
Aku adalah aku dari kisah barumu, dan jangan samakan aku dengan dia yang berasal dari cerita masalalumu. -DIANDRA.
****
Kring!! Kring!!
Sebuah alarm berbunyi, untuk membangunkan dua insan yang masih asik bergumul manja di balik selimut tebalnya.
Sebuah tangan perlahan mulai bergerak merengkuh seseorang yang dipeluknya, sedangkan yang dipeluk sedikit bergerak untuk menyamankan posisinya.
Deruan napas yang tenang menjadi tanda jika mereka masih asik menikmati bunga tidur mereka.
Hingga tak lama, salah seorang dari mereka perlahan mulai membuka mata. Sedikit bergumam saat melihat sekilas, sebuah dada bidang dihadapanya.
Namun di detik selanjutnya, matanya membulat dan menerjap berkali-kali saat dia menyadari satu hal. Sang anak sudah tidak lagi berada ditengah-tengah mereka.
"AAAAAAAA!!" jeritnya tiba-tiba.
Pria itu terkejut, "BERISIK!! Tahu gak kalau orang lagi tidur?"
"Elo ngapain meluk gue? Dan.. apa ini? kenapa elu tidur gak pake baju?!"
Deva menggaruk rambutnya yang tak gatal, "gerah tau, makanya gue buka baju."
Matanya membelalak, "A-apa? APA LO BILANG?!"
Dia menghiraukan ocehan tak jelas dari Diandra, namun saat dia hendak kembali merebahkan dirinya dan kembali untuk tidur Diandra mencekalnya.
"Eh, elu mau--dimana Dewa?!"
"... Oiya, dimana anak itu?!"
Namun saat hendak bangun dan mencari, sebuah dentuman pintu yang terbuka keras terdengar dan menampakan orang yang dicari. Dengan senyuman yang cerah Dewa berkata.
"Pagi mama, pagi papih." Katanya sambil berlari ke arah Diandra dan Deva untuk memeluk mereka secara bergantian.
Diandra tersenyum, "kenapa pas mama bangun Dewa sudah tidak ada?"
Bukannya menjawab ia malah menampilkan cengiran kudanya, "hey, kenapa?"
Itu Deva yang bertanya, karena ia sedikit heran dengan ekspresi wajah sang anak. Dewa menggeleng lalu berkata, "Dewa tidak bisa tidur di sini, karena mama dan papih memeluk Dewa dengan sangat erat. Jadi aku kabur deh, pindah ke kamar."
Diandra dan Deva saling melemparkan pandangan. Kalau Dewa pindah pada tengah malam itu artinya, semalaman ini dia tidur saling berpelukan seperti tadi dengan Deva?
Oh tidak, apa Deva melakukan hal yang macam-macam padanya? Tapi pakainya masih utuh. Benarkah, dia membuka baju hanya karena kepanasan? Dan banyaklah pertanyaan yang timbul diotaknya.
Disaat pertanyaan terus berkembang diotak Diandra, suara Gitra membuat mereka semua menoleh. "Papih~~" panggilnya yang terjeda.
"Iya, ada apa Gitra?" anak itu hanya diam dengan kening yang berkerut.
"Gitra?"
Dia menggeleng, "apa papih melupakan sesuatu, hari ini?"
Kini Deva lah yang mengkerutkan keningnya bingung, "Huft, papih sudah terlambat. Mereka sudah bersiap dan sedang menunggu papih untuk memimpin pelaksanaan upacara bendera. Papi tidak lupa kan?"
Astaga, dia benar-benar lupa!
"Kau benar... INI SEMUA SALAHMU DIANDRAAAA!!!"
Sedangkan Diandra dan Dewa mereka sedang berusaha menutup telinga mereka, saat teriakan itu memekak telinga mereka.
Setelahnya hanya ada kepanikan, dan semua serba terburu-buru seolah mereka sedang dikejar oleh para penagih hutang. Jika membahas soal hutang kalian tidak usah memikirkan hutang Diandra lagi.
Karena si Mr. president sudah membayar lunas hutangnya, asalkan dia mau membantu berpura-pura menjadi ibu dan istri untuk kedua anaknya dihadapan media masa.
"Cepet dikit dong jalannya, lama banget!"
Diandra mendengkus dibelakangnya, "Sabar apa emang dikira gampang jalan pakai kain yang melibet dan panjang kaya gini .. lagi ngapain sih gue pake ingikut. Kan dirumah aja juga bisa." Deva menghentikan langkahnya.
Lalu dia berbalik menghadap Diandra, "euh, elu itu kalau punya otak jangan kepinteran jadi lemotkan. Elu lupa tugas lo di sini apa?"
Deva mendekat, "Istri dari seorang pemimpin Negara, dan ibu Negara untuk rakyatnya." Bisiknya.
