My Bossy

My Bossy
28. Saling mencintai



18+ ❤️❤️❤️


Malam menuju pagi sekitar pukul 02.00 aku dan Zavas masih dalam perjalanan, aku pun bertanya untuk menepis semua penasaranku.


"Mas, sebenarnya kita mau kemana?"


"Nanti juga kamu bakalan tahu, kamu bisa istirahat aja"


"Baiklah, tapi kalau mas lelah biar aku saja yang menyetir"


"Tidak! sudah kamu istirahat saja"


Disaat aku hendak menutup mataku tiba-tiba terlintas dipikiran ku.


"Oh iya, aku mau tanya sesuatu"


"Apa itu?"


"Aku merasa tidak enak jika terus menerus memanggilmu dengan sebutan mas"


"Kenapa kamu tidak suka?"


"Hanya saja, sedikit canggung"


"Ok..apa saja yang kamu mau asalkan jangan pak"


"Bagaimana kalau nama saja, ya walaupun mas lebih tua dari aku tp biar kita lebih akrab saja sebagai teman, gimana?"


"Jadi kita ini hanya sebatas teman?"


"Iya" jawabku singkat.


Tiba-tiba Zavas menghentikan mobilnya.


"Kenapa tiba-tiba seperti itu?" tanyaku dengan nada sedikit kaget.


"Jadi kamu masih belum bisa menerimaku?"


"Maksudnya menerima, apa?" Zavas menatapku dengan tatapan kesal.


"Sudah berkali-kali aku mengataka nya padamu, kalau aku itu cinta dan sayang sama kamu!"


Aku terdiam ketika Zavas kembali mengatakan itu, hatiku yang layu sedikit demi sedikit telah tersiram kembali namin apakah akan tumbuh.


"Kenapa diam,?" bentak Zavas "Setiap kali aku membicarakan itu kamu selalu diam, kenapa kamu masih benci aku,?" Zavas menggengam tanganku erat, namun aku masih bingung untuk mengutarakan apa yang akan aku katakan "sudahlah, sama saja" Zavas kembali menjalankan mobilnya.


Setelah lama melaju kami beristirahat di sebuah hotel yang sangat nyaman dipinggir pantai.


"Kita istirahat disini saja" Zavas masih terlihat sangat kesal. kami istirahat di kamar hotel yang sama namun bed nya berbeda.


"Baiklah, aku akan mandi terlebih dahulu"


"Hmh" begitulah jawaban Zavas hanya itu.


Dikarenakan kami belum tidur selama semalam jadi kami menghabiskan waktu siang hanya untuk tidur dan makan, Zavas dan aku hanya saling diam seakan ada tembok besar di hadapan kita.


Waktu malam tiba, kami tidak bisa melanjutkan perjalanan kami karena diluar sedang hujan deras jadi kami menundanya dan akan dilanjutkan besok pagi. aku dan Zavas bersiap untuk tidur.


"Besok kita akan check out jam 07.00 jadi kamu siap-siap sebelum itu"


"Iya" aku melihat Zavas malam itu sangat dingin terhadapku, Zavas membaringkan badanya tanpa melihatku.


"Kamu sudah tidur, mas?" tanyaku. aku terus mengulangi pertanyaan itu sampai pada akhirnya dia menjawab ku.


"Ada apa?" tanyanya kembali.


"Mas aku mau ngomong sesuatu sama kamu, bolehkah?"


"Iya ngomong aja!" dia masih membelakangiku dan tanpa menatapku.


"Begini mas,.." aku ragu untuk mengucapkannya.


"Katakan saja" sahut Zavas.


"Aku tahu kamu sangat kesal kepadaku karena aku tidak bisa memberimu kepastian. jadi begini aku dan kamu sama-sama memiliki masa lalu yang kelam dan aku yakin kamu masih belum bisa melupakan mendiang istrimu, terlebih lagi aku sangat mirip dengannya, jadi jika kamu terus bersamaku kamu hanya menyamakan ku sebagai Edrea bukan Varsha" ucapku sambil menatap ke arah langit-langit.


Zavas hanya terdiam tanpa suara, mungkin dia sedang merenungkan kata-kataku.


"Namun jika memang kamu memang mencintai dan menyayangi aku,.." aku menghentikan kata-kataku.


"Apa, lanjutkan," seru Zavas dia langsung membalikan badannya dan menatapku "Apa?"


"Tidak, lupakan saja" jawabku.


