
🥀🥀🥀🥀🥀
Lilly adalah anak pertama kami, dia memiliki sifat ibunya yang periang jarang sekali untuk Lilly menangis tetapi ketika Edrea pergi dan tidak kembali Lilly sering menangis.
"Sayang, anak papah jangan menangis yah" aku berusaha membujuk Lilly untuk berhenti dari tangisnya. aku mengendong nya dan lain sebagainya namun hasilnya tetap saja.
"Maaf tuan ada surat" Sahut bu Ella sambil memberikan amplop putih berwarna putih.
"Iya bu! tolong jaga Lilly dulu sebentar" bu Ella membawa Lilly bermain. aku menuju ruang kerjaku untuk membaca suratnya.
Betapa terkejutnya aku ketika membaca pengirim dari surat tersebut, tanganku bergetar, dan kakiku tiba-tiba lemas.
"Edrea! kamu dimana sayang?" aku berharap itu salah satu pertanda kalau Edrea masih hidup. aku mulai membaca suratnya.
L, 21 November 20
Kepada,
Suamiku tercinta
Ditempat
Sayang bagaimana kabarmu dan juga Lilly? aku harap semua baik-baik saja. Sayang aku ingin bercerita sedikit saja tentang keseharian ku disini.
Daerahku terkenal tempat teraman namun
kemarin pagi tepat pukul 02.00 aku terbangun karena mendengar ledakan bom yang mengguncang sangat hebat ledakan itu sangat keras sehingga alarm emergency mulai berbunyi, kami disini mulai panik namun aku dan rekan yang lain harus segera menyelamatkan korban yang terkena ledakan seakan air mata dan darah telah bercampur jadi satu.
Sekarang disini tepat tanggal 21 November pukul 14.00 hari masih siang namun terasa gelap. sayang jika minggu ini aku tidak kembali mungkin tugasku belum selesai, namun jika lebih dari itu aku harap kamu bisa mengikhlaskan aku.
Sayang...hanya satu yang perlu kau ingat aku disini selalu merindukanmu dan Lilly. terima kasih karena sudah mencintaiku, dan terima kasih sudah mau berjuang bersamaku.
Semua jaringan disini semuanya terputus dan aku tidak bisa menghubungimu. sayang..Maafkan aku jika aku tidak bisa menepati janjimu.
I love you so much..
...----------------...
Aku baru kali ini melihat Zavas meneteskan air matanya namun sesekali dia mengusap air matanya.
"Pak, apakah bapak sangat mencintainya?" tanyaku.
"Sangat, melebihi apapun" jawabnya dengan nada lirih.
"Apa ada kabar dari nyonya Edrea setelah itu?"
"Aku dapat kabar setelah menunggu dua bulan lamanya. kepala rumah sakit mengumumkan kalau semua dokter yang ditugaskan ke negara L dinyatakan gugur" paparnya.
"Bukan kah untuk tenaga medis dijamin keselamatannya?" tanyaku.
"Aku sudah mencoba menanyakan hal itu, tetapi berita ledakan bom di negara L sampai terdengar ke negara kami"
"Aku juga sempat mendengar berita itu, lantas bagaimana dengan Lilly?"
"Aku sempat terpuruk beberapa bulan, bisnis ku goyah, aku gagal menjaga Lilly sampai pada akhirnya Lilly sakit parah dan aku belum bisa bangkit"
"Jadi pak?"
"Iya..Lilly berhenti dari tawanya dan dia meninggal. aku kembali terjatuh pikiranku kalut, hatiku hancur, namun pak Yudha terus membantuku dan mengingatkanku untuk kembali bangkit"
"Aku ikut bersedih mendengarnya, ternyata kehidupan bapak sangat pilu dibandingkan kehidupanku, namun aku selalu merasa paling terpuruk di dunia ini," ucapku sambil menunduk "Oh iya, tapi kenapa bu Ella menyangka kalau Lilly pergi bersamaku?" tanyaku bingung.
"Banyak diluar sana yang belum tahu kalau aku sudah menikah dan mempunyai anak. Edrea pernah bilang dan memintaku untuk merahasiakan kepergiannya ke negara L. aku hanya bilang kalau Edrea pergi ke rumah mama dan tinggal disana. satu bulan kemudian aku membawa Lilly ke rumah mama, jadi yang lain menyangka kalau Edrea masih hidup"
"Apakah ini alasan bapak memperlakukan aku seakan-akan aku ini istri bapak?" tanyaku.
"Iya agar semua orang di rumah tahu kalau Edrea masih hidup"
"Tapi aku bukan Edrea tapi Varsha pak, kami berbeda sangat jelas berbeda" Tegasku.
Zavas menatapku namun kali ini tatapannya berbeda.
