bahkan kau belum menikahi ku,!" teriakku kesal "Jadi apa hak mu melarang ku untuk berhubungan dengan Rasen, jangankan menikahi ku mencoba menjalin hubungan antar kekasih saja kita tidak jelas. aku hanya menuruti perintah mu. itu saja!!" tegas ku.
"Ternyata kamu itu berbeda dengan Edrea" sahutnya.
"Sebenarnya hubungan apa ini, mencoba melepaskan tapi tidak bisa dekat dengannya membuatku nyaman. tapi kamu harus sadar Varsha siapa kamu sebenarnya" gumam ku.
Keesokan harinya di villa aku bangun dan menyiapkan sarapan Zavas pun keluar dari kamar dan bersiap untuk pergi.
"Selamat pagi, sarapan dulu mas" sapa ku di pagi hari.
"Kamu jangan ke kantor langsung pulang saja, nanti ada yang menjemputmu"
"Iya tapi kamu sarapan dulu, mas" Zavas pergi begitu saja, tampaknya dia masih marah dengan masalah tadi malam.
Sekitar pukul 11.00 asisten Zavas menemui ku untuk menjemput, aku pun meninggalkan villa itu, ketika sedang dalam perjalanan.
"Pak, sebenarnya villa itu milik siapa?" tanyaku kepada asisten Zavas.
"Ternyata nyonya masih belum ingat yah!" jawabnya, aku hanya menjawabnya dengan senyuman.
"Villa itu adalah tempat dimana dulu nyonya dan tuan berbulan madu, hingga hadirnya malaikat kecil dalam kehidupan nyonya," paparnya "villa itu dibangun dan di design khusus oleh tuan hingga setiap detailnya mengandung arti dan makna sendiri"
"Villa itu tampak terawat dan rapih, apa ada orang yang selalu membersihkan tempat itu.?" tanyaku kembali.
"Tentu saja nyonya, ada sekitar tiga orang yang merawat villa itu"
"Tapi kemarin malam aku tidak melihat mereka?" tanyaku sedikit polos.
"Dulu jika nyonya dan tuan berkunjung pasti mereka tidak ada, karena mereka tidak mungkin mengganggu tuan dan nyonya," jawabnya "Pasti sangat sulit untuk nyonya mengingat semuanya, perlahan-lahan saja aku yakin nyonya sembuh seperti biasa" ujarnya.
"Iya terima kasih!" jawabku.
Sesampainya di rumah, aku melihat Natya keluar dari rumah Zavas yang sedang mengobrol akrab dengan Zavas dan yang paling mengejutkan adalah kehadiran Rasen. entah apa yang dipikirkan Zavas saat itu sehingga dia mengundang Natya dan Rasen.
"Selamat datang sayang!" sambut Zavas "Bagaimana dengan liburannya?" tanyanya sambil memelukku.
"Apa yang mas lakukan?" tanyaku berbisik. Zavas mencium keningku.
'Chup'
Rasen yang melihat perlakuan Zavas terhadapku pada saat itu hanya terdiam namun tidak bisa dipungkiri wajahnya terlihat marah dan cemburu.
"Perkenalkan ini rekan bisnis ku Natya dan tunangannya Rasen" kami pun saling berjabat tangan.
"Hai, oh iya jangan lupa untuk datang yah, kalau begitu kami permisi dulu" Natya dan Rasen pamitan dan kembali pulang. Natya begitu handal memainkan perannya dia terlihat sangat anggun dan penyayang.
"Maksudnya dia mengundang kita?" tanyaku. Zavas memberikan sebuah undangan pernikahan Natya dan Rasen. tanganku bergetar membacanya, hatiku begitu sakit, dan aku tersadar kalau aku masih mencintai Rasen.
"Kenapa begitu sulit untukmu melupakan Rasen?" tanya Zavas "Bukankah sudah jelas dia selalu mengecewakanmu?"
"Iya, aku masih mencintainya. puas!!" teriakku dan pergi berlalu dari Zavas namun Zavas menahan ku dan menarik tanganku menuju ruang kerjanya.
"Sudah cukup untuk mencintai Rasen!" tegasnya.
"Aku sudah mencoba tapi tidak bisa,mas mungkin mengerti dengan perasaanku" seruku sambil tertunduk.
"Aku tidak akan pernah mengerti perasaanmu" tukasnya.
"Kenapa mas tidak pernah mengerti sedangkan mas sendiri masih mencintai Edrea dan tidak bisa melupakannya" teriakku. Zavas membalikan badannya,
"Aku sudah melupakannya dan aku mencintaimu" teriaknya.
"Tidak mungkin!" ucapku. aku pergi dan berlari dari ruangannya.
"Varsha, Varsha.!!" Zavas memanggil ku.
Aku tidak menghiraukannya dan berlari menjauh dari Zavas aku berlari tanpa tujuan.
"Aku sungguh tidak percaya padamu!"
Langkahku terhenti di sebuah cafe dan aku memesan sebuah kopi dan merenungi semuanya. sampai pada akhirnya pukul menunjukan pukul 19.30 entah berapa lama aku duduk di cafe itu.
"Aku lebih baik pulang pakai taxi saja" akupun berjalan menuju jalan raya namun tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menutup kepalaku.
"Tolong..." teriakku. tiba-tiba aku kehilangan kesadaran ku.
...----------------...
Jangan lupa untuk like dan tambah ke daftar favorit kalian.
Terima kasih 🙏🥰🥰