
🍃🍃🍃🍃🍃
Lima hari sudah akhirnya Aku berjalan keluar untuk menghirup udara segar dan duduk dibangku taman rumah sakit, angin berhembus dengan lembut menyapa, aku menghela nafas dan menghirup udara segar yang seakan menggantikan semua oksigen kotor dalam tubuhku. cuaca hari ini tidak cerah namun hangat membuatku semakin nyaman untuk duduk disini walaupun sendirian.
Zavas meperhatikanku dari jauh dan hendak menghampiriku namun baru saja melangkah ada seseorang menghampiriku dan memanggiku langkahnya pun terhenti.
'Triing..tring..' (suara panggilan masuk)
"Haloo.., ok saya akan segera kesana" Zavas pergi setelah menerima telephon.
"Varsha..!!" seorang memanggilku. akupun mencari asal suara itu dan ternyata itu Keenan.
"Hai..apa kabar?" tanyaku.
"Aku baik, kamu sekarang bagaimana?" seperti biasa senyumanya sangat manis dan hangat.
"Udah agak mendingan" jawabku dengan senyum pasi.
"Maaf aku telat menemuimu aku dengar dari Jesna dan Arya mereka menceritakan semuanya, susah buat menghubungimu maaf yah.." ucap keenan.
"Iya gak apa-apa"
"Sekarang bagaimana keadaanmu?"
"Iya beginilah, entah apa yang harus aku lakukan setelah ini? Oh..iya kamu kok ada disini? kapan kamu datang?"
"Setelah semalam aku dengar cerita dari Arya dan Jesna aku langsung meluncur kesini"
"Kamu tidak kerja?"
"Setelah aku pikir-pikir rasanya aku ingin pindah tugas kesini, agar bisa menjagamu cha" Kenaan menatapku lembut.
"Mengurus kepindahan dinas itu sulit ken, jika itu alasanmu untuk pindah aku rasa tidak akan terbayarkan apalagi untuk orang sepertiku" ujarku.
"Kenapa? aku hanya ingin dekat sama kamu saja. begini saja rasanya menenangkan untukku". aku tidak menjawabnya dan hanya tersenyum.
"Lebih baik kamu masuk, angin disini semakin dingin" Keenan memapahku untuk duduk di kursi roda dia membawaku ke ruangan.
"Kamu sudah makan??" sesampainya di ruangan.
"Belum, makanan rumah sakit tidak enak" jawabku. Keenan terkekeh mendengarnya.
"Jadi kamu mau makan apa, makan dulu yang disini biar bisa cepat pulang" ucap Keenan.
Kami mengobrol seperti biasa, tanpa terasa waktu menunjukan pukul 19.00. Keenan yang seharian ini terus memanjakan ku, dia juga yang selalu memperhatikanku, dan dia selalu membuatku melupakan semua masalah yang ada dalam kehidupanku.
Tiba-tiba Zavas masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. melihatku sedang asik mengobrol dengan Keenan membuatnya sedikit terkejut, Zavas pun masuk.
"Aku membawakan kamu makanan" Zavas menyimpan sekotak makanan di meja.
"Terima kasih pak! tapi sebenarnya saya sudah makan. bapak tidak perlu repot-repot datang kemari untuk membawakan aku makanan lebih baik bapak istirahat saja pasti bapak sangat sibuk" ucapku.
"Oh ok!" Zavas menjawab sangat singkat dan sangat kaku.
"Oh iya perkenalkan ini temanku namanya Keenan" mereka saling berkenalan dan berjabat tangan, namun ada suasana yang sangat canggung.
"Suasana macam apa ini" gumam ku dalam hati. aku tersenyum untuk mencairkan suasana.
Arya dan Jesna tiba-tiba datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu.
"Haii sayang!! apa kabar..i Miss you so much" sapa Jesna sambil memelukku.
"Haii Cha, loe baik-baik saja kan?" tanya Arya yang sangat mengkhawatirkan ku.
"Sekarang gue udah mendingan kok, besok gue udah bisa pulang" jawabku.
"Loe harus bisa ngelewatin ini yah cha, gue yakin ada hikmah dibalik semua ini" ucap Arya sambil mengusap-usap pundak ku.
"Entahlah..aku harus dapat persetujuan terlebih dahulu" jawabku sambil tersenyum.
"Ok deh..gue paham. kok gue susah banget ngehubungi loe, padahal dari kemarin gue khawatir banget" sahut Jesna.
