
Sebelum kejadian malam harinya, dimana jantung gue dibuat bekerja dua kali? Eoh, tidak sepertinya 4 kali lebih cepat.
Seakan jantung gue siap untuk loncat dari tempatnya, jika saja seseorang datang dan mengejutkan gue didetik selanjutnya.
#flashback
Kini gue duduk berhadapan dengan si Mr. kaku alias Mr. president, Orion Sadeva Hanada atau yang biasa disingkat bapak OSH.
Wajar datar, dan dingin masih menjadi ekspresi andalan pria berstatus duda dua orang anak ini.
Tadi setibanya beliau di rumah sakit ini, ia langsung jadi pusat perhatian belum lagi dengan kabar tiba-tibanya. Yang dimana ia mengatakan telah mengakhiri hubungannya dengan Lisa.
"Ini?" dia menyerahkan sebuah kertas yang sudah berisikan tinta hitam di sana.
Gue menyerit bingung, "apa ini?"
"Perjanjian pernikahan."
Gue menerjap untuk mencerna perkataannya, "M-maksud anda?"
"Seperti yang telah saya katakan pada media, jika kematian mendiang istri saya telah direncanakan dengan begitu rapih dan matangnya atas perintah seseorang. Dan juga, saya mengatakan telah merampungkan semua bukti dan saksi atas mereka-mereka yang mendapatkan perintah tersebut selama ini. Dimana perintah itu berasal dari Xavier alexander. Pendiri partai teratai, dan semua yang terlibat di dalamnya sudah saya laporkan dan berkasnya juga saya kirim ke kantor kejaksaan. Jadi saya juga mengatakan kepada mereka, karena telah lama saya berniat ingin memutuskan rencana petunangan itu. Makanya saya mengatakan tadi dengan lantang di dalam ruangan itu, kepada awak media jika saya selama ini diam-diam telah menikah dengan dirimu."
Seketika rahang gue terjatuh saat mendengar penuturan santai yang tak berdosa dari seorang Mr. Kaku OSH.
"Itu sebabnya, aku sudah menyiapkan surat perjanjian. Sebuah pernikahaan yang hanya ada didepan media dan Dewa anakku. Dan ingat, jangan pernah menaruh hatimu padaku. Karena kau tahu aku tidak akan pernah membalas perasaan konyolmu itu." Sambungnya.
Siapa juga yang ingin jatuh hati pada Mr. Kaku sepertinya, TIDAK ADA!!
"Hey! Kau dengar aku tidak?!"
Gue masih terdiam, sambil menganga. Sungguh, bisakah seseorang menjelaskan padaku saat ini apa yang sedang terjadi.
Karena sesungguhnya, otak gue masih mencerna perkataannya secara perlahan. Hingga, sebuah bunyi jentikan jari terdengar.
"Astaga!! Jadi kau melamun? Bahkan air liurmu menetespun kau tidak tahu?!"
Gue merotasi mata malas, "Cepat tanda tangan, dan setelah ini kau akan tinggal dirumah kami sampai aku masa pemilu selesai. Dan setelahnya kau boleh pergi dengan sejumlah uang yang kau mau."
"Sekarang tidak bisakah besok saja, lagipula aku harus—" dia menyela ucapan gue.
Dia mendekus kesal, "sudahku katakana kau sudah tidak bisa pergi tanpa pengawasan, dari para ajudanku. Jadi kau harus tetap di sampingku. Kau mengerti? Lagi pula, kau tidak perlu mengambil pakaian usangmu itu. Aku sudah menyiapkan semuanya di Istana kepresidenan."
"Maaf ya, walaupun pakaiku using tapi ini masih lawak pakai. Dan apa katamu tadi? Aku harus dalam pengawasan para ajudanmu? Astaga, aku masih punya banyak pekerjaan jadi."
BRAK!!
"Sekarang statusmu sudah menjadi istri dan ibu Negara, walau sebenarnya kita tidak pernah menikah dan menuliskan status kita dibuku nikah sama sekali. Jadi jalankan saja peranmu yang sudah aku buat, Dan jangan, kau kacaukan. Mengerti!!" akhirnya kali ini gue menyerah.
Apalagi saat gue melihat Dewa, di sudut sana dengan mata berbinar dan penuh harap. Arghh sial!! Gue sudah terperangkap. Oleh bapak dan anak ini.
#flashback Off
***
Di sinilah gue berada saat ini, disebuah kamar mewah dan besar yang berada di istana kepresidenan.
Walau gue sekarang telah berstatus sebagai ibu dan seorang istri, tapi nyatanya itu semua hanya rekayasa dan terjadi di depan Media dan Dewa anaknya.
Beberapa jam sebelumnya gue sempet dibuat gila, sama kerja jantung gue yang tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat saat mata kami saling bertatapan.
Belum lagi dengan pikiran gue yang tadi sore kembali dibuat kacau. Gimana, gak mau kacau pemirsa? Gue yang saat itu dimintai tolong oleh Dewa telah salah memasuki kamar. Kamar yang tak lain dan tak bukan, milik sang ayah.
Dan naasnya gue malah melihat si Mr. kaku yang baru saja selesai menjalankan ritual sorenya, yaitu mandi.
Dengan tubuh atletisnya yang bertelanjang dada, dan hanya ada sebuah handuk untuk menutupi bagian tubuh bawahnya. Mampu membuat gue tak berkedip sedikitpun.
"Arghhh.." gue menggerang frutasi sambil mengacak rambut gue.
Bugh!!
Gue memukul asal, kasur ini dengan kaki dan tangan gue bahkan kondisi kamar gue udah berantakan bak seperti terkena badai topan yang dahsyat.
Gue mendesah lelah, dengan malas akhir gue bangun dan berniat untuk menuangkan air diteko kaca di atas nakas.
Namun ternyata tekonya sudah kosong, dengan malas gue beranjak bangun dan berniat untuk mengisi kembali teko tersebut.
Karena jujur, sejak otak gue berkeliaran bebas karena terus terbayang oleh tubuh dan wajah si Mr. Kaku itu. Mampu membuat terngorokan gue seketika mengering.
Oh ya, pasal Gitra tenang aja mereka semua udah ketahuan. Dan Lisa si uler keket langsung dibawa oleh para ajudan ke kantor polisi terdekat.
Gue perlahan melangkahkan kaki menuruni anak tangga, hingga akhirnya gue sudah tiba di dapur dengan perlahan gue mulai menuangkan air ke dalam teko.
Namun tiba-tiba saja, cacing-cacing cantik diperut gue mulai berdendang menyeruakan aksi kelaparannya. Ya, mereka sedang berdemo ria. Meminta untuk diisi oleh makanan.
Klek!
Akhirnya pintu kulkas pun terbuka, dengan takut-takut gue melihat ke arah sekitar. Setelah merasa aman, gue kembali memfokuskan pandangan gue untuk melihat isi kulkas dari seorang pemimpin Negara.
Gue menerjap saat, mata gue disajikan oleh pemandangan yang menakjubkan. Semua makan enak dan mahal tersaji di dalam kulkas ini.
Tanpa sadar lidah gue sudah mulai membasahi permukaan bibir, tangan gue yang menganggurpun juga mulai bergerak untuk mengambil sesuatu di dalam sana.
Sebuah es krim cake, favorit gue yang sudah menjadi target untuk gue lahap. Lalu setelah mendapatkan ice cream cake tersebut, gue berdiri dan berbalik menghadap ke meja untuk meletakannya disana sebelum gue santap.
Di saat gue sedang menikmati, ice cream cake favorit gue. Tiba saja, gue dikejutkan oleh si Mr. kaku yang sedari tadi ternyata sedang mengamati gue.
"Hah! Benar-benar. Aku tidak pernah menyangkan, wanita sepertimu akan rela makan tengah malam hanya untuk sepotong es krim cake? Biasanya yang namanya wanita jaman sekarang, akan berkata 'kalau nanti aku makan malam, aku akan jadi gemuk. Dan itu tidak baik' tapi kau? Kau tidak perduli akan berat badanmu?" bodo amat elu mau ngomong apa gak akan gue respon.
Orang gue lagi pake headset ko, gue tersenyum simpul seolah gue mengiyakan perkataanya. Setiap ia melontarkan pertanyaan yang gak bisa gue dengar, akan gue jawab dengan sebuah anggukan. Hingga tiba-tiba.
Tak!!
Dia melepas headset di telinga gue, "ASTAGA!! Jadi dari tadi gue ngomong elu gak dengerin sama sekali?!"
"Hah, emang dari tadi elu ngomong?"
Dia bersedekap dada, "Ambilin gue minum?" titanya.
"Ambil lah sendiri manja bener," sahut gue tak suka.
"Tsk, ambilin gue bilang ini perintah! Elu lupa sama peraturan yang tadi dibacain?" Ah, sial. Dirumah ini harus serba ada peraturan dan hukuman.
"Iye, ntar gue ambilin."
Dia mengeleng, "Sekarang!!"
Dengan malas, akhirnya gue beranjak bangun dari kursi namun saat gue mau bangun kaki gue terselengkat oleh kaki sendiri.
Hingga akhirnya gue kehilangan keseimbangan, dan sialnya kenapa coba dia pake berusaha buat nangkep tubuh gue? Lihat sekarang posisi kita sekarang jadi seperti apa? Sumpah gue malu, namun didetik selanjutnya.
Chup~
Sebuah kecupan disudut bibir gue membuat tubuh gue menengang dengan sempurna, apa itu barusan? Dia nyium bibir gue? Bahkan dia juga sedikit menjilat sisa bekas krim kocok yang tertinggal di sudut bibir gue. Sialan, gue kecolongan.
"Ish apaan sih loh! Minggir gak?" kata gue sambil gue berusaha mendorong tubuhnya. Dan saat gue berhasil, gue dikejutkan dengan satu hal bahwa semua itu hanya mimpi.
Ya, saat gue berhasil mendorong tubuhnya. Yang ada tubuh gue malah terjatuh dari kasur dengan cukup kencang. Dan para penjaga, serta Dewa yang mendengar teriak rintihan gue segera berlari masuk ke dalam kamar gue.
"Mama!! Mama kenapa?" gue cuman bisa tersenyum canggung.
Shit, gue malu. Sumpah malu banget gue!!
TBC