
Brak!!
Gue tersentak kaget, saat si Mr. berwajah kaku itu menggebrak dengan kencang meja yang ada dihadapannya. Bahkan semua orang di sini juga terkejut bukan main.
Ia berdiri dengan wajah yang sudah menahan amarah, lalu dia berbalik menghadap para ajudan dan pelayan yang tadi dia panggil.
"Bagus!" katanya sambil bertepuk tangan.
"Selama saya memiliki jadwal kunjungan kenegaraan kalian semua mengabaikan anak saya!!" lanjutnya sambil berjalan.
Yang bisa gue lihat dari sini, raut wajah para bawahannya semua berubah pucat pasih. Apalagi saat si Mr. kaku itu semakin mendekat, sesekali dia juga menepuk-nepuk pipi para ajudannya. "Kalian ngapain aja selagi saya tidak ada?"
Ucapnya penuh dengan penekanan, "Oh, kalian makan gaji buta ya?"
Gue cuman bisa geleng-geleng, lagi heran aja. Masa soal anaknya yang sempat hilang aja dia gak tahu. Bapak macem apa, dia. Saat gue mengalihkan pandangan gue ke depan.
Si centil, eh si ulet keket malah natap gue tajam. Dih, kenapa lagi sama si ulet keket.
'Apa?' kata gue tanpa bersuara.
Eh dia malah memalingkan wajahnya secara acuh, "Sayang.. sudahlah lagi pula Dewa juga sudah kembali. Engga usah dipermasalahin lagi. Okey?" rayunya sambil bergelayut manja.
Astaga!! Rasanya pengen banget gue tenggelemin nih cewe. Ish.. geli banget gue. Batin gue bersuara, bahkan saat dia semakin menunjukkan wajah aslinya. Semakin itu juga gue berasa mau muntah, lah coba itu.
Dia mengelus tubuh Mr. kaku itu dengan seduktif, bahkan buah dadanya yang sintal dengan sengaja ia terus tempelkan ke lengan si Mr. kaku itu sambil bergerak erotis.
"Bukan begitu hanya saja, aku tidak mau kejadian ini sampai terulang lagi."
Wanita itu memasang wajah sendunya, lalu dia mengangguk mengerti. "aku tahu, kamukan ayah terhebat. Aku benarkan? ayah terhebat matamu."
Wong anak sendiri ilang aja, dia kagak tahu. Dasar wanita somplak, bilang aja takut ketahuankan kalau dia yang sebenernya dalang dibalik hilangnya Dewa.
Pas gue menoleh ke arah mereka lagi, eh mereka malah asik memangut satu sama lain. Oh Tuhan, bantu aku lenyapkan mereka.
Gue berdeham sejenak, dan itu sukses buat mereka melepaskan pangutanya.
"Maaf, daripada saya di sini jadi penonton adegan tak seronok kalian. Lebih baik saya pamit pulang." Tegas gue.
Tapi saat gue hendak beranjak pergi, si Mr. kaku itu malah nahan tangan gue, lalu dia berkata. "terima kasih, karena telah menemukan anak saya. Kapanpun ada mau datang berkunjung silahkan telepon salah satu orang kepercayaan saya." Gue cuman manggukin perkataanya.
Dalam hati gue berkata, Ogah gue balik lagi ke sini. "Genta, tolong antar nona ini pulang."
"Nona.." dia menunggu gue bersuara.
"Diandra. Panggil aja Ndra." Eh mereka malah pada ketawa.
Prftt~
"Hahaha.. siapa nama lo tadi?" tanya si uler keket.
Gue merotasi mata malas, "Nadira Diandra. Panggil aja Diandra."
Prffftt..
bukan yang terakhir. "Ndra, Mandra.. hahaha. Sumpah lucu banget nama lo." dia tertawa garing.
Gue cuman bisa mengepalkan tangan gue kuat, lalu gue memejamkan mata sejenak. Setelahnya gue mengembuskan napas berat, seraya meredam emosi gue.
"Saya permisi." Ketus gue sambil meninggalkan mereka yang masih asik mentertawakan nama gue.
Saat gue sudah berada diluar dari rumah kepresidenan ini, tiba-tiba aja seseorang mengintrupsi gue untuk berhenti dan berbalik menghadap. "Diandra!"
"Ya, ada apa?" sahut gue.
Pria itu tersenyum, "Ayo saya antar?" ajaknya.
