
🍒🍒🍒🍒🍒
Aku percaya Zavas bisa membahagiakanku dan melupakan semua kisah kelam di masa lalu, Zavas menginap dirumah orang tuaku dan kami menggunakan waktu liburan kami selama seminggu untuk berkunjung ke rumah saudara-saudaraku dan memberitahu mereka mengenai rencana pernikahanku dengan Zavas.
"Ah selamat datang sayang, bagaimana kabarmu?" tanya tante Rossa. dia adalah adik dari mamaku.
"Hai tante, kabarku baik. tante sendiri apa kabar,?" tanyaku kembali "kapan yah terakhir aku datang kesini?"
"Kapan yah setahu tante pas hari kelulusan kamu tante juga lupa lagi, papah sama mama bagaimana kabarnya?"
"Mereka sehat tan, oh iya kenalin ini Zavas"
"Oh hai, ya udah yuk masuk dulu"
Tante Rossa adalah istri sekaligus ayah dari kedua anaknya suaminya telah meninggal dua tahun lalu. dia memiliki dua anak diantaranya laki-laki dan perempuan yang diberi nama Jonathan dan Chintya.
"Jo sama Tia kapan balik dari Itali tan?"
"Entahlah, mereka sedang sibuk-sibuknya Cha, Silahkan duduk nak Zavas, mau minum apa?" tanya tante Rossa.
"Apa aja tante, kalau nanti mereka pulang kasih tahu Varsha yah?" sahutku.
"Iya, tante juga kangen sama mereka Cha" tante Rossa menyiapkan minuman dan camilan kecil dibantu oleh ART nya.
"Oh iya Ada apa kalau kamu datang kesini pasti ada hal penting kan, tahu tante jadi ada apa?" tanya tante, mungkin tante sedikit aneh atas kedatangan kami kerumah.
"Gini tan, aku dan Zavas berencana akan menikah" jawabku.
"Benarkah, selamat yah semoga dilancarkan sampai acara nanti, tante ikut senang dengarnya" tante terlihat sangat senang dan tiba-tiba dia memelukku.
"Terima kasih tante"
"Tapi apakah nak Zavas dan Varsha sudah yakin akan pernikahannya, pernikahan itu bukan perkara mudah bukan hanya tentang sayang dan cinta" ucap tante.
"Kalau aku sudah yakin tan," jawab Zavas "tapi aku rasa Varsha kurang yakin" sahutnya.
"Benarkah begitu?" tanya tanteku kembali.
"Tidak tante, aku juga sudah yakin" seruku.
"Kalau begitu kapan kalian akan menikah, apa yang perlu tante persiapkan?"
"Wedding dress tan aku hanya ingin tante yang menyiapkannya untukku"
"Ok sayang, yu kita lihat langsung ke boutique tante"
Kami pergi ke boutique yang tidak jauh dari rumah tante.
"Sini sayang, tante hanya ada design-design yang sudah dipakai semua, ini salah satu contohnya.kamu bisa coba dulu yang ini biar tante ada inspirasi"
"Baik tante" aku mencoba wedding dress yang tante Rossa rekomendasikan, setelah memakainya akupun keluar untuk memperlihatkanya kepadda Zavas.
"Bagaimana sayang?" tanyaku kepadda Zavas namun Zavas tidak menjawabnya dia terpana melihatku tanpa mengedipkan matanya sama sekali "sayang bagaiamana?" tanyaku sekali lagi.
"Cantik" hanya itu yang keluar dari mulutnya pada hari itu. tante Rossa tertawa mendengarnya.
"Kamu ini ada-ada saja Zavas" tante menggelengkan kepalanya dan meninggalkan kami berdua di ruangan itu.
Zavas menghampiriku dia melihatku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu kenapa sayang?"
"Tidak hanya saja aku sangat bahagia melihatmu memakai baju seindah ini dan kamu sangat cantik, tapi aku ingin tante Rossa mendesign dress yang mencerminkan dirimu sendiri"
"Jadi ini tidak bagus?"
"Bagus sayang hanya saja aku ingin kau mengenakan baju yang lebih special lagi di hari pernikahan kita, apa kamu berpikir hari itu tidak special?"
"Sangat special sayang tentunya"
Pada akhirnya aku dan Zavas memutuskan untuk mendesign wedding dres yang khusus untukku dan tante Rossa sangat setuju atas permintaaanku terlebih lagi tante Rossa sangat tahu dan mengerti karakter diriku.
"Jadi hari ini kamu akan kembali ke kota S, kamu tidak akan tinggal lagi dengan orang tuamu?"
"Pekerjaan tante harus bagimana lagi" keluhku.
"Lagian boss nya calon suamimu jadi apakah itu penting?" Zavas hanya tersenyum mendengarnya.
"Aku punya tanggung jawab tan, walaupun Zavas CEO tetap saja aku harus bekerja ya kan sayang?" tanyaku kepada Zavas.
"Iya tan, mungkin tante tahu sendiri kalau Varsha itu seorang wanita pekerja keras"
"Jangan banyak alasan, tante juga pernah muda bilang saja kalau kalian tidak mau LDR kan?" aku dan Zavas tersenyum dan kami pun berpatmitan.
"Bye tan, tolong sampaikan salamku kepada si kembar yah?"
