
🥀🥀🥀🥀
Malam menunjukan pukul 21.30, aku mencoba memejamkan mataku namun sepertinya kejadian tadi membuat mataku enggan untuk tertutup mataku sedikit perih dan sembab. tiba-tiba handphoneku berbunyi.
'Triing..tring...' (suara telephon)
'CEO killer'
dan aku menjawabnya walaupun sedikit malu apabila mengingat kejadian tadi.
"Hallo.." menjadi kalimat pembuka disaat keraguanku.
"Bisakah kamu keruangan ku sebentar..?" suaranya terdengar begitu gugup tidak seperti biasanya.
"Oh iya, aku akan segera kesana" aku terbangun dari tempat tidurku dan langsung menuju ruangannya.
Sebelum masuk seperti biasa aku mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyaku sambil menunduk.
"Tidak hanya saja aku ingin kamu mundur dari projects london dan mulai fokus menjadi sekretaris pribadiku" jawabnya sambil memandang keluar jendela.
"Tapi bagaimana aku bisa melepaskan suatu pekerjaan yang sangat aku sukai, maaf pak sebenarnya saya merasa keberatan jika harus menjadi sekretaris bapak"
"Kenapa?" dia langsung berbalik dan menatapku tajam.
"Jika alasan bapa mencabut ku dari projects London supaya aku bisa fokus menjadi sekretaris bapak itu salah besar, aku tidak akan melepaskan projects itu. terima kasih dan selamat malam" aku pergi dan langsung meninggalkan Zavas.
"Tapi projects itu akan diadakan dua hari lagi dan kamu belum mempersiapkan dengan detail" langkahku tiba-tiba berhenti.
"Akan aku selesaikan malam ini juga" tanpa pikir panjang aku kembali ke ruangan kerjaku dan segera menyelesaikan pekerjaanku.
Tidak lupa aku langsung menghubungi Arya dan Jesna dan memberitahu mereka,
"Apa..!! bukannya waktunya masih dua minggu lagi?" seru Jesna yang sedikit kesal.
"Entahlah aku tidak tahu yang jelas kita selesaikan projects ini atau mundur, hanya itu pilihan kita saat ini"
"Tidak mungkin kita mundur lebih baik kita selesaikan dengan baik terpilih atau tidaknya itu urusan nanti yang penting kita berjuang sampai akhir" sahut Arya dengan semangat.
Satu jam berlalu, dua jam,tiga jam. Zavas yang melihatku bekerja hingga larut malam mungkin sedikit tergerak hatinya. dia membawakan ku segelas teh hangat dan menyimpannya di meja, mataku yang fokus dengan komputerku sejenak berpaling.
"Minumlah selagi hangat. lebih baik kita mundur dari projects ini"
"Terima kasih tehnya, kami tidak akan mundur pak tapi jika kenyataanya kita harus mundur apa alasanya??" Zavas berlalu meninggalkanku dan kembali membawa laptopnya.
"Lihat!! situs ini hanya bisa diakses olehku kamu bisa baca sendiri" dia memperlihatkan suatu artikel yang menjelaskan jika projects besar ini memiliki persaingan yang sangat ketat termasuk Lesham Group 1.
"Bukanya ini, perusahaan Lesham??" tanyaku.
"Iya" jawabnya singkat.
"Dan Natya?" aku sambil menunjuk fotonya.
"Iya, aku dan Natya adalah pesaing yang sangat kuat tidak ada kata mengalah dan kalah dalam kamus sejarah perusahaan kami. perusahaan Lesham sangat besar namun berada dibawah satu tingkat dengan perusahaan kami" jelasnya.
"Terus kenapa, anda ingin menyerah?" jawabku kesal. tiba-tiba Zavas terdiam aku dan Zavas yang berdiri di pinggir meja kerja tiba-tiba berubah menjadi hening.
"Kamu ingin tahu alasannya?" Zavas menatapku tajam dan berjalan sedikit demi sedikit mendekatiku, kakiku pun sedikit demi sedikit melangkah mundur kebelakang seraya menjaga jarak dengan Zavas tiba-tiba terduduk di kursi yang biasa aku duduki untuk bekerja.
"Stoppp!!!" seruku aku sontak menutup mataku dan menahan dada Zavas dengan kedua tanganku. dada Zavas sangat bidang dan keras terlebih lagi sorotan matanya yang tajam membuat jantungku berdegup kencang. Zavas terdiam, membelai rambutku dan berkata.
" Aku hanya tidak ingin kamu terluka kembali" aku sontak kaget ketika mendengar ucapan Zavas.
"A..ku..kembali ke kamarku da..n ka..mu kembali bekerja" dia salah tingkah dan pergi begitu saja.
"Dia sangat aneh tapi spertinya Zavas akhir-akhir ini sedikit berbeda, kenapa yah?" tanyaku dalam hati namun aku tidak terlalu menghiraukannya dan kembali dengan pekerjaanku.
"Ya ampun aku kesiangan, bagaimana ini apalagi aku harus menyerahkan laporan projects ku" aku segera bersiap mandi dan mulai berganti pakaian dan aku langsung turun ke lantai bawah.
"Tapi, bagaimana aku keluar sedangkan aku dilarang untuk keluar gerbang sedikit pun. tak apalah sehari ini saja" gumam ku.