"Hp gue kayaknya rusak dan entah dimana dan gue belum sempat beli yang baru. maaf yah.." jawabku.
"Ini..aku sudah membelikan HP yang baru untukmu" Zavas mengeluarkan sebuah kotak handphone yang masih bersegel.
"Oh tidak usah pak terima kasih, aku bisa membelinya nanti" aku mencoba menolak pemberian Zavas.
"Tidak apa-apa pakai saja, sengaja aku belikan ini untuk kamu agar kamu bisa bekerja. Oh iya besok kamu pulang dijemput olehku dan kamu akan pulang kembali kerumah ku" tegas Zavas.
"Ta..pii pak..--" belum saja aku selesai bicara Zavas langsung memotong pembicaraan ku.
"Saat ini aku tidak menerima pertanyaan, aku permisi" Zavas melangkah pergi.
"Tunggu pak,," Seru Keenan. Zavas pun menghentikan langkahnya.
"Apa akan lebih baik jika Varsha bersama teman-temannya dulu untuk masa pemulihan" sanggah Keenan.
"Tidak! aku sudah memutuskan seperti itu, itu pun untuk kebaikan Varsha" tegas Zavas.
"Untuk kebaikan seperti apa pak, sudah jelas anda selalu menahan Varsha untuk keluar??" tanya Keenan
"Anda tidak tahu apa-apa, maka diam" mata Zavas yang menyipit, tatapan mata yang tegas dan sorot mata yang kejam pun keluar.
Keenan pun tiba-tiba terdiam tanpa sepatah kata pun, dan Zavas pun berlalu pergi dengan bodyguardnya. hanya tersisa dua orang khusus untuk menjaga ruangan inap ku.
"Hahaha..." Jesna tertawa puas melihat Keenan dengan raut wajah syok nya.
"Apaan sih Ken, jadi loe kena semprot kan?" tanya Jesna.
"Baj***ng*n" jawab Keenan kesal.
"Kita itu sudah terbiasa mendapat perlakuan seperti itu Ken. sudahlah bro, kita ngopi sajalah" Arya dan Keenan pun pergi.
"Cha, loe beneran gak apa-apa? kemarin orang tua loe datang juga kan, reaksi mereka bagaimana?" tanya Jesna sambil mengeluarkan pakaian ganti untuk besok aku pulang.
"Mereka tetap tidak mau menerima gue jes, lagian kemarin gue sama bokap sama-sama emosi, nanti juga akan mencair dengan sendirinya. terima kasih yah loe udah bawain baju ganti gue" jawabku.
"Iya, gue tahu loe kok dan gue yakin loe pasti bisa ngelewatin ini semua. oh.. iya di kantor rame banget mengenai kasus loe dan mereka yakin ini percobaan pembunuhan bukan kecelakaan cha" pernyataan Jesna sontak membuat aku kaget terlebih lagi sebelumnya aku bertemu dengan Rasen.
"Apa jangan-jangan?? ada hubungannya dengan Natya?" tanyaku dalam hati.
"Barangkali loe mencurigai seseorang cha?" selidik Jesna.
"Sebelumnya sih gue ketemu Rasen jes, tapi gue gak bisa ngambil keputusan loe tahu sendiri kan mengenai artikel yang pernah gue share ke loe" jawabku.
"Iya juga sih dan katanya pak Zavas sekarang sedang mengusut tuntas kasus ini, aneh gak sih, padahal sebelumnya dia tidak pernah tertarik mengenai kasus-kasus karyawannya. apa jangan-jangan dia suka sama loe?" candaan Jesna membuatku bergidik geli.
"Ihh..apaaan sih loe gak lucu tahu" sahutku kesal.
"Hahahaa...gak apa-apa kali jadi istri CEO"
"Iya CEO nya sih gak apa-apa tapi killernya jangan dong. ogah gue" ucapku.
"Ya udah iya.. loe tidur aja istirahat yah.. besok kan weekend gue nginep disini aja sama Arya biar besok bisa langsung pulang gak harus balik lagi" kata Jesna sambil membereskan semua peralatan yang besok harus di bawa pulang.
"Terima kasih yah Jes dan maaf gue selalu ngerepotin loe" Jesna langsung memelukku.
"Gak apa-apa cha gue juga dulu pernah berada dimasa yang paling sulit dan loe selalu ada buat gue"
Sungguh aku sangat beruntung memiliki teman seperti mereka.
...----------------...