"Iya sayang, hati-hati di jalan yah"
"Kita pulang dulu ke rumah mama terus langsung berpamitan, bagaimana menurutmu?" tanyaku.
"Kalau kamu ingin tinggal lebih lama di rumah mama tidak apa-apa kok, aku bisa menyuruh Jesna atau Arya untuk mengambil alih sementara pekerjaanmu?"
"Tidak sayang aku tidak enak takut mereka terbebani" ucapku.
"Takut mereka terbebani atau takut kamu kangen aku" goda Zavas.
"Idihh apaan sih?" aku sugguh malu ketika Zavas menggodaku karena itu pertama kalinya Zavas bersikap seperti itu. "Terkadang suka gak pake aba-aba kalau mau merayu" gumamku dalam hati.
Kami berpamitan kepada orang tua ku dan juga Divya.
"Hati-hati yang sayang, jangan lupa sering berkunjung kesini dan cepat laksanakan resepsi pernikahannya biar kami tenang" ucap mama.
"Iya mam, secepatnya kok. mama dan papah juga baik-baik di sini kalau ada apa-apa jangan lupa kabari Varsha, dan kamu Divya kamu jangan nakal yah, jangan bikin mama pusing"
"Iya kak"
Kami berpelukan satu sama lain dan aku meninggalkan rumah mereka dengan hati tenang dan senang tanpa ada air mata dan penyeselan.
Aku dan Zavas berkendara kembali dan menempuh jarak yang lumayan jauh, butuh satu hari untuk kami berkendara dan pada akhirnya kami sampai di rumah Zavas dan seperti biasa mereka menyambut kami.
"Selamat datang tuan dan nyonya" ucap seluruh pelayan yang ada disana termasuk bu Ella. Zavas langsung menuju kamarnya mungkin dia sangat lelah.
"Nyonya apa kabar, apa nyonya baik-baik saja kami dengar nyonya di culik?" tanya bu Ella yang khawatir.
"Aku baik-baik saja bu jangan khawatir"
"Ah syukurlah, nyonya istirahat, mandi kemudian makan biar ibu siapkan makanan favorit nyonya"
"Terima kasih bu, aku ke atas dulu yah"
"Silahkan nyonya"
Aku menuju keatas dan masuk kekamarku, aku membaringkan badanku.
"Hah," aku menghela nafas "Rasanya badanku remuk semua, kehidupan itu sangat cepat berubah yah, aku masih ingat bagaimana aku datang pertama kali waktu itu dan sekarang. ah sudahlah lebih baik aku mandi dulu" akupun bergegas mandi takutnya Zavas menungguku untuk makan malam.
"Sudah selesai waktunya kebawah dan kemudian aku akan menyelesaiikan pekerjaanku untuk besok" aku pun turun namun tidak melihat Zavas di sana. aku segera menhampiri bu Ella yang sedang membuat bubur.
"Bu, kok mas Zavas belum turun yah apa dia tidak ada diumah, oh iya itu bubur untuk siapa?" tanyaku ke bu Ella sedikit penasaran.
"Ini untuk tuan Zavas, asistennya menyuruh ibu untuk memebuatkan bubur"
"Kenapa tidak seperti biasanya?"
"Iya tuan sedang sakit, kata dokter mungkin kecapean, badanya demam"
"Kenapa dia tidak memberitahuku?"
"Mungkin takut nyonya khawatir"
"Sudah bu biar aku saja yang membawakan bubur untuk mas ke atas"
"Tapi nyonya belum makan malam?"
"Tidak apa-apa nanti kalau aku sudah selesai pasti langsung makan"
Aku membawa kan satu mangkok bubur hangat dan mulai mengetuk pintu.
'Tok..tok..tok'
"Masuk" seru Zavas dari balik pintu dan akupun masuk.
"Kenapa kamu yang mengantar, padahal ini waktunya makan malam kamu pasti belum makan kan?"
"Aku sudah makan, kamu jangan terlalu mencemaskanku, kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu sakit mas?"
"Aku hanya takut kamu khawatir sayang"
"Tidak, sudah menjadi kewajibanku. sekarang kamu makan terus minum obatnya" aku menyuapi Zavas terlihat dia sangat lemah tidak seperti biasanya.
Malam ini aku menjaga Zavas di kamarnya sampai tertidur, saat tengah malam tiba-tiba demam Zavas semakin parah dia menggigil dan mengigau.
"Sayang, kamu minum obat dulu yah, yuk bangun dulu. badan kamu sangat panas," ucapku sambil terus mengompres demamnya agar turun "mas bangun dulu yuk .."
"Edrea...Edrea" Zavas mengigau menyebut nama Edrea. aku tertegun mendengarnya, tanganku bergetar, air mataku berlinang.
"Apa?"
Beribu pertanyaan ada dibenakku, namun aku tidak sanggup untuk menanyakannya. Zavas terus mengigau menyebut nama mantan istrinya namun aku tidak berusaha untuk tidak mendengarnya aku melanjutkan mengompres badanya dan mengganti bajunya yang basah karena keringat.
"Kenapa hati ini sakit dan kenapa kau memilihku disaat kau masih mencintai dia" air mataku pun tidak bisa tertahan lagi dam kembali menetes.
...----------------...