My Bossy

My Bossy
24. Dia pergi..



🌷🌷🌷🌷🌷


Akankah cinta dalam hatiku kembali hadir, apakah mencintainya tidak akan membuatku sakit kembali.


Sebuah villa sederhana namun sangat indah membuatku terpana ketika pertama kali melihatnya, terdapat sebuah taman yang penuh dengan bunga-bunga indah, dan cahaya lampu menambah suasana terkesan romantis. aku dan Zavas duduk di sebuah kursi taman kemudian Zavas pun mulai bercerita kembali,


"Dulu Edrea sangat suka sekali bunga, katanya melihat bunga itu membuatnya tenang"


'Mulai bercerita'


"Zavas, pernikahan kita kan tinggal satu minggu lagi semua sudah beres. aku tidak sabar melihat dekorasi pesta kita" ucap Edrea.


"Tenang saja sayang semua sudah sesuai permintaan kamu, sebuah pesta pernikahan yang penuh dengan bunga indah" sahutku.


Satu minggu berlalu begitu cepat, pernikahan kami pun dimulai. hari itu Edrea terlihat sangat cantik dan menawan, sebuah pesta sederhana di gelar, kehadiran kerabat dan saudara membuat Edrea sangat bahagia waktu itu.


Seperti biasa kami melakukan acara pernikahan sebagaimana mestinya.


"Pak, apakah lebih baik kita bercerita di dalam saja. aku sudah mulai kedinginan?" tanyaku.


"Ok, masuklah!"


Setelah kita masuk kami duduk di ruang tengah tepatnya tempat nonton televisi kami duduk di sofa panjang yang sangat empuk dan hangat tak lupa Zavas memutar musik romantis untuk menambah suasana semakin nyaman, Zavas pun kembali melanjutkan ceritanya.


Acara pernikahan kami akhirnya selesai selanjutnya Edrea dan aku berbulan madu, kami melakukan apa yang belum pernah kita lakukan, seakan dunia hanya milik kita bersama.


Empat bulan kemudian akhirnya Edrea mengandung anak pertama kami dan bisnis yang aku jalankan berhasil dan meningkat cepat. waktu berlalu dan usia kandungan Edrea menginjak ke enam bulan.


"Sayang apa kita bisa membangun rumah mewah impian kita?" tanya Edrea.


"Semoga sayang doakan saja!" jawabku sambil mengusap-usap rambutnya.


"Oh, iya sayang aku sudah menemukan nama untuk anak kita!" seru Edrea "Akan aku beri nama Lilly, bagaimana cantik bukan?"


"Sangat bagus aku suka"


Bisnis ku semakin berkembang pesat dan akhirnya aku bisa membangun rumah apa yang kita impikan. Edrea sangat senang kami mulai mendesign semuanya berdua.


Pada waktu itu Kehidupanku berada dipuncak nya. semua yang kita impikan pun tercapai walaupun tidak sedikit banyak gosip mengenai ku yang membuat Edrea terluka namun dia tidak menanggapinya, dia sangat baik dan sangat mempercayaiku.


"Aku tidak peduli dengan apa yang orang bicarakan, tapi satu hal jangan sampai sekalipun mas menghancurkan kepercayaan ku" tegas Edrea.


"Mas hanya takut kamu terluka sayang, gosip diluar sana terlalu kejam untuk kamu dengar, kenapa kamu tidak mencoba untuk membuka dirimu dan biarkan orang lain tahu kalau kamu ini istri sah aku" ujar ku.


"Tidak sayang! aku juga mempunyai karir aku takut akan berpengaruh dalam karirku, sudah aku tidak apa-apa tenang saja" ucap Edrea dengan senyum manisnya.


Lilly anakku sudah berusia dua tahun, dia sangat manis dan lucu. aku dan Edrea sangat mencintai Lilly hingga tiba saatnya kami akan mengadakan acara liburan bersama ke Korea.


"Sayang kamu sudah packing?" tanyaku


"Sudah sayang, kamu bisa kan pergi bersama besok?"


"Bisa sayang, tenang saja!" tiba-tiba sekretarisku datang dan mengetuk pintu.


'Tok..tok..tok'


"Pak bisakah kita bicara sebentar?"


"Tentu, bicara saja!"


"Tapi pak,,"


"Ada apa?"


"Begini pak, gudang bagian selatan terbakar pak dan sudah ditangani oleh dinas pemadam kebakaran"


"Apa?" aku dan Edrea sangat kaget mendengar laporan dari pak Yudha yang saat itu masih sekretarisku.


Liburan kali ini telah di batalkan. butuh satu minggu bahkan satu bulan untuk mengurus semuanya sampai selesai, Edrea tidak keberatan dengan keputusanku.


