
🍒🍒🍒🍒🍒
Malam ini aku tidur di rumah Zavas sambil melakukan videocall dengan Arya dan Jesna.
"Aku tuh bingung banget yah sama orang yang namanya Zavas, ngapain juga kita jadi dipisahkan gini" ucapku sambil mengerutkan kedua alisku yang bingung dan sedikit kesal.
"Enggak tahu tuh gue juga bingung, padahal akan lebih mudah jika kita ada ditempat yang sama" jawab Jesna.
"Enggak apa-apa lah kan demi kebaikan kita juga lagian kan tempat ini juga sangat nyaman buat ditempati. jadi irit biyaya kost" Ucap Arya sambil tersenyum konyol.
"Loe enak aja tinggal disana, jangankan yahh tinggal bersama dirumahnya ketemu dikantor aja gue ogah" seruku.
Tak lama terdengar suara ketukan di balik pintu kamar.
*Tok..tok..tok*
"Iya, udah dulu yah gue dipanggil nih" kami pun menutup panggilan kami dan menyuruh Bu Ella masuk.
"Nyonya, tuan Zavas memebelikan buah untuk nyonya apa mau saya bawakan kesini atau mau makan dibawah?" tanya bu Ella sambil menunduk menunjukan rasa hormat.
"Bu, kan aku sudah bilang bicara denganku biasa saja dan jangan panggil aku nyonya panggil aja Varsha, Geya, atau apapun itu yah" tegasku.
"Baik, saya akan mencobanya" jawab Bu Ella sambil tersenyum.
"Bagus, aku akan kebawah aja bu" aku pun pergi ke bawah dan menuruni anak tangga dan ternyata Zavas sedang termenung di meja makan. aku pun melewatinya sambil menunduk seolah-olah aku tidak melihatya.
"Varsha!" dia memanggil namaku saja cukup memebuat jantungku seakan jatuh. aku mundur beberapa langkah dan beridiri dihadapannya.
"Iya pak, ada yang harus saya bantu?" tanyaku
"Sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang harus aku tanyakan kepadamu"
"Iya pak, apa itu?" tanyaku lagi.
"Kalau kamu sudah selesai, aku tunggu kamu diruanganku" jawabnya dan kemudian dia pergi menuju ruangannya.
"Ada apa lagi ini?" tanyaku dalam hati.
"Bu, buahnya biar aku aja yang kupas. aku ke ruangan pak Zavas dulu sebentar" ucapku.
"Iya nyonya" jawab Bu Ella dengan ramah.
Aku pun menuju ruangannya, cukup dingin malam itu atau cuman perasaanku saja karena akan menghadapi CEO killer itu. aku mengetuk pintu dan masuk kedalam ruangannya seperti biasa aku duduk di sofa hitamnya yang empuk.
"Begini aku selalu melakukan penegcekan terhadap karyawan mengenai latar belakang, status, dan yang lainnya apa lagi terhadap karyawan yang kompeten sepertimu"
"Iya pak, apa ada yang bisa saya bantu" hatiku sangat tidak karuan saat itu, tidak biasanya melakukan pengecekan karyawan seperti ini.
"Seharusnya ini bukan tugasku tapi saya perlu cerita darimu yang sebenarnya dan tidak dari orang lain. mulai dari status kamu dan lain-lain"
"Mungkin maksud bapak mengenai kehamilanku?"
"Iya itu salah satunya yang harus kamu jelaskan" tatapanya selalu dingin dan seakan-akan memakanku.
"Baik saya akan jelaskan.." aku pun menjelaskan semuanya dari awal sampai aku ada di rumahnya saat ini.
"Jadi kamu akan membesarkan anak kamu sendirian?"
"Iya pak aku rasa aku bisa, mungkin akan sedikit mengalami kesulitan tapi ini adalah resiko yang harus saya ambil. tapi bapak tahu darimana mengenai kehidupanku, perkataan orang lain akan sama dengan cerita aslinya jika dia memang betul-betul mengenalku tapi jika orang itu tidak mengenalku namun memberikan cerita yang buruk mengenai diriku, bagiku itu tidak masalah karena jalan kehidupanku memng dijalan yang salah dan berbeda"
"Mungkin kamu salah tapi kesalahan itu seharusnya bukan kamu saja yang menanggung, perempuan itu tidak akan selamanya kuat dan tangguh kamu juga perlu seorang yang menopang dirimu" ucapnya sambil memegang secangkir kopi.
"Tidak salah dengan ucapan bapak, namun tidak sedikit perempuan yang bisa bertahan menjadi single mother tak sedikit juga banyak yang membuat anak-anak nya sukses"
"Ok!! silahkan kembali" perintahnya menandakan berakhirnya obrlan kita. aku pun keluar dari ruanganya dan pergi ke dapur untuk menikmati buah yang dibelikan Zavas untukku.