"Bu Ella aku pergi dulu yah..!!" sambil berlalu melewati bu Ella
"Tapi nyonya...!! tunggu dulu" Bu Ella terus berteriak memanggilku. aku tidak menghiraukan panggilan dari bu ella karena aku tahu pasti aku tidak diizinkan untuk keluar. aku langsung tancap gas karena kebetulan gerbang utama sedang terbuka lebar.
Sesampainya di kantor. aku masuk seperti biasa dan orang-orang yang tidak melihatku akhir-akhir ini semua menyapaku dan aku berbincang sangat lama dan hangat.
"Maaf, aku permisi dulu ada yang harus saya selesaikan" aku berjalan menuju ruangan Zavas dengan hati yang tidak menentu.
'Tokk..tok..tok' aku pun masuk dengan perlahan namun tidak aku sadari ternyata di ruangan Zavas sedang ada meeting.
Zavas menatapku dengan tatapan tajam dan penuh amarah. aku langsung tertunduk hatiku begitu tidak menentu dan jantungku berdebar sangat hebat.
"Akhirnya yang kita tunggu-tunggu datang, pak bagaimana mungkin kita menggagalkan projects besar ketika bagian design interior begitu bersemangat untuk mengikuti kompetisi projectnya??" tanya pak Wandi, aku sangat beruntung ketika mendengar ucapan nya.
"Kalau begitu aku ingin kamu menunjukan hasil kerjamu" Zavas pun duduk dan siap mendengarkan persentasi ku. aku menjelaskan sedikit demi sedikit, aku menjelaskan dengan sangat detail dan menyeluruh sampai pada akhirnya semua orang sangat senang dengan hasilnya dan mereka memberikan tepuk tangan.
"Terima kasih..terima kasih" ucapku dan kita menunggu keputusan Zavas.
"Ok..aku sangat senang dan suka dengan hasilnya. akan aku ajukan ke panitia pusat, dan untuk Varsha aku tunggu kamu di ruangan ku" kami pun menutup rapat hari ini dan sesuai perintah aku segera mendatangi ruangan Zavas.
Zavas yang sedang duduk di kursinya terlihat sangat marah dan raut wajahnya yang memerah menyuruhku menandatangani surat resign.
"Pak, apakah kinerja kerja saya sangat jelek kalau jelek tolong jelaskan dari segi apa harus aku perbaiki?" tanyaku sedikit kesal.
"Aku mememcatmu bukan bukan karena kinerja mu tidak bagus. tapi kamu telah melanggar janji dan keluar dari rumah tanpa pengawalan dan pemberitahuan" jawabnya.
"Alasan itu sangat tidak rasional pak, bagaimana aku bisa membuat kinerja yang baik jika untuk keluar saja saya tidak boleh, aku ini bukan tahanan pak!!!" sanggah ku sambil merobek surat resign yang diberikan Zavas. emosiku sangat memuncak hari ini.
"Ok..silahkan kamu pergi dan tinggalkan kantor ini" Ucap Zavas dan langsung membalikan badannya.
"Ok!! akan aku buktikan. aku akan baik-baik saja walau tanpa pengawalan" akupun pergi dengan penuh emosi dengan derap langkah kaki yang cepat sampai tidak sadar kalau sesungguhnya aku dalam kehamilan 6 bulan.
Aku menuju parkiran untuk membawa mobil aku melaju sangat cepat dan berhenti disebuah minimarket untuk membeli minuman dingin yang bisa menenangkan emosiku yang meluap-luap. tak lama akupun keluar dan berjalan menuju tempat parkir.
Dari kejauhan ada seseorang memanggilku.
"Cha..Varsha!!" teriaknya. dan ternyata itu Rasen yang sedang berlari dan kemudian dengan cepat memelukku.
"Bagaimana kabarmu cha, aku tahu kamu dalam kesulitan. beberapa bulan ini aku mencari mu dan aku tahu sekarang kamu tinggal dimana" dia terus memelukku dengan erat.
"Sudah cukup lepaskan, aku dan kamu sekarang sudah berbeda" akupun melepaskan pelukan Rasen.
"Walaupun kita berbeda tapi anak yang dalam kandungan mu anak kita cha" dia menatap mataku terlihat di mata Rasen penuh dengan kerinduan.
"Tidak kita sudah berbeda, biarkan anak ini tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah" aku pun berlalu dan sedikit menjauh dari Rasen.
Natya yang dari tadi mengawasi kami tiba-tiba menancap mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke arahku.
"Wanita sialan..mati kau sekarang juga"
'Braakkkk.....' Natya menabrak ku dengan sangat kencang sehingga tubuhku terpental beberapa meter dari tempat aku berjalan tadi.
"Varshaa...chaa..Varsha" teriak Rasen. dia berlari dan hendak menyelamatkanku namun di hadang oleh bodyguard Natya dan membawanya pergi.
"Toooll....ong" rintihkuu.
"Tolong, cepat panggil ambulance" itu yang terakhir aku dengar dan entah siapa. terkadang aku berpikir kenapa masih ada banyak orang yang sangat jahat dan kenapa masih ada orang yang sangat tega.
"Tuhan, selamatkan lah anakku"
...----------------...