
☕☕☕☕
Aku Varsha seorang wanita yang selalu berharap pada cinta yang akan berakhir sempurna, kata cinta itu terdengar indah namun sangat menyakitkan. keheningan pagi ini dibuyarkan oleh suara panggilan masuk di handphoneku.
'Zavas calling'
"Hallo! kamu dimana?" teriak Zavas.
"Ada apa?" tanyaku kembali dengan nada suara lemas.
"Kamu dimana? biar aku ke sana sekarang, kita harus bicara"
"Apakah itu penting untuk sekarang? aku rasa saat ini aku butuh waktu sendiri"
"Iya aku mengerti kamu butuh waktu sendiri tapi bukan untuk menghilang"
"Jika kamu ingin menemuiku dan ingin berkata jujur aku akan memberi tahu kamu dimana aku sekarang"
"Jujur apa maksud kamu? apa selama ini aku pernah berkata bohong?"
"Selama ini kamu bohong"
"Ok! kirim alamat kamu aku akan ke sana sekarang"
"Ok!" aku mengirim alamat ku sekarang.
Sementara Arya dan Jesna sedang dalam perjalanan menuju rumah Jesna untuk bertemu kedua orang tua mereka.
"Sayang, tahu gak kalau Varsha sekarang lagi di hotel?" tanya Jesna.
"Kenapa? ada masalah lagi dengan Zavas?"
"Entahlah tapi aku rasa ini masalah kemarin, kok aku jadi merasa bersalah yah?"
"Daripada kita rahasiakan lebih lama lagi sewaktu-waktu masalah ini akan semakin rumit untuk Varsha terlebih lagi dia kan menikah dengan Zavas" Ucap Arya.
"Iya juga sih, semoga saja Varsha menemukan jalan terbaik untuk kehidupannya"
"Sudah yah, kita fokus dulu ke rencana kita untuk Varsha kita bantu semampu kita"
"Iya sayang"
Sementara itu Zavas akan pergi menuju alamat yang Varsha berikan.
"Randy kita pergi sekarang" teriak Zavas.
"Baik tuan" Randy mengangguk dan langsung membukakan pintu mobil untuk Zavas. namun tiba-tiba ada mobi mewah yang masuk halaman Zavas, ternyata dia seorang wanita dari masa lalu Zavas dia bernama Rosana Luane dia adalah wanita terkenal, selebritis terkaya dan memiliki suara yang sangat indah.
Salah satu asisten Zavas mengetuk pintu mobil.
'Tok.tok'
Zavas pun membuka kaca mobil
"Ada apa?"
"Maaf tuan sepertinya nona Rosana datang berkunjung" Zavas mengerutkan dahinya.
"Ok, kembali ketempatmu"
Zavas pun keluar dari mobil dan memerintahkan asistennya untuk menyuruh Rosana masuk.
"Hai tuan Zavas apa kabar?" ucap Rosana. namun Zavas menyambutnya dengan sisnis.
"Ada apa? jika kedatanganmu kesini hanya untuk menjelaskan yang tidak penting lebih baik kamu pergi"
"Justru aku datang kesini untuk memberikan selamat kepadamu"
"Selamat?" tanya Zavas bingung.
"Iya, bukankah amu akan menikah dengan oraang yang mirip Edrea?"
"Baguslah kalau kamu sudah tahu, jadi sekarang kamu boleh pergi"
"Sabar dong, apa kamu tidak kangen denganku?" Rosana mendekati Zavas dan mulai menggoda Zavas. namun Zavas terdiam melihat tingkah Rosana.
"Sepertinya ada yang ingin kamu sampaikan, ikut denganku" Zavas dan Rosana pergi ke ruang kerjanya.
Disaat Zavas dan Rosana melanjutkan obrolan mereka. di sisi lain ada Varsha yang sedang menunggu.
"Sudah satu jam tapi kenapa Zavas tidak datang juga?"
Varsha tidak menghiraukannya dia segera mengemas barangnya dan memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya.
"Coba pikirkan Zavas, bagaimana kamu bisa menikahi wanita yang masa lalunya sangat tidak cocok denganmu?"
"Terus apa hak mu membicarakan hal ini, ini sudah menjadi pilihanku"
"Apa akan lebih baik jika kita kembali seperti dulu, kamu dan aku sangat cocokk terlebih lagi jika dilihat dari latar belakang kita" ucap Rossana meyakinkan Zavas.
"Kita tidak akan bisa kembali seperti dahulu"
"Kenapa? apa karena wanita itu? wanita yang mirip dengan mantan kekasihmu?"
"Cukup!!" lebih baik kamu pergi" teriak Zavas. Rosana pun pergi dengan hati yang penuh kesal.
Zavas mencoba menelepon Varsha namun tidak ada jawaban.
