Mr. President & Me

Mr. President & Me
15



Authorpov


Barang-barang yang harus dibeli dan dicari


Balon 2pack check ✔


Bendera 3pack check ✔


Kerupuk satu kaleng check ✔


Tali pelastik 2 roll check ✔


Tepung terigu 1kg check ✔


Piring plastik 3pack check ✔


Karung Beras yang sudah kosong (cari atau beli) X


Tali Tambang 2,5 meter X


Pensil 1 pack X


Botol bekas 5 X


Deva mendesah pelan saat melihat list persiapan perlombaan yang dibuat oleh Diandra. Sepertinya wanita itu benar-benar ingin melakukan perlombaan, yang sejak dua tahun lalu dia hindari. Sebuah kenangan yang masih menyisakan luka dihatinya.


Pasca meninggalnya sang istri dua tahun lalu, istana ini langsung tertutup rapat. Bagaikan istana di dalam penjara. Sungguh ironis.


Bahkan hatinya pun juga ikut tertutup rapat, untuk kehadiran seorang wanita. Tapi sejak kejadian kemarin malam, saat dimana Diandra dengan berani memakai baju tidur yang berbahan sangat tipis dan terkesan seksi.


Jangan salahkan dirinya, karena dia juga lelaki normal sama seperti yang lainya. Yang dimana penampilan itu bisa membuat hormonnya meningkat, termasuk hatinya yang tiba-tiba sedikit bergetar tanpa diminta. Hingga kemudian.


"Apa yang kau lakukan disini?" Deva mendongak.


Ia terkejut namun wajahnya dia netralkan seolah dia tidak terkejut sama sekali, "Kenapa kau menyentuh itu? apa kau berniat akan merobek list catatan itu juga?" cecarnya.


Deva merotasi malasnya, kenapa selalu saja dia berpikiran negatif padanya.


"Kau, benar-benar ingin melakukannya?" dia mengangguk.


"Hanya untuk kedua anakku?" tanyanya lagi, dan kali ini dijawab dengan anggukan mantap dari Diandra.


"Kenapa? apa kau ingin memarahiku, karena tak meminta izin darimu? Dengar aku sudah mengakatakanya tadi pagi, jika aku tak.." ucapnya terpotong.


Deva menunduk sejenak, "Tidak, silahkan saja kau melakukannya tanpa izin dariku. Karena kau juga ibu mereka. Dan itu hak mu."


Setelah mengatakan itu, Deva berbalik dan berjalan menjauh meninggalkan Diandra dan Nana sang ajudan yang sedang mengangga tak percaya. Diandra menoleh ke arah Nana, dengan mulut yang masih terbuka.


"Kau, apa kau juga mendengarnya?"


Nana mengangguk, "Aku pikir hanya aku saja yang mendengarnya? Ada apa dengan dirinya? Padahal kita sedang tidak berada diluar? Dan cuaca juga sedang tidak sedang hujan?" Tanya Diandra heran.


"Entahlah, saya juga baru pertama kali melihat bapak berbicara seperti itu?" sahutnya.


"Nona, apalagi yang harus kami persiapkan?"


Diandra dan Nana menoleh bersama, saat seorang pembantu datang dikala misteri akan sikap yang berubah dari seorang Mr. President yang terkenal acuh dan dingin.


Pembantu itu menerjap, "kenapa kalian menatap ku dengan horror seperti itu?"


Mereka berdua serempak menggeleng bersama, "Ayo kita lanjutkan yang dibelakang tadi." Ajak Diandra setelah merapihkan kertas-kertas yang berserakan di atas meja.


"Kalian sudah membeli barang yang saya minta?"


"Sudah Nona," balasnya.


"Apa ada yang belum kalian dapatkan, untuk perlombaan esok?"


"Sepertinya sudah semua."


"Karung? apa karung berasnya sudah kalian dapatkan?" kini giliran Nana yang bertanya.


Pembantu itu mengangguk, "Ehem, Baiklah mari kita lihat daftar listnya dan kita cocokan dengan yang sudah dibeli."


Ya, itulah suara mereka. Sebelum suara mereka mengecil dan menghilang tertutup pintu. Sedangkan diatas sana. Sepeninggalnya Diandra dan Nana, Deva mendesah lega.


Karena ternyata rupanya sedari tadi Deva menguping pembicaraan Diandra dan sang ajudan tersebut. Bahkan dia juga sempat merutuki dirinya sendiri, saat perkataan konyol itu terucap begitu mulusnya.


Kini Deva sedang terduduk dikursi kebesaraanya. Sesekali dia tersenyum kecil saat mengingat kejadian malam itu, malam dimana dia menggoda Diandra.


Dan ingatkan dia jika itu bukan kesalahannya, melainkan Diandralah yang telah memancing sang adik untuk segera turn on dibawah sana.


"Bibirnya manis, seperti ceri." Gumamnya tiba-tiba.


"Eh apa-apaan itu? Tidak! Tidak!" elaknya dengan cepat.