"Menurutku kamu dan Edrea memiliki kesamaan, pertama kali aku melihatmu datang kepadaku dengan keadaan hamil aku sungguh terkejut, semua yang dalam pikiranku dan dalam hatiku yang aku tutupi waktu itu terbuka kembali" paparnya sambil menggenggam tanganku.
"Apakah kamu sudah makan?" tanya Zavas.
"Belum, kan tadi bapak langsung membawaku kesini" jawabku cemberut.
"Kali ini aku akan memasak untukmu, kamu belum mencoba masakan ku bukan?" dia bertanya sambil memakai celemek dan bersiap untuk memasak.
"Tidak usah pak! aku tidak mau merepotkan bapak"
"Tidak apa-apa, anggap saja masakan ku sebagai imbalan karena kamu telah mendengarkan ceritaku" ujarnya.
Tidak lama kemudian masakan Zavas pun telah siap dihidangkan.
"Wah...kelihatanya enak" seruku, mataku yang tidak bisa jauh dari hidangan tiba-tiba Zavas mencium keningku.
'chuup'
"Makanlah, ini special untukmu" jantungku tiba-tiba berdebar hebat, dan mukaku yang memerah.
"Apa, dia kenapa, kenapa tiba-tiba seperti itu,??" gumam ku dalam hati "semoga saja detak jantungku tidak bisa didengar olehnya, dan wajahku ahh kenapa disini sangat panas?" hatiku terus berbicara.
"Baik, terima kasih pak!"
"Aku tidak mau mendengarmu memanggilku dengan sebutan bapak lagi"
"Tapi,,!!"
"Sstt!! jangan sekarang bahasanya lebih baik kita makan dulu sekarang" tegasnya.
Waktu berlalu dengan cepat dan kami masih berada di villa yang sangat hangat dan nyaman untuk ditepati.
"Pak, sekarang sudah pukul 22.00, apakah kita tidak akan pulang?" tanyaku sambil melihat jam yang ada ditangan ku.
"Kita akan bermalam disini, semua asistenku dan pengawal pribadiku semuanya sudah pulang" jawab Zavas, matanya yang fokus terhadap laptopnya terlihat dia sangat sibuk dan sedang bekerja.
"Jadi tinggal kita berdua disini pak?" teriakku.
"Iya" jawabnya singkat.
"Lah, gimana sih pak masa kita berdua disini?" keluhku.
"Panggil aku mas!" tegasnya.
"Oh iya maaf mas," sahutku "mas, apa mau dibuatkan kopi?" tanyaku untuk memecah keheningan malam ini.
"Boleh" jawabnya kembali singkat karena aku tahu dia sangat sibuk. akupun segera membuatkan secangkir kopi dan menyimpan di meja kerjanya.
"Kalau kamu mau istirahat, dan mau mandi semua pakaian sudah tersedia dan tidurlah" ucap Zavas.
"Mungkin aku akan mandi dulu mas" akupun bergegas mandi dan mengganti pakaianku, betapa kagetnya aku ketika melihat isi lemari dan yang tersedia hanya lingerie dan pakaian yang sangat sexy, aku segera keluar dari ruang ganti.
"Mas, apa bajunya tidak salah? itu terlalu sexy untukku?" teriakku.
"Kenapa itu bagus untukmu, pakai itu jangan pakai lagi baju kerjamu aku tidak tahan dengan baunya" ujarnya namun tatapan matanya tidak lepas dari laptopnya.
"Apa? ok aku akan ganti baju tapi mas jangan macam-macam!"
Zavas tidak menjawab dan aku mengganti pakaianku berjenis kemeja warna hitam namun sangat transparan.
"Entah pakaian apa ini?" gumam ku. baru saja aku mengganti pakaianku Zavas pun masuk ke kamar yang aku pakai untuk tidur.
"Ehh mas, aku mau tidur tapi aku lihat disini kamarnya cuman satu jadi mas bisa tidur disini saja aku diluar" ucapku. aku pun berlalu keluar namun Zavas menghalangiku.
"Sudah, kita tidur saja berdua disini" bisik Zavas dia langsung memelukku dari belakang.
"Tapi mas?"
"Tidak usah membantah, turuti saja perintahku,!" bisik Zavas "Varsha, aku tahu kamu bukan Edrea tapi apakah boleh aku menyukaimu dan mencintaimu?" pertanyaan Zavas membuatku kaget.
"Apa, sebenarnya apa yang dia bicarakan,?" tanyaku dalam hati "aku pernah melalui hal seperti ini. mereka menginginkan aku hanya untuk nafsunya bukan untuk cintanya. apakah Zavas benar mencintaiku atau aku hanya akan dijadikan pemuas nafsunya?"
...----------------...