
☕☕☕☕☕
Sesampainya di rumah aku langsung membuka pintu dan betapa kagetnya aku ketika melihat Zavas telah menunggu di ruang tengah dengan wajah yang kesal dan marah, terlihat dari sorot mata yang tajam, dan alis mata yang berkerut.
"Selamat malam pak!" sapa ku sambil menunduk dan tidak berani sama sekali untuk melihat matanya.
Suasana malam ini sangat dingin dan sangat menegangkan bagiku. Zavas memerintahkan semua asistennya untuk meninggalkannya hanya berdua denganku.
"Baru saja datang kamu sudah melakukan 2 kesalahan, apa kamu mau dihukum?" tegasnya.
"Pak tolong jelaskan maksud dan alasan bapak mengenai hal ini. apa kesalahanku dan apa yang harus aku lakukan jangan membuatku bingung?" tanyaku kesal dan seperti biasa Zavas tidak menjawabnya sama sekali.
"Kamu tidak perlu alasan, kamu hanya harus mengikuti apa perintahku" ujarnya dan Zavas pun pergi.
"Pak! please apa yang sebenarnya bapak lakukan kepadaku?" tanyaku. namun Zavas tidak menghiraukanya dan terus berjalan membelakangi ku.
"Pak, tolong jelaskan jikalau tidak bapak hanya akan menjelaskan bahwa gosip itu benar!!" teriakku.
Zavas pun berhenti dari langkahnya namun tidak membalikan badan sedikitpun.
"Pak, please sebenarnya apa yang bapak sembunyikan dariku, dan apa yang bapak inginkan dariku, apa bapak ingin menambah beban di hidupku atau bapak sengaja akan membuat hidupku semakin menderita?"
"Kamu ikutlah denganku" Zavas kembali melanjutkan langkahnya dan aku pun mengikutinya.
Pada akhirnya kami sampai di ruangan kemarin ruangan khusus tepatnya di lantai 3.
"Kenapa kita kembali kesini, pak?" tanyaku heran.
"Bukankah kamu ingin tahu rahasianya?"
"Oh iya pak" Zavas menunjukan ku sebuah foto.
"Coba lihat ini!" betapa kagetnya aku ketika melihat sebuah foto seorang wanita yang mirip denganku.
"Siapa ini?" tanyaku. tanganku gemetar ketika memegang foto itu.
"Dia Edrea dia mantan istriku"
"Apa??"
Zavas menceritakan dan memperkenalkan Edrea kepadaku. Zavas berdiri di balkon yang menjadi tempat favoritnya.
"Dia adalah Edrea anak tunggal dari keluarga yang sederhana, dia adalah adik kelasku kami bersekolah ditempat yang sama, dia adalah gadis sederhana dan sangat periang dia tidak pernah mengeluh dengan apa yang terjadi dalam hidupnya, hingga tiba saatnya aku memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan, pada saat itu Edrea duduk di Kelas 3 SMA dan aku mahasiswa semester 2"
Terlihat Edrea sedang duduk di bangku bawah pohon.
"Kamu kenapa?" tanyaku.
"Aku tidak apa-apa, hanya saja aku sedang tidak enak badan"
"Apakah kamu baik-baik saja?"
"Iya, aku harus tetap baik sampai tes nya selesai dan sampai hasilnya keluar"
"Kamu bisa pulang dan istirahat, nanti untuk hasilnya aku kirim lewat e-mail"
"Tidak biar aku tunggu sampai selesai"
Edrea tetap menunggu walaupun wajahnya sudah pucat pasi dan akhirnya hasil tes yang ditunggu-tunggu keluar. Edrea berhasil lolos menjadi salah satu mahasiswa fakultas kedokteran bahkan salah satu calon mahasiswa dengan hasil tes paling tinggi di urutan ke dua.
"Zavas akhirnya.." Edrea berlari dan memelukku.
"Iya..iya..selamat yah!" aku pun memeluknya dengan bangga. aku yang berbeda tingkat dan fakultas dengan Edrea membuat kami memberi semangat satu sama lain.
Waktu cepat berlalu akhirnya aku berhasil lulus dengan predikat mahasiswa terbaik di salah satu universitas terbaik di kota ku aku melanjutkan pendidikan ku di Paris dengan mengambil jurusan yang sama yaitu fakultas bisnis.
"Rea, aku pergi yah aku tahu ini sangat berat untuk mu tapi aku yakin kita pasti bisa melewatinya" ucapku sambil memeluk Edrea.