"Kita pergi sekarang" ucap Zavas kepada Randy.
"Baik tuan"
Sementara itu Varsha hanya terdiam di dalam mobil dengan hati penuh tanya.
"Sebenarnya apa yang disembunyikan Zavas? sebenarnya siapa Edrea? aku harus cari tahu sendiri, tapi bagaimana caranya?"
Varsha memutar otak untuk mengungkap rahasia besar yang harus dia ketahui.
"Sudahlah, aku pikirkan nanti" Varsha melaju mobilnya dan pergi dari tempat itu.
Sesaat Varsha pergi Zavas melihat mobil Varsha.
"Baik tuan"
"Kamu tidak boleh menyalip, ikuti saja"
"Baik!"
Namun Varsha berhenti disebuah rumah sakit, Varsha berniat untuk menemui Keenan. Zavas hanya mengikutinya.
"Hallo, kamu dimana keen?" tanya Varsha yang sedang menelepon Keenan.
"Ada apa Cha?" tanya Keenan kembali.
"Aku dirumah sakit"
"Tumben, loe tunggu saja di kantin nanti gue kesana"
"Ok" Varsha menunggu di kantin dan yidak lama kemudian Keenan datang menghampiri Varsha.
"Hai, apa kabar?" sapa Varsha.
"Baik, ya walaupun agak sibuk akhir-akhir ini"
"Hmm, aku ganggu dong"
"Tidak lah, khusus untuk kamu," jawab Keenan sambil tersenyum ,"ada apa?"
Aku menghela nafas
"Rasanya berat yah, ketika hati saling bersebrangan untuk berkomitmen" ucapku.
"Komitmen itu di jalani ketika kamu sudah yakin, ada apa Zavas?" tanya Keenan kembali. aku hanya mengangguk.
"Begini, mengenai itu aku tidak bisa memberi solusi lebih baik kamu bicarakan masalah ini dengan Zavas"
"Tapi.."
"Aku tidak mau solusi ku membuat hubungan kalian hancur, kamu tahu sendiri kalau aku" perkataan Keenan hanya berhenti disana.
"Kalau kamu?," tanyaku "Kalau kamu apa,Ken?"
Tiba-tiba Zavas memanggilku dan berjalan menuju kepadaku.
"Varsha," panggil Zavas "ayo pulang" Zavas menarik tanganku.
"Iya tapi, aku belum selesai," Zavas menarik tanganku "Ken, nanti aku kabari yah, lepas mas ih sakit" Zavas tidak menghiraukan dia terus menarik ku sampai ke dalam mobil.
"Aku kan sudah bilang tunggu di hotel nanti aku datang, sepertinya kamu benar-benar ingin menyudahi semua hubungan kita" teriak Zavas.
"Kalau iya memangnya kenapa?" teriakku.
"Apa karena laki-laki yang bernama Keenan itu, hah?"
"Kamu tidak usah membahas Keenan dia hanya sahabat dan dia bukan alasan untuk aku menyudahi hubungan ini"
"Terus apa, hah?"
"Cukup! aku pergi"
Varsha keluar dari mobil Zavas dan membanting pintu mobil dengan sangat keras.
"Randy, ayo jalan" teriak Zavas. Randy pun masuk.
"Tapi maaf tuan, nyonya bagaimana? mobil nyonya sudah dibawa oleh asisten yang lain?" tanya Randy.
"Jangan hiraukan dia, jalan"
"Baik tuan"
Zavas pergi tanpa melihat Varsha begitupun Varsha tidak menghiraukan Zavas yang berlalu begitu saja. Varsha kembali dan menunggu Keenan di taman rumah sakit.
"Hahh" aku menghela nafasku seakan penuh sesak di dalam dada.
"Jika saja kamu tidak berbohong, mungkin tidak akan ada masalah seperti ini" gumam ku dalam hati.
waktu berjalan begitu cepat dan menunjukan pukul 20.35. Keenan yang baru keluar dari dalam rumah sakit seketika kaget ketika melihat Varsha masih ada disana.
"Varsha"
"Kenapa Ken?" tanya salah satu temannya Keenan.
"Ah tidak, kalian duluan saja"
"Ok, kita duluan yah"
Keenan menghampiri Varsha.
"Cha"
"Eh, Ken"
"Kirain kamu sudah balik dari tadi"
"Iya sih seharusnya begitu, tapi mobilku di bawa sama asisten Zavas, tadi kami berantem"
"Zavas ninggalin kamu sendiri?"
"Aku yang pergi ninggalin dia, Ken"
"Iya sih, tapi setidaknya dia jagain kamu, sebenarnya dia cinta gak sih sama kamu? eh maaf aku terbawa emosi"
"Iya, gak apa-apa kok"
"Ya sudah kita cari makan terus pulang yah"
Keenan kamu terlalu baik.
...----------------...