'Terima kasih buahnya dan selamat malam'
Malam itu aku termenung di kamarku sambil menatap bintang di depan jendela.
"Andaikan aku bisa memutar waktu kembali" ucapku lirih dalam hati.
Dan Zavas pun sedang termenung di depan jendela sambil menatap bintang dan memegang sebuah foto.
"Andaikan aku bisa memutar waktu kembali" ucap Zavas dalam hati lirih.
Dibalik dingin dan kejamnya Zavas dia memiliki rasa sakit yang dalam. sesungguhnya dia memiliki kehidupan yang tidak sempurna. hatinya yang kosong dan dipenuhi rasa dendam membuat karakternya semakin kejam dan dingin.
Kami memiliki kenangan dan rahasia yang berbeda namun luka yang sama, luka yang akan terus membekas, luka dengan rasa sakit yang tanpa batas.
*Keesokam harinya*
Matahari telah keluar dari singgasananya, burung pun bernyayi dengan sangat merdu namun ketenangan itu di hancurkan dengan ketukan piintu yang sangat keras.
*TOK..TOK*
"Iya..iya sebentar" jawabku yang masih menggunakan bath robes (jubah mandi) langsung berlari untuk membuka pintu.
"Ada apa?" batapa kagetnya aku ternyata yang mengetuk pintuku Zavas. Zavas langsung membalikan badanya yang melihatku hanya menggunakan jubah mandi.
"Tidak! lekas kamu pakai bajumu dan saya tungggu di meja makan" tegasnya dan kemudian dia berlalu pergi.
Tanpa pikir panjang aku langsung memakai bajuku dan lekas turun kebawah. rambutku yang masih basah membuat Zavas terpana entah apa yang dipikirkannya waktuu itu namun aku tidak meghiraukannya dan duduk di meja makan.
"Ini tugas kamu dan selesaikan hari ini juga dan kirim melalui e-mail kepadaku" sambil memberikan sebuah map kepadaku.
"Baik pak, tapi pak akankah jauh lebih mudah jika aku kerja di kantor saja"
"Jika kamu ingin resign maka silahkan datang ke kantor" Zavas langsung pergi. pernyataannya membuat aku terdiam terpaku.
"Mulai dari sekarang aku tidak akan pernah bertanya dan memberi saran. tidak akan pernah!!" gumam ku dan langsung pergi meninggalkan meja makan.
Aku langsung mengerjakan pekerjaanku dan harus cepat selesai. namun pekerjaanku sangat rumit jika Arya dan Jesna tidak ada disampingku.
"Oh..iya hari ini kan aku harus kebidan untuk memeriksa kehamilanku, tapi kalau aku izin sebentar apakah bisa?" tanyaku dalam hati.
Waktu menunjukan pukul 18.00 dan Zavas belum juga datang. aku meunggunya di meja makan karena dia biasanya makan malam terlebih dulu sebelum kembali kegiatannya. namun tiba-tiba..
*BRAKK..!!*
*Suara pintu yang ditendang*
Aku dan Bu Ella yang tengah mengobrol sangat kaget ketika melihat pak Zavas yang sangat marah.
"Ceroboh..!! Bagaimana bisa lupa dengan dokumen yang sangat penting, sebenarnya ada bisa kerja tidak?" teriakanya sangat menakutkan.
"Tapi aku sudah menyiapkan semua dokumen yang bapak minta tapi ternyata semua dokumen itu hilang degan waktu semalam" ujar sekretaris Zavas yang terkenal cantik dikantor. entah kesalahan apa yang dilakukannya sehingga membuat Zavas sangat marah malam itu.
"Aku sudah memberimu kesempatan terakhir untuk bekerja namun kamu telah menyia-nyiakanya, mulai hari ini kamu saya pecat!!" Tegasnya. namun sekretaris itu memohon dan terus memohon.
"Pak saya mohon saya akan menyiapkan dokumen itu dalam satu malam, tolong berikan saya kesempatan kembali pak" teriaknya, namun Zavas tidak menghiraukanya sekretaris itu langsung memohon dan hendak bersujud di kaki Zavas namun para bodyguard tiba-tiba menarik dan menyeretnya keluar.
Zavas pun berlalu tanpa melihatku namun ternyata dia sadar kalau aku menyaksikan kejadian yang baru saja terjadi. semua asisten dan pelayan membungkuk layaknnya memberikan penghormataan.
"Kejam!!" celaku dalam hati.
Aku mengurungkan niatku untuk meminta izin pergi ke bidan aku pun naik ke kamarku sambil menaiki tangga satu ppersatu secara perlahan dan memrenungkan tentang dokume yang dibahas tadi. sepertinya dokumen itu sangat penting bagi Zavas dan perusahaanya, namun dokumen apa yang hilang?.
...----------------...