***
Jangan lupakan juga sepatu sporty warna putih yang dia pakai sebagai pelengkap busananya hari ini.
Bagaimana dengan Dewa, anak itu juga meminta berpakaian yang sama dengan sang mama gunakan. Soal siapa aja perserta yang akan ikut dalam lomba hari ini, adalah teman-temannya yang dia undang, lalu para ajudan istana ini dan jangan lupakan juga para pembantu.
Bahkan Diandra juga meminta mereka yang sudah berkeluarga juga untuk ikut serta membawa anak-anak mereka, kedalam istana kepresidenan.
Saat mendengar itu Deva sempat ingin mengamuk, namun satu ucapan Diandra akhirnya membuatnya bungkam seribu bahasa.
"APA?! KAU SUDAH GILA?!"
"Aku? Aku gila? memangnya salahku apa?"
"YA!! KAU GILA!! Karena kau telah mengundang orang luar untuk masuk keistana!! TANPA IZINKU!!" marahnya.
"Bukannya kemarin kau sendiri yang mengatakan. Jika aku boleh melakukannya, karena bagaimanapun aku ibu mereka."
DUAR!!
Sebuah penggalan kalimat, yang membuat Deva telah kalah dan tak bisa berkutik. Bagaikan diserang oleh ribuan bom di siang hari, dari sang musuh. Deva kalah telak.
Setelah mengatakan itu, Diandra meninggalkan Deva yang masih terpaku akan ucapannya kemarin yang menjadi boomerang untuknya. Sial. Gerutunya dalam hati
Kini pria itu hanya bisa memperhatikan mereka dari atas sana, didalam ruang kerjanya sesekali Deva tersenyum.
Bahkan seolah ia sedang berdejavu ria, matanya mengelabuinya. Banyangan sang mendiam istri, terlintas saat dia terpaku pada Diandra.
Sifat mereka dan hati mereka sama, yang membedakan hanya perilaku. Lentera sang mendiam istri lebih lemah lembut dalam berkata.
Sedangkan Diandra, terlalu frontal dan tidak sopan baginya. Hingga tanpa sangka, lamunanya membuatnya tertangkap basah oleh sang anak.
"Papih, ayo turun sini. Ikut lomba, seru loh!!"
Diandra menoleh, dan menatapnya namun yang ditatap malah memperlihatkan wajah terkejut dan jangan lupakan suara kikuknya saat membalas seruan sang anak.
"I-iya Dewa. Pa--papih turun," gugupnya.
Ada apa dengan dirinya? Kenapa dia malah jadi seperti ini.
Setibanya dibawah, dia sudah menetralkan kembali wajahnya. Namun hatinya masih berdegub tak karuan, dan yang lebih parahnya semakin kencang saat Diandra mulai mengikatkan sebuah tali dipinggangnya.
Untuk mengikuti lomba giring bola menggunakan sebuah terong dibelakangnya. Diandra mendongak, setelah memasangkan tali tersebut dan akhirnya mereka saling bertatapan kembali dengan jarak wajah yang sangat dekat.
Deg!!
'Kenapa kau sangat mirip denganya, mata itu.' –Batin Deva.
'Aku pikir hanya ada tahta dimatamu, tapi apa ini? apa aku salah melihatnya, mungkinkah dia masih ada dihatimu?' -Batin Diandra.
Dewa menarik-narik baju sang mama, "mama, ayo cepat dimulai lombanya."
Tatapan mereka, akhirnya berakhir dan hanya meninggalkan semua misteri dihati mereka satu sama lain.
Meninggalkan kecanggungan yang terus terjadi sepanjang hari itu, bahkan ada saja hal tidak terduga yang terjadi diantara mereka.
Mulai dari jatuh bersama, ketika dipasangkan dalam patner bermain untuk lomba lari pasangan. Dimana satu kaki mereka saling terikat.
Merias pasangan dengan mata tertutup, yang berakhir dengan menjadi badut ancol untuk Deva sang Mr. President.
Lomba saling menyuapkan buah pisang ke pasanganya, lalu lomba bakiak dan terakhir lomba joget balon yang berakhir membuat mereka menjadi tontonan para ajudan dan orang-orang yang berada disana.
Saat balon yang menempel didahi mereka meledak tiba-tiba, membuat dahi mereka saling bertabrak namun di detik selanjutnya diakhiri dengan tawa. Seolah itu adalah sebuah lelucon yang lucu untuk mereka.
Namun, tanpa di sadari disudut sana seseorang menatap lirih ke arah mereka. "Sepertinya kau sudah mendapatkan pengganti yang lebih baik dariku, Deva?"
Setelah mengatakan itu ia berbalik dan melenggang pergi begitu saja, meninggalkan mereka semua.
Authorpov end
TBC