"Tidak, yang aku lihat kamu melakukannya untuk Edrea"


"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"


"Dari cara aku melihat orang terdekatmu, kamu selalu mengatur apa yang jadi hidupku dan kemauanku yang bahkan aku belum pernah melakukannya dan aku tidak menyukainya"


"Seperti contohnya?"


"Semua orang yang bekerja denganmu melihatku sebagai Edrea bukan Varsha, setiap kali aku melakukan kebiasaan ku setiap orang memandangku aneh karena memang Edrea belum pernah melakukannya"


"Mungkin hanya perasaanmu saja" Zavas bangun dan menuangkan secangkir wine.


"Tidak, jadi aku rasa kamu belum bisa sepenuhnya melupakan Edrea"


Zavas memberiku secangkir anggur.


"Sini duduk biar aku jelaskan"


Aku dan Zavas duduk di kursi yang menghadap kaca besar terlihat deburan ombak pada malam itu.


"Edrea memang seorang wanita yang aku cintai dan sayangi dulu, sosoknya yang anggun namun periang membuatku merasa sempurna memilikinya, aku tahu kamu bukan Edrea sifat mu yang sedikit kasar dan keras kepala memperlihatkan jelas kamu bukan Edrea jadi bagaimana aku suka sama kamu sedangkan tipeku saja hanya ada pada Edrea, seiring berjalannya waktu rasa dihati ku sepertinya tumbuh kembali, aku melihatmu memiliki hati yang hangat dan baik hati dari sana aku mulai menyukaimu bahkan lebih"


Zavas menatapku dan perlahan membelai rambutku.


"Jadi apakah boleh aku memilikimu selamanya?" tanya Zavas sambil menggenggam tanganku.


"Apakah aku layak untuk menggantikan Edrea di kehidupanmu?" tanyaku kembali.


"Tentu, kamu wanita yang aku sayangi hanya kamu," Zavas memelukku "apakah sekarang kau telah menjadi milikku?" bisik Zavas ditelinga ku.


"Iya, aku sepenuhnya milikmu"


"Benarkah itu?" tanya Zavas dengan raut wajah sangat bahagia.


"Iya" Zavas memelukku.


Kami berpelukan sangat erat, seakan semua rasa cinta ini menjadi satu. Zavas menatapku dan mencium bibirku dan sesekali aku membalas ciumannya.


"Varsha,hmmh" Zavas seakan ingin melampiaskan hasratnya pada malam itu, jantungku yang berdebar kencang dan nafasku yang tidak beraturan membuat kami lupa akan semua masa lalu kita.


Zavas memangku tubuhku dan menggeletakanku terbaring di atas ranjang, Zavas berada tepat diatas ku dia memburuku dengan ciuman dan kata-kata mesra. entah kenapa aku tidak bisa menolaknya aku semakin terbuai dan menikmati apa yang telah Zavas lakukan terhadapku.


Namun tiba-tiba suara handphone Zavas berbunyi.


'Tringg...tring...'


Aku tahu itu panggilan darurat sehingga Zavas langsung mengangkatnya.


"Halo, ada apa pak,?" ternyata yang menelepon sekretaris pribadiku "Aku akan segera kesana"


"Ada apa?" tanyaku.


"Tidak apa-apa! aku tinggal dulu sebentar kamu istirahat saja disini,besok pagi kita lanjutkan perjalanan kita"


"Perlukah aku ikut denganmu?"


"Tidak usah sayang, nanti kamu kecapean simpan saja tenaga mu untuk nanti karena aku belum menyelesaikannya" ucap Zavas sambil memakai jasnya.


"Ih..malam ini selesai dan tidak ada lanjutannya"


"Ok! tapi lihat saja nanti"


'Chuup' (Zavas mencium keningku)


"Aku pergi dulu kamu baik-baik disini yah"


"Iya kamu juga hati-hati"


Zavas pergi dan meninggalkanku di hotel sendiri, aku tersenyum ketika mengingatnya.


"Apakah benar kami saling mencintai,?" gumamku "apakah benar kita akan hidup bersama,?" beribu pertanyaan ada di pikiranku "ahh sudahlah aku tidur saja"


Sementara itu Zavas mendatangi tempat yang di informasikan oleh sekretarisnya.


"Selamat datang tuan!" sambut semua bodyguardnya.


"Jadi ada informasi apa mengenai Edrea?"


...----------------...