
Senja semakin datang menyapa, acara perlombaan pun juga sudah usai kini hanya ada rintik hujan yang mulai menemani sang senja.
Duduk di beranda sambil menikmati secangkir teh hangat semakin membuat sore ini semakin indah. Sesekali Dewa tertawa saat melihat video lucu dari ponsel gue, sedangkan Gitra. Anak itu sedang duduk bersama dengan sang ayah.
Membacakan buku untuk sang anak menjadi sebuah pemandangan yang indah untuk gue. Ya, tepat setelah acara perlombaan itu selesai, gue dan yang lainpun akhirnya berlari tunggang langgang karena petir yang tiba-tiba datang menyapa membubarkan acara kami. Acara bermain dan tertawa bersama dibawah rinai hujan sore itu.
"Mamah, Dewa lapar?"
Gue tersenyum lebar, "ouh, anak mama laper ya?" kata gue sambil mencubit gemas pipi gembulnya.
"Iya, tante aku juga lapar?" kini Gitra yang bersuara.
Dewa menatap sang kakak, saat Gitra manggil nama gue tanpa embel-embel mama dibelakangnya. "Kok, kakak manggilnya tante?"
"... Perasaan kak Gitra manggilnya mama deh, mungkin kamu salah denger kali Dewa. Yaudah mama, tolong buatin makanan ringan buat kita ya mama." ujar Deva, untuk mengalihkan pembicaraan.
Gue cuman bisa mangguk di sini, karena gue yakin kalau Gitra anak itu juga sudah mengetahui hal yang sebenarnya. Lalu gue mulai menghela napas dalam-dalam, ya ada benarnya juga sebuah pepatah itu.
Di mana, serapat-rapatnya bangkai ditutupi baunya tetap akan tercium juga suatu saat nanti. Kita hanya perlu menunggu waktu, semoga Dewa gak akan pernah kecewa sama gue nantinya. Saat kebenaran itu terungkap.
Karena gue sayang sama anak itu, dan gue gak bisa lihat dia menderita lagi. Bolehkah, sesekali gue egois? karena gue ingin mempertahankan apa yang gue punya saat ini? gue pengen Dewa sebagai anak gue dan .. Deva sebagai suami gue yang sesungguhnya bukan suami bohongan seperti saat ini.
"Baiklah, mama akan buatkan sesuatu untuk kalian semua."
Setelah mengatakan itu, gue bangun dan berjalan menuju pantry. Gue gak tahu mau buat cemilan apa untuk saat ini. Jadi, pas gue lihat ada satu sisir pisang di atas meja makan.
Ya, terpaksa gue goreng pisang aja kan lumayan hujan-hujan sambil ngeteh makan pisang goreng. Jadi inget nenek, gimana yang kabarnya saat ini? karena terakhir gue denger dia sakit.
Tapi dia gak mau untuk gue tahu, apa lagi jenguk dia di sana. Yang ada nanti dia marah-marah, terus darah tingginya naik.
Gue membuang napas lelah, "Buat apa?" refleks gue menoleh.
"Mau buat, pisang goreng." jawab gue santai.
Genta menangguk, "Nanti kalau ada sisanya, bagi kita-kita ya non?" kini giliran Nana yang bersuara.
Gue terkekeh kecil, "iya nanti aku bagi ke kalian, tenang aja."
"Baiklah, kalau begitu saya pamit kebelakang dulu ya Non-- eh nyonya maksudnya."
"Apa sih? Nona bukan Nyonya." Nana terkekeh saat mendengar perkataan gue.
Setelah kepergian Nana, disini lah gue hanya berdua dengan Genta. Entah kenapa, gue gak berani menoleh ke arahnya.
Karena gue yakin jika sedaritadi Genta terus menatap gue. Sesekali gue mencuri lirikan ke samping, dan benar Genta masih menatap gue. Hingga, tak lama.
Clup!
Gue mencolek pipi Genta dengan tepung terigu yang sudah dicampuri oleh air. Abis dia gak berhentinya natap gue, kan gue jadi salting. Pas pipinya kena lumuran tepung yang lengket, dia menyipitkan matanya lalu berkata.
"Okey, kamu yang mulai ya? Jangan salahin aku kalau, aku bales nanti." Gue refleks menggeleng, namun sialnya Genta berhasil membalas gue dengan lumuran tepung terigu tersebut.
Di saat kita berdua lagi asik bermain colek-colekan tepung, suara berat dan hulsky mengintrupsi kita untuk terdiam kaku.
"Ekhem.. Bagus, terus aja lumurin semua badan kalian pake tepung itu .. Genta apa kau sudah melakukan tugas yang ku minta?"
Kita berdua, bener-bener gak berani buat mendongak apalagi sampai menatap si Mr. kaku itu. Lalu, tak lama dia kembali bersuara.
"Kalau orang lagi ngomong itu ditatap orangnya!"
Genta menerjap, "Tugas yang mana ya, bapak?" tanya takut-takut.
"Tugas, yang saya perintahkan untuk kamu?"
Dia memiringkan kepalanya seraya mengingat ulang kembali, "tidak ada, pak?"
"Ada. Tugasnya, menjauh dari dapur dan siapkan berkas yang harus saya tanda tangan, sekarang!" setelah mendengar itu Genta langsung membersihkan mukanya, lalu kembali ke halaman belakang.
Sedangkan gue, masih diam ditempat dan menunduk. Gue tahu, dia sedang berjalan mendekat ke arah gue. Hingga kemudian, tanganya menyentuh pipi gue lalu bergerak untuk mengusap lumuran tepung yang menempel.
Sumpah, sentuhan dari Mr. kaku membuat tubuh gue semakin tegang. Sialan, jangan sampe kecolongan lagi. Tapi disaat gue udah bersiap dengan memejamkan mata gue, dia malah berbisik ditelinga gue.
"Cepat siapkan cemilannya. Dewa sudah kelaparan, kau tidak ingin membuat anakmu kelaparankan." gue mengangguk cepat.
Saat gue kambali fokus untuk membuat ulang tepung yang sudah berantakan, tiba-tiba dia memeluk gue dari belakang.
"Jangan, dekat dengan laki-laki manapun atau kau akan ku hukum?" bisiknya kembali dengan seduktive.
Sialan, semakin remang-remang aja ini tubuh gue.
Di mana otak gue bilang buat menolak, tapi tubuh gue malah menerima setiap sentuhannya.
Tanpa diduga dia menarik kepala gue secara lembut untuk menghadap dan menatapnya, lalu kemudian.
Cup~
"Itu belum seberapa. Bibirmu ini sangat manis. Jangan biarkan, pria lain menyentuhnya. Kau mengerti?" katanya sambil membelai permukaan bibir gue.
****
Setelah selesai memasak, gue berniat untuk sejenak mengistirahatkan tubuh gue. Ya, jujur saja sejak kemarin gue terlalu sibuk mempersiapkan acara perlombaan.
Jadi, kepala gue agak sedikit pusing.
Namun saat gue tiba di depan kamar gue, tubuh gue mendadak kaku. Apalagi saat pintu kamar kebuka.
Semua barang gue tiba-tiba aja menghilang, dengan panik gue berjalan cepat dan mengeledah seluruh isi kamar gue. Tapi tetap, satupun barang gue gak ada di sana.
"Kemana semua barang gue?" lirih gue.
Lalu gue berjalan keluar dari kamar tersebut, hingga tanpa disengaja gue bertemu dengan salah seorang pembantu di istana ini.
"Hey, apa kau tahu siapa yang membuang seluruh barang-barangku?" di saat pembatu itu hendak mengeluarkan suaranya.
Deva lebih dulu bersuara dengan santainya, "Semua barang-barangmu ada dikamar saya." katanya sambil berjalan memasuki kamarnya.
Tunggu, apa dia bilang barusan?
Mata gue membelalak, "APA KATAMU?!" gila apa-apaan ini orang seenak jidatnya main mindahin barang-barang gue tanpa izin dulu.
Dasar gila!!
Gue mengikutinya memasuki ke dalam kamar, "Elu itu?" ucap gue terpotong sama dia.
"Tutup pintunya dulu!" selanya dan gue dengan begonya malah nurut aja lagi pas dia nyuruh gue nutup pintu kamarnya.
Setelah pintu tertutup, gue kembali hendak memarahinya namun lagi-lagi disela olehnya. "Kamu mau tau, alasan kenapa saya mindahin semua barang kamu ke kamar saya?"
Gue mengangguk mantap, "Mulai malam ini kamu tidur di sini?" apa? apa dia bilang? engga-engga, enak aja. Itu gak ada ya, dalam perjanjian.
"Gak bisa lah, enak aja. Lagi pula kan gak ada dalam kontrak perjanjian?" elak gue.
Dia berjalan mendekat, "okey, sekarang pilih tidur terpisah atau tidur satu ranjang hanya untuk beberapa hari kedepan?"
"Tidur terpisah!" tegas gue.
Dia mengangguk, "Silahkan, tapi jangan salahin saya kalau besok kamu bakalan mendekam dibalik jeruji besi?"
Gue menautkan alis, "Maksud lo?"
"Karena mamih saya bakalan dateng besok? dan kalau sampai dia tahu kita hanya berpura-pura? entahlah apa yang akan dia lakuin ke kamu, dan saya tidak akan bisa membantu kamu?" sialan, dia mau nakut-nakutin gue apa gimana nih? tapi gue juga kan belum tahu, nyokap dari si Mr. kaku itu kaya gimana orangnya.
Gue berusaha berpikir keras, "Gimana?" tanyanya lagi.
"Tapikan nyokap lo datengnya besok?" bukanya menjawab dia malah nyetil jidat gue.
Aww, sialan sakit banget sentilannya.
Disaat gue lagi meringis, dia berkata. "Mamih, itu kaya jalangkung datang tak dijemput pulangpun tak pamit?" bisa begitu nyokapnya.
"Jadi, saya harus tidur sekamar lagi malam ini?"
Dia mengangguk, "percaya sama saya, jika nanti, tepat tengah malam mamih saya bakalan muncul tiba-tiba."
Yaudah lah ya, iyain aja dari pada gue dijeblosin kepenjara kan gak lucu. Hidup gue, jadi berubah hanya karena kontrak gila itu.
Gue mendesah lelah, "baiklah. Tapi? inget .. Jangan macem-macem?!" ancam gue dengan penuh penekanan.
Dia berbalik, mengangguk dan melangkah memasuki kamar mandi, namun tepat sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar mandi dia berkata.
"Enggak ko, paling cuman satu macem aja saya mah .. Ciumin bibir kamu sampai puas, pas kamu lagi tidur."
Shit!!
"SADEEEEVVVVAAAA!!!!!" teriak gue dan dia malah ketawa kenceng banget dia dalam kamar mandi.
TBC