Edrea adalah seorang dokter ahli yang paling banyak di cari, hingga tiba saatnya tepat jam 23.30 ada panggilan telephon masuk, Edrea pun terbangun dan mengangkatnya.


"Halo"


"Besok pagi?" tanya Edrea "Iya saya akan bersiap dari sekarang" Edrea pun menutup panggilannya dan menemui ku, kala itu aku sedang di ruang kerjaku.


'Tok..tok..tok'


Edrea mengetuk pintu.


"Ok. ada apa?"


"Tadi kepala rumah sakit menelepon dan menugaskan ku untuk pergi ke perbatasan di negara L"


"Bukankah negara itu sedang konflik?"


"Iya!"


"Aku tidak mengijinkan, jika tidak ada pilihan lain lebih baik kamu resign saja"


"Tapi sayang, kamu tahu sendiri bagaimana aku mencintai pekerjaanku" aku terdiam dan berpikir bagaimana solusinya.


"Berapa lama kamu ditugaskan di sana?"


"Aku tidak tahu dan tidak pasti" Aku menghela nafas dalam-dalam.


"Ok sekarang kapan kamu harus pergi?"


"Pagi ini"


"Apa?? bagaimana dengan Lilly dan bagaimana denganku? kamu jangan egois pikirkan kita"


"Sayang, please!! aku tidak mau melepaskan pekerjaanku"


Aku pergi meninggalkan Edrea untuk menenangkan pikiranku dan juga hatiku, kala itu hatiku berkecamuk banyak pikiran negatif yang terlintas.


"Tidak! pasti Edrea baik-baik saja di sana" gumam ku dalam hati.


Waktu sudah menunjukan pukul 03.00 aku menuju kamarku terlihat Edrea sedang duduk dan merenung di meja kerjanya.


"Sayang!" panggilku.


"Iya mas!" sangat terlihat Edrea menginginkan tugas itu.


"Begini, aku mengijinkan kamu pergi tp dengan satu syarat"


"Benarkah, kamu mengijinkan ku,?" tanya Edrea "apa syaratnya?" tanya Edrea kembali.


"Kamu harus kembali dengan selamat dan tidak ada yang kurang dari dirimu saat ini tidak ada luka bahkan goresan sedikitpun. janji?"


"Iya mas aku janji" Edrea memelukku begitupun denganku.


"Mas akan menungguku bukan?"


"Tentu aku dan Lilly akan menunggumu"


"Tapi jika aku tidak kembali, mas harus mencari pengganti diriku yang menyayangimu dan Lilly"


"Tidak! aku yakin kamu pasti kembali" Pelukan itu seperti mengisyaratkan sebagai pelukan terakhir, pelukan kami begitu erat.


Tepat pukul 05.00 Edrea pergi dari negara kami menuju negara L dia pergi bersama rekannya yang terpilih seingat ku ada 8 orang yang pergi waktu itu.


Sepuluh bulan berlalu kami berhubungan lewat pesan singkat, telephon, dan lain-lain. Semuanya baik-baik saja malam itu Edrea menghubungiku


"Mas, tugasku disini telah selesai mungkin minggu depan aku pulang" suara Edrea terdengar lemah malam itu.


"Baguslah aku dan Lilly sangat merindukanmu, kamu kenapa sayang apa kamu sakit?" tanyaku khawatir.


"Tidak! aku hanya lelah mas banyak orang yang terluka disini, banyak jadwal operasi juga jadi aku sangat lelah. mas aku mau istirahat, besok aku menghubungimu kembali" ucap Edrea.


"Baik sayang istirahat yang cukup jangan lupa makan dan vitami nya yah" tegas ku.


"Iya mas, mas juga istirahat yah. pasti Lilly sudah tidur. sampaikan pada Lilly kalau aku sangat rindu dan sayang padanya yah mas"


"Iya sayang, Lilly pasti tahu kalau ibunya sangat mencintainya. kamu tidak usah khawatir Lilly pasti baik-baik saja disini. kamu jaga diri baik-baik yah sayang"


"Iya mas, i love you"


"I love you to" tidak disangka itu menjadi pertemuan terakhir kami.


Sudah hampir satu bulan Edrea tidak menghubungiku aku mencoba menghubunginya pun tetap tidak bisa, aku mencoba bertanya ke pihak rumah sakit namun masih harus menunggu laporan dan aku berencana menyusul Edrea ke negara L namun tidak bisa karena sedang terjadinya konflik di negara tersebut.


Rekannya yang bergabung untuk tugas pun sama tidak ada kabar, sampai pada akhirnya datang sebuah surat dan sangat terpampang jelas nama pengirimnya adalah Edrea.


...----------------...