Gue menggeleng, "Engga usah saya naik tax--" belum sempat ucapan gue selesai dia malah maksa gue dan narik tangan gue untuk mengikutinya.
Tapi tetep aja, tadi pas nama gue jadi bahas lelucon di sana dia juga ikut tertawa. Walau dari ekspresi wajahnya, seperti dia sedang berusaha untuk menahan gelak tawa.
Di dalam mobil pun tidak ada banyak yang kita bicarain. Entah kenapa suasana jadi canggung dan sunyi. Kite berdua sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Hingga tak lama Genta mulai bersuara, "kenapa kau tidak menghubungiku dulu tadi, saat Dewa kembali mengikutimu?"
"Maaf, sepertinya aku telah menghilangkan kartu nama yang kau berikan padaku?" cicit gue yang masih bisa dia dengar.
Dia menarik sedikit sudut bibirnya, "kau tahu? Selama aku 4 tahu aku telah menjadi orang kepercayaan bapak, tidak ada satu pun yang berani menaparnya atau sedikit menaikan suara di hadapanya? Tapi tadi kau adalah orang pertama, yang mampu membuat bapak terdiam kaku saat tamparan itu mendarat mulus dipipinya."
Gue mengigit pelan bibir bawah, kenapa juga harus diingetin lagi coba. Saat itu gue terlalu kebawa emosi, saat melihat dia memarahi anaknya sendiri. Jujur saja gue juga sering dimarahi, apalagi sampe dipukul sama ayah gue sendiri.
Itu sebabnya dari rasa trauma gue, karena sering kena pukul gue berusaha untuk melindungi anak-anak.
Sebab masa-masanya Dewa ada, masa anak-anak akan melihat dan mencontoh apa yang orangtuanya lakukan. Jadi gue gak mau aja, jika kelak suatu saat nanti Dewa juga jadi seorang ayah yang ringan tangan kepada anaknya.
Gue juga gak mau, buat si Dewa makin membenci bapaknya. "Hey! Ko bengong?" seketika gue menerjap.
"Ekhem, engga ko." Elak gue.
Dia manautkan alisnya, "benarkah?"gue menganggukinya.
Hingga tanpa sadar aku sudah tiba di depan rumah sewa. "bagaimana bisa kau mengetahui alamatku?"
"Aku masih mengingatnya." Gue menyeritkan alis bingung.
"Mengingat?"
Dia mengangguk, "penyergapan waktu itu?" ah benar, kenapa gue bisa lupa.
"Terimakasih." Ucap gue sebagai bentuk balasannya karena telah mengantar gue dengan selamat sampai rumah.
Setelah gue keluar dari mobil, Genta sedikit menurunkan kaca mobil lalu berkata. "Hati-hati dan sampai jumpa lagi." Gue tersenyum lalu membalas lambaian tanganya.
"Bertemu lagi? Kurasa tidak?" gumam gue.
***
Authorpov
Kling! Kling!
Suara lonceng berbunyi, menandakan bahwa kelas akan segera di mulai. Semua murid berlari, memasuki kelas dan duduk dengan rapi dibangku masing-masing. Hingga derap langkah sepatu pantofel dari seorang wanita terdengar, tak lama pintu ruang kelas pun terbuka.
Kriett~
"Pagi anak-anak?" sapanya.
Semua murid pun berdiri, "pagi bu guru." Lalu setelah membalas sapaan sang guru mereka kembali menduduki kursi mereka.
Namun mata sang guru sedang bergeliring, seperti sedang mencari seseorang. "Ada yang tahu dimana Sadewa?" semua murid terkejut.
"Ah.. sepertinya anak itu kabur lagi?" kata sang guru sambil memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
Sang guru akhirnya menghiraukan kepergian Dewa yang entah menghilag kemana. Tapi saat setelah dia memerintahkan, perserta didiknya untuk membuka buku pelajaran. Sebuah bunyi pintu kelas mereka terbuka terdengar. Mereka semua kembali menoleh, keasal suara tersebut.
"Dewa di sini, bu guru. Maaf bila kami sedikit terlambat." Ujar Diandra sambil membungkuk. Sedangkan Dewa, anak itu memberengut tidak suka.
Rencananya untuk membolos gagal total, saat dia datang menemui Diandra di tempat kerjanya.
"Gagal deh!!" gumamnya sambil bersedekap dada.
Authorpov end
TBC