Mr. President & Me

Mr. President & Me
33



Setelah melakukan kampanye tadi, Deva kini sedang mengistirahatkan tubuhnya. Ya, dia sangat lelah. Di sampingnya sudah pasti ada Lisa, yang sedari tadi terus bergelayut manja. Deva mencoba mendorong tubuhnya, namun sayang itu tidak berhasil. Hingga.


"Tsk, menyingkirlah.. Aku sangat lelah, kau tahu!" Lisa meliriknya tajam.


"Aku juga sayang.." Astaga, nada manja itu lagi.


Deva mendengkus, sambil menepis kasar tangan Lisa. "Bisakah kau hentikan ini. Kau lupa sama janjimu. Kau hanya akan menemaniku untuk memimpi negeri ini dan bukan untuk menjadi kekasihku."


"Tidak! aku tidak janji, kapan aku janji?"


Mata Deva terbuka. Rangangnya mengeras. Sial! apa dia sendang dipermainkan?


"Kau, jangan coba-coba mempermainkanku. .. Kau tahu, gara-gara kau Saga dan seluruh anggota club ku marah dan meninggalkan ku karenamu. Jadi. .. Lakukan saja tugasmu!" Kata Deva dengan penuh kemarahan.


Tanpa sadar, salah satu tangan Deva mencengkram kuat.


Lisa mencoba melepaskan cengkraman tangannya, didagunya. "Baiklah, tapi lepaskan aku.."


Setelah Deva, melepaskan cengkramannya. Lisapun akhirnya terbatuk-batuk. Sedangkan Deva, dia langsung beranjak dan pergi meninggalkan Lisa yang masih meringis kesakitan. Setelah punggung Deva sudah menghilang dia menyeringai, lalu tak lama berucap.


"Kau, tidak akan pernah ku lepaskan Deva. ... Akan ku buat kau, memohon padaku nanti."


Dia tertawa jahat.


Lalu tak lama dia meraih ponselnya, dan menghubungi seseorang. Saat sambungan itu diangkat dia berkata.


"Bunuh dia, sekarang juga."


"Baik nona.." balas seseorang disebrang sana.


Rencana jahat Lisa sudah bergerak, bahkan dia menyandarkan punggungnya seraya dia merasa puas dengan apa yang telah dia susun selama ini. Ya, setelah insiden di mana Dewa terjatuh.


Kini dia berniat ingin segera mengakhiri permainan ini, Alenna terlalu pintar untuk menjadi kawannya. Bahkan wanita itu, malah merubah rute haluannya tanpa izin darinya.


"Jika aku tidak mendapatkanmu? maka yang lainpun juga tidak akan pernah bisa mendapatkanmu!"


Jadi, jika dia sudah tidak membutuhkan-nya lagi. Maka artinya, dia harus pergi atau mati. Bisa gawat jika Alenna, sampai membongkar semuanya. Dia hanya ingin Deva. Karena Deva-nya, hanya untuk dirinya seorang.


Tak ada yang bisa memiliki selain dirinya. Dia tersenyum bahagia, saat dia membayangkan betapa bahagianya dia ketika nanti dia menikah dengan Deva.


"DEVAAAA, KAU MILIKKU SELAMANYAAAA. HANYA UNTUKKU HAHAHAHA..."


***


#Flashback


Barcelona, siapa yang tidak mengenal kota terindah di Spanyol. ibukota Catalonia dan kota kedua terbesar di Spanyol, setelah Madrid, dengan jumlah penduduk 1.621.537 dalam batas-batas administrasi pada lahan seluas 101,4 km2 (39 sq mi). 


Barcelona saat ini salah satu tempat wisata unggulan di dunia, ekonomi, trade fair/pameran dan budaya-pusat olahraga, dan pengaruhnya dalam dunia perdagangan, pendidikan, hiburan, media, fashion, ilmu pengetahuan, dan seni semuanya membantu statusnya sebagai salah satu worlds major global cities.


Bahkan karena keindahannya mampu membuat siapa saja ingin menetap disana berlama-lama. Barcelona dikenal juga dengan kota menawan. Menawannya kota ini karena beberapa arsitektur kota tersebut yang bergaya gothik, menampilkan unsur keindahan yang unik. Barcelona pun menggabungkan beberapa hal mempesona tentang kota-kota Mediterania. Sehingga,


Menikmati suasana Barcelona pun bisa melalui Gunung Tibidabo yang masih berada di Catalonia, wilayah otonomi Spanyol. Gunung Tibidabo menghadap ke Barcelona, yang menampilkan pemandangan kota dan garis pantai di sekitarnya. Termasuk dengan wanita berparas cantik ini, sambil menyeruput secangkir teh hangat dia benar-benar menikmati suasana pagi di kota ini.