"Iya kita pasti bisa melewatinya, jaga dirimu baik-baik yah dan jangan lupa beri aku kabar di waktu luang mu" nasihat Edrea membuatku semakin berat untuk meninggalkannya tapi ini pun demi kebaikan kita berdua.
"Iya sayang, tunggu aku. ingat jangan nakal" ucapku sambil melepaskan pelukan kami dan akhirnya aku pergi setelah pamitan kepada orang tua kita masing-masing.
Sesampainya di Paris aku belajar seperti biasa aku memanfaatkan beasiswa yang aku miliki terlebih lagi aku terlahir dari keluarga sederhana jadi aku harus sungguh-sungguh berjuang dan aku dengar Edrea telah lulus di universitas dan melakukan pelatihan dan lain sebagainya dan membuatnya sibuk begitupun denganku.
"Kamu bilang aku kekanak-kanakan, aku hanya terlalu mencemaskan mu, apakah kamu tidak mengerti perasaanku?" kembali kami mengalami pertengkaran dengan masalah yang sama.
"Aku bukannya tidak mengerti perasaanmu, tapi.."
"Tapi apa, aku rasa hanya aku yang terus berjuang. mulai dari mengabari mu, dan sesibuk apapun aku masih bisa menghubungimu" teriakku.
"Sayang..dengarkan aku,," nada bicara Edrea mulai melemah, dia sangat tahu cara meredakan amarahku.
"Kita berdua pasti lelah, bukankah kita harus kuat, bukankah kita harus yakin dan bisa melewati semua ini. sayang maafkan aku bukankah kita melalui semua ini demi kebaikan kita, bukankah demi masa depan kita juga?" tanya Edrea.
Seketika hatiku luluh, amarahku mereda dan kami saling meminta maaf. Beberapa bulan berlalu dan pada akhirnya aku memilih untuk kembali ke negaraku dan berencana memulai bisnis di negaraku untuk membuka banyak lowongan di negara sendiri.
Aku menceritakan semua rencana bisnis ku dan akhirnya banyak yang mau berinvestasi dan bekerja sama denganku bahkan disaat aku belum memulai semuanya, aku menceritakan semuanya ke Edrea.
"Benarkah, kamu akan segera kembali,?" tanya Edrea "Syukurlah jika sudah dapat investor dan yang lainnya, by the way kapan kamu akan kembali?"
"Minggu depan" jawabku. betapa senangnya Edrea ketika mendengar ku akan kembali.
Seminggu begitu sangat lama bagiku dan juga Edrea kami berbicara di telephon dan merencanakan apa yang akan kami lakukan setelah kita bertemu dan akhirnya aku pulang.
"Zavas..." teriak Edrea di bandara. Edrea berlari dan memelukku.
"Apa kabar sayang?"
Kami berkunjung terlebih dahulu kepada orang tua kami berdua dan tidak menunggu lama kami langsung melakukan apa yang kami rencanakan.
Nonton
Jalan-jalan di mall
Shoping
Berjalan-jalan di pantai
Makan malam di restauran romantis
6.Merayakan anniversary jadian kita
"Bukankah kamu ingin melihat apartemenku?" tanya Edrea.
"Oh iya, kalau boleh"
"Bolehlah, nanti kan jadi apartemen kita juga" sahut Edrea.
Sesampainya di apartemen.
"Kamu sudah bisa membeli sebuah apartemen mewah sedangkan aku hanya bisa membeli sebuah mobil sederhana" keluhku.
"Tidak apa-apa yang penting kamu terus berusaha untuk bisa membeli rumah mewah bukan lagi apartemen"
"Sabar yah, pokoknya aku akan membahagiakanmu" Kami pun saling berpelukan.
Kami melakukan semua rencana kita mulai dari no satu sampai lima dan akhirnya sampai di acara puncak kita.
"Edrea saat pertama kali kita bertemu aku sungguh sangat yakin kalau kamu adalah cinta terakhirku dan hari ini aku mau bertanya kepadamu" Ucapku sambil memegang tangan Edrea. kami saling menatap satu sama lain, tatapan kami sangat dalam dan penuh cinta.
"kamu mau tanya apa?" ucap Edrea bingung.
"Will you marry me?" tanyaku sambil membuka kotak cincin. Edrea sangat terkejut dengan pernyataan ku. namun tanpa pikir panjang Edrea menjawabnya.
"Yes.." jawaban Edrea sangat singkat karena tidak bisa menahan jatuhnya air mata dia sangat terharu dan bahagia. kami saling berpelukan sangat erat.
Cincin itu sangat manis namun mewah dan itu akan tetap melingkar di jari manis Edrea sampai kita tua nanti.
...----------------...