Ya, dia masih menyangkal jika sepertinya hatinya mulai jatuh pada Diandra. Wanita bar-bar yang sangat menyanyangi kedua anaknya. Hinga tak lama sebuah senyuman terbit diwajahnya.


Namun disaat dia sedang asik memikirkan kejadian malam itu, suara tangisan Dewa terdengar. Dengan cepat dia bangkit dan berlari kekamar sang putra.


Karena tadi sebelum tangisan itu terdengar Dewa sang anak bungsunya, memang diketahui sedang tidur siang setelah dia kelelahan bermain bersama Diandra.


Namun langkahnya terhenti saat hendak akan memasuki kamar putranya, dia terpaku saat menangkap sebuah pemandangan dimana Diandra sudah lebih dulu tiba.


Ya, Diandra juga sama berlari seperti dirinya saat mendengar tangisan Dewa. Karena secara kebetulan, kamar Dewa berada dibawah dengan jendela yang menghadap halaman belakang dari istana kepresidenan milik OSH.


Dia menerjap, memperhatikan bagaimana dengan lembutnya Diandra memeluk dan menenangkan putra bungsunya.


Hingga, "papih?" panggil Dewa lirih.


"Iya sayang," jawabnya.


Dewa menepuk sisi kosong di sebelahnya, menyuruh sang ayah untuk duduk di sana. "Ada apa?" tanya saat sudah duduk.


"Jangan usir mama Diandra?" dengan refleks Deva dan Diandra saling beradu tatap.


Namun dipersekonan selanjutnya, mereka saling memalingkan wajah. "me-memangnya, Siapa yang bilang jika Papih akan mengusir mama?" kenapa dia jadi gugup seperti ini.


Dewa menggeleng, "Kau pasti habis bermimpi buruk ya?" kini Diandra yang bersuara.


Hanya sebuah anggukan yang diberikan Dewa kali ini, "Janji ya pih?"


Deva tersenyum, "Janji."


"Kalau begitu, malam ini aku mau tidur bersama mama dan papih, bolehkan?"


DEG!


Lagi, Deva dan Diandra saling melempar tatapan yang sulit diartikan. Bahkan jantung kedua juga ikut berdetak lebih cepat saat perkataan sang anak kembali terucap, dengan tegas.


"Pokoknya tidak ada penolakan. Malam ini aku mau tidur bareng mama dan papih, titik." Keukehan Dewa, membuat mereka tak berkutik.


"Karena aku tahu selama ini, mama dan papih tidur dikamar yang berbeda? Benarkan? Tidak seperti papih, yang pernah tidur satu kamar dan berbagi kehangatan diatas kasur ini dengan tante Lisa dulu?"


Deva menggeleng, "tapi Dewa itu berbeda lagi ceritanya?"


"Tidak, atau aku akan menangis semalaman?" ancamnya.


"Tapi Dewa, mama sedang-"


"TIDAK. Sekali tidak, tetap tidak. Tidak ada alasan dan penolakan lagi." Finalnya sambil bersedekap dada, dan akhirnya meraka hanya bisa pasrah, dibawah permintaan sang anak.


Diandra dan Deva malam itu, tidur di satu ranjang yang sama. Walau banyak kecangungan yang terjadi, tapi itu tidak mengusik mimpi indah Dewa.


Ya, Dewa menjadi penengah antara Deva dan Diandra. Belum lagi suhu udara kamar yang berubah menjadi panas dan ... sesak pastinya.


"Bisakah, kau menggeser sedekit?" tanya Diandra pelan.


Tapi tak disangka, ia malah tidak disahuti oleh Deva, "Aku tahu kau belum tidur." Katanya sambil dengan suara mengecil.


"Dewa sudah pulas bagaimana jika dia kita pindahkan, atau aku saja yang kembali kekamar ku? Di sini terlalu sempit, aku hampir jatuh dari ranjang ini?" bohong padahal jarak antara tubuhnya dan sisi tepi ranjang masih tersisa 20-25 cm dari punggungnya.


Dengan kesal akhirnya Deva terbangun dan berkata, "Lebih baik kau diam dan tidur saja, dari pada besok aku akan terlambat. Kau ingat besok adalah hari kemerdekaan, dan pastinya akan ada ucapara pengibaran bendera dihalaman istana. Jadi pastikan dirimu sendiri untuk tidak telat bangun lagi esok pagi."


Diandra mendekus kesal, di saat Deva sudah kembali merebahkan tubuhnya untuk memunggungi dirinya dan juga Dewa sang anak.


Tapi tidak ada yang tahu, dibaliknya dia tersenyum puas bahkan dalam hati kecil, dia selalu mengucapan rasa terima kasih berkat permintan konyol dari sang anak.


Eh, tunggu dulu! Apa itu artinya Deva sudah mulai mengakui keberadaan hatinya yang sudah jatuh cinta karena Diandra? Entalah, yang pasti biarkan itu menjadi sebuah misteri untuk kita.


Authorpov End


TBC