Namun itu tidak bertahan lama, karena hingga kemudian seseorang datang dan berkata. "Apa kau Alenna? Saudara kembar dari Lentera?"


Lisa tersenyum licik, tanpa disuruh dia langsung saja mendaratkan bokong sintalnya dikursi tetap di hadapan Alenna. Ia sedikit menyerit bingung, akan kehadiran wanita di depannya. Kemudian tak berselang lama Lisa kembali bersuara.


"Aku Lisa. .. Wanita yang akan menjadi ladang harta karunmu, nanti." Balasnya dengan mengulurkan tangannya.


Alenna terkekeh, 'Astaga! Apa wanita ini sudah gila. Ladang harta karun? Kenal saja tidak?' Pikirnya dalam hati.


"Bagaimana bisa kau menyebut dirimu sebagai lading harta karunku, jika sesungguhnya aku saja tak mengenalmu?!" Lisa menyunggingkan senyumanya sambil terkekeh kecil.


Karena dia tak kunjung mendapatkan balasan jabat tangan dari Alenna, Lisa akhirnya menarik mundur tanganya. Lalu berkata, "Karena aku punya banyak uang yang takkan pernah habis sampai 10 turunan sekalipun."


Ia menggeleng saat mendengar perkataan konyol dari Lisa, namun saat hendak pergi meninggalkan Lisa seorang diri langkahnya terhenti. Tepat disaat Lisa berkata, "Aku sangat tahu, keluargamu yang hancur karena perceraian orangtua mu. Kau pun juga harus memilih antara ibumu atau ayahmu saat itu. Dan aku juga tau? jika saudara kembarmu kini hidup mewah sedangkan kau?"


"Hanya gadis miskin dan simpanan para pejabat korup di sini. Aku benarkan?"


Tangan Alenna mengepal, sedangkan Lisa tersenyum penuh kemenangan saat melihat itu. Ya, dia berhasil mengenai targetnya. Lalu lisa bangkit dan berjalan ke arahnya, dengan merangkulnya Lisa berbisik ditelinganya.


"Kalau kau mau menjadi patnerku, maka kau akan bisa merebut seluruh harta milik saudara kembarmu itu. Dan buktikan pada pria tidak tahu diri itu, jika kau? jauh lebih baik dari Lentera."


Alenna berbalik lalu dia menatapnya, "Apa kau bisa menjamin itu?"


Lisa mengangguk mantap, lalu tak lama dia tersenyum. "Jangankan milik saudaramu. Berapapun uang yang kau minta padaku akan ku berikan."


"Benarkah? Lalu patner apa yang kau maksud?"


Wanita itu tidak menjawab, namun dia malah memberikan sebuah foto yang diketahui milik Diandra. Lalu dia berkata, "Singkirkan wanita itu, lalu kau akan mendapatkannya. .. Mudah" bukan?


"Ck, hanya menyingkirkan dia saja?"


Lagi Lisa hanya mengangguk mantap, "Baiklah. Ku pikir selain ingin menyingkirkannya mungkin kau juga ingin membunuhnya?"


"Well, tadinya aku sempat berpikiran seperti itu. Tapi sayang, dia terlalu di sayang oleh seseorang."


Kening Alenna berkerut, "Maksudmu?"


"Sudahlah nanti kau juga tahu. .. Bagimana kalau kita lanjutkan dengan minum kopi?" ajaknya sambil mengarahkan Alenna untuk kembali duduk.


#Flashback off


Saga menatap Deva tak percaya, setelah semua rekaman itu diputar ulang oleh Deva."Jadi semua ini ulahnya?"


Deva menggangguk, setelahnya dia membuang napas beratnya. "Aku mohon. Aku butuh bantuanmu, abang."


Pria bernama Saga tampak berpikir sejenak. Hingga tak lama suara helaan napas terdengar.


"Lalu bagaimana dengan nasib jabatan dua periodemu?"


Deva terdiam, saat melihat reaksi Deva yang hanya diam dan menunduk lesu. Saga membuang napasnya kasar. Ya, dia sangat mengerti.


Pilihannya saat ini memang saat berat, bukan hanya untuk keluarga kecilnya tapi juga untuk masa